
Di kamar Rubby suasana hening setelah kepergian Moza. Rubby dan Wu Jin Ming masih di posisi yang sama. Belum ada percakapan diantara mereka. Mata Wu Jin Ming sudah lebih teduh namun masih tampak memendam emosi. Dia harus menyelesaikan semuanya sekarang juga.
"Rubby, katakan padaku dengan jujur. Siapa yang kau cintai?" suara yang Wu Jin Ming tenang namun penuh penekanan.
"Kamu," jawab Rubby cepat. Mata mereka saling bertemu.
"Apa kau yakin kau memilih hidup bersamaku dan melupakan laki - laki itu?" masih dengan suara pelan namun tegas.
"Dengan segenap hatiku aku rela menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Maafkan aku jika telah melukaimu. Sungguh aku mencintaimu Kak Tigerku, Wu Jin Ming." Rubby menjawab dengan mantap dan penuh keyakinan.
"Aku pegang kata - katamu Rubby. Kau harus tahu, aku sangat pencemburu. Kali ini kau ku maafkan. Jika setelah ini ada yang menyentuhmu, aku tak akan segan - segan untuk membunuhnya." sikap Wu Jin Ming masih terlihat dingin meski amarahnya sudah mereda.
"Percayalah padaku. Aku hanya milikmu." Rubby berjinjit lalu mencium Wu Jin Ming. Ciuman panjang yang membuat mereka melayang. Rubby telah rela jika malam ini adalah malam terakhirnya menjadi seorang gadis.
Rubby membawa Wu Jin Ming ke tempat tidur dan melanjutkan aksinya. Di sini Rubby yang memimpin permainan karena Wu Jin Ming masih saja kaku.
"Rubby, aku tak bisa melakukannya sekarang." Wu Jin Ming memakai kembali kaosnya dan merebahkan tubuhnya di kasur.
"Kenapa? Apa kamu tidak menginginkannya?" Rubby malah melepaskan semua yang dia pakai lalu bersembunyi di balik selimut.
"Sudahlah! Kau pasti melakukannya hanya karena rasa bersalahmu. Aku hanya ingin melakukannya jika kamu benar - benar mencintaiku." Wu Jin Ming menatap langit - langit kamar tak mau melihat ke arah Rubby. Dia tak ingin bergejolak lagi setelah dia mampu meredamnya.
"Lihat aku Suamiku. Tatap mataku. Aku memang bersalah padamu. Tapi ini aku lakukan karena aku tulus mencintaimu." Rubby mencoba meyakinkan Wu Jin Ming dan juga meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dia lakukan ini sudah benar.
"Apa kau yakin?" Wu Jin Ming kembali memastikan pernyataan Rubby.
"Aku sangat yakin. Aku percayakan hidupku padamu. Aku takut kehilanganmu Kak Wu." Rubby beringsut mendekati Wu Jin Ming.
"Aku akan selalu bersamamu, menjagamu, mencintaimu. Seberat apapun jalan yang akan kita lalui, aku tak akan pernah meninggalkanmu Rubby." Wu Jin Ming melembut. Mereka kembali melanjutkan permainan yang sempat tertunda.
Malam panjang mereka terasa berbeda dari malam - malam sebelumnya. Entah mengapa, Rubby begitu yakin pada Wu Jin Ming meski dia belum begitu mengenalnya. Bahkan dia rela melupakan Moza yang selama ini mengisi hatinya.
Rubby langsung tertidur setelah melakukan hal yang melelahkan bersama Wu Jin Ming. Namun tidak dengan Wu Jin Ming, berhubungan dengan manusia membuat basis kultivasinya berbeda dari sebelumnya. Dia harus bersemedi untuk menyesuaikan dengan tubuhnya.
Sinar putih dan biru menyelimuti tubuh Wu Jin Ming. Keringatnya mengalir deras menahan kekuatan baru yang belum bisa dia kendalikan. Butuh ketenangan dan konsentrasi untuk menakhlukkannya.
__ADS_1
Butuh waktu yang lumayan lama untuk menyelaraskan energi baru yang dia dapatkan. Semuanya baru terselesaikan saat fajar sudah mulai menyingsing. Wu Jin Ming membuka matanya lalu bangkit dari meditasinya.
Melihat Rubby masih terlelap, Wu Jin Ming ikut merebahkan diri di sampingnya. Dielusnya rambut panjang Rubby. Sebagian rambut yang menutup wajahnya dia sibakkan ke belakang telingannya. Cantik.
