TIGER WU

TIGER WU
PENYAMARAN BERHASIL


__ADS_3

Jing Xi'an mengangkat busurnya tinggi-tinggi dan mengeluarkan anak panah yang bermuatan energi spiritual miliknya. Tangan tuanya bergetar mengangkat busur dengan panjang yang hampir sama dengan tinggi tubuhnya. Anak panah itu dia arahkan tepat pada kepala Wu Jin Ming.


Untuk menghadapi serangan Jing Xi'an, para ketua klan telah mengatur formasi membentuk lingkaran yang menjadi tumpuan api suci Wu Jin Ming.


Api suci milik Wu Jin Ming semakin besar seiring dengan energi yang dia tambahkan di sana. Setelah besarnya sudah seperti yang dia inginkan, Wu Jin Ming segera melepaskannya dan melemparkannya ke tengah lingkaran besar dari para ketua klan. Bersatunya api suci dengan lingkaran energi membentuk sebuah simbol yang sangat bercahaya.


Di saat yang sama Jing Xi'an mulai menarik busurnya untuk melepaskan anak panah di tangan kanannya. Hawa dingin dan panas membuat ruangan di pondok pertemuan itu menjadi kacau. Para gadis dan beberapa siluman yang ada di sana terduduk di lantai karena tidak mampu menahan kencangnya angin yang berputar-putar dari kedua kubu yang bertempur itu.


Panglima Ang masih kuat berdiri namun kakinya terus bergeser dengan sendirinya ke belakang akibat dorongan dan tekanan angin yang sangat besar. Entah apa lagi yang akan terjadi ketika anak panah itu di lepaskan. Kedua kekuatan mereka saat ini saja sudah sangat mengacaukan semuanya.


"Bersiaplah untuk mati kalian semua! Hahaha!" tawa Jing Xi'an sesaat sebelum melepaskan anak panahnya.


Wu Jin Ming melihat luncuran anak panah itu dengan hati berdebar. Wu Jin Ming berharap semoga saja kekuatan kolaborasi antara dia dan para ketua klan benar-benar mampu untuk mengatasi dasyatnya Busur Panah Dewi Kematian. Jika tidak mungkin hari ini Wu Jin Ming tidak akan bisa memenuhi janjinya pada Rubby untuk menjemputnya ke agensi dan mungkin juga tidak akan bisa bertemu lagi dengannya.


"Rubby aku mencintaimu," bisik Wu Jin Ming beberapa detik sebelum panah itu mencapai dirinya.


Simbol dalam lingkaran energi yang menyatu dengan api suci Wu Jin Ming menyala terang yang sangat menyilaukan mata. Tidak ada yang bisa melihat jelas kejadian di mana lingkaran itu menarik anak panah yang ditembakkan Jing Xi'an. Cahaya putih terang dari lingkaran itu terdorong ke belakang membuat atap pondok di belakang tempat mereka berdiri sekarang menjadi hancur berantakan.


Atap itu runtuh seketika saat di lewati oleh lingkaran energi yang terus terdorong hingga beberapa meter jauhnya. Lingkaran energi yang sangat besar itu mendarat di belakang pondok yang merupakan kebun anggur. Ledakan yang sangat keras terdengar di sana dan butiran-butiran lembut es turun seperti hujan salju.


Seperti yang Chung Mo katakan Jing Xi'an pingsan setelah melepaskan sebuah anak panah Dewi Kematian.


Keadaan ruangan pondok pertemuan sangat berantakan. Para kepala klan mengalami luka ringan akibat terkena pecahan atap yang rusak akibat terobosan lingkaran energi yang menyerupai bongkahan es yang sangat besar. Para gadis yang bersembunyi di dekat meja perjamuan terlihat sangat menyedihkan. Mereka sangat mirip seperti seekor tikus yang masuk ke dalam tepung. Sangat kotor dan berdebu.


"Panglima Ang! Panglima Ang!" panggil Wu Jin Ming sambil berkeliling mencari keberadaannya.


Debu dan butiran salju yang turun masih membuat jarak pandang di tempat itu masih minim. Merasa kesulitan untuk melihat keadaan sekitar, Wu Jin Ming menghentakkan kakinya untuk menyingkirkan debu, butiran es, dan puing-puing pondok yang telah hancur itu menyingkir.

__ADS_1


"Aaahh!" rintih Panglima Ang ketika reruntuhan yang menimbun tubuhnya menghilang.


Melihat Panglima Ang terluka cukup parah, Wu Jin Ming segera mendudukannya dan menyalurkan energi untuk memulihkan tenaganya. Jarak yang terlalu dekat dengan lingkaran energi membuat tubuhnya terlempar karena tidak mampu menahan gelombang pertemuan dua energi dasyat itu. Perlahan tubuhnya mulai pulih setelah mendapat energi dari Wu Jin Ming.


