TIGER WU

TIGER WU
WUJUD ASLI DEWI BULAN


__ADS_3

Mereka berlima pergi ke mall naik taksi. Empat cewek duduk di belakang dan Wu Jin Ming duduk di samping kemudi. Untung mall letaknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit perjalanan dari rumah Rubby. Kalau tidak, bisa di bayangin betapa sesak empet - empetan empat orang di jok belakang.


Tempat yang di tuju pertama kali oleh mereka berlima adalah food court. Mereka memilih food court yang ada di lantai 3. Di sana banyak sekali penjual makanan dengan berbagai menu.


Wu Jin Ming merasakan banyak sekali kekuatan spiritual di sana. Mungkin sebagian penjual memakai penglaris dan tidak jarang dari mereka melakukan ritual pemujaan. Sudah di pastikan dalam pemujaan tersebut dipersembahkan sebuah tumbal atau pengorbanan.


Tangan Rubby di tarik oleh Wu Jin Ming ketika akan memasuki rumah makan yang memiliki gejala tidak beres. Rubby menurut saja. Ketiga temannya cuma mengekor di belakang.


"Kita dari tadi muter - muter, mau makan apa sih sebenarnya?" tanya Lisa.


"Tauk tuh Rubby!" Bella melirik ke arah Rubby dan Wu Jin Ming yang masih terus berjalan.


"Kak, teman - teman dah pada protes. Buruan kamu pilih tempat makannya," bisik Rubby.


"Sebentar, aku pilih kedai yang aman. Sepertinya kamu harus belajar berkomunikasi melalui pikiran, Rubby," bisik Wu Jin Ming.


Setelah melihat tempat yang lumayan aman dari kekuatan negatif, Wu Jin Ming membawa Rubby ke sana.


"Setelah ini kamu harus banyak belajar, Rubby. Kamu harus meningkatkan kultivasi dan berlatih untuk mengontrol kekuatan spiritualmu." suara Wu Jin Ming yang muncul di pikiran Rubby. Dia berbicara melalui pikiran, jadi mulutnya tetap tertutup.


Rubby mengangguk karena dia belum bisa menjawabnya melalui bahasa pikiran.


"Kalian mau pesan apa?" tanya Rubby.


"Kita pesan sendiri - sendiri atau gabungan?" Cindy malah balik tanya.


"Kalian pesan saja apa yang kalian suka. Aku yang traktir," jawab Rubby.


"Wuiihh... Sekarang gaya, ya... Kak Tiger yang bayar, ya?" tanya Lisa.


"Iya... nanti dia yang akan membayarnya." Rubby tersenyum melirik Wu Jin Ming yang duduk berseberangan dengannya. Wu Jin Ming membalas senyumannya, lalu dia kembali berbicara dengan pikirannya.


"Nanti temani aku. Di mana menukar koin emas menjadi uang di dunia manusia? Sebagai istriku kamu berhak menerimanya," ucap Wu Jin Ming yang hanya di dengar Rubby. Lagi - lagi, Rubby hanya tersenyum menanggapinya.


"Ihh, kalian, ya. Dari tadi pandang - pandangan sambil tersenyum. Susah ya kalau ngadepin orang lagi jatuh cinta," gerutu Bella.


"Bilang aja kamu iri, Bel!" ucap Cindy.


"Udah, ahh! Berantem terus. Bikin aku tambah laper aja. Kamu Bel, pesen makanan dan minuman yang paling enak buat kita semua," pinta Rubby.


"Siap bos!" tangan Bella memberi hormat layaknya komandan upacara.


"Biar aku temani." Lisa ikut berdiri menuju ke tempat pemesanan. Tempat itu lumayan ramai hingga pelayan belum sempat mengantarkan daftar menu ke meja mereka.


"Rubby, gimana kalau habis ini kita nonton. Kali aja ada film yang oke," ucap Cindy memecah ke bekuan di antara mereka bertiga.


Rubby berpikir sejenak. 'Kayaknya nggak bisa deh, Kak Tiger pertama lihat TV aja takutnya minta ampun. Gimana kalau lihat layar bioskop yang segede itu. Belum lagi visualnya di buat seperti nyata. Bisa - bisa di bikin hancur tuh layar sama dia.' guman Rubby dalam hati.


"Emm... aku lagi males nonton deh, Cin. Lain kali aja ya. Atau kalian nonton, aku tunggu sambil belanja," jawab Rubby.