Samar - samar tanda Dewi Bulan muncul di kening Rubby. Itu tandanya kekuatan spiritualnya sudah terbuka. Rubby sudah harus mulai bermeditasi untuk berkultivasi.
"Kau sudah bangun?" Rubby mengerjap - ngerjapkan matanya untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Aku tidak tidur," jawab Wu Jin Ming.
"Kau tidak mengantuk?" tanya Rubby sambil menutup mulutnya yang menganga karena sedang menguap.
"Tidak. Tapi sekali tertidur aku bisa menghabiskan waktu yang panjang untuk itu. Mungkin bisa berhari - hari," jelas Wu Jin Ming.
"Apakah itu mutlak atau masih bisa di rubah?"
"Itu tidak mutlak. Aku bisa berperilaku layaknya manusia seperti dirimu. Tapi itu tidak mudah."
"Bersamaku itu akan menjadi mudah." Rubby tersenyum manis.
"Bimbinglah aku. Aku tidak tahu berkultivasi itu bagaimana. Kelihatannya sulit." Rubby terlihat kurang percaya diri.
"Bersamaku itu akan menjadi mudah."
"Kau menirukan kata - kataku barusan. Hmm." Rubby merasa kesal.
"Karena tujuan kita sama. Membuat semua hal menjadi mudah dengan kita selalu bersama melakukan semuanya."
"Sebentar lagi aku kuliah. Aku tidak tahu apa aku masih punya uang untuk melanjutkannya atau tidak."
"Uang? Apakah uang itu emas? Atau perak?" Wu Jin Ming belum tahu seperti apa uang yang ada di jaman ini.
"Uang itu kertas. Emas dan perak bisa di tukar menjadi uang jika kita menjualnya. Tapi aku hanya punya ini." Rubby memegang kalungnya. Wu Jin Ming masih belum terbiasa hidup di dunia manusia. Rubby tak berharap banyak dia mampu mencarikan nafkah untuknya. Mungkin Rubby harus bekerja jika uangnya sudah menipis. Saat ini uang peninggalan maminya untuk membayar kuliah masih utuh. Tapi uang belanja kebutuhannya sudah menipis.
"Kau tetaplah kuliah. Kuliah itu belajar, bukan? Belajarlah dengan tenang, aku akan memberimu kepingan emas untuk kau tukar dengan uang."
__ADS_1
"Emas? Dari mana kau mendapatkannya? Apa kau bisa menyulapnya?" Rubby mencoba mencari jawaban di dalam mata jernih suaminya.
Wu Jin Ming menggeleng.
"Aku memang siluman, tapi aku menjunjung tinggi hukum langit. Sihir itu hanyalah tipuan. Aku tak boleh melakukannya walaupun aku bisa."
"Lalu dari mana emas itu?" Rubby masih penasaran.
"Aku menjalankan misi di masa lampau. Setiap misi yang berhasil aku jalankan mendapatkan hadiah emas dan benda berharga lainya."
"Oh, maaf. Aku telah salah menilaimu, Sayangku." Rubby mengecup pipi Wu Jin Ming.
"Apa kau menginginkannya lagi Rubby?" wajah Wu Jin Ming bersemu merah karena tersipu.
"Tidak... Tidak... Aku masih lelah" Rubby melambaikan tangannya.
"Maaf. Aku benar - benar tidak berpengalaman dalam urusan percintaan. Aku harap kamu bisa bersabar."
"Aku tahu. Kau bisa mengatakan apapun agar aku mengerti keinginanmu."
"Terima kasih, Istriku. Apa kau ingin ke pasar lagi?"
"Tidak di kulkas masih ada banyak bahan yang bisa di masak. Mandilah! Aku akan menyiapkan kopi untukmu."
"Baiklah!" Wu Jin Ming berjalan ke kamar mandi.
Setelah pergi ke dapur untuk membuat kopi, Rubby mengambil baju ganti untuk Wu Jin Ming.
"Kak Tiger! Buka pintunya, ambil bajumu!" Rubby mengetuk pintu kamar mandi.
"Terima kasih, Rubby. Aku mencintaimu." Wu Jin Ming bersembunyi di balik pintu, hanya tangannya saja yang menjulur keluar untuk meraih bajunya.
"Aku juga mencintaimu." Rubby tersenyum mendengar kata manis suaminya.
****
__ADS_1
Bersambung...