
Panglima Ang berhenti di tempat yang sepi dan jauh dari jangkauan manusia. Kepergiannya dari kuil sangat mendadak. Dia belum sempat menanyakan pada ratunya hendak pergi ke mana setelah ini.
"Kita akan pergi ke mana Yang Mulia?" tanya Panglima Ang.
"Antarkan aku ke tempat Kak Wu berada. Ingat jangan sampai ada orang yang menyadari dengan kehadiran kita!"
"Baik Yang Mulia Ratu!"
Mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk menembus batas. Perjalanan mereka baru setengah jalan. Tubuh Rubby sudah semakin melemah dan butuh kultivasi setelah ini.
"Yang Mulia Ratu! Jangan tertidur! Yang Mulia bisa jatuh jika pegangan Anda lepas!" seru Panglima Ang.
"Bisakah kita berhenti di tempat yang aman Panglima?"
Rubby sudah tidak kuat lagi menahan letih tubuhnya. Matanya terasa berat dan semakin mengantuk. Pegangan tangannya terkadang melemah dan hampir terlepas.
Panglima Ang membelokkan arah perjalanan ke sebuah lembah yang sangat sunyi. Ada sebuah mata air yang dikelilingi hutan lindung. Sepertinya tempat ini sangat jarang di jamah manusia.
Mereka berhenti di tempat itu dan melihat ke sekeliling. Mendengar langkah kaki mereka burung-burung yang semula bertengger di dahan pepohonan terbang berpencar. Beberapa binatang di sekitar mata air itu tampak berlarian dan bersembunyi di semak-semak setelah melihat kedatangan mereka.
Air yang jernih dari sumber mata air yang masih murni membuat Rubby tergoda untuk meminumnya. Kebetulan saat ini dia tengah haus. Tidak ada sesuatu yang bisa di pakai untuk mengambil air. Rubby menyatukan kedua telapak tangannya untuk mengambil air dan meminumnya.
Setelah dahaganya menghilang, Rubby mencari tempat yang rata untuk bersemedi. Dia harus segera berkultivasi dan memulihkan tenaganya. Tempat di mana dia berada saat ini seperti menyimpan energi yang besar. Rubby juga merasakan energi yang terlepas dari beberapa tanaman obat langka.
"Panglima! Tolong jangan biarkan siapapun mengganggu kultivasiku!" perintah Rubby.
"Hamba akan menjaga Yang Mulia Ratu dengan segenap jiwa!" Panglima Ang meletakkan tangannya di dadanya dan membungkuk di hadapan Rubby.
"Hmm. Terimakasih!"
Rubby mulai memejamkan matanya dan membuka jalur energi di tubuhnya. Energi berwarna warni mulai mengelilingi tubuh Rubby dan membungkus tubuhnya. Aura pelangi memancar dari tubuh Rubby dan membumbung tinggi ke langit.
Dari jarak yang jauh orang-orang melihatnya sebagai pelangi. Mereka sangat terkejut dengan fenomena ini padahal hari itu sedang tidak ada hujan. Sebagian besar orang berlomba-lomba untuk mengabadikannya dengan kamera.
Energi yang besar kembali di dapatkan oleh Rubby. Tidak butuh waktu lama tenaga dalamnya kembali pulih. Bahkan level kultivasinya naik satu tingkat dari sebelumnya.
Merasa semuanya sudah cukup, Rubby segera membuka matanya. Tidak aman terus berada di tempat yang belum dia kenal. Dia harus segera kembali ke sisi Wu Jin Ming.
__ADS_1
"Yang Mulia Ratu sudah selesai?" tanya Panglima Ang.
"Sudah."
"Mari kita kembali melanjutkan perjalanan Yang Mulia!"
"Tunggu!"
Rubby berjalan mengelilingi mata air itu. Setelah menyerap energi murni dari tumbuhan yang ada di sana, Rubby bisa mencium berbagai tanaman obat yang ada di sana. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia mengambil beberapa jenis tanaman obat yang dia temui di sana dan menyimpannya di cincin penyimpanannya.
Crashh!
"Arrghh!" kaki Rubby menginjak sesuatu yang tajam di bawah kakinya. Benda yang runcing itu menembus kakinya hingga berdarah. Darah Rubby menempel pada benda itu.