"Yah, padahal tujuanku ngajakin nonton itu biar kalian bisa tambah deket." alasan Cindy. Padahal niatnya dia berharap untuk bisa mengenal Wu Jin Ming lebih dekat. Rencananya dia akan mencari kursi yang dekat dengannya nantinya.


"Kak Tiger, nggak suka nonton. Dia suka terbawa suasana kalau lihat film." Rubby terlihat gelisah. Dia tahu sifat Cindy yang pantang menyerah dan sedikit memaksa jika menginginkan sesuatu.


"Hmm, ya sudah. Aku juga nggak jadi nonton. Nggak ada kamu nggak seru!" Cindy meredam kekesalannya dengan memainkan poselnya.


"Aku mau belanja baju buat kak Tiger. Dia cuma punya sedikit di sini," jelas Rubby.


"Ntar aku bantuin milih, ya?" pinta Cindy.


"Hmm. Boleh," jawab Rubby singkat.


Lisa dan Bella kembali duduk setelah memesan makanan untuk mereka berlima.

__ADS_1


"Cin, kita jadi nonton kan habis ini?" tanya Bella.


"Nggak jadi deh kayaknya. Rubby nggak mau. Dia mau belanja baju buat yayangnya," ujar Cindy sambil melirik Rubby.


"Haaiss, yang punya pacar ganteng... Pengennya berduaan terus..." celetuk Bella.


"Biarin... syirik aja!" Rubby mendengus kesal dari tadi digodain terus sama teman - temannya.


"Udah, pada mau makan nggak. Ribut aja!" imbuh Cindy yang melihat pelayan sudah datang membawa pesanan mereka.


"Gimana nggak ribut coba. Di sini yang bawa pacar cuma Rubby doang." Lisa menyembikkan bibirnya pura - pura mewek.


"Buruan telepon Axel sana, biar di samperin ke sini!" ucap Rubby.


"Aku dah putus ma Axel, ya. Dan 3 minggu jomblo masak nggak tau," gerutu Lisa.


"Ya, telepon gebetan kamu lah. Biasanya kamu kan koleksi cowok ganteng," imbuh Cindy.


"Nggak ada yang nyantol. Aku nggak mau, ya, kalau nggak ada rasa deg - degan atau ser - sera gimana gitu pas ketemuan." Lisa meraih gelas minumannya yang baru saja datang.


"Aku dari pandangan pertama ser - seran tuh lihat kak Tiger," celoteh Bella.


"Pacar orang... Jangan di lirik!" ucap Cindy sambil memukul keningnya pakai sendok


"Aduh... Kening aku... Gimana kalau aku gegar otak... atau minimal amnesia," tingkah konyol Bella dan Cindy membuat teman - temannya terkekeh.


"Udah... udah... makan dulu, yuk! Biar ntar ada tenaga buat ribut lagi," ujar Rubby sambil mendekat ke arah Wu Jin Ming.


Rubby tahu jika Wu Jin Ming pasti kesulitan memakan seafood dan beberapa menu lain. Dengan telaten Rubby memisahkan daging kepiting dan daging kerang. Dia memberikan daging yang siap makan itu ke piring Wu Jin Ming.


"Terima kasih." Wu Jin Ming menyendok makanannya sambil tersenyum. Pandangannya tak lepas dari Ribby. Dia tak tertarik melirik teman Rubby yang sejak tadi mencari perhatiannya dengan gestur tubuh maupun lirikannya.


"Kak Tiger mau sambal pedas?" tanya Rubby meraih saos sambal.


"Tidak! Aku tidak suka pedas," ucapnya sambil terus mengunyah.


Lisa yang sejak tadi memperhatikan keromantisan Rubby dan Wu Jin Ming merasa iri. Dia heran, kenapa Rubby selalu beruntung. Dulu dia mendapatkan perhatian Moza dengan mudah, padahal dia yang sejak lama naksir pun tidak di liriknya. Sekarang dia dapat cowok tampan yang sangat menyayanginya.


Bella dan Cindy tak kalah kesalnya. Mereka memang mempunyai pacar, tapi tak seperhatian dan setampan Wu Jin Ming. Cindy dan Darius hampir dua tahun pacaran namun jarang sekali kencan romantis. Sedangkan pacar Bella yang notabene pengusaha, sering pergi ke luar kota dan jarang meneleponnya.


