TIGER WU

TIGER WU
TAKJUB


__ADS_3

Guru Tong berjalan dengan lututnya maju untuk menyerahkan kertas mantra yang diinginkan oleh Wu Jin Ming. Wajahnya menunduk tanpa berani menatap ke atas. Hanya tangannya saja yang terulur ke hadapan Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming memeriksa kertas itu lalu segera. menyimpannya.


"Rubby, simpan pedangmu!" seru Wu Jin Ming kemudian.


Rubby mengangguk lalu menyimpan pedang meteornya.


Begitu juga dengan Wu Jin Ming, dia juga melakukan hal yang sama.


Suasana kembali tenang. Wajah-wajah pasrah anggota Sekte Air Api Suci terlihat sangat menyedihkan. Sungguh pemandangan yang membuat Rubby ingin bersorak senang.


"Kak Wu, apa yang harus kita lakukan setelah ini?" tanya Rubby.


Wu Jin Ming berpikir sejenak.


Jika Sekte ini mengingat kejadian hari ini, dia takut kedepannya akan menyulitkan bagi Rubby dan dirinya. Sepertinya dia harus meminta Rubby untuk menghapus ingatan tentang mereka berdua. Wu Jin Ming ingin mereka merasa ini hanyalah mimpi buruk yang mereka alami.


Wu Jin Ming berjalan pelan mendekati Rubby lalu membisikkan perihal ini kepadanya. Rubby mengangguk tanda mengerti. Dia juga merasa ini perlu demi kenyamanan dan keamanan mereka selama tinggal di dunia manusia.


"Tuan Guru Tong! Urusan kita sudah selesai. Aku harap di masa mendatang kita tidak kembali mengungkit apa yang sudah kita sepakati di hari ini." Wu Jin Ming bicara dengan serius.


"Baik, Tuan!" ucap Guru Tong pasrah.


Rubby segera bersiap untuk menghapus ingatan tentang dirinya dan Wu Jin Ming. Walaupun tidak menghapus seluruh kejadian, namun ingatan tentang keduanya akan menjadi kabur. Seiring dengan meningkatnya kemampuan Rubby, kini dia tidak perlu membuat orang yang akan dihapuskan ingatannya pingsan terlebih dahulu.


Mulut Rubby bergerak komat kamit membaca mantra penghapusan ingatan. Tangan kanannya terangkat ke atas dan mengeluarkan energi berbentuk cahaya bulat putih terang. Cahaya itu dia lempar ke atas lalu pecah berhamburan menjadi butiran-butiran kecil yang menyebar ke seluruh ruangan dan keluar melalui celah-celah menuju ke segala arah.


Cahaya sihir itu menutupi area Sekte Air Api Suci untuk beberapa saat.


Sebelum semua orang sadar dari pengaruh sihir saat proses penghapusan ingatan, Rubby segera membawa Wu Jin Ming keluar dari sana menuju mobilnya.


Sekali menyalakannya, mobil itu langsung menyala.


Wu Jin Ming menggeleng sambil tersenyum mengingat kejadian janggal sebelumnya yang ternyata ulah dari Guru Tong dan dosen Chu.


"Akhirnya kita bisa pergi belanja walaupun hari sudah hampir malam. Uhh, sumpah aku kesel banget sama sekte ini!"


"Kita makan dulu, Sayang. Aku lapar." Wu Jin Ming menampilkan wajah memelasnya.

__ADS_1


"Iya, nanti kita langsung ke depot makanan aja, Sayang. Aku juga lapar." Menatap Wu Jin Ming sambil tersenyum.


Mereka menikmati pemandangan yang ada di luar mobil. Pinggiran kota itu terlihat masih asri dengan pepohonan yang tumbuh di depan rumah-rumah penduduk. Semburat matahari senja membuat keindahannya lebih berwarna.


Karena mereka sudah melewati lebih dari separuh perjalanan sebelumnya, tidak butuh waktu lama untuk sampai di tempat tujuan mereka. Mobil yang mereka tumpangi kini sudah memasuki area parkir pusat perbelanjaan itu. Rubby terlihat begitu bersemangat memasuki tempat yang baru di buka beberapa hari yang lalu.


Semuanya terlihat baru. Sejauh mata memandang, tersuguh lalu lalang pengunjung yang menenteng tas belanjaan sambil tersenyum senang. Mereka membuat Rubby semakin tidak sabar untuk segera mengeluarkan bakat terpendamnya sebagai seorang wanita. Menghabiskan uang.


