TIGER WU

TIGER WU
PERGI KE PANTAI


__ADS_3

"Manager Lin! Apakah masih ada pekerjaan untukku?" tanya Wu Jin Ming setelah kembali bergabung bersama kru.


Manager Lin membuka ponselnya. "Em, masih ada satu lagi. Kamu harus shooting iklan di Pantai Ni."


"Iklan apa?" tanya Rubby.


"Iklan minuman bersoda," jawab manager Lin.


"Kak Tiger, aku mau pulang saja," ucap Rubby.


"Kalau kamu pulang aku juga pulang," ucap Wu Jin Ming kesal.


"Hei, kalian kenapa sih? Apa kalian bertengkar?" tanya salah satu kru.


"Nona, iklan ini harus selesai dalam 2 hari. Aku mohon padamu, temani pacarmu!" ucap manager Lin memohon.


"Kak Tiger sama siapa shootingnya?" tanya Rubby.


"Diora. Model pendatang baru sama seperti Tiger juga," jelas manager Lin.


"Oh, baiklah. Aku pikir Catherine." saat menyebut nama Catherine sengaja dipelankan oleh Rubby.


"Sekarang mari bersiap-siap! Cuaca hari ini sangat cerah. Semoga semuanya berjalan lancar." manager Lin berdiri dan meminta asistennya untuk membawa perlengkapan yang di butuhkan.


Mereka berangkat bersama-sama. Barang bawaan yang banyak membuat mereka terbagi menjadi 3 mobil. Tak mau berdesakan, Wu Jin Ming memilih membawa mobilnya sendiri.


"By!" panggil Wu Jin Ming ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Hmm."


"Sejak kapan kamu menguasai mantra penghapus ingatan?" tanya Wu Jin Ming menyelidik.


"Baru semalam. Aku mendapatkan kemampuan itu saat berkultivasi tadi malam," jelas Rubby. Dia tidak menjelaskannya secara mendetail.


"Peningkatan yang luar biasa. Aku bangga padamu." Wu Jin Ming tersenyum.


"Apakah pantainya masih jauh?" tanya Rubby.


"Sepertinya tidak. Mungkin sepuluh menit lagi kita akan sampai."


"Aku sudah lama nggak pergi ke pantai. Aku ingin sekali bermain pasir. Tapi sayang aku nggak bawa baju ganti."


"Kamu jangan memakai baju yang terbuka! Tanda lahir Dewi Bulan di tubuhmu akan mengundang para siluman untuk datang," titah Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Kamu kan ada untuk melindungiku. Buat apa takut?"


Ucapan Rubby mendapat tatapan horor Wu Jin Ming.


"Ah, iya... iya... aku pakai baju tertutup. Gitu aja udah mau nggigit," ucap Rubby sewot.


"Bukannya aku tidak bisa melindungimu Rubby. Kemunculan para siluman juga akan membahayakan banyak orang. Apa kamu tidak kasihan kalau mereka di mangsa siluman?" Wu Jin Ming menatap Rubby sekilas.


"Iya juga sih. Kita tidak dapat memperkirakan apa yang akan terjadi."


"Nah, gitu dong. Anak baik!" Wu Jin Ming menggenggam tangan kanan Rubby dengan tangan kirinya. Dia menyetir mobil dengan satu tangan.


Saat mengelus tangan Rubby, Wu Jin Ming merasakan ada sebuah cincin yang tersemat di salah satu jari Rubby. Wu Jin Ming ingin melihatnya, tapi dia harus fokus menyetir karena mereka sudah hampir sampai. Mobilnya sudah memasuki gerbang pantai yang mereka tuju.


"By! Darimana kamu dapatkan cincin ini?" tanya Wu Jin Ming ketika mereka sudah sampai di parkiran.


"Dari kultivasi semalam juga," ucap Rubby mencoba bersikap biasa. Dia berharap Wu Jin Ming tidak akan curiga.


"Ini adalah cincin kuno ribuan tahun dan merupakan senjata paling mematikan di jamannya. Apa kamu tahu kegunaannya?" tanya Wu Jin Ming sambil terus memperhatikan cincin itu.


"Cincin ini akan berubah menjadi pisau yang digerakkan dengan mantra pengendali."


"Tepat sekali. Dan pisau itu juga bisa menyerap racun karena pada dasarnya pisau ini beracun."


"Benar. Bila menyentuh binatang atau manusia, sudah dipastikan umurnya tidak akan lama jika racunnya tidak segera di serap kembali."


"Ohhh! Aku akan berhati-hati menggunakannya."


