TIGER WU

TIGER WU
Bab 249. Telepon Gelap


__ADS_3

Hari yang melelahka itu akhirnya berlalu. Wu Jin Ming yang telah selesai bekerja lebih dulu, menunggu Rubby di ruang tunggu. Dia memainkan game di ponselnya untuk mengusir kejenuhan.


"Hai!" sapa Angela, duduk tanpa permisi di sebelah Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming tidak menjawab, dia meliriknya sebentar lalu kembali fokus dengan game yang dimainkannya.


'Ternyata benar kata Lan Lan. Wu Jin Ming tidak mau melirikku sama sekali. Aku harus mengeluarkan aura pemikatku.'


Angela menahan napasnya sejenak, dia memusatkan konsentrasi untuk mengeluarkan energi yang membuatnya terlihat memesona di hadapan Wu Jin Ming.


Walaupun tanpa menoleh, Wu Jin Ming bisa merasakan sebuah energi asing yang keluar dari tubuh Angela. Untuk menghindari kemungkinan terburuk, Wu Jin Ming segera melapisi tubuhnya dengan energi pelindung.


"Namaku, Angela!" ucap Angela dengan gaya bicara yang dibuat-buat manja.


"Sudah tau," jawabnya singkat.


"Benarkah? So sweet sekali, aku merasa tersanjung." Dengan percaya diri Angela merasa Wu Jin Ming telah terpengaruh oleh aura pemikatnya.


Dia terus saja memandangi Wu Jin Ming sambil bertopang dagu. Jika di lihat dari dekat ternyata Wu Jin Ming sangatlah tampan. Menurutnya dia terlalu tampan untuk Rubby dan dialah orang yang seharusnya menjadi kekasihnya.


Dari kejauhan, Rubby berjalan menuju ke arah mereka dan melihat Angela dengan tatapan tidak suka.


Wu Jin Ming tersenyum ke arah Rubby, tanpa pikir panjang dia langsung berdiri untuk menyambutnya.


Melihat Wu Jin Ming akan berdiri, Angela pun melakukan hal yang sama.


Dug!


Kening mereka berdua beradu.


"Auw!" pekik Angela, memegangi keningnya.


"Kamu sengaja, ya?" Wu Jin Ming menatapnya tidak senang.


"Yee! Kamu itu yang sengaja, bilang saja kamu ingin dekat-dekat sama saya!" Angela sengaja memercikkan api agar Rubby marah pada kekasihnya itu.


Wu Jin Ming tidak mau meladeni Angela yang dia anggap gila.


"Sayang, kita pulang atau ke mana dulu?" tanya Wu Jin Ming ketika Rubby sudah berada di depannya.


Rubby bersiap untuk menjawab pertanyaan Wu Jin Ming namun tiba-tiba Angela menyela.

__ADS_1


"Hai, By! Maaf bolehkah aku meminjam alat make up-mu?" Pertanyaan Angela membuat Rubby mengerutkan dahinya.


Merasa Rubby kebingungan dengan permintaannya, Angela menunjuk keningnya yang memerah.


"Aku butuh cermin," ucapnya lagi.


"Aku tidak pernah bawa alat make up, permisi!" Berada lama-lama di dekat Angela membuatnya menjadi gerah, Rubby segera menarik tangan Wu Jin Ming dan membawanya pergi dari sana.


"Awas, kalian!" Angela merasa geram, mengepalkan kedua tangannya dengan kaki yang dihentak-hentakkan ke lantai.


Di parkiran.


"Sayang, kenapa tadi kamu dekat-dekat dengan kucing liar itu?" tanya Rubby dengan wajah kesalnya.


"Hahaha, nama yang bagus!" Wu Jin Ming tertawa mendengar Rubby menyebut Angela dengan kucing liar.


"Di tanya malah ketawa. Nyebelin!" Rubby melipat tangannya di dada lalu membuang muka ke arah lain.


"Aku tidak tertarik dengan kucing liar. Buat apa aku mendekatinya?" Wu Jin Ming fokus mengendarai mobilnya.


Emosi Rubby mereda setelah merasa apa yang dikatakan Wu Jin Ming ada benarnya. Tidak mungkin Wu Jin Ming tertarik pada Angela.


