
"Mau coba?" tanya Rubby sambil menyodorkan jagung bakar rasa barbeque miliknya.
"Boleh! Kamu coba juga yang ini!" Wu Jin Ming juga memberikan jagung bakar dengan rasa yang berbeda miliknya.
Bukan hanya mereka satu-satunya pasangan romantis di tempat itu. Ada beberapa orang yang berpasangan dan ada juga yang pergi bersama keluarganya. Mereka larut dalam kebahagiaan mereka sendiri-sendiri.
"By! Aku mencium aroma hujan. Mungkin sekitar 15 menit lagi hujannya akan sampai di sini," ucap Wu Jin Ming.
"Hujan?! Nggak mungkin! Lihat tuh, bintangnya bertaburan di mana-mana."
"Nggak percaya, ya, sudah! Kalau mau basah kuyup kita tunggu saja di sini."
"Emm... baiklah! Ayo kita pulang! Bukan karena aku percaya pada ramalanmu, ya, Sayang! Tapi karena aku lelah dan ngantuk."
"Terserah kamu! Yuk!" Wu Jin Ming beranjak dari duduknya.
"Gendong!" rengek Rubby manja.
"Astaga, Sayang! Ya udah, yuk!"
Wu Jin Ming berjongkok di depan Rubby agar dia mudah untuk naik ke punggungnya.
"Love you, Sayangkuh!" Rubby tersenyum senang lalu segera melompat ke punggung Wu Jin Ming.
"Love you too, Permaisuriku!"
Mereka tidak peduli orang-orang yang berada di taman menatap mereka dengan berbagai macam asumsi. Bagi Wu Jin Ming dia rela melakukan apapun asal Rubby bahagia walaupun dunia menertawakannya pun dia tidak peduli. Rasa cinta yang ada di hatinya semakin hari semakin membuncah.
Baru sekitar 5 menit berjalan meninggalkan taman angin bertiup sangat kencang membuat dedaunan kering yang jatuh beterbangan di udara. Udara malam yang dingin semakin bertambah dingin.
"Sepertinya kamu benar, Sayang! Suara berisik di kejauhan itu seperti hujan," ucap Rubby.
"Nah, kan! Dibilangin nggak percaya!" seru Wu Jin Ming sambil membetulkan gendongannya.
"Hehe... maaf. Kamu kan suka bercanda sekarang. Eh, suaranya semakin dekat, Kak!" seru Rubby.
"Pegangan yang erat! Aku akan membawamu berlari!" perintah Wu Jin Ming.
Rubby mengeratkan pegangannya di leher Wu Jin Ming. Hujan deras mengejar di belakang mereka membuat Wu Jin Ming mempercepat larinya. Jarak antara hujan dan tubuh mereka kurang dari satu meter saja. Untung saja rumah mereka dekat dan tidak butuh waktu lama untuk sampai.
"Huft... huhh... hahh!" Wu Jin Ming berusaha mengatur napasnya saat mereka sampai di teras rumahnya.
"Turunkan aku! Maaf membuatmu lelah!" Rubby mengecup tengkuk Wu Jin Ming sebelum melompat turun.
"Jangan menggodaku, By!"
__ADS_1
Rubby menghentakkan kakinya membuat pintu rumahnya segera terbuka. Semakin hari Rubby semakin mahir dalam menggunakan sihirnya. Masih banyak ilmu sihir warisan ayahnya yang belum dia pelajari.
"By!" panggil Wu Jin Ming lagi.
"Iya."
"Hujan."
"Iya, hujan...," jawab Rubby santai.
"Huhh! Nggak peka banget, sih!" Wu Jin Ming pergi meninggalkan Rubby yang masih mematung di ruang tamu.
Blamm!
Rubby menutup dan mengunci pintu dengan sihirnya.
Tidak ingin membuat Wu Jin Ming semakin marah, Rubby segera menyusulnya ke kamar.
"Sayang!" panggil Rubby.
"Hmm."
Posisi Wu Jin Ming saat ini sedang memunggungi Rubby.
Wu Jin Ming beringsut dan menempelkan tubuhnya di punggung Rubby.
"Aku sedang i...." belum sempat melanjutkan ucapannya dari kejauhan terdengar suara teriakan orang-orang yang meminta tolong.
"Suara apa itu?" Rubby juga seger bangkit dan menegakkan tubuhnya.
Momen romantis mereka berdua harus tertunda karena terdengar suara teriakan yang samar-samar terdengar. Sepertinya sesuatu telah terjadi di luar sana. Merasa penasaran dengan apa yang terjadi, Wu Jin Ming segera bangkit dan beranjak dari tempat tidurnya untuk melihat keluar.
"Ikut!" Rubby memeluk lengan Wu Jin Ming dan mengikuti ke mana langkah Wu Jin Ming berjalan.