"Aku heran kenapa cincin itu bisa ada di tanganmu. Terakhir pemiliknya adalah Dewa Sao Tian. Rajanya para bidadari."


"Dewa Sao Tian. Apakah dia ada hubungannya dengan Ratu Iv..." hampir saja keceplosan. Rubby segera menghentikan ucapannya.


"Kamu tahu sesuatu, By?" Wu Jin Ming menatap Rubby curiga.


"Nggak tadi aku asal bicara. Namanya sangat mirip dengan tokoh film yang pernah aku tonton. Sao Tian dan ratu Ivana. Iya, itu!" Rubby mengarang cerita.


Tokkk... tokk... tokk...


Jendela mobil mereka di ketok dari luar.


Sebenarnya Wu Jin Ming masih belum yakin dengan penjelasan Rubby. Tapi masih banyak hal yang harus dia selesaikan hari ini. Mungkin Rubby punya alasan tersendiri untuk membohonginya. Wu Jin Ming yakin tadi Rubby akan menyebut nama Ratu Ivo.


"Pacaran terus. Tadi aja sok-sokan berantem. Ayo cepat aku make up dulu." penata rias yang akan merias Wu Jin Ming menjemputnya ke parkiran setelah bosan menunggu kemunculannya.

__ADS_1


Wu Jin Ming dan Rubby saling pandang.


"Malah pandang-pandangan lagi. Pusiiiing deh ciinnn! Emang susah ya berurusan sama orang yang lagi di mabok cinta." suara melengking penata rias itu membuat Rubby dan Wu Jin Ming menutup telinga. Bibirnya penyar penyor begitu lihainya.


"Iya, iya, kita turun. Yuk, Yang!" Wu Jin Ming mencium Rubby di hadapan pria melambai itu.


"Tiger, ihhh! Aku jadi gemes... gemes... gemes... deh!" tingkah penata rias itu semakin membuat Rubby tidak bisa menahan tawa.


Mereka bertiga berjalan menuju ke tempat make up. Gelak tawa terdengar dari kejauhan. Penata rias itu selalu saja membuat lelucon yang mengundang tawa Rubby dan Wu Jin Ming.


Rubby memilih menyusuri indahnya pantai ketimbang menemani Wu Jin Ming shooting. Sudah lama dia tidak mengunjungi tempat wisata terutama pantai. Langkahnya terhenti di dekat anak-anak yang sedang membuat istana pasir.


Mereka bermain dengan riangnya. Rubby kembali berjalan. Dia semakin mendekati bibir pantai. Ingin rasanya dia bermain air. Tapi takut Wu Jin Ming marah jika bajunya basah.


"Cantik! Sendirian aja!" sapa seorang pemuda tak di kenal.


"Sama pacar kog! Dia lagi shooting!" tunjuk Rubby ke arah lokasi shooting Wu Jin Ming.


"Oh! Boleh aku temani? Perkenalkan aku Zhao!" pemuda yang mengaku bernama Zhao itu mengulurkan tangannya.


Dengan sedikit ragu Rubby membalas uluran tangannya.


"Rubby!"


"Nama yang cantik," puji Zhao sambil terus menatap wajah Rubby penuh minat.


"Terimakasih." Rubby memaksakan diri tersenyum. Dia tidak nyaman berdekatan dengan orang asing.


Dari arah belakang mereka muncul segerombolan anak muda. Mereka berlarian menghampiri mereka. Ternyata mereka adalah teman-teman Zhao.


Mereka berpikir Rubby adalah gebetan Zhao. Dengan brutal mereka menarik tubuh Rubby dan Zhao ke tengah laut. Rubby yang tidak siap dengan kejadian mendadak itu tidak dapat menghindar. Tubuhnya mulai masuk ke dalam air.


Tidak sampai di situ saja. Gerombolan perusuh itu juga menciprat-cipratkan air ke seluruh tubuh Rubby. Rubby terbakar emosi. Tanpa sengaja dia menghentakkan kakinya karena tak bisa menahan kesal.


Hentakkan kaki Rubby membuat bumi bergetar. Ombak di pantai itu bergulung meninggi. Zhao dan teman-temannya berlari meninggalkan Rubby. Mereka ketakutan.


Rubby berjalan santai menuju daratan. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan hitam berkumpul di atas pantai itu.


Kening Rubby mengernyit heran. Sepertinya akan terjadi badai. Tapi ini sudah bukan akibat dari ulahnya tadi. 'Apakah ada kultivator lain di pantai ini?' tanya Rubby dalam hati.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2