
Tubuh Arlan masih gemetar karena keterkejutannya. Dia menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa gugup yang masih menderanya. Walaupun dia tahu Rubby memiliki kekuatan yang luar biasa, namun kehadirannya yang tiba-tiba membuatnya sangat terkejut.
"Aku ... aku ...." Arlan masih belum bisa berkata apa-apa.
"Hilih! Nggak usah pura-pura bisu, deh, Ar! Ngapain coba kamu pakai acara ngumpet-ngumpet segala?" sewot Rubby sambil menendang Arlan gemas.
Arlan tidak merasa kesakitan karena Rubby hanya menendangnya pelan sebagai wujud kekesalannya.
"Eh, tapi ngomong-ngomong sekarang kamu hebat juga, ya. Udah bisa pakai jurus menghilang. Aku aja sampai tidak mengenali kamu," ucap Rubby sambil berdiri di hadapan Arlan, tangan kirinya dilipat di dada sedangkan tangan kanannya memegangi dagunya.
Wu Jin Ming datang menghampiri Rubby dan Arlan dengan langkah cepat.
Tidak ada orang lain di sana selain mereka bertiga karena memang tempatnya yang sedikit jauh dan terlindung dari lokasi pemotretan.
"Ada apa, By?" tanya Wu Jin Ming menatap Rubby dan Arlan bergantian.
Rubby yang masih kesal pada Arlan menghela napas lalu berjalan mendekati Wu Jin Ming dengan wajah ditekuk.
"Tau, tuh! Ada orang kurang kerjaan yang suka menguntit. Kenapa juga nggak bilang terus terang aja kalau mau ikut ke sini. Kan enak kita bisa berangkat bareng-bareng." Rubby melengos ketika Arlan menatapnya dengan penuh penyesalan.
Arlan tahu saat ini Rubby benar-benar marah padanya karena sebelumnya saat mereka bercakap-cakap di telepon Arlan tidak mengatakan apa-apa.
Wu Jin Ming terlihat bingung. Di satu sisi dia merasa kasihan pada Arlan yang tidak bisa bergerak karena terikat oleh jurus pengikat raga Rubby, di sisi lain dia tidak menyalahkan kekesalan Rubby yang merasa dimata-matai. Dalam hal ini dia seperti terjepit di antara dua gajah yang sedang berhimpitan.
"Arlan! Bicaralah sesuatu untuk membuat Rubby mengerti alasanmu!" ucap Wu Jin Ming lebih mendekatkan diri pada Arlan.
Arlan menunduk.
"Aku sebenarnya sudah berada di sini sejak beberapa hari yang lalu karena aku belajar beladiri di dekat sini," jujur Arlan.
"Apa?!" Rubby sedikit terkejut.
Jika tidak salah mengingat, sewaktu di bukit San untuk memperebutkan energi seribu bulan, Arlan sudah menjadi seorang kultivator meskipun bisa di bilang kemampuannya masih standar.
"Maafkan aku, Rubby. Aku hanya ingin mengawal kalian dan menjada dari kemungkinan bahaya yang tidak kalian sadari. Tempat ini penuh misteri, aku takut kalian tersesat jadi aku memutuskan untuk mengikuti kalian secara diam-diam."
Wu Jin Ming mengangguk-angguk. Menurutnya alasan Arlan cukup masuk akal juga. Tapi sepertinya itu belum cukup untuk meredam amarah Rubby.
"Alasan aja! Sok-sokan mau melindungi kami, baru gitu aja kamu udah kalah dari aku." Rubby tersenyum sinis.
__ADS_1
"Rubby, jangan begitu. Kita mungkin lebih kuat dari Arlan, tapi bisa saja kita lengah di saat-saat tertentu. Apalagi Arlan sudah lama tinggal di sini dan dia sangat mengenal tempat ini," ucap Wu Jin Ming memberi pengertian pada Rubby.
"Iya, tapi tetap saja dia salah! Harusnya dia bilang-bilang dulu, coba kalau jiwa kejamku kambuh, bisa-bisa dia aku bakar hidup-hidup!"
Ucapan Rubby membuat Arlan merasa ngeri. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Rubby, harusnya dia tidak perlu mengatakan jika dirinya berada di sana. Tapi semuanya sudah terlanjur, mau tidak mau dia harus bersedia menerima kemarahan Rubby.
"Iya, By! Aku salah. Aku pikir kalian tidak akan tahu kalau aku memakai jurus menghilang, karena jurus ini cukup efektif sebelumnya. Para siluman saja tidak bisa mendeteksi keberadaanku."
