
Rubby dan Wu Jin Ming berjalan memutar melewati beberapa istana lain menuju ke pemandian. Para Dewi yang sudah terlihat cantik bercengkrama bersama keluarga dan dayang mereka di taman-taman istana. Mereka melirik Rubby dengan tatapan yang aneh. Mungkin Rubby satu-satunya Dewi paling malas di istana langit. Apalagi dengan rambutnya yang berantakan dan masih memakai baju tidur ketika menuju ke pemandian.
"Kak Wu! Ahh, aku malu! Mereka pasti menggunjingkanku di belakang," gerutu Rubby kesal.
"Biarkan saja! Kita tidak ada urusan dengan mereka!"
Wu Jin Ming meraih bahu Rubby dan memeluknya sambil berjalan ke pemandian.
"Yang Mulia Dewi, mari mandi di sebelah sini!" seorang dayang menunjukkan kolam mandi untuk Rubby. Wajah dayang itu terlihat berkeringat seperti sedang menahan sesuatu.
Tanpa curiga Rubby mengikuti dayang itu ke kolam khusus yang dipersiapkan untuknya. Kolam itu mirip seperti kolam mandi di kerajaan Wu Jin Ming. Aroma wangi menyebar di seluruh ruangan membuat Rubby ingin segera menceburkan diri ke dalam kolam.
Setelah di bantu oleh para dayang untuk menanggalkan baju luarnya, Rubby segera masuk ke dalam kolam. Aroma wewangian membuatnya tenang. Dia tidak merasa risih lagi ketika para dayang membantu menggosok tubuhnya.
Di tempat lain Wu Jin Ming masuk ke dalam kolam mandi yang berbeda. Kolam mandi yang lebih besar dan lebih indah dari kolam yang dipakai oleh Rubby. Wu Jin Ming merasa curiga ketika tidak ada seorang dayang pun di sana.
Pandangan mata Wu Jin Ming mengedar ke sekeliling. Aroma menyengat sebuah dupa membuatnya curiga sepertinya seseorang sengaja menaruh dupa afrosidiak di ruangan mandi Wu Jin Ming. Sedikit saja zat itu masuk ke dalam pernapasan Wu Jin Ming sudah membuatnya mabuk. Zat itu pasti memiliki dosis yang tinggi.
"Aarrgghh! Sial!" Wu Jin Ming memegangi dadanya yang terasa sesak karena menahan panas tubuhnya yang mulai meningkat tajam.
Tiba-tiba dari dalam kolam mandinya muncul seseorang yang sangat di kenalnya, Dewi Lamora.
"Heh! Apa yang kamu lakukan di sini? Pergi dari sini!" usir Wu Jin Ming.
"Kenapa kamu mengusirku? Kamu tenang saja, tidak ada yang melihat kita di sini. Aku sudah mengusir dayang-dayang itu pergi dan tidak membiarkan siapapun masuk ke sini." Dewi Lamora mendekati Wu Jin Ming dan menempelkan tubuhnya yang setengah telanjang di tubuh Wu Jin Ming.
"Apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu berbuat seperti ini? Aarrrghh!" Wu Jin Ming berusaha menekan efek zat itu dengan kekuatannya namun sia-sia.
"Kamu tidak akan bisa lepas dari pengaruh ramuan ini sebelum kamu melepaskan sesuatu yang tertahan di sini." Dengan berani Dewi Lamora menyentuh bagian pribadi milik Wu Jin Ming.
"Singkirkan tanganmu! Aku tidak berminat padamu! Murahan!" Wu Jin Ming bangkit dari duduknya dan keluar dari dalam kolam mandinya.
"Jangan pergi! Terserah kamu mau menghinaku, aku tidak peduli! Aku sudah sejak lama menginginkanmu!" Tanpa rasa malu Dewi Lamora memeluk tubuh Wu Jin Ming dari belakang.
__ADS_1
Sebagai seorang pria dewasa, di saat tubuhnya dikuasai oleh hasratnya munafik jika dia tidak menginginkan sentuhan seorang wanita. Pengaruh zat adiktif itu sangat besar, Wu Jin Ming sangat sulit untuk menguasai dirinya ketika Dewi Lamora mulai memberinya sentuhan di beberapa titik yang membuatnya semakin tidak bisa menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.
