
Wu Jin Ming dan Rubby pergi berbelanja ke supermarket yang tidak jauh dari rumahnya setelah pulang bekerja.
"Ini apa, By?" tanya Wu Jin Ming melihat beberapa bahan makanan yang di beli Rubby.
"Itu semuanya di sebut rempah-rempah, Sayang!" jawab Rubby.
"Barang sebanyak ini namanya cuma satu itu?" Wu Jin Ming masih tidak mengerti.
"Bukan.... Masing-masing punya nama. Males, ah, nyebutin satu-satu. Pokoknya semua ini masuk ke dalam golongan rempah-rempah," jelas Rubby.
"Hmm." Melihat wajah lelah Rubby, Wu Jin Ming tidak ingin banyak bertanya lagi.
Belanjaan mereka sudah lengkap. Tubuh mereka juga sudah sangat letih setelah beraktifitas seharian. Wu Jin Ming mendorong troli untuk mengantri di kasir.
Banyak ibu-ibu yang berbelanja dan berbaris mengantri. Melihat di belakangnya adalah model idolanya, mereka memanfaatkan kesempatan untuk berfoto bersama Wu Jin Ming. Setelah berfoto mereka rela bergeser ke belakang dan memberikan antriannya untuk Wu Jin Ming.
Rubby menunggunya di kursi tunggu depan supermarket. Tidak butuh waktu lama Wu Jin Ming sudah datang menghampirinya dengan banyak sekali barang belanjaan.
"Cepet amat! Kamu nggak sedang bermain-main, kan?" tanya Rubby sambil mengacungkan dua jarinya dan menggerakkannya seperti telinga kelinci.
"Enggak! Tadi ibu-ibu pada mengalah dan memberikan antriannya untukku."
"Nggak ada yang meluk kamu, kan?" Rubby mengendus-endus baju Wu Jin Ming.
"Nggak ada!" Wu Jin Ming merasa kesal. Tadi sebelum pulang dari pemotretan, Rubby memintanya untuk mandi gara-gara habis berpose mesra bersama Catherine.
"Iya, beneran nggak ada! Yuk!"
Rubby meraih salah satu kantong plastik yang di bawa oleh Wu Jin Ming.
"Nggak usah, Sayang! Kamu buka pintu mobilnya aja!" larang Wu Jin Ming.
"Baiklah!" Rubby melepaskan kantong plastik itu dan berjalan di depan ke parkiran.
"Kamu nggak mual lagi, By?" tanya Wu Jin Ming setelah mereka berada di dalam mobil.
"Enggak! Saat mencium bau darah pun aku tidak mual lagi. Mungkin pil yang diberikan oleh ibu masih berefek sampai sekarang."
"Bau darah? Apa yang terjadi?"
"Cindy meninggal." Rubby menunduk sedih.
"Meninggal?!" Wu Jin Ming mengurungkan niatnya untuk menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Kita pulang dulu, Sayang. Nanti aku ceritakan di rumah saja."
"Baiklah!" Wu Jin Ming menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya menuju rumah mereka.
Tidak butuh waktu lama mereka pun sampai di rumah. Lagi-lagi Wu Jin Ming tidak mengijinkan Rubby untuk membantu membawa barang belanjaan. Rubby di minta untuk membuka pintu saja.
Kehamilan Rubby membuatnya diperlakukan seperti seorang ratu oleh Wu Jin Ming. Meskipun tubuhnya sangat lelah, Wu Jin Ming membereskan barang belanjaannya sendirian dan meminta Rubby untuk mandi saja. Kini Wu Jin Ming menjelma menjadi suami siaga bagi Rubby.
Tanpa di minta Wu Jin Ming memasak makan malam untuk mereka berdua. Ini pertama kalinya dia memasak. Dari mulai menyalakan kompor, memotong sayuran, menyiapkan bahan dan bumbu-bumbunya, dia melihatnya di youtube.
Dapur sangat berantakan karena dia tidak tahu di mana letak alat masak yang akan dia pakai. Dia mengeluarkan semuanya dan akan mengembalikannya setelah selesai memasak. Alhasil meja makan dan pantri penuh dengan perabot.
Tranggg! Tranggg!
Beberapa kali terdengar benda jatuh di dapur. Wu Jin Ming tidak sengaja menyenggol alat masak yang tidak terpakai.
Rubby mengernyitkan alisnya mendengar suara ribut-ribut di dapur. Rambutnya masih basah, dia pergi ke dapur sambil menggosok-gosokkan handuknya.
"Astaga! Apa ini?!" Rubby menggeleng tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Wu Jin Ming.
Kepalanya terasa berdenyut ketika melihat dapur sangat berantakan. Rubby memijit pelipisnya setelah duduk di meja makan. Di atas meja sudah ada beberapa menu makanan yang bentuknya tidak beraturan.
"Maaf, Sayang! Nanti aku bereskan. Kita makan dulu, ya?" Wu Jin Ming menyiapkan makan malam dengan telaten.
