
"Kak Tiger ingin makan atau minum dulu di sini atau kita langsung pulang ke rumah?" tanya Rubby setelah menata belanjaannya di atas motor.
Wu Jin Ming menengok ke kanan kiri. Dia tidak melihat penjual makanan yang di bilang Rubby. Hanya ada seorang penjual buah yang mereka lewati tadi di dekat pintu masuk. Wu Jin Ming tidak tahu kalau yang di maksud Rubby adalah rumah makan.
"Kita makan dulu atau pulang Kak?" Rubby mengulang pertanyaannya sambil memperhatikan Wu Jin Ming yang tampak kebingungan.
"Ah, kita pulang saja!" Wu Jin Ming tidak ingin terlihat memalukan di depan banyak orang.
"Hmm. Baiklah. Ayo Kak!" ajak Rubby. Rubby juga masih merasa kenyang karena semalam menelan pil penunda lapar dari Wu Jin Ming.
Rubby merasa kagum karena Wu Jin Ming sudah bisa memakai helmnya sendiri meskipun baru sekali dia ajari.
Wu Jin Ming masih saja tertarik melihat sekeliling jalan yang dia lewati. Saat melintasi seorang nenek tua yang hendak menyeberang, Wu Jin Ming meminta Rubby berhenti. Dari arah yang berlawanan ada sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Sepertinya nenek itu tidak menyadari jika lampu hijau sudah menyala.
Syiuutttt...
Wu Jin Ming langsung melompat untuk menolong nenek tua itu. Sebelum nenek tua dan orang yang melihat kejadian itu menyadari keadaan, Wu Jin Ming kembali ke atas motor Rubby dan memintanya untuk segera pergi dari lokasi itu.
Ada desiran aneh yang menyusup ke hati Rubby. Dia merasa sangat kagum pada sosok siluman harimau yang menjelma menjadi seorang malaikat. Desiran itu memicu sebuah gelombang rasa yang dasyat. Rasa yang belum pernah muncul sebelumnya.
"Kak Tiger!" panggil Rubby setelah memelankan motornya karena mereka hampir sampai.
"Hmm."
"Kenapa kau menyelamatkan orang yang tidak kamu kenal tadi ?" tanya Rubby.
"Aku hanya melakukan satu kebaikan kecil. Itu tidak ada artinya," ucap Wu Jin Ming merendah.
"Kau mempertaruhkan nyawamu hanya untuk menolongnya, bagaimana bisa itu di bilang hal kecil, Kak Tiger," tegas Rubby.
"Tidak usah diperpanjang Rubby. Aku senang melakukannya," jawab Wu Jin Ming membuat Rubby semakin penasaran. Benih - benih cinta mulai muncul diantara mereka tanpa mereka sadari.
Rubby memarkirkan motornya di teras rumahnya. Dia membawa barang belanjaannya ke dalam. Tak ketinggalan, Wu Jin Ming juga ambil bagian untuk membantunya.
"Taruh di sini saja Kak. Biar aku cuci dulu semuanya." tangan Rubby menunjuk sebuah meja di dekat wastafel.
"Hmm." setelah menaruh kantong belanjaan, Wu Jin Ming berdiri di samping Rubby sambil terus memperhatikan apa yang dia lakukan.
__ADS_1
Muncul ide iseng dari Rubby. Dia ciprakan percikan air ke wajah pria itu. Mereka terus saja saling balas dan malah jadi kejar - kejaran.
Air yang menggenang di lantai membuat Rubby terpeleset. Tubuhnya terpelanting. Namun sebelum Rubby terjatuh tangannya berhasil meraih tubuh Wu Jin Ming. Wu Jin Ming yang tidak siap malah ikut kehilangan keseimbangan.
Bruk...
Mereka berdua jatuh terduduk.
"Pada akhirnya kita sama - sama terjatuh juga." tawa Rubby menggema di seluruh ruangan. Kebersamaannya bersama Wu Jin Ming berhasil menyingkirkan kesedihan yang dirasakan Rubby.
Wu Jin Ming ikut tertawa. Melihat Rubby kembali ceria, perasaannya sangat senang. Setiap kali memandang mata cantik Rubby, ada rasa hangat yang mengalir di dadanya. Rasa itu terus menjalar memenuhi pundi - pundi jiwanya. Seketika jiwa itu menjadi lebih bersinar. ' Rubby, apakah kamu Dewi Bulan yang ditakdirkan oleh para Dewa untukku?' guman Wu Jin Ming.
"Aku mau menyelesaikan pekerjaanku Kak Tiger. Kau duduk saja di sana. Kau jangan menggangguku!" perintah Rubby.