Mengejutkan. Benda itu menyala terang ketika terkena darah Rubby. Rubby tidak menyadari itu karena sedang fokus menutup lukanya dengan tenaga dalam yang dia miliki.
"Yang Mulia! Benda apa itu?" seru Panglima Ang melihat benda yang awalnya berwarna hitam kini menyala terang.
Mendengar teriakan Panglima Ang, Rubby seketika menoleh mengikuti arah pandangannya.
"Apa ini?" Rubby duduk berjongkok di samping benda itu.
"Wah! Bagus sekali!" Rubby membolak balik benda yang sekarang sudah berada di tangannya itu. Sebuah token kuno dengan batu giok di tengahnya. Giok itu berwarna hijau toska dengan pahatan permata di tepinya. Rubby segera menyimpannya.
"Bagaimana dengan luka Yang Mulia?" Panglima Ang melirik kaki Rubby yang sudah terlihat baik-baik saja.
"Sudah tidak ada luka lagi. Ayo kita pergi!" seru Rubby setelah di rasa cukup untuk petualangannya hari itu.
...
Rubby mendarat cantik dari punggung Panglima Ang di dekat mobil Wu Jin Ming parkir. Setelah menurunkan Rubby, Panglima Ang menghilang dan kembali ke Kerajaan Harimau Suci di alam lain. Parkiran itu berada di dalam gedung lantai dasar.
"Ya, ampun! Berantakan banget sih!" Rubby melihat bayangan dirinya di kaca mobil Wu Jin Ming.
Rambutnya terlihat kusut begitu juga dengan bajunya. Rubby membuka jarinya dan memakainya untuk menyisir rambutnya yang berantakan. Setelah lumayan rapi dia mengikatnya sembarangan.
"Perfect!" puji Rubby pada dirinya sendiri sambil menoleh ke kanan dan ke kiri di depan kaca.
__ADS_1
"Hai, Cantik!" sebuah suara mengagetkan Rubby
Rubby merasa malu karena ketahuan centil dan narsis di depan mobil. Tidak di sangka ada orang dalam mobil yang baru saja parkir di sebelahnya. Mungkin dia memperhatikannya sejak tadi.
"Hai!" jawab Rubby malu-malu.
"Namaku Bryan!" pemuda tampan itu mengulurkan tangannya di hadapan Rubby.
"Rubby!" Rubby membalas uluran tangan Bryan.
"Nama yang cantik secantik orangnya," Bryan menatap Rubby penuh kekaguman.
"Emh! Maaf aku buru-buru!" seru Rubby berjalan meninggalkan Bryan.
"Mau ke mana?" tanya Bryan yang terus mengikuti Rubby berjalan dan menyejajari langkahnya.
"Menyusul kekasihku yang sedang bekerja," jawab Rubby tanpa menghiraukan Bryan yang terus mengikutinya.
"Kekasih? Yahhh! Aku pikir kamu masih single!" Bryan berhenti berjalan sambil menepuk jidatnya. "Hei! Tunggu!"
Menyadari Rubby berjalan cepat meninggalkannya, Bryan segera pergi untuk menyusulnya.
Mereka berdua sampai di hadapan para kru pemotretan dan shooting iklan. Semua yang ada di ruangan itu terdiam dan shok dengan kedatangan mereka. Bryan ada di belakang Rubby dan meletakkan jari telunjuknya di depan hidung untuk memberi isyarat pada para kru agar tidak menyapanya dan mengatakan siapa dia sebenarnya.
Merasa ada yang aneh dengan sikap para kru yang biasanya ramah dan sedikit cerewet, Rubby menoleh ke belakang dan melihat Bryan sedang mengisyaratkan mereka untuk diam. Rubby menggeleng dan tidak berpikir macam-macam akan apa yang dilihatnya.
"Hai, Manager Lin!" sapa Rubby sebelum duduk di sofa.
"Hai, By!" balas Manager Lin.
Tanpa banyak bicara Bryan ikut duduk di sebelah Rubby.
"Heh! Ngapain kamu duduk di sebelahku? Lihat, di sana banyak tempat kosong!" ujar Rubby galak.
Wajah manager Lin menjadi pucat melihat sikap Rubby pada Bryan namun dia tidak bisa berbuat apa-apa karena Bryan menatapnya seolah memintanya untuk diam dan tidak ikut campur dalam masalah ini.
****
__ADS_1
...Bersambung......