"Nggak usah biar aku saja!" Wu Jin Ming berdiri untuk membereskan kekacauan yang dia buat.
Wu Jin Ming terpaku. Dia bingung ke mana harus mengembalikan alat yang dia ambil. Alat-alat yang dia keluarkan terlalu banyak dan sangat berantakan.
Melihat suaminya kebingungan, ingin rasanya Rubby tertawa. Wajah bodohnya benar-benar terlihat sangat lucu. Lama-lama Rubby tidak tega juga. Dia memainkan sihirnya untuk mengembalikan alat-alat itu pada tempatnya.
"Duduklah! Aku nggak akan lelah. Biar sihirku yang bekerja."
Akhirnya Wu Jin Ming menyerah. Lebih baik menuruti kata Rubby daripada pusing. Sepertinya dia tidak ingin memasak lagi setelah ini.
"Huft! Repot juga, ya, kalau memasak. Aku melihat kamu kog santai dan terlihat mudah. Ternyata nggak segampang kelihatannya."
"Memang! Heemmm... baunya harum sekali. Yah, walaupun bentuknya acak-acakan, sih!" seru Rubby.
"Kamu muji apa menjatuhkan, Sayang! Cobalah! Kalau nggak enak nggak usah di makan," ucap Wu Jin Ming.
"Aku coba, ya!" Rubby mulai menyendok makanan di piringnya.
"Enak! Dari bentuknya memang seperti makanan babi tapi rasanya lumayanlah." Wu Jin Ming memuji masakannya sendiri.
__ADS_1
"Hahaha. Benar! Aku kasih nilai 80 untuk rasanya dan 40 untuk penampilannya," ucap Rubby menirukan juri masak di TV.
"Jauh amat selisihnya!" gerutu Wu Jin Ming.
"Ya, kan, standar nilainya emang segitu."
"Iya, deh, iya, yang penting kamu nggak muntah saja aku sudah seneng," ucap Wu Jin Ming.
Rubby kembali memakai sihirnya untuk membereskan dan mencuci alat makannya. Hari sudah malam, mereka ingin segera beristirahat untuk melepas lelah.
"By! Apa yang terjadi pada Cindy?" tanya Wu Jin Ming setelah mereka berada di kamar.
"Dia menjadi tumbal pemburu kekuatan. Makhluk berjubah hitam memburunya hingga ke kuil. Aku terlambat ketika sampai di sana. Mereka menusuk jantung Cindy dengan pisau belati tepat di saat aku melangkah masuk ke dalam kuil," jelas Rubby penuh penyesalan.
"Makhluk berjubah hitam?" Wu Jin Ming mengerutkan keningnya.
"Prajurit Raja Kegelapan. Mereka mulai memperbanyak pasukan dan menghisap energi jiwa dari manusia hidup. Siapapun yang mereka beri tanda nggak bisa lepas dari pengaruh mereka."
"Siapa Raja Kegelapan itu?" tanya Wu Jin Ming.
"Aku sendiri nggak tahu siapa dia yang jelas dia sangat kejam. Terakhir Cindy berpesan kepadaku untuk berhati-hati pada Lisa. Dia bilang bahwa Lisa sekarang bukanlah Lisa yang dulu kita kenal."
"Lisa? Apa ini ada hubungannya dengan Moza waktu itu?" Wu Jin Ming mencoba mengingat kejadian di mana Lisa bertemu dengan Moza.
Sejauh yang mereka tahu, Moza yang sekarang sangat berbeda dengan Moza yang dulu. Tubuh yang sama namun memiliki jiwa yang berbeda. Mereka belum bisa memastikan seperti apa keadaan sebenarnya namun sebagai seorang kultivator mereka tahu jika dia bukanlah Moza lagi.
"Aku nggak tahu. Terakhir bertemu dengannya dia terlihat sangat aneh. Begitu juga dengan Cindy dan Bella."
"Bella! Kita juga harus mengawasinya. Kasihan dia kalau dia mengalami nasib yang sama seperti Cindy."
"Kamu benar. Tapi bagaimana caranya? Saat ini dia sedang di selimuti oleh energi negatif. Sikapnya sangat jauh berbeda dengan Bella yang dulu."
"Besok kita pergi ke pemakaman Cindy sebelum kita ke istana langit. Siapa tahu kita bertemu mereka dan bisa memecahkan teka-teki ini."
"Hmm. Aku sangat mengantuk sekarang." Rubby menutup mulutnya yang menganga lebar.
"Kamu nggak ada yang terluka, kan? Siapa yang melawan makhluk berjubah hitam itu? Kamu atau Panglima Ang?"
"Aku nggak terluka sama sekali. Entah kenapa saat aku dikuasai emosi keluar api biru dari dalam tubuhku. Api itu membakar apapun yang aku lewati. Makhluk berjubah hitam itu mati dengan cepat di tanganku."
"Api berwarna biru? Apakah itu api suci biru?"
****
__ADS_1
Bersambung...