Rubby menoleh ke arah Wu Jin Ming dan menatapnya serius.


"Apa aku akan mati jika penyatuan jiwa itu tidak berhasil?" Nada bicara Rubby terdengar sangat sedih.


"Jangan terlalu banyak berpikir! Kita harus berusaha untuk tetap meyakini jika kita pasti berhasil. Semua yang mendukung penyatuan jiwa sudah kita miliki. Setelah Jurus Keselarasan Jiwa-ku sempurna, kita harus membuat obat dari tujuh tanaman langka di istana langit dengan meminjam tungku keabadian," jelas Wu Jin Ming.


"Semoga keyakinan kita ini terwujud." Rubby mencoba tersenyum meskipun tidak sejalan dengan perasaannya yang kacau.


Mereka kembali terdiam larut dalam pikiran masing-masing.


Dalam perjalanan pulang kali ini, Rubby tidak banyak bicara setelah mendengar ucapan Wu Jin Ming tentang penyatuan jiwa.


"By, malam ini kamu tidak capek, kan?" tanya Wu Jin Ming memberi kode untuk melakukan ritual sakral mereka.


"Uhukk ... uhuk ...!" Rubby tersendak air liurnya.


Dengan segera dia mengambil air mineral yang ada di dashboard mobil.


"Maaf!" Wu Jin Ming terlihat kecewa tapi dia harus memahami keadaan istrinya juga.

__ADS_1


Ingin rasanya Rubby berkata kalau dia sangat lelah, tapi dia urungkan. Dia takut suami tampannya itu berpaling darinya.


"Aku tidak lelah, tadi aku hanya terkejut saja."


Jawaban Rubby membuat roman muka Wu Jin Ming berubah. Terlukis senyum cerah di wajahnya yang semula mendung. Walaupun tidak bicara sesuatu, Rubby tahu jika sekarang dia sedang bahagia.


••••


Malam semakin larut namun Wu Jin Ming belum juga selesai berlatih Jurus Keselarasan Jiwa. Rubby merasa gelisah menunggunya. Matanya sudah sangat mengantuk namun jika dia tidur sekarang pasti Wu Jin Ming akan kecewa.


Rubby duduk dengan bersandar pada kepala ranjang dan memeluk kakinya yang terlipat. Dia meletakkan dagunya di atas lutut agar kepalanya tetap tegak. Tapi rasanya semua itu sia-sia. Rubby tetap saja tidak bisa menahan rasa kantuknya.


Malam itu, Rubby gagal untuk melayani Wu Jin Ming lagi.


Tidak lama setelah Rubby tertidur, Wu Jin Ming selesai melakukan latihannya. Dia berjalan tergesa-gesa untuk membetulkan posisi tidur Rubby yang jauh dari kata nyaman itu. Tubuh Rubby diangkatnya lalu dia baringkan senyaman mungkin.


Wu Jin Ming mengecup kening Rubby perlahan agar dia tidak bangun. Sebelum menyusul Rubby tidur, dia ingin bersih-bersih di kamar mandi terlebih dahulu.


Baru saja beberapa langkah turun dari tempat tidurnya, suara telepon Wu Jin Ming berbunyi nyaring. Suara nada dering itu bisa saja membangunkan Rubby. Wu Jin Ming berlari untuk melihat siapa yang meneleponnya malam-malam.


Di layar ponselnya menunjukkan sebuah nomor tidak di kenal. Wu Jin Ming enggan mengangkatnya namun takut jika itu adalah panggilan penting.


"Hallo!" Akhirnya dia memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


"Hallo, Tiger! Tolong aku!" pekik suara dari seberang.


Wu Jin Ming sangat mengenal suara itu.


"Kak Lin! Apa yang terjadi padamu?" tanya Wu Jin Ming merasa panik.


"Datanglah ke Jalan X nomor 378, sekarang juga!" Suara Kak Lin dari seberang berubah menjadi orang lain.


Wu Jin Ming ingin bertanya lagi, tetapi panggilan itu sudah dimatikan secara sepihak.


"Apa yang terjadi pada kak Lin? Apakah seseorang telah menculiknya?"


Ingin rasanya Wu Jin Ming mengabaikan panggilan telepon itu, namun dia akan sangat menyesal jika hal buruk menimpa manager Lin.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2