Insting Wu Jin Ming menangkap perasaan tidak baik di hati teman - teman Rubby. Bukan mereka yang membuatnya takut tetapi jika ada energi jahat yang menaungi mereka. Bisa saja mereka hilang kendali dan tak bisa mengontrol diri akibat tekanan energi negatif yang besar dari luar tubuh mereka.


"Heh, lihat aku!" Rubby menyolek pipi Wu Jin Ming dengan jari kotornya.


"Astaga, tega bener kamu Rubby. Masak pacar di coreng gitu, jadi belepotan kan dia." Lisa mendekat hendak mengelap pipi Wu Jin Ming dengan tisu.


Wu Jin Ming memundurkan wajahnya.


"Biar Rubby saja yang membersihkannya." Wu Jin Ming mengambil tisu dari tangan Lisa dan memberikannya pada Rubby.


Rubby tersenyum bangga menerimanya. Dia senang melihat suaminya itu tidak mau di sentuh oleh sembarangan orang. Rubby mengelap noda di wajah Wu Jin Ming dengan jarak yang sangat dekat. Meskipun setiap hari bersamanya namun debaran ini selalu hadir ketika tatapan mereka bertemu.


"Em.. Aku bayar tagihan dulu, ya." Rubby berdiri dan mencoba menghilangkan kegugupannya di hadapan Wu Jin Ming.


"Aku ikut. Mau sekalian cuci tangan." Wu Jin Ming ikut berdiri.


Sama saja. Niatnya pengen menghidari debaran saat mereka berdekatan, malah Wu Jin Ming tak mau jauh. Akhirnya mereka berjalan bersama ke wastafel dan ke kasir untuk membayar.


"Rubby, jika uangmu habis kita tukar emas kita dulu setelah ini," ucap Wu Jin Ming dalam pikiran Rubby.


"Aku pamit teman - teman dulu, ya."


Rubby kembali ke meja tempat mereka makan tadi. Teman - temannya masih asik menghabiskan makanan lezat yang tersisa. Mereka sayang jika makanan favorit mereka terbuang sia - sia.

__ADS_1


"Gaes... aku pergi dulu ya, sama kak Tiger. Nanti kalian susul ke Distro Q yang ada di lantai dasar, ya! Bye..." Rubby berpamitan setelah menyeruput sisa minumannya.


"Siap juragan. Ini udah di bayar, kan?" tanya Bella.


"Udah beres. Daaa... "ucap Rubby sambil lalu.


Wu Jin Ming dan Rubby meninggalkan restoran itu menuju ke toko emas yang melayani jual beli emas.


"Rubby, kita ke tempat yang tersembunyi dulu. Di sini sangat ramai. Bagaimana aku bisa mengeluarkan koin emas dari cincin penyimpanan," bisik Wu Jin Ming.


"Emm... kita ke gang itu." Rubby mengajak Wu Jin Ming ke tangga darurat. Tempat itu lumayan sepi. Hanya dalam kondisi tertentu saja digunakan.


Banyak sekali koin emas dan emas batangan yang tersimpan di dalam cincin penyimpanan Wu Jin Ming. Dia mengusap kening Rubby dengan kekuatan spiritualnya sehingga Rubby bisa melihat apa saja yang tersimpan di sana. Rubby ternganga tak percaya. Dia melihat harta milik Wu Jin Ming yang tidak akan habis untuk memenuhi kebutuhan hingga tujuh turunan.


"Pusatkan pikiranmu dan ambilah sesukamu dengan kekuatan spiritualmu," ucap Wu Jin Ming.


"Hmm." Rubby tidak mau terlalu boros. Dia hanya mengambil beberapa buah koin emas. Setidaknya itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama beberapa bulan ini.


"Itu saja? Kamu tidak ingin membeli barang yang kamu inginkan?" tanya Wu Jin Ming.


"Ini sudah banyak. Aku nggak suka menghambur - hamburkan uang untuk sesuatu yang nggak penting." Rubby memasukkan koin emas di tangannya ke dalam tas.


Tanpa mereka sadari, kekuatan spiritual yang mereka keluarkan tadi mengundang siluman lain yang mendiami wilayah itu. Siluman Kucing yang tinggal di belakang mall datang menghampiri mereka.


Gumpalan asap hitam menghalangi jalan Rubby dan Wu Jin Ming yang akan meninggalkan ruangan yang terhubung dengan tangga darurat itu.


