
Rubby yang semula tidur di pelukan Wu Jin Ming bangkit dan duduk untuk menunjukkan api biru miliknya.
"Lihatlah! Aku akan menunjukkannya padamu." Rubby memusatkan pikirannya untuk mengeluarkan api biru miliknya di telapak tangannya.
Wu Jin Ming duduk dan memperhatikan apa yang dilakukan Rubby. Dia berharap jika api itu benar-benar api suci yang sangat langka. Hanya ada 3 jenis api suci di dalam dunia kultivasi. Api suci putih, biru, dan merah.
Dalam hitungan detik tangan Rubby mengeluarkan nyala api berwarna biru seperti yang dia ceritakan sebelumnya.
"Cukup, Sayang! Aku sudah melihatnya."
Melihat api itu sebentar saja, Wu Jin Ming sudah tahu jika itu benar-benar api suci. Dia tidak menyangka api itu ada pada Rubby. Hanya api merah yang sampai saat ini belum dia ketahui pemiliknya. Terakhir Wu Jin Ming mendengar jika api itu ada pada seorang pertapa yang menepi dari dunia kultivasi.
"Menurutmu api apa itu, Sayang?" tanya Rubby setelah kembali berbaring.
"Itu memang api suci biru. Apa kamu mendapatkannya dari berkultivasi?" tanya Wu Jin Ming penasaran.
"Aku nggak merasa mendapatkannya saat berkultivasi. Entahlah... api ini tiba-tiba muncul hari ini. Aku akan bertanya pada ibu jika aku bertemu dengannya."
"Ya, sudah, sekarang mari kita tidur." Wu Jin Ming segera menyelimuti tubuh mereka dan tidur sambil memeluk Rubby.
....
Mobil Wu Jin Ming berhenti di depan rumah Cindy. Hari masih terbilang pagi namun rumah itu sudah dipenuhi oleh banyak orang. Jenazah Cindy akan dikremasi hari ini mengingat kepulangannya sudah sangat malam.
Rubby dan Wu Jin Ming berpakaian serba putih. Mereka memasuki rumah Cindy dan di sambut dengan baik di sana. Mama dan papa Cindy tidak ingat jika Rubby yang datang menyelamatkan mereka karena Rubby sudah menghapus ingatan tentang kedatangannya di kuil.
"Rubby!" mama Cindy berhambur memeluk tubuh Rubby.
"Mama!" Rubby menangis dipelukan mama Cindy.
Untuk sesaat mereka larut dalam kesedihan. Mama Cindy menceritakan penyebab kematian Cindy. Ternyata ingatannya tidak benar-benar terhapus. Mama Cindy masih mengingat jika ada seorang wanita dan pria yang datang menyelamatkan mereka, namun tidak ingat jika orang itu adalah Rubby dan Panglima Ang.
Walaupun sudah tahu ceritanya, Rubby berpura-pura mendengarkan dengan serius dan menanyakan banyak hal. Orang tua Cindy merasa sangat kehilangan, beruntung dia masih memiliki seorang putra yang bekerja di luar kota. Mereka masih punya sandaran di masa tua ketika Cindy sudah tiada.
__ADS_1
Wu Jin Ming merasakan adanya energi yang sangat kuat datang mendekat ke sana. Dia menyembunyikan energi dan aura silumannya. Rubby tidak perlu melakukan itu karena tubuh manusianya otomatis sudah menutup aura energi jiwa yang dia miliki.
Energi itu semakin mendekat. Pandangan Wu Jin Ming terus melihat ke arah pintu untuk melihat siapa pemilik energi itu. Tidak main-main, energi ini sudah mencapai level atas hanya saja pemiliknya belum bisa mengontrolnya agar tidak bocor ke luar.
Mata Wu Jin Ming membulat sempurna ketika melihat siapa pemilik energi itu. Lisa. Jadi apa yang dikatakan Cindy sebelum meninggal itu benar.
Bukan hanya Wu Jin Ming sebenarnya Rubby lebih dulu merasakan kedatangan Lisa. Di kampus energi yang sama pernah muncul dan dia ingat jika itu adalah energi milik Lisa dan juga Bella. Cindy di bunuh karena mama papanya menyadari jika putrinya terpengaruh oleh kekuatan jahat. Sesaat setelah biksu mengobatinya, mereka di serang.
