
"Baiklah! Aku tidak akan bebelas kasihan lagi!" seru Rubby.
Rambut Rubby yang semula berwarna hitam legam kini berubah menjadi putih. Dia mulai menampilkan wujud aslinya sebagai Dewi Bintang Jingga. Para pembesar istana dan yang lainnya mulai ketakutan ketika merasakan tekanan energi yang kuat dari tubuh Rubby.
Tangan kiri Rubby terulur ke depan dan dengan kekuatannya menarik tubuh Tian Yu ke sisinya. Dalam waktu sekejap, Tian Yu sudah berada di dalam gendongannya. Dengan begitu, Rubby hanya bisa memakai tangan kanannya untuk menyerang Ratu Erlong.
"Aku beri pilihan padamu sekali lagi! Kamu menyerah dan pergi dari sini atau tetap melawanku dan mati," ucap Rubby tenang namun penuh kobaran emosi.
Ratu Erlong sebenarnya juga merasakan tekanan energi Rubby, namun dia tidak mempercayai apa yang dirasakannya. Bisa saja ini adalah kekuatan ilusi untuk melemahkan mentalnya, pikir Ratu Erlong. Tanpa rasa takut dan keyakinan untuk menang, Ratu Erlong memilih untuk melawan Rubby. Dia yakin bisa mengalahkan Rubby dan meraih posisi sebagai permaisuri Kerajaan Harimau Suci. Mimpi.
"Aku tidak takut padamu, Manusia. Aku akan tetap melawanmu sampai aku mendapatkan yang aku mau!" Jawaban Ratu Erlong membuat para pembesar istana menjadi pucat pasi.
Di ruang pertemuan ini pasti akan terjadi tragedi berdarah, para pembesar istana bersikap waspada takut kalau-kalau terkena energi yang menyasar pada mereka.
"Baiklah! Sudah diputuskan jika hari ini adalah hari kematianmu!" Rubby menatap Ratu Erlong tajam dengan tatapan kejamnya.
Tangan kanannya terangkat ke depannya dengan telapak tangan yang terbuka ke depan. Dari sana keluar energi berwarna jingga yang menyerupai api yang menyala. Itu adalah bentuk api suci biru milik Rubby yang bercampur energi dari tubuhnya.
Di sisi lain, Ratu Erlong juga mengeluarkan energinya dari kedua telapak tangannya. Orang pertama yang dia incar bukan Rubby melainkan Tian Yu. Dengan membuat Tian Yu terluka atau mati, maka Rubby akan lemah dan sangat mudah untuk dikalahkan.
"Rasakan ini!" pekik Ratu Erlong memberikan serangannya.
Sebuah lemparan energi yang melesat cepat ke arah tubuh Rubby di bagian kiri. Rubby menyambutnya dengan lemparan yang sama sebelum energi itu mencapainya. Ledakan keras terdengar ketika dua energi itu bertemu.
Ratu Erlong kembali menyerang dengan kedua tangannya saling bergantian. Dia memandang remeh Rubby yang bertarung sambil menggendong anaknya. Menurutnya, akan lebih mudah untuk mengalahkannya.
Serangan demi serangan yang diberikan oleh Ratu Erlong, dapat diatasi dengan mudah. Itu membuat Ratu Erlong semakin tersulut amarah. Dia mulai berpikir cara yang lain untuk mengalahkan Rubby.
Ratu Erlong merubah tubuhnya menjadi siluman kera untuk menambah kekuatannya. Wajah cantiknya perlahan berubah menjadi mirip seperti kera. Kulitnya yang tadinya mulus, kini mulai ditumbuhi bulu berwarna coklat di beberapa bagian.
__ADS_1
Tubuh Ratu Erlong pun berubah sedikit membungkuk seperti kera pada umumnya. Dia benar-benar jauh berbeda dengan penampilannya sebelum berubah wujud. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terheran-heran, kecuali pengawal pribadi Ratu Erlong yang juga masih di sana.
"Ibu, dia jelek sekali. Mana mungkin ayah mau menjadikannya ibu lain untukku," celoteh Tian Yu membuat Rubby terkejut.
"Hmm, anak nakal! Jangan suka menguping pembicaraan orang dewasa. Itu tidak baik, kamu masih anak-anak, Sayang. Kamu belum mengerti apa-apa." Rubby memperingatkan putranya.
Tian Yu mengangguk.
Melihat Rubby sedang mengobrol bersama putranya, Ratu Erlong mengambil kesempatan itu untuk menyerang mereka. Sebuah energi yang memancar dari telapak tangan Ratu Erlong dia arahkan ke tubuh Rubby dan Tian Yu. Sebuah gelombang energi yang besar berwarna kuning keemasan memancar dan membuat ruangan tempat mereka bertarung bergetar seperti sedang terjadi gempa bumi.
Rubby yang belum siap segera melompat untuk menghindar. Kini tubuhnya melayang di udara namun energi Ratu Erlong terus mengejarnya. Merasa terancam, simbol naga di lengan kiri Rubby aktif menjadi pelindung, dengan begitu Rubby punya kesempatan untuk mengeluarkan energi spiritual dari telapak tangan kanannya.
