TIGER WU

TIGER WU
MELAWAN SIAN LUN


__ADS_3

Sian Lun berjalan maju mendekati Rubby. Sepertinya dia tidak tertarik untuk bertarung dengannya. Saat melihat Rubby, dia memiliki tatapan yang berbeda.


"Nona! Jangan keras kepala! Ikutlah denganku pergi ke istanaku. Aku akan menjadikanmu permaisuriku."


"Heh! Jangan mendekat! Satu langkah saja kamu maju maka aku bersumpah untuk meratakan istana yang kamu bangga-banggakan itu!" seru Rubby sambil menatap jijik pada siluman itu.


Sian Lun tidak menyerah. Dia memang berhenti berjalan namun tatapan nakalnya mengisyaratkan dia berniat kurang ajar pada Rubby. Wajahnya yang menyerupai kerbau memperlihatkan hidungnya yang kembang kempis karena tergoda oleh kecantikan Rubby.


Rubby bergidik ngeri melihat tingkah aneh siluman kerbau Sian Lun.


"Ih, jangan kayak kucing minta kawin begitu dong! Mending kita bertarung saja, deh!" Rubby merasa kesal dengan tingkah Sian Lun.


"Aku tidak tega jika nantinya kamu terluka saat bertarung denganmu, Nona! Sayang sekali kulit halusmu jika harus tergores atau lebam." Sian Lun masih saja memberi tatapan yang menunjukkan ketertarikannya.


"Aku sudah biasa bertarung dan juga terluka. Hanya butuh satu hembusan napas saja kulitku bisa kembali halus tanpa cela. Atau jangan-jangan kamu takut untuk melawanku!" Rubby mencoba memancing emosi Sian Lun agar mau bertarung dengannya.


"Sudah aku bilang, aku tidak tega melakukannya."


Tanpa di duga oleh Rubby sebelumnya, Sian Lun menyambar tubuh Rubby dan memeluknya.


"Aaa! Apa yang kamu lakukan?" Rubby mencoba melepaskan diri dari dekapan Sian Lun.


Pelukan Sian Lun membuatnya sulit bernapas dan hampir tidak bisa menggerakkan tubuh bagian atasnya.


"Hahaha! Tenanglah! Aku akan memperlakukanmu dengan lembut. Menurut sajalah padaku." Sian Lun memandangi Rubby dengan perasaan bahagia.


Arlan selesai melakukan meditasinya.


Melihat Rubby tidak berdaya, dia segera bangkit dan menyerang Sian Lun diam-diam.


Blamm!

__ADS_1


Sebuah lemparan energi telak mengenai punggung Sian Lun hingga membuatnya merasa kesakitan.


"Siaal! Siapa beraninya mengganggu kesenanganku?!" Berputar menghadap Arlan dengan penuh amarah.


Matanya yang sebenarnya memang sudah bulat dan kemerahan, kini semakin terlihat garang. Dia seakan-akan ingin menelan Arlan hidup-hidup.


"Kamu jangan pernah menyentuh lagi gadis itu atau aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu!" seru Arlan dengan berani.


Di sisi lain, Rubby sibuk mengibaskan tangannya untuk menghilangkan jejak aroma tubuh Sian Lun yang menempel di sana. Rubby merasa sangat jijik dan merasa ini adalah minpi buruk baginya. Dia tidak habis pikir bagaimana bisa dia sampai kecolongan dan dipeluk oleh siluman jelek itu.


Dia merasa lebih baik sedikit menjauh dan membiarkan Arlan yang bertarung melawannya. Hatinya masih sangat kesal setelah kejadian yang dialaminya baru saja. Siluman itu benar-benar tidak tahu malu.


Arlan dan Sian Lun mulai bertarung. Mereka mengeluarkan kekuatannya masing-masing dan bergerak sangat cepat. Sesekali mereka bertarung di udara dan saling kejar-kejaran untuk saling membalas serangan.


Sebagai seorang teman, Rubby merasa bangga pada Arlan. Kemauannya yang kuat membuatnya berlatih sangat keras hingga bisa menjadi seorang petarung yang hebat. Belum lama dia belajar ilmu beladiri namun dia sudah mampu menguasai jurus meringankan tubuh dan melayang di udara dalam waktu yang cukup lama.