"Iya-iya, udah aku maafin. Aku pergi dulu, mau kerja!" Rubby berbalik dan berjalan, tapi Wu Jin Ming masih berasa di sana.
"Tunggu! Lepaskan aku dong, By!" rengek Arlan.
"Terserah! Lepasin aja sendiri!" Rubby terus melangkah dan berlagak tidak peduli.
Arlan melirik ke arah Wu Jin Ming, cuma dia harapannya satu-satunya.
"Please, tolongin aku dong, Bro!" Arlan bicara memelas.
"Baiklah!" Wu Jin Ming mengayunkan tangannya ke depan lalu mengeluarkan energi spiritual yang membuat tubuh Arlan berdiri tegak.
Cahaya energi yang keluar dari tangannya meningkat dan semakin besar. Cahaya itu bergerak seiring tangan Wu Jin Ming yang membuka dan menutup telapak tangannya untuk membuka ikatan jurus yang ditanamkan oleh Rubby. Butuh sedikit kerja keras karena Rubby memakai energi pengikat yang cukup sulit untuk dibuka.
"Terimakasih, Tiger!" Arlan mengibas-ngibas lengannya dan meliukkan tubuhnya agar peredaran darahnya kembali normal.
"Sama-sama. Ikutlah denganku! Tapi kamu harus menghilang seperti tadi agar tidak ada yang melihat. Tapi ingat, jangan usil atau Rubby akan menghukummu lebih konyol lagi."
"Haaish, Rubby bukan cuma menghukumku lagi. Mungkin langsung di bantai!" Arlan bicara dengan gayanya yang konyol membuat Wu Jin Ming menahan tawa.
"Hahaha, sudahlah. Cepat sembunyilah! Kita hampir sampai di lokasi tempat teamku berkumpul."
Arlan mengangguk.
Tubuhnya perlahan memudar dan menjadi tidak terlihat.
Walaupun dia berjalan di samping Wu Jin Ming namun tidak ada seorang pun yang melihatnya, kecuali Rubby dan Wu Jin Ming.
Secara tidak langsung ada jejak energi yang tertinggal di tubuh Arlan, hal itu yang membuat jurusnya melemah pada Rubby dan Wu Jin Ming sampai jejak energi itu benar-benar hilang dari tubuhnya.
"Kenapa kamu ikut ke sini?" tanya Rubby yang belum menyadari jika tidak ada yang bisa melihat Arlan selain dia dan Wu Jin Ming.
__ADS_1
"Sttt! Hanya kita yang bisa melihat Arlan," bisik Wu Jin Ming di telinga Rubby.
Rubby mengangguk lalu melirik kesal pada Arlan.
"Tenang aku nggak akan jahil!" seru Arlan sambil mengacungkan dua jarinya.
"Awas aja kalau macam-macam! Aku gantung terbalik di atas pohon biar tau rasa!" seru Rubby dengan suara pelan.
"Kejam!" Arlan meringis ngeri.
"Aku pergi dulu, Sayang!" Wu Jin Ming mengecup kening Rubby sebelum pergi dari hadapannya.
"Hmm." Rubby mengangguk-angguk dan tersenyum.
Arlan merasa cemburu melihat kemesraan mereka. Darahnya terasa mendidih, menjalar hangat hingga ke ubun-ubun. Tapi apa daya, dia harus merelakan Rubby dimiliki oleh orang lain karena dia terlambat menyadari perasaannya.
"Nggak usah jealeous!" ucap Rubby tanpa menoleh, dia masih fokus pada laptopnya.
Arlan tergagap. Dia tidak menyangka ternyata Rubby menyadari perubahan sikapnya.
"Siapa yang jealeous? Orang aku lagi merenggangkan otot aja!" Arlan menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri seperti senam ringan.
Rubby hanya menggeleng karena tidak ingin berdebat lagi. Perdebatannya hanya akan menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Bisa-bisa Rubby di anggap gila karena dikira bicara sendiri.
Saat semuanya sedang sibuk dengan aktifitas masing-masing, Rubby merasakan adanya aura energi mendekat ke tempat mereka berada saat ini.
Langit yang semula cerah tiba-tiba berubah mendung dan berangin. Pemotretan di lokasi itu sudah selesai dan para kru sedang berkemas untuk menuju lokasi selanjutnya. Mereka bergerak cepat karena takut akan terjadi badai.
"Ar! Apa kamu merasakan sesuatu?" tanya Rubby.
Arlan mengangguk pasti.
****
Bersambung...
Numpang promo novel karya temanku ya kak... terimakasih...
__ADS_1