Melihat Wu Jin Ming diam saja, Dewi Lamora semakin berani meningkatkan aksinya. Dia memutar tubuhnya ke depan dan mendorong tubuh Wu Jin Ming ke lantai. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Dewi Lamora segera membuka kakinya lalu duduk di pangkuan Wu Jin Ming dengan posisi saling menghadap.
"Arrgghh!" Wu Jin Ming mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya dan mendorong tubuh Dewi Lamora dengan sedikit mengeluarkan energi spiritualnya.
Tubuh Dewi Lamora terjerembab ke belakang dengan rasa sakit di dadanya akibat pukulan energi Wu Jin Ming. Tubuhnya terasa sakit ketika dia akan mencoba bangkit dan melanjutkan rencananya yang hampir berhasil. Semakin dia mencoba maka dadanya semakin terasa sakit karena tekanan energi dari Wu Jin Ming yang belum bisa dinetralisir olehnya.
"Ahhh! Panas sekali!" Wu Jin Ming menyambar kain yang terpasang sebagai penutup pintu untuk menutupi tubuhnya.
Wu Jin Ming berjalan sempoyongan sambil menahan hawa panas di tubuhnya dan keinginan untuk melepaskan sesuatu yang membuat pikirannya tidak bisa berpikir normal lagi. Bayangin tubuh Rubby menari-nari di pelupuk matanya membuat dia terus menggumamkan namanya.
"Rubby! Rubby! Rubby!" hanya kata-kata itu yang terus keluar dari mulut Wu Jin Ming saat berjalan menuju ke pemandian Rubby.
Di kolam mandinya, Rubby mendengar suara rintihan yang menyebut namanya. 'Suara yang sangat mirip dengan kak Wu. Ahhh! Mungkin ini hanyalah halusinasiku saja. Baru saja beberapa menit berpisah dengannya aku sudah sangat merindukannya.' Rubby bermonolog dalam hati.
"Yang Mulia Dewi! Yang Mulia Dewa jatuh di depan pintu!" teriak salah satu dayang ketika melihat Wu Jin Ming jatuh tersandung oleh kakinya sendiri.
"Apa? Bantu dia masuk!" perintah Rubby.
Semua dayang yang ada di ruangan itu menundukkan wajahnya. Mereka tidak berani mengangkat kepalanya walaupun cuma sedikit. Melihat tatapan Wu Jin Ming yang tajam menakutkan membuat nyali mereka semakin menciut.
Mereka terpaksa menuruti rencana jahat Dewi Lamora karena ancamannya yang sangat menakutkan. Dewi Lamora mengancam akan melaporkan pada Dewa Langit atas kesalahan yang tidak mereka lakukan. Selain malu, mereka juga akan terancam dikeluarkan dari istana langit.
"Kak Wu! Apa yang terjadi?" Rubby langsung berdiri dan berjalan menghampiri Wu Jin Ming.
"Sial! Ada seseorang yang berusaha untuk meracuniku." Wu Jin Ming berjalan maju dan menubruk tubuh Rubby.
"Pelayan pergilah!" seru Rubby setelah tahu apa yang terjadi pada Wu Jin Ming. Meskipun Wu Jin Ming tidak memberitahunya, Rubby sudah tahu jika dia terkena racun afrosidiak akut.
"Tunggu! Kalian tunggu kami di luar ruangan ini. Aku ingin tahu siapa saja yang terlibat dalam penjebakanku!" ucap Wu Jin Ming tegas.
"Ba... baik, Yang Mulia!" wajah mereka terlihat sangat ketakutan namun menghindar dari Wu Jin Ming akan membuat hidup mereka semakin tidak tenang.
__ADS_1
Dayang-dayang atau pelayan itu berjalan dengan lambat meninggalkan pemandian karena tubuh mereka bergetar hebat. Ketakutan membuat detak jantung mereka berdetak sangat kencang. Keringat dingin juga membuat mereka terlihat sangat pucat.
Pengadilan sang Panglima Langit menanti mereka. Menyinggung Wu Jin Ming berarti menyinggung seluruh Dewa di istana langit. Mereka berharap akan ada keajaiban yang bisa menyelamatkan mereka dari kematian.
"Sayang.... Tolong aku!" ucap Wu Jin Ming memohon.
"Ssttt! Jangan katakan itu! Kemarilah!" Rubby tahu jika saat ini Wu Jin Ming benar-benar tersiksa. Dia tidak ingin membuang waktu karena matahari sudah mulai meninggi. Acara pelepasan energi ke dalam neraca akan segera di mulai.
Beruntung bayi Rubby sudah tidak berada di dalam rahimnya sekarang. Jika tidak kebuasan Wu Jin Ming kali ini pasti akan sangat membahayakannya. Pengaruh racun dalam zat itu memang benar-benar berbahaya. Siapapun yang terkena olehnya akan sangat sulit untuk mengendalikan dirinya.
Dewi Lamora memang sangat licik. Dia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tidak mungkin jika dia hanya ingin mendapatkan tubuh Wu Jin Ming saja. Dia tentu akan menuntut lebih karena dia tahu siapa Wu Jin Ming sebenarnya.
Keluarga Wu Jin Ming secara turun temurun mewarisi sebuah benua yang terletak di negeri atas angin. Para Dewa dahulu berebut untuk mendapatkan kesempatan itu. Sayangnya tidak ada yang mampu memerintah di sana sebaik keluarga Dewa Perang karena penduduk di sana rata-rata sangat suka memberontak.
Keluarga Dewi Lamora adalah keturunan Dewa Pelindung. Mereka sangat menginginkan benua atas angin karena masih banyak kekayaan yang terpendam di sana. Di dalam legenda di benua tersebut juga terdapat kolam darah pembimbing roh. Sebuah kolam yang mampu membangkitkan kultivasi di luar batas normal.
Leluhur Wu Jin Ming menyimpan semua cerita tentang negeri atas angin di dalam kitab-kitab yang ada di ruang penyimpanan yang mereka temukan belum lama ini. Sayangnya baik Rubby maupun Wu Jin Ming belum sempat untuk menyentuh buku-buku itu. Buku yang sangat penting untuk kelangsungan hidup negeri di atas angin.
Perlindungan berlapis yang melindungi ruangan rahasia itu cukup beralasan. Jika ruangan itu berhasil dimasuki oleh orang tidak di kenal maka sudah dipastikan jika benua dan seluruh negeri atas angin akan dengan mudah dikuasai. Di salah satu kitab yang tersimpan di ruang rahasia dijelaskan secara rinci tentang kekuatan dan kelemahan penduduk negeri itu yang sangat mahir dalam menggunakan ilmu sihir.
Seseorang yang tidak berhati-hati akan langsung terjebak dalam ilusi mereka ketika sampai di sana. Tanpa Wu Jin Ming ketahui saat ini benua Am sedang mencapai titik kejayaannya. Dewi Lamora berharap dengan mendapatkan keturunan dari Wu Jin Ming akan diberikan kekuasaan dan menjadi ratu di benua Am.
Menjadi Dewi di istana langit sangat membosankan bagi Dewi Lamora karena dia memang bukan keturunan murni seorang Dewi. Dia terlahir dari siluman ular yang dinikahi oleh Dewa Pelindung. Ibunya meninggal ketika melahirkannya namun sifat liciknya masih menurun kepadanya meskipun ibunya tidak pernah menunjukkan sifat itu padanya.
"Rubby, maafkan aku! Aku di jebak oleh seorang wanita. Tetapi sungguh aku tidak menyentuhnya. Aku harap kamu bisa mempercayaiku. Jangan dengarkan apa yang dia katakan jika dia berbicara yang tidak-tidak!" jelas Wu Jin Ming setelah pengaruh zat berbahaya itu sepenuhnya menghilang dari tubuhnya.
"Aku percaya padamu. Jika kamu menyentuhnya, kamu tidak mungkin datang padaku dalam keadaan seperti itu."
****
Bersambung...
Numpang promo kak novel karya temenku... mampir ya..
__ADS_1