
Mobil Wu Jin Ming berhenti di sebuah perbukitan asing. Di sana banyak sekali pohon bambu. Pohon bambu yang terkena hembusan angin membuatnya bergesek satu sama lain yang menimbulkan suara berdecit yang memilukan.
"Kak Wu! Kita beneran akan berlatih di sini?" tanya Rubby yang terus saja melihat sekeliling dan mengamati keadaan sekitar.
"Iya. Kenapa? Bagus kan tempatnya?" tanya Wu Jin Ming. Pandangan Wu Jin Ming mengedar mengikuti arah pandang Rubby.
"Nggak papa sih, hanya saja... suara bambunya terlalu berisik. Aku pasti akan sulit untuk berkonsentrasi," jujur Rubby.
"Hahaha... ini tantangan bagimu!" Wu Jin Ming tertawa melihat tingkah Rubby yang sering kali menutup telinga dan menoleh ke sana sini ketakutan.
"Haish! Tantangan... tantangan... kan nggak lucu kalau di tengah-tengah berlatih aku terkejut mendengar suara bambu menjerit."
"Mana ada bambu menjerit. Mereka hanya berdecit karena bergesekan." Wu Jin Ming kembali tertawa.
"Gesekan yang menimbulkan suara yang membuat telinga dan hati terasa ngilu saat mendengarnya."
"Sini biar aku obati!" Wu Jin Ming menarik tubuh Rubby menempel padanya.
"Ini...." Rubby menatap mata Wu Jin Ming yang sangat teduh.
Mereka berdiri berhimpitan. Salah satu tangan Wu Jin Ming memeluk pinggang Rubby sedangkan tangan yang lain membelai rambutnya. Rubby meletakkan kedua tangannya di bahu Wu Jin Ming.
"Aku akan merubah tempat yang terkesan menakutkan bagimu ini menjadi tempat paling romantis. Kita nggak akan melupakan tempat ini," bisik Wu Jin Ming di telinga Rubby membuat bulu roma Rubby meremang.
Perlahan wajah Wu Jin Ming mendekat ke wajah Rubby. Hembusan napas mereka menyapu ke wajah lawan bicaranya. Gelombang yang aneh menyelimuti hati mereka ketika bibir mereka saling bersentuhan.
Sebuah ciuman yang lembut dan penuh penghayatan yang semakin lama semakin dalam. Saat mereka melakukan itu, suara berisik bambu yang tertiup angin seolah tak terdengar. Rubby tidak kuasa menahan gejolak yang meninggi saat tangan Wu Jin Ming bermain-main di area sensitifnya.
"Sayang, jangan di sini!" ucap Rubby ketika dia masih bisa mengontrol kesadarannya.
__ADS_1
"Tidak ada siapapun di sini kecuali kita. Kalau kamu menginginkan hal yang lebih aku bisa melanjutkannya. Aman kok," bujuk Wu Jin Ming.
"Nggak! Nggak mau di sini. Kita akan melakukannya di rumah saja." Rubby segera melepaskan pelukan Wu Jin Ming dan memundurkan tubuhnya.
"Tadi saat kita fokus untuk berciuman, apakah kamu mendengarkan kebisingan yang ditimbulkan oleh bambu-bambu ini?" tanya Wu Jin Ming.
Rubby menggeleng. Apa yang dikatakan oleh Wu Jin Ming sangatlah benar. Semua terasa sepi dan tidak ada suara yang mengganggu.
"Bagus! Kamu cepat sekali mengerti. Ketika kita fokus makan apapun yang terjadi di sekeliling kita tidak akan ada artinya. Teknik ini sangat penting ketika kita benar-benar berperang di medan perang. Kita harus bisa fokus pada jurus yang kita gunakan atau mantra yang kita baca. Di medan perang lebih berisik dan kacau daripada ini, Sayang. Sekali kita lengah maka musuh akan menebas leher kita," jelas Wu Jin Ming.
"Kakak benar. Aku tahu sekarang," sahut Rubby mantap.
"Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan jika merasa sulit untuk berkonsentrasi?" tanya Wu Jin Ming.
"Berciuman! Eh, maksudku enggak gitu. Maksudku memikirkan sesuatu yang ingin kita lakukan misalnya berciuman akan membuat pikiran kita fokus pada hal itu."