Mungkin Arlan tidak hanya berlatih saja, namun juga meminum obat-obatan yang dapat mempercepat proses latihannya. Hal itu tidaklah mengherankan karena Arlan adalah seorang pengusaha kaya raya. Uang bukanlah masalah baginya.


Pertarungan itu mulai tidak seimbang. Sian Lun terlihat lebih unggul dan membuat Arlan terdesak beberapa kali. Rupanya dia lawan yang tidak bisa diremehkan juga.


"Sayang! Kamu tidak apa-apa?" tanya Wu Jin Ming ketika dia sudah sampai di hadapan Rubby.


Rubby sedikit terkejut karena tidak menyadari kedatangan Wu Jin Ming.


"Ahh, Kak Wu! Kamu mengagetkanku saja."


"Apa yang terjadi, Sayang?" Wu Jin Ming kembali bertanya.


"Huhh! Ceritanya panjang." Rubby menghembuskan napas kasar.


Wu Jin Ming tidak bertanya lagi karena sepertinya saat ini memang bukan waktu yang tepat untuk bercerita. Arlan terpukul mundur dan mengalami luka dalam yang tidak memungkinkannya untuk bertarung lagi. Melihat hal itu, Wu Jin Ming segera melompat menghadang di depan Arlan.

__ADS_1


Terlambat sedikit saja nyawa Arlan terancam. Sian Lun tidak main-main menggunakan kekuatannya hingga batas maksimum yang bisa mematikan lawannya dalam sekali pukulan. Wu Jin Ming membuat dinding pelindung yang mampu menangkis serangan Sian Lun.


Arlan merasa tidak asing dengan pelindung yang dibuat oleh Wu Jin Ming.


'Jangan-jangan orang yang membantuku di bukit San waktu itu adalah Tiger? Bukankah ini pelindung tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh para Dewa. Siapa Tiger Wu sebenarnya?' Arlan berpikir sambil memegangi dadanya yang terasa seperti terbakar.


"Pulihkan tenagamu dan minta Rubby untuk segera mengobati luka dalammu sebelum racun energi itu merusak tubuhmu!" seru Wu Jin Ming pada Arlan.


"Baik! Berhati-hatilah, dia lawan yang cukut sulit dihadapi!" ucap Arlan.


"Hmm." Wu Jin Ming mengangguk.


Mantra pelindung Wu Jin Ming masih melekat di tubuh Arlan meskipun dia sudah berjalan menjauh dari Wu Jin Ming.


"Hebat juga mantra pelindungmu! Aku harap kamu tidak payah seperti pria itu. Apa kamu juga ingin memperebutkan gadis cantik itu denganku? Jika tidak, lebih baik kamu menyerah saja maka aku akan membiarkanmu pergi dengan tenang dari sini."


Sian Lun mencoba memberikan tawaran pada Wu Jin Ming.


"Apa? Jadi kamu menginginkan istriku? Tidak bisa dibiarkan!" Kilat mata Wu Jin Ming terlihat menyeramkan.


"Hahaha! Rupanya kamu bertingkah lebih konyol dariku. Bisa-bisanya kamu mengaku-ngaku sebagai suaminya. Dari mana saja kamu saat istrimu sendirian jika kamu memang benar suaminya?" Sian Lun tertawa mengejek Wu Jin Ming.


"Pertanyaan tidak penting!" Wu Jin Ming mulai mengeluarkan kekuatannya dan bersiap untuk menyerang Sian Lun.


"Baiklah! Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk pergi dengan aman tapi kamu lebih memilih untuk bertarung denganku! Mari kita buktikan siapa yang lebih layak untuk mendapatkan gadis itu!" Sian Lun kembali mengeluarkan energi spiritualnya.


"Banyak bicara!" Wu Jin Ming tidak suka ada yang berusaha merebut Rubby darinya.


Sebuah gelombang energi terpancar dari telapak tangannya mengarah ke tubuh Sian Lun. Sian Lun tidak tinggal diam, dia pun meluncurkan energinya untuk menyambut energi Wu Jin Ming. Kedua pancaran energi itu saling bertemu dan menimbulkan suara ledakan yang sangat keras.


Kedua energi itu terus beradu dan saling menekan satu sama lain. Pertemuan dua energi besar itu menghasilkan suara berdesing dan gemuruh yang sangat memekakkan telinga. Beruntung lokasi itu cukup jauh dari para pengunjung wisata Bukit Sali dan tersamarkan oleh awan petir yang selalu mengikuti kemunculan Sian Lun.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2