TIGER WU

TIGER WU
Bab 264. Ke Kerajaan Harimau Suci


__ADS_3

Hampir tengah malam pesta baru berakhir, Tian Yu dan Rubby sudah ke istana leluhur Wu Jin Ming terlebih dahulu. Sebagai pemilik pesta, Wu Jin Ming merasa tidak enak jika harus meninggalkan area pesta sebelum pesta selesai. Walaupun tidak dipungkiri jika sebenarnya dia sangat lelah.


Sesampainya di dalam kamar tempat Rubby dan Tian Yu beristirahat, Wu Jin Ming terlihat kebingungan. Sebuah ranjang yang luas terasa sempit bagi mereka karena Tian Yu tidur tidak beraturan. Tubuhnya terlentang membuat Wu Jin Ming tidak kebagian tempat untuk berbaring.


Karena tidak ingin berpisah dengan anak dan istrinya untuk tidur di kamar lain, dia menggeser tubuh Tian Yu sedikit dan tidur di paling tepi. Wu Jin Ming rela tidak bergerak sepanjang malam agar bisa berdekatan dengan mereka, tidak peduli tubuhnya akan terasa kaku setelahnya.


Keesokan paginya, rutinitas di istana langit berjalan seperti biasanya. Pagi yang sangat sibuk untuk berbenah dan bersiap untuk melakukan upacara di depan neraca energi. Sebenarnya Wu Jin Ming ingin cepat-cepat membawa istri dan anaknya pergi ke istana Kerajaan Harimau Suci, namun dia harus menghargai peraturan di istana langit.


Tian Yu mandi bersama Wu Jin Ming di kolam pemandian khusus untuk pria. Dengan telaten Wu Jin Ming membantu putranya mandi tanpa bantuan seorang dayang. Wu Jin Ming ingin mereka berdua saja yang berada di kolam pemandian itu.


Tian Yu sangat senang bermain air, dia sangat sulit untuk diajak keluar dari kolam mandi meskipun ritual mandinya sudah selesai.


Wu Jin Ming merasa kebingungan bagaimana cara membujuk anak kecil. Dia terus berpikir untuk mencari cara agar putranya mau di ajak keluar dari kolam mandinya.


"Sayang, udahan, ya, mandinya!" Wu Jin Ming mengangkat tubuh Tian Yu.


"Aku masih ingin mandi, Ayah!" Tian Yu mencoba memberontak dan berusaha untuk turun.


"Coba ayah lihat telapak tangan kamu? Kalau mandi lama-lama nanti kulitmu akan keriput. Tian Yu mau kalau nanti jadi seperti kakek-kakek?" Wu Jin Ming menemukan ide ketika tadi tanpa sengaja melihat telapak tangan Tian Yu mulai keriput.


Tian Yu membuka telapak tangannya dan mengamatinya. Dia akhirnya terdiam dan membenarkan ucapan ayahnya. Tian Yu pun menurut ketika ayahnya membawanya keluar dari dalam kolam karena takut menjadi keriput dan tua seperti kakek-kakek.


Mereka kembali ke istana leluhur Wu Jin Ming ketika sudah selesai berpakaian dengan rapi. Keduanya memakai hanfu yang senada sehingga membuat mereka terlihat benar-benar sangat mirip. Di dalam perjalanannya menuju ke istananya, semua orang yang melihatnya merasa sangat kagum dan terpesona dengan ketampanan ayah dan anak itu.


"Dua kesayangan ibu sudah kembali," ucap Rubby sambil mencium gemas Tian Yu dan Wu Jin Ming secara bergantian.


"Ibu cantik," ucap Tian Yu.


Rubby melirik ke arah Wu Jin Ming dengan sedikit melotot.


Wu Jin Ming melambaikan tangannya di depan dadanya sebagai tanda bahwa dia tidak mengajarkan putranya berbicara seperti itu.


"Terimakasih, Sayang. Kamu kecil-kecil sudah tahu tentang wanita cantik, hmm." Rubby menyolek dagu putranya.


Tian Yu menunduk dengan pipi yang terlihat memerah karena malu.


"Sayang, sudah saatnya kita bergabung dengan yang lainnya di depan neraca energi." Wu Jin Ming mengingatkan Rubby.


"Ah, iya, benar. Ayo kita ke sana!" Salah satu tangannya meraih tangan kecil Tian Yu dan menggandengnya. Wu Jin Ming juga melakukan hal yang sama dan membuat Tian Yu berada di tengah-tengah mereka dengan kedua tangan terangkat mengikuti pegangan tangan kedua orangtuanya.


Setelah sampai di depan neraca energi, Tian Yu merasa takjub dengan apa yang dilakukan oleh para dewa dan dewi yang bergatian melepaskan energi mereka. Dalam hati Tian Yu juga ingin melakukannya, tapi sejak tadi dia tidak melihat ada anak-anak yang melakukannya. Dia berpikir ulang, pasti anak-anak seperti dirinya tidak boleh untuk melakukannya.


Wu Jin Ming dan Rubby mengambil antrian paling akhir. Meskipun demikian, para Dewa Dewi masih berada di sana untuk melihat kekuatan yang dimiliki Rubby dan Wu Jin Ming setelah melakukan penyatuan jiwanya. Jika sebelumnya mereka berada di basis 8 level 10, mereka yakin sekarang tingkatan mereka lebih dari itu.


Benar saja, sorak sorai mereka terdengar gemuruh ketika melihat Rubby berada di tingkat tertinggi di basis 9 dengan level yang sama.


Mereka lebih terkejut lagi dengan kekuatan Wu Jin Ming yang mencapai basis tidak terbatas. Itu berarti dia bisa memonopoli kekuatan alam tanpa harus berkultivasi lagi. Para Dewa merasa terpukau dengan kemampuan ini, sungguh semuanya jauh di atas perkiraan mereka.


Ketika Wu Jin Ming dan Rubby sibuk menerima ucapan selamat, Tian Yu pergi diam-diam dari sisi mereka. Dia berjalan melewati para dewa yang berkerumun dan berhasil keluar dari sana. Saat tidak ada yang memperhatikannya, Tian Yu berjalan mendekati neraca energi.


Dia tahu ayah dan ibunya pasti akan marah, tapi rasa ingin tahunya yang tinggi terus memaksanya untuk mencoba melakukan apa yang dilakukan oleh para orang dewasa di depan neraca itu.


Tian Yu mengangkat tangan kanannya ke atas, dia menirukan gerakan yang dilakukan oleh ayahnya. Meskipun masih sangat kecil, Tian Yu memiliki kepekaan yang kuat dalam merekam apa saja yang dilihatnya. Dia langsung mengerti meskipun baru sekali melihat atau mendengarnya.

__ADS_1


Sebuah cahaya energi berwarna putih keluar dari telapak tangan Tian Yu. Neraca energi itu perlahan berputar untuk membaca tingkatkan energi yang dimiliki oleh Tian Yu. Suara neraca yang bergerak itu mengundang perhatian para dewa dewi, pasalnya seluruh penghuni istana langit sudah mengikuti upacara pelepasan energi.


Mereka semua sangat terkejut ketika melihat siapa yang melakukannya.


"Tian Yu!" pekik Rubby dan Wu Jin Ming bersamaan ketika melihat aksi nakal putranya.


Energi yang dilepaskan oleh Tian Yu mulai terbaca. Saat ini dia berada di basis lima level tujuh. Tingkatan yang