"Apa yang terjadi di tengah hujan begini?"
Derasnya hujan menghalangi pandangan mata mereka. Untuk melihat keadaan yang ingin mereka lihat harus mengaktifkan mata iblis yang mereka miliki. Mereka tersentak saat mengetahui apa yang terjadi.
"Apa kita harus ke sana untuk menolong mereka?" tanya Rubby.
"Kita harus ke sana tapi... kita harus bertempur di tengah hujan seperti ini. Aku khawatir jika kamu sakit, By. Biar aku saja yang ke sana!"
"Tidak! Kita harus selalu sama-sama!" Rubby bersikukuh pergi bersama Wu Jin Ming ke taman untuk menolong orang-orang.
Di taman itu muncul beberapa ekor buaya yang entah dari mana datangnya. Pengunjung taman yang terjebak di sana merasa sangat kebingungan. Ada sebagian di antara mereka yang menjadi korban keganasan buaya-buaya itu.
__ADS_1
"Kita harus segera ke sana sebagai manusia kultivator. Jangan sampai wujud lain kita memancing perhatian orang!" Wu Jin Ming mengatur rencananya.
"Aku setuju! Ayo ke sana! Kita harus segera bertindak!"
Rubby mengeluarkan pedang biasa miliknya begitu juga Wu Jin Ming. Mereka tidak ingin mengeluarkan pedang saktinya jika keadaan tidak terlalu mendesak. Sebelum bertindak mereka juga harus mengenal siapa lawannya lebih dulu.
Rubby melompat terbang ke atas namun Wu Jin Ming mengayunkan tangannya ke udara dan menariknya turun.
"Jangan terbang, Sayang! Kita harus bersikap layaknya seorang manusia biasa!" seru Wu Jin Ming ketika Rubby sudah berhasil mendarat dengan tidak elegan di depannya.
Tubuh Rubby hampir terjatuh karena terpental ketika punggungnya menabrak dada Wu Jin Ming.
"Haisshh! Kebiasaan kamu Kak!" gerutu Rubby sambil mencoba untuk berdiri dengan benar.
"Maaf! Aku harap kamu tidak ceroboh dalam bertindak."
"Iya... iya... ayo, cepat! Kasihan jika orang-orang itu habis di makan buaya."
"Hmm. Kita berlari!" Wu Jin Ming menggenggam pedang dan satu tangan yang lain menggenggam tangan Rubby.
Mereka berlari dengan sangat cepat menuju lokasi keributan. Jerit pilu orang-orang yang ketakutan itu terdengar sangat menyayat hati. Air hujan yang mengalir di jalanan berubah menjadi merah karena bercampur darah korban keganasan buaya-buaya itu.
Wu Jin Ming dan Rubby mengayunkan pedangnya dan menyerang buaya di hadapannya. Jumlahnya ternyata sangat banyak. Entah berapa orang yang sudah mereka makan.
Kulit buaya yang keras membuat pedang yang mereka pakai tidak bisa melukainya. Buaya itu begitu lincah bergerak untuk menyerang Rubby. Ekornya menggelepar ke kanan dan ke kiri sebagai bentuk perlawanan mereka.
"Hati-hati, Rubby! Alirkan energimu ke pedang!" seru Wu Jin Ming di sela-sela pertempurannya.
Sepertinya buaya-buaya yang lain menyadari jika kawanannya dalam bahaya. Mereka berdatangan untuk mengepung Wu Jin Ming dan Rubby.
"Semuanya! Segera pergi dari sini!" teriak Wu Jin Ming di tengah hujan lebat malam itu.
"Lalu bagaimana dengan kalian berdua?" tanya salah satu pengunjung yang merasa khawatir dengan keadaan Wu Jin Ming dan Rubby.
"Jangan pikirkan kami! Kami akan baik-baik saja!" imbuh Rubby.
Bukannya menuruti kata-kata Wu Jin Ming dan Rubby, mereka malah berdiri menonton aksi Wu Jin Ming dan Rubby melawan buaya-buaya itu. Mereka hanya bergeser sedikit saja ke tepi. Mungkin mereka merasa khawatir dan mengira jika Wu Jin Ming dan Rubby hanya manusia biasa seperti mereka.
Hujan deras membuat gerak mereka sedikit terbatas. Buaya-buaya itu membuat Wu Jin Ming dan Rubby sedikit kewalahan. Merasa serangan buaya semakin mengganas, Rubby melapisi tubuhnya dengan energi spiritual miliknya.
Wu Jin Ming pun melakukan hal yang sama. Satu persatu mereka membunuh buaya-buaya lapar itu dan membelah tubuh mereka menjadi dua bagian. Hal yang aneh pun terjadi. Tubuh buaya yang terbelah itu hidup lagi dan setiap bagian menjadi tubuh buaya yang baru.
****
Bersambung...
__ADS_1