TIGER WU

TIGER WU
BIMBANG


__ADS_3

"Cepat katakan apa maumu, Kakek Tua! Aku harus segera pergi!" Saat ini yang ada di otak Rubby hanya belanja ... belanja ... dan belanja.


"Aku punya nama. Namaku Tong Min, biasa di panggil guru Tong." Kakek tua itu memperkenalkan diri pada Rubby.


Rubby memutar bola matanya jengah, dia tidak menyukai semua hal yang berbau formal.


"Tuan Guru Tong, aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud dan tujuan Tuan Guru memanggil kami ke mari dan menyidang kami seperti seorang terdakwa seperti ini." Rubby meluapkan kekesalannya.


"Karena kamu memang tersangka yang akan kami adili di sini!" seru Guru Tong tegas.


"Astaga! Mimpi apa aku semalam. Baru saja aku mau happy-happy jalan-jalan dan shopping," gumam Rubby kesal.


"Tolong katakan bukti yang jelas jika kami mengambil sesuatu milik sekte ini!" Wu Jin Ming akhirnya angkat bicara setelah Guru Tong memberikan tuduhan.


Guru Tong mengambil sebuah kitab kuno yang telah usang dari gelang penyimpanannya. Mulutnya terlihat komat-kamit membaca mantra yang entah seperti apa bunyinya. Buku itu melayang di udara dan menampilkan halaman demi halaman yang terbuka dengan sendirinya.


Buku itu terus mengganti halamannya hingga terbukalah halaman yang menampilkan ilustrasi seperti sebuah pantulan pada layar proyektor.


Terlihat bayangan Rubby yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa di universitas tempat dosen Chu mengajar. Di sana terlihat Rubby sedang berada di dalam perpustakaan dan sedang memilih buku. Rubby mengambil beberapa buku dan membawa sebuah buku kuno yang menarik perhatiannya.


Mata Rubby nanar melihat rekaman kejadian itu. Tidak ada kesempatan lagi baginya untuk mengelak karena semua sudah sangat jelas. Rupanya kertas yang berisi tentang penyatuan jiwa itu adalah milik sekte ini.

__ADS_1


'Aku tidak menyangka jika kejadiannya jadi seperti ini. Lalu kenapa kertas usang itu ada di dalam buku yang aku baca seolah-olah dia ingin aku bawa. Oh, tidak! Apakah aku sedang dijebak?'


Tubuh Rubby terasa dingin sampai-sampai dia merasakan hembusan napasnya dan desiran darah yang mengalir di nadinya.


Rubby tidak bermaksud untuk mencuri, lagipula kertas itu tidak ada hubungannya dengan seluruh buku yang ada di perpustakaan. Tulisan di dalamnya juga menggunakan bahasa yang tidak bisa dimengerti oleh orang biasa. Itu adalah mantra yang ditulis dalam bahasa kuno yang sudah tidak dipelajari dan terlupakan dari sejarah.


Guru Tong mengambil dan menyimpan kembali buku itu setelah selesai menunjukkan pada semua orang yang ada di sana apa yang dia maksud.


Jantung Rubby berdegup kencang ketika kakek tua itu berjalan dan berhenti di hadapannya. Wajahnya kaku tidak bisa membentuk ekspresi apapun. Dia pasrah jika harus diadili untuk kesalahannya ini.


"Apa kamu sudah mengingatnya?" tanya Guru Tong.


Rubby mengangguk pelan.


"Kenapa kertas itu berada di kampus itu jika memang milik sekte ini? Aku menemukannya, bukan mencuri atau mengbil paksa dari sektemu!" Rubby tidak ingin menyerahkan kertas itu kembali pada Guru Tong.


"Dahulu seseorang telah mencurinya dari tempat ini dan membawanya pergi. Tanpa dia sadari kertas itu terbawa angin dan menyelip di sebuah buku seseorang yang ternyata mahasiswa di kampus itu. Mahasiswa itu tidak menyadari bahkan tidak tahu menahu soal kertas itu."


"Penjelasan yang panjang dan memusingkan. Tapi aku tetap tidak ingin mengembalikannya. Aku sedang membutuhkannya."


"Untuk apa? Jurus yang tertuang dalam surat itu sangat berbahaya. Dan kertas yang kamu bawa itu hanya sebagian saja. Masih ada lanjutannya yang saling berkaitan dengan isi di atasnya."

__ADS_1


Kali ini penjelasan Guru Tong membuat Wu Jin Ming tertarik. Rupanya ada jurus khusus untuk melakukan proses penyatuan jiwa. Beruntung Wu Jin Ming tidak langsung melakukan proses penyatuan jiwa Rubby.


"Maaf, Tuan Guru. Aku masih ingin meminjam kertas mantra itu untuk sebuah tujuan yang belum terselesaikan, Tuan. Aku janji akan segera mengembalikannya jika sudah selesai." Wu Jin Ming mencoba meminta ijin dengan sopan.


Guru Tong menatap Wu Jin Ming dengan tatapan aneh yang sulit untuk dijabarkan dalam kata-kata.


Berbeda dengan Wu Jin Ming, saat ini yang ada di otak Rubby hanyalah rasa kecewa karena gagal berbelanja. Hatinya terus menggerutu mengingat sepertinya kakek tua itu sulit untuk dihadapi. Tentu akan butuh waktu lama untuk bernegosiasi dengannya.


"Katakan untuk tujuan apa kamu menyimpan kertas itu?" tanya Guru Tong.


"Itu sangat rahasia, Tuan Guru. Mohon pengertiannya." Wu Jin Ming masih bersikap tenang.


Guru Tong mengelus jenggotnya yang panjang sambil berpikir.


"Kertas itu berisi tentang mantra penyatuan jiwa. Hanya orang yang memiliki tiga jiwa dan tingkatan kultivasi yang tinggi yang bisa melakukannya. Apa kamu yakin itu adalah tujuan yang kamu maksud?"


Wu Jin Ming terkesiap mendengar ucapan Guru Tong yang sepertinya sudah tahu tentang seluk beluk kertas mantra itu.


Dia merasa bimbang untuk mengatakan hal yang sebenarnya atau tidak pada Guru Tong. Secara otomatis, tentu hal itu akan membuat identitasnya terungkap. Bukan dia saja, tetapi juga Rubby.


****

__ADS_1


Bersambung...



__ADS_2