"Maaauuwww... siapa kalian? Kalian tidak bisa menipuku dengan berpenampilan sebagai manusia. Terutama kau!" siluman kucing itu menunjuk wajah Wu Jin Ming.


"Kucing pintar. Aku kucing besar Wu Jin Ming. Apa kau pernah mendengarnya?" tanya Wu Jin Ming dengan kilatan mata yang menyeramkan.


"Tidak mungkin. Wu Jin Ming adalah dewa dan raja bagi kami. Dia tidak akan mungkin sudi tinggal di dunia manusia. Apalagi harus menemani wanita ke tempat seperti ini. Maaauuuww.. Errr...errr..." kucing jantan itu membalas tatapan Wu Jin Ming dengan tatapan yang tak kalah mengerikan.


"Apa yang tidak mungkin? Aku benar - benar Wu Jin Ming dan dia istriku Dewi Bulan." Wu Jin Ming menunjuk Rubby dengan tatapannya.


"Apa? Tidak mungkin! Dia memang cantik seperti Dewi Bulan, tapi tidak mungkin dia. Aku tidak mencium energi yang kuat darinya," elak siluman kucing itu. Dia meremehkan Rubby yang terlihat lemah di matanya.


"Kau mau coba?" Wu Jin Ming kemudian beralih menatap Rubby.


"Rubby, tunjukan padanya. Pusatkan pikiranmu dan kumpulkan energi spiritualmu pada anggota tubuh yang akan kamu gunakan untuk menyerang. Di tangan, kaki, atau matamu!" Wu Jin Ming memberi arahan Rubby untuk menggunakan kekuatannya. Dia tidak terima melihat istrinya di rendahkan di hadapannya.


"Hmm." Rubby mengangguk.


Untuk memudahkan berkonsentrasi Rubby memejamkan matanya. Dalam waktu yang singkat kekuatannya sudah terkumpul di ujung jarinya. Dia segera membuka matanya dan mengarahkan ujung jarinya ke arah siluman kucing.


Siluman kucing melompat untuk menghindar. Serangan Rubby hanya mengenai ujung lengan bajunya. Dia terkejut melihat bajunya yang terkena serangan langsung berubah menjadi abu. Namun dia belum percaya jika wanita di depannya itu benar - benar Dewi Bulan, permaisuri Raja Harimau Putih.


Kekuatan spiritual siluman kucing itu sudah sangat tinggi. Mungkin beberapa tingkat di atas Rubby. Rubby tidak mampu menghindar ketika siluman kucing itu melompat ke arahnya dan menggigit ujung jarinya untuk menghisap energi spiritual milik Rubby.


"Aaaahhhhh!" pekik Rubby menahan sakit sambil berusaha melepaskan jarinya.


Wu Jin Ming berusaha membantu namun siluman kucing itu ternyata sudah memasang simbol pelindung yang tidak dapat di tembus oleh kekuatannya.


"Dengan berkat Dewa, jika aku memang Dewi Bulan. Munculkan kekuatanku!" pekik Rubby di sela rintihannya. Tubuhnya sudah melemah akibat kekuatannya yang hampir habis terserap oleh siluman kucing.


Saat Rubby benar - benar lemah dan hampir menyerah. Tanda Dewi Bulan di keningnya bersinar. Muncul cahaya kebiruan dari dalam tubuhnya. Energi yang sangat besar muncul dari tubuhnya hingga membuat siluman kucing itu terpental ke belakang.


Tubuh Rubby melayang ke udara dan berubah menjadi seorang Dewi yang bersinar. Bajunya yang semula hanya kaos panjang dan celana jeans kini menjadi hanfu khas seorang Dewi. Tatanan rambutnya dan semuanya berubah dengan sendirinya.


"Mmmaaauuuwww... ampun Dewi... aku bersedia mengabdikan seluruh hidupku padamu. Ampun Dewi!" siluman kucing itu bersujut di hadapan Rubby.


Wu Jin Ming tidak memyangka jika Rubby bisa berubah menjadi Dewi Bulan secepat ini. Sungguh di luar dugaannya. Wu Jin Ming menyusul Rubby dan merubah wujudnya menjadi Raja Harimau Putih Yang Agung.


Seperti halnya Wu Jin Ming, Rubby pun di buat heran dengan penampilan suaminya. Penampilannya sangat berbeda dengan Wu Jin Ming yang pertama kalinya dia temui. Dia terlihat sangat elegan dan berwibawa.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2