"Iya baiklah." Wu Jin Ming masih terus memperhatikan Rubby meskipun hanya punggungnya yang tampak.
Benar saja. Tanpa gangguan dari Wu Jin Ming Rubby sangat cekatan membersihkan dan menyimpan bahan makanan yang dia beli. Dia menyisakan beberapa bahan untuk di masak hari ini.
Mencium bau harum masakan Rubby, Wu Jin Ming berjalan menghampiri Rubby. Dia ingin melihat masakan Rubby dari dekat. Wu Jin Ming berpikir, ternyata makanan manusia sangatlah enak.
"Mau mencicipi?" tawar Rubby.
"Mau. Apa boleh?" kelihatannya Wu Jin Ming sudah tidak sabar lagi.
"Tunggu sebentar!" Rubby membuka tempat penyimpanan peralatan makan untuk mengambil garpu. Daging ikan yang hampir matang menjadi tujuan utamanya.
"Buatku?" tanya Wu Jin Ming ketika melihat Rubby menyodorkan garpu di depan mulutnya.
"Tentu saja. Buka mulutmu!" Rubby dengan telaten menyuapkan makanan itu.
"Bagaimana rasanya?" tanya Rubby berharap jawabannya tidak mengecewakan.
"Enak," jawab Wu Jin Ming sambil mengangguk - angguk.
Dengan garpu yang sama, Rubby juga mencicipi masakannya itu.
Wu Jin Ming tertegun tak percaya melihat Rubby makan menggunakan garpu bekas mulutnya. Bukankah ini secara tidak langsung mereka telah berciuman?
__ADS_1
"Kenapa Kak Tiger?" tanya Rubby keheranan. Mulutnya mengunyah potongan ikan tadi yang sudah hampir ***** sempurna.
Sudah diputuskan. Tidak peduli siapa Rubby, entah Dewi Bulan atau bukan, Wu Jin Ming menyukainya. Dan ini mutlak.
"Aku mencintaimu Rubby." tiga kata sederhana yang mampu mengubah dunia. Kata yang terdengar begitu lembut namun mampu menggetarkan jiwa pemiliknya.
Bukannya menjawab, Rubby malah tertegun. Dia bingung harus menjawab apa. Jujur sosok Wu Jin Ming memang sangat didambakannya. Dia juga berhutang nyawa padanya.
"Aku.. aku.. sebenarnya aku.. juga.. menyukaimu.. tapi.." Rubby belum meneruskan ucapannya. Dia menatap mata jernih Wu Jin Ming. Mencoba menyelam ke dalamnya untuk mencari tahu seberapa besar kesungguhannya.
"Aku mencintaimu Rubby." Wu Jin Ming kembali mengulang pernyataan cintanya.
"Apa kita bisa? Kau bukan manusia. Alam kita sungguh berbeda Kak Tiger." Rubby mencoba mengingatkan Wu Jin Ming sebelum semuanya terjadi di antara mereka berdua.
"Aku akan membawamu ke dalam dimensiku Rubby. Kita akan tahu jawabannya di sana. Percayalah padaku, tidak ada yang salah dalam cinta," jelas Wu Jin Ming.
Melihat kesungguhan Wu Jin Ming, akhirnya Rubby mengangguk setuju.
Kebahagiaan Wi Jin Ming yang tak terbendung, membuatnya sangat bersemangat. Setelah Rubby setuju, dia langsung menariknya ke dalam ruang dimensinya. Wu Jin Ming mengajak Rubby ke sebuah kuil di dalam dimensinya. Untuk kali ini dia benar - benar tidak ingin kehilangan orang yang di cintainya seperti kejadian di masa lalu.
"Tempat yang indah Kak Tiger. Apakah ini rumahmu?" tanya Rubby sambil berdecak kagum.
"Bukan. Ini sebuah kuil. Para Dewa Dewi akan datang ke sini jika aku membutuhkan mereka," jelas Wu Jin Ming.
"Apa kau akan memanggilnya sekarang?" tanya Rubby.
"Mungkin," jawab Wu Jin Ming. Kedua tangannya memegang kedua tangan Rubby mesra.
"Kenapa kog mungkin?" Rubby semakin tidak mengerti.
"Aku butuh alasan untuk menghadirkan mereka di sini." Wu Jin Ming menatap mata Rubby lekat.
"Dan alasan itu adalah... kamu." kata - kata Wu Jin Ming kembali membuat Rubby ternganga tak percaya. Antara terharu, senang, sedih dan bingung.
****
Bersambung...
__ADS_1