"Hmm... tadi aku pikir kamu akan memintanya lagi," goda Wu Jin Ming.
"Entahlah! Mungkin kita butuh liburan setelah latihan kita selesai."
"Ayo kita berlatih sekarang!" seru Rubby.
"Ayo! Tapi jangan keluarkan pedang kamu yang asli Rubby. Aura pedang kita akan mengundang para siluman dan manusia untuk datang dan mencari tahu tentang pedang yang kita punya."
"Oh, begitu ya. Kita ini sedang berada di alam dunia manusia kok ya. Bisa-bisa kehebohan berita seperti kemunculan pedang milik kamu di malam itu terulang lagi," ucap Rubby.
"Hmm... ayo kita mulai!" ajak Wu Jin Ming.
"Tunggu... tunggu!"
__ADS_1
Rubby berjalan menghampiri sebatang pohon bambu yang berada di posisi paling pinggir. Rubby melirik satu pohon yang sudah lumayan tua dan sedikit lebih besar dari lainnya. Dia menumbangkan pohon itu dengan sihir yang dia miliki.
Bambu yang sudah tergeletak di tanah itu Rubby potong-potong menjadi beberapa bagian. Rubby memilih dua potong bambu yang paling bagus bentuknya. Masih dengan menggunakan sihirnya juga, Rubby merubah potongan bambu itu menjadi sebuah pedang kayu.
"Ini satu untukku dan satu untukmu!" Rubby menyodorkan sebuah pedang bambu untuk Wu Jin Ming.
"Pedang yang bagus," puji Wu Jin Ming.
Setelah mereka memiliki pedang palsu dari bambu, mereka mulai berlatih dengan serius. Rubby memainkan sebuah jurus pedang baru dengan lincah dan penuh penghayatan. Meski awalnya dia bukan pendekar, dia sangat terlihat sangat hebat. Tentu saja ini berkat ayahnya yang mewariskan jurus-jurus hebat ini dan menanamkannya di dalam otak dan jiwa Rubby.
Rubby mengalirkan energi spiritualnya ke dalam pedang dan juga seluruh tubuhnya. Aura kekuatan yang berpadu di dalam jurus yang dimainkannya membuat gerakannya hidup dan memiliki jiwa. Wu Jin Ming terus memperhatikan gerakan-gerakan Rubby dengan seksama.
"Sekarang giliranmu!" seru Rubby pada Wu Jin Ming.
"Hmm." Wu Jin Ming mengangguk.
Sesaat Wu Jin Ming memejamkan matanya untuk mengingat gerakan yang dilakukan oleh Rubby sebelumnya. Perlahan tapi pasti dia melakukan gerakan seperti yang diajarkan Rubby. Dia juga mengalirkan energi spiritualnya dalam mempraktekkan jurus itu. Wu Jin Ming yang seorang jenius bisa melakukannya dengan sempurna.
"Sekarang kita akan melakukannya bersama-sama!" ajak Rubby yang di balas anggukan oleh Wu Jin Ming.
Mereka mempraktikkan jurus itu dengan gerakan yang selaras. Gerakan mereka sangat indah seperti sedang membawakan sebuah tarian. Tubuh mereka berputar dan bergerak lincah. Suara bambu yang berdecit mengalun mengiringi gerakan demi gerakan yang mereka lakukan.
Seperti biasanya setelah mereka selesai menguasai satu jurus, mereka berlatih untuk bertarung. Bukan untuk kalah atau menang tetapi mereka harus melakukannya dengan sungguh-sungguh tanpa harus melukai satu sama lain. Mereka bertarung dengan sengit seolah sedang menghadapi musuh.
Pertarungan mereka tidak hanya mempraktikkan jurus pedang saja. Sesekali mereka juga memadukan dengan jurus terbang. Tidak hanya itu, kekuatan spiritual yang mendukung untuk menyempurnakan jurus itu pun mereka keluarkan.
Meskipun yang mereka gunakan hanya pedang dari bambu, tetapi saat kedua pedang mereka bertemu bisa menimbulkan ledakan. Ledakan itu terjadi karena energi yang mengalir di sana. Dengan adanya energi spiritual pedang itu juga bisa melukai lawannya seperti pedang sungguhan bila mengenai tubuhnya.
****
__ADS_1
Bersambung...