Di sisi yang jauh Jing Xi'an mengalami luka yang sangat serius. Keadaannya yang pingsan di tambah tertimbun reruntuhan membuat kepalanya mengalami pendarahan. Tangan dan kakinya juga patah setelah tertimpa pilar yang lumayan besar.


Luo Jing menangis sejadi-jadinya di samping tubuh ayahnya namun tidak ada seorang pun yang mempedulikannya. Mereka masih sakit hati mendengar kata-kata Jing Xi'an. Para ketua klan sendiri juga mengalami luka ringan sampai menengah saat ini. Mereka berjalan tertatih mendekati Wu Jin Ming yang sedang mengobati Panglima Ang.


"Tuan! Anda baik-baik saja?" tanya Chung Mo.


"Tuan... tuan... kepalamu itu! Dia adalah Raja Wu Jin Ming!" pekik Panglima Ang emosi.


Para ketua klan itu saling pandang antara percaya dan tidak.


"Tunggu apa lagi, buruan berlutut dan beri hormat pada Yang Mulia!" Bentak Panglima Ang lagi.


Chung Mo melihat penampilan Wu Jin Ming dari atas sampai bawah dengan teliti. Kulitnya yang halus juga wajahnya yang tampan memang terlihat sangat terawat. Di saat semua orang terluka, dia tidak tergores sedikitpun bahkan debu pun tidak ada yang menempel di tubuhnya. Pasti dia mempunyai tingkat perlindungan yang sangat kuat. Sayang sekali cahaya energi yang sangat menyilaukan menghalanginya untuk bisa melihat kejadian yang baru saja terlewat.


"Aku tidak terima mereka terus bersikap kurang ajar padamu, Yang Mulia! Tanganku rasanya sangat gatal untuk segera menghajar mereka." Panglima Ang masih saja emosi.


"Jika mereka tidak mengenali kita, bukankah itu berarti jika penyamaran kita berhasil? Harusnya kita senang dong. Kita tidak boleh menyalahkan mereka karena kita yang memulai permainan ini."


Mendengar penuturan Wu Jin Ming, Chung Mo benar-benar yakin jika laki-laki di hadapannya itu adalah Raja Wu Jin Ming.


"Ampuni hamba Yang Mulia! Hamba benar-benar tidak mengenali Anda. Berilah hukuman atas kesalahan hamba ini!" Chung Mo bersujud di hadapan Wu Jin Ming diikuti oleh ketua klan yang lainnya.


"Bangunlah! Aku mengampuni kalian semua. Jagalah wilayah ini dengan baik dan ingat cara yang aku ajarkan untuk menghadapi pasukan jubah hitam!" seru Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Hamba siap melaksanakan titah Yang Mulia." Chung Mo merasa lega karena Wu Jin Ming tidak memperpanjang urusannya.


Para gadis yang melihat kejadian itu dari jauh merasa malu. Ternyata dia baru saja menggoda seorang raja. Sungguh hal yang paling memalukan yang pernah merka lakukan.


Beberapa penduduk siluman rubah mulai berdatangan dan membereskan kekacauan yang terjadi. Pondok pertemuan mereka telah hancur. Besok mereka harus mulai membangunnya kembali.


Setelah tahu siapa Wu Jin Ming sebenarnya, mereka menunduk hormat tanpa ada yang berani berbicara. Sambutan yang tidak sopan membuatnya mereka sangat malu padahal ini bukan salah mereka. Wu Jin Ming memang tidak ingin kedatangannya menghebohkan seluruh kota.


"Nyalakan api suci yang aku berikan pada rumah-rumah kalian saat malam hari tiba dan gunakan sisanya untuk menyerang mereka. Jika ada apa-apa segera kabari prajurit yang berjaga agar bantuan segera datang."


"Baik Yang Mulia!" ucap para penduduk serempak.


"Satu lagi! Bagi siluman yang kuat bantulah siluman lain yang lemah! Jangan jadikan kekuatan kalian sebagai kesombongan dan merasa diri kalian paling hebat! Wilayah ini akan aman jika kalian saling bahu membahu untuk menjaganya."


"Kami akan melakukan sesuai perintah Yang Mulia!" Chung Mo menjawab mewakili ketua klan yang lainnya.


Mulai hari itu seluruh klan rubah yang berbeda-beda mulai membaur dan melenyapkan kesenjangan di antara mereka. Dengan begitu, mereka akan semakin mudah untuk menghadapi musuh yang datang. Kekuatan masing-masing klan memiliki keistimewaan sendiri-sendiri dan akan menjadi sangat kuat jika semua disatukan.


****


Bersambung...



Panglima Ang


__ADS_1


Wu Jin Ming


__ADS_2