"Waow! Keren ...!" seru Rubby ketika mereka sudah masuk ke dalam.


Rubby berjalan ke sana kemari sambil menghampiri sesuatu yang menarik perhatiannya.


Wu Jin Ming mengikutinya di belakang. Kedua tangannya di masukkan ke dalam kantong celananya. Sesekali dia membalas senyuman para pengunjung yang mengenalinya karena wajahnya kini cukup populer setelah menjadi model.


Seakan lupa akan rasa laparnya, Rubby terus saja berjalan berkeliling untuk melihat-lihat.


"By!" panggil Wu Jin Ming sambil berjalan di belakang Rubby.


"Iya, Sayang," sahut Rubby tanpa menoleh ke arahnya.


"Kamu melupakan sesuatu, Sayang!" Wu Jin Ming mengingatkan.


Wu Jin Ming menatap Rubby sambil terbengong beberapa detik. Sesaat kemudian dia menepuk jidatnya dan tertawa.


"Kamu kenapa, Sayang? Apa aku salah bicara? Atau wajahku terlihat konyol? Atau ... atau apa, ya?" Rubby bertanya sambil menatap Wu Jin Ming tak mengerti.


"Bukan. Bukan karena itu aku tertawa, Sayang." Wu Jin Ming masih terlihat menahan tawa.


"Lalu apa? Biasanya kan tawamu sangat mahal. Semahal harga minyak goreng yang sedang naik daun."


"Ini beda lagi, Sayang. Tidak ada hubungannya dengan harga minyak goreng atau sembako. Tapi aku tertawa karena jawaban kamu."


"Aku?" Rubby menunjuk dadanya.


"Jawaban yang mana, sih?" Mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Aku tanya kalau kamu melupakan sesuatu, kamu jawabnya malah sesuatu buat nanti malam. Sekarang kamu selalu memikirkan itu, ya? Hahaha!" Wu Jin Ming kembali tertawa.


Muka Rubby terlihat memerah karena malu.

__ADS_1


"Emang tadi maksud kamu apa? Pertanyaan kamu kan ambigu," gerutu Rubby kesal sambil memanyunkan bibirnya.


"Tadi kita kan ingin mencari makan terlebih dahulu sebelum belanja." Wu Jin Ming menyudahi tawanya karena wajah Rubby sudah terlihat sangat malu.


"Oh, iya. Aku beneran lupa." Rubby meringis.


"Atau jangan-jangan kamu ingin makan yang lain? Apa kita pulang saja sekarang?" goda Wu Jin Ming.


"Nggak!" seru Rubby, berjalan cepat mendahului Wu Jin Ming untuk mencari tempat makan.


Dia tidak ingin Wu Jin Ming melihat wajah yang kian memerah. Meskipun mereka sudah lama menikah namun sering kali mereka masih terlihat malu-malu. Mereka lebih sering memakai bahasa kalbu ketimbang menyatakannya secara langsung.


Brukkk!


Seorang gadis sengaja menabrakkan diri pada Wu Jin Ming dan berpura-pura jatuh.


"Arrghh!" Gadis itu berpura-pura kesakitan dan memegangi lututnya.


Awalnya Rubby tidak melihatnya, namun dia menyadarinya ketika mendengar suara teriakan wanita itu.


"Haish! Modus!" Rubby kembali berjalan menghampiri Wu Jin Ming.


"Maaf, Nona!" Wu Jin Ming menyerahkan kantong belanjaan gadis itu setelah dia membantu memungutinya.


"Ah, tidak apa-apa, kok. Jarang-jarang aku ditabrak cowok ganteng." Tersenyum sambil menatap Wu Jin Ming tak berkedip dan mengabaikan keberadaan Rubby di sana.


Rubby memutar bola matanya jengah.


"Nggak ada yang sakit, kan? Ya, sudah, buruan bangun. Kita mau pergi!" seru Rubby sambil menarik tangan Wu Jin Ming.


"Maaf, Nona. Aku harus pergi." Wu Jin Ming beranjak dari posisi jongkok namun tangannya tiba-tiba di tarik oleh wanita itu.


"Kakiku sepertinya terkilir, tolong bantu aku berdiri."


Rubby mengepalkan tangannya, merasa muak melihat akting gadis itu yang berusaha mencari perhatian Wu Jin Ming.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2