Lisa berjalan mendekat ke arah Rubby dan Wu Jin Ming untuk menemui orang tua Cindy. Tekanan energi Lisa begitu terasa dan membuat tubuh Rubby bergetar untuk menahannya. Dadanya terasa terhimpit sesuatu yang berat dan terus mendorongnya ke belakang.
Wajah kedua orang tua Cindy tampak pucat. Mereka sudah tahu siapa Lisa dari para biksu yang mengobati Cindy. Dalam ketakutannya mereka mencoba bersikap biasa saja.
"Lisa!" sapa mama Cindy menyalaminya.
"Saya turut berdukacita atas kematian Cindy. Saya sangat merasa kehilangan sosok sahabat yang sangat baik seperti dia," ucap Lisa sambil menangis.
"Terimakasih, Lisa. Mungkin takdir Cindy memang cukup sampai di sini."
"Hai, Rubby, Kak Tiger!" sapa Lisa.
"Hai, Lisa! Kamu sendirian aja. Em, maksudku di mana Bella?" tanya Rubby.
"Tadi dia bilang akan menyusul. Dia meminta aku berangkat lebih dulu. Nah, itu dia!"
Bella muncul dan memasuki rumah Cindy. Mereka berempat mengobrol bersama orang tua Cindy untuk beberapa saat hingga waktu kremasi tiba.
Jasad Cindy di jemput oleh mobil ambulan untuk di bawa ke tempat kremasi. Para pelayat membubarkan diri. Sebagian kerabat mengikuti prosesi kremasi di gedung khusus untuk itu.
"Kalian mau ke mana setelah ini?" tanya Lisa.
"Pulang aja!" jawab Rubby.
"Bagaimana kalau kita makan dulu di restoran dekat sini?" ajak Lisa.
__ADS_1
"Iya! Aku juga merasa sangat lapar," imbuh Bella.
Rubby melirik Wu Jin Ming untuk meminta pendapatnya. Wu Jin Ming berpikir sebentar lalu mengangguk. Meskipun Lisa sekarang berbahaya, dia tidak boleh curiga jika Rubby dan Wu Jin Ming telah mengetahui kekuatannya.
"Baiklah!" jawab Rubby setelah mendapat persetujuan Wu Jin Ming.
Mereka berempat masuk ke dalam mobil masing-masing. Lisa masuk ke mobil Bella karena dia tidak memiliki mobil. Wu Jin Ming mengikuti mereka di belakang.
Perasaan Wu Jin Ming tidak enak. Mobil mereka melewati jalan yang tidak biasa. Jalanan yang berkabut dengan suasana remang seperti menjelang malam hari. Sudah dipastikan jika ini bukanlah dunia manusia.
"Kak Wu! Sepertinya kita sedang berada di dimensi yang berbeda," bisik Rubby.
"Tenanglah! Kita ikuti saja permainan mereka. Simpan kekuatanmu dan biarkan mereka mengira jika kita adalah manusia biasa!" perintah Wu Jin Ming dengan suara pelan.
"Hmm." Rubby mengangguk.
Mobil Bella berhenti di sebuah tempat yang mirip seperti rumah makan kuno. Anehnya rumah makan itu sepi seperti rumah tua yang tidak berpenghuni. Kabut tebal menghalangi jarak pandang mereka membuat pemandangan di sekelilingnya tidak begitu jelas.
Terlihat Bella dan Lisa turun dari mobilnya. Wu Jin Ming pun mengajak Rubby turun dari mobil mereka. Udara di luar mobil terasa dingin menusuk tulang. Rubby memeluk lengannya sendiri karena dia sangat kedinginan.
"Ayo kita masuk!" ajak Lisa.
"Sepertinya rumah makan ini tutup, deh!" Rubby melihat pintu rumah makan yang tertutup rapat.
Lisa berjalan ke hadapan Rubby sambil tersenyum devil.
"Rumah makan itu sengaja menutup pintunya karena mereka menjual masakan yang sedikit berbeda. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu tempat ini," jelas Lisa.
"Masakan... yang... ber-be-da?" Rubby merasa heran.
****
Bersambung...
__ADS_1