Pancaran energi berwarna jingga dan ungu terus bergerak memanjang menyongsong energi milik Ratu Erlong. Energi yang dikeluarkan oleh Rubby tidak menimbulkan getaran seperti energi milik Ratu Erlong melainkan menimbulkan sebuah hawa dingin yang menusuk tulang. Setelah melakukan penyatuan jiwa, api suci milik Rubby juga bisa berubah menjadi dua sifat, dingin dan panas.
Duaarrr! Boom!
Sebuah ledakan keras kembali terdengar. Bukan itu saja, gelombang yang ditimbulkannya membuat gempa lokal terjadi di ruangan itu. Guci-guci besar dan beberapa benda pecah belah yang lain bergerak dan menimbulkan suara yang sangat gaduh. Benda-benda yang berada di atas meja seperti vas-vas kecil dan hiasan dinding berjatuhan dan pecah.
Pancaran energi Ratu Erlong perlahan terdorong mundur. Dia terus menambah energi yang dikeluarkannya sambil menahan tekanan kekuatan Rubby. Mulutnya terbuka dan memperlihatkan gigi-giginya yang beradu untuk menahan energi Rubby, dari celah giginya tampak mengeluarkan darah akibat kerasnya dia menggigit.
Seberapa kuat perjuangan Ratu Erlong untuk bertahan, rasanya itu adalah hal yang sia-sia. Energi milik Rubby terus menekannya dan sedikit lagi mencapai tubuhnya. Semakin dekat jarak energi itu dengan tubuhnya, semakin besar tekanan yang ditimbulkannya. Tubuh Ratu Erlong terdorong ke belakang dan selangkah demi selangkah kakinya mundur dengan sendirinya karena tidak mampu menahan dorongan energi Rubby.
Merasa ini sudah terlalu lama membuang waktu, Rubby segera meningkatkan aliran energinya.
Blaamm!
Tubuh Ratu Erlong menghantam dinding ruangan itu karena sudah tidak mampu lagi menahan gelombang energi Rubby yang sangat besar.
Pancaran energi Ratu Erlong perlahan habis termakan oleh energi Rubby yang terus membakarnya.
__ADS_1
Setelah energi milik Ratu Erlong habis, energi Rubby merayap dengan cepat menyerang Ratu Erlong.
Ratu Erlong berusaha untuk lari namun sudah tidak ada kesempatan lagi. Energi milik Rubby terus mengejarnya dan tidak memberinya ampun.
Perlahan tubuh Ratu Erlong membeku.
Setelah seluruhnya terbungkus oleh api suci dingin miliknya, Rubby segera menghentikan aliran energinya dan beralih menggunakan jurus yang lain.
Rubby memakai jurus pengendali jarak jauh untuk mengendalikan api suci di tubuh Ratu Erlong.
Telapak tangannya mengulur ke depan. Ketika Rubby memutarnya maka tubuh Ratu Erlong pun ikut berputar, begitu juga dengan gerakan lainnya. Rubby tersenyum puas mempermainkan tubuh itu sebelum benar-benar menghancurkannya.
Telapak tangan Rubby terlihat terbuka namun kembali tertutup seperti sedang meremas sesuatu. Bersamaan dengan itu, tubuh Ratu Erlong yang membeku hancur berkeping-keping seolah ada tangan raksasa yang meremasnya.
Tidak cukup sampai di situ saja, Rubby yang tidak ingin ceceran jasad Ratu Erlong mengotori ruangan itu, membakarnya dengan api panas yang mampu melahapnya tanpa sisa.
Pengawal pribadi Ratu Erlong menatap semua yang ada di hadapannya dengan tatapan tak percaya. Di negeri mereka, Ratu Erlong termasuk dalam jajaran siluman terkuat. Dengan mudahnya seorang ratu yang terlihat lemah membuatnya mati tanpa meninggalkan jejak.
Para pengawal itu semakin pucat pasi ketika Rubby turun dari udara dan berjalan mendekati mereka dengan tatapan dingin yang menakutkan.
"Hei, kalian! Ratu kalian sudah mati. Jangan bilang aku yang kejam karena telah membunuhnya. Kalian tahu bukan, jika dia sudah sangat kurang ajar dan melewati batasannya?" Rubby berbicara pelan namun terasa tegas.
"Kam-kam-kami mengerti Yang Mulia Ratu. Ratu Erlong sudah bersikap tidak sopan pada Yang Mulia Ratu." Salah satu pengawal pribadi Ratu Erlong menjawab pertanyaan Rubby.
"Bagus! Katakan juga pada dunia di luar sana, siapapun yang mengusikku dan menginginkan posisi menjadi selir Yang Mulia Raja, akan mengalami nasib yang sama seperti Ratu Erlong. Sekarang pergilah kembali ke negeri kalian dan memilih pemimpin yang baru sebelum aku berubah pikiran!" perintah Rubby.
Ketika para pengawal Ratu Erlong memberi hormat dan bersiap pergi dari ruangan itu, Wu Jin Ming datang bersama Panglima Ang memasuki ruangan dengan perasaan heran.
****
__ADS_1
Bersambung ...