TIGER WU

TIGER WU
MUSUH TAK TERLIHAT


__ADS_3

Tranggg!! Tangg! Tangggg!


Terdengar suara benda jatuh di ruangan lain.


Rubby berpikir dan menimbang-nimbang untuk melihatnya atau tidak. Jika dia melihatnya lalu makhluk itu menyerangnya tentu dia tidak bisa melawannya saat ini. Sedangkan jika dia diam saja dan bersembunyi nanti akan ada bahaya yang tidak dia sadari. Sama saja.


Rubby tampak gelisah memikirkan apa yang harus dia lakukan. Tangannya meremas tangannya yang lain yang terasa dingin karena panik. Perasaannya semakin tidak enak ketika hawa makhluk itu semakin mendekat.


"Maafkan aku, Kak Wu!" Rubby berdiri dan meninggalkan meja kerjanya.


Tidak ada gunanya dia terus berdiam diri. Lambat laun makhluk itu juga akan menangkapnya.


Suara hati Rubby tersampaikan kepada Wu Jin Ming. Dia seolah-olah mendengar Rubby sedang memanggilnya. Perasaannya menjadi tidak enak.


Wu Jin Ming ingin segera meninggalkan kantin, namun makanan yang dia pesan belum selesai disiapkan.


"Kak, bisa ke antar ke ruang B-12 di lantai 3. Aku ada tips sedikit!" Wu Jin Ming memberinya selembar uang.


"Baik, Kak Tiger!" Rupanya pelayan kantin itu cukup mengenalnya.


"Terimakasih, nanti kalau bingung, tanya saja ruangan team Rubby."


"Baik, Kak Tiger. Akan segera saya antar."


Pesanan box memang sedikit lama. Pihak kantin mendahulukan pesanan yang dimakan di tempat. Itu yang membuat Wu Jin Ming menunggu terlalu lama.


Kembali ke ruang kerja Rubby.


"Hahha... rupanya ada orang di sini." Suara seseorang terdengar namun wajahnya belum juga terlihat.


"Jangan main tebak-tebakan! Cepat tampakan wujudmu!" seru Rubby tanpa rasa takut.


Tangan kanannya menyabet pipa penyangga yang biasa digunakan dalam proses shooting. Mungkin saja itu akan berguna meskipun terlihat sepele. Rubby bisa memakainya untuk senjata darurat.


"Astaga! Apa tidak ada yang lebih keren, ya?" Rubby menimang-nimang pipa di tangannya.


"Itu hanya mainan anak kecil!" seru makhluk asing yang belum juga menunjukkan wajahnya.


"Biarin! Bilang saja kamu takut. Iya, kan?" ejek Rubby.

__ADS_1


"Mana ada aku takut batang pipa yang tidak berguna itu." Suara makhluk itu terdengar sangat kesal.


"Buktinya kamu tidak berani muncul. Takut aku timpuk pakai ini, kan? Atau kamu tidak punya muka?" oceh Rubby memancing makhluk itu untuk menampakkan dirinya.


Merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Rubby, makhluk asing itupun akhirnya menampakkan dirinya.


Wajah menyeramkan dengan sisik-sisik berwarna hitam. Tubuhnya memang tegak seperti manusia namun dia memiliki ekor yang panjang. Pupil matanya besar berwarna kekuningan dan berbentuk khas seperti mata ular. Di atas kepala terdapat juntaian seperti tentakel yang menutupi seluruh bagian kepalanya.


Jika dibandingkan dengan siluman ular yang Rubby temui sebelumnya, siluman inilah yang paling mengerikan.


Rubby sedikit terkejut saat pertama kali melihat. Hampir saja pipa yang dia pegang terjatuh saking kagetnya. Apalagi jarak mereka berdua tidak kurang dari 1 meter.


"Kamu siluman ular, ya? Kenapa kamu tiba-tiba muncul di sini. Ini kan tempatnya orang kerja!" Rubby memarahi siluman itu seperti sedang memarahi seorang anak kecil yang melakukan kesalahan.


"Aku sedang mencari saudariku yang telah menikah dengan manusia. Aku mencium aromanya di sekitar tempat ini. Aku ingin membawanya pulang ke istana ular. Dia harus menerima hukuman atas kesalahannya."


"Tapi kamu tidak boleh mengganggu ketenangan manusia yang ada di sini. Ahh, kamu ini bagaimana? Lihat itu ekormu yang panjang. Bisa-bisa membuat semua benda yang tersenggol menjadi berantakan."


Rubby memukul-mukulkan pipa itu di telapak tangan kirinya.


"Cerewet! Sudah aku bilang aku hanya ingin memcari saudara perempuanku di sini."


"Kan kamu bisa menunggunya di luar, Jelek!" seru Rubby.


"Apa? Kamu memanggilku jelek? Berani sekali kamu bilang begitu. Aku adalah siluman tertampan di negeriku."


Siluman itu maju mendekat dengan lidah yang menjulur-julur keluar. Giginya yang runcing tampak berkilau saat bibirnya terbuka. Matanya yang bulat dan sedikit menonjol bergerak-gerak seakan ingin melompat keluar dari kelopak matanya.


"Ini bukan negerimu. Ini negeri para manusia, jadi aku menilai menurut pandangan manusia. Tidak usah melotot seperti itu. Kamu terlihat tambah jelek!"


Sepertinya siluman itu merasa sensitif dengan kata jelek. Dia terlihat marah seperti ingin menerkam Rubby. Tangannya maju ke depan dan berusaha untuk mencekik leher Rubby.


Rubby berusaha memukulnya menggunakan pipa besi sambil berjalan mundur. Pipa yang dia pukulkan berulang-ulang itu tidak membuat siluman ular itu mundur. Mungkin pukulan itu tidak berasa di kulitnya yang dipenuhi sisik.


Sesekali Rubby melirik ke belakang untuk melihat jalan. Dia sengaja membawa siluman itu ke tempat yang lebih lapang agar tidak menimbulkan kerusakan. Langkah kakinya semakin cepat membuat Rubby pun mengimbanginya dengan langkah yang sama.


Buugg...!


Punggung Rubby menabrak tembok di sebelah pintu keluar.

__ADS_1


Tangan Rubby menggapai-gapai gagang pintu namun tidak sampai. Pandangan matanya tidak beralih dari siluman itu agar tetap bisa waspada. Siluman itu semakin dekat dan tangannya berhasil memegang pipa Rubby.


"Aarrrgghh!" pekik siluman itu ketika Rubby melemparkan vas bunga yang sebelumnya ada di sebelahnya.


Lemparan itu berhasil mengenai bola mata siluman ular itu hinggan membuat matanya pedih karena tertusuk bunga imitasi.


"Kurang ajar! Aku akan membuatmu menyesal karena sudah menghinaku dan melukai mataku!" Siluman itu benar-benar sangat marah sekarang.


Dia mengulurkan tangan kanannya ke depan dan mencekik leher Rubby.


"Aahhh!" Rubby memegang tangan itu dan mencoba menahannya dengan sekuat tenaga agar dia bisa bernafas.


Kuku-kukunya yang panjang juga membuat kulit leher Rubby tergores dan merasakan perih.


Brakkk!


Pintu terbuka kasar.


Wu Jin Ming muncul di saat yang tepat ketika Rubby hampir kehabisan nafas karena cekikan siluman ular.


Melihat hawa siluman dari tubuh Wu Jin Ming, siluman ular itu akhirnya melepaskan cekikannya dan melemparkan tubuh Rubby ke samping.


Secepat kilat Wu Jin Ming menangkap tubuh Rubby sebelum menyentuh lantai.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Menyiksa manusia yang tidak bersalah?" ucap Wu Jin Ming setelah berhasil membantu Rubby berdiri dengan tegak.


"Dia menghinaku! Aku ke sini hanya ingin mencari saudara perempuanku. Aku harus segera membawanya kembali ke negeri ular."


"Apa kamu yakin jika dia berada di sini?" tanya Wu Jin Ming yang membuat siluman itu tampak berpikir.


"Aku mencium aroma tubuhnya ada di sini. Tapi aku belum melihatnya," jujur siluman ular itu.


"Jika ada siluman ular di sini aku pasti juga bisa merasakan kehadirannya, karena aku juga siluman sepertimu. Tapi tidak ada siluman apapun di sini. Pergilah!" seru Wu Jin Ming tegas.


"Bisa saja kamu menyembunyikannya! Aku tidak bisa percaya begitu saja padamu!" Siluman ular itu masih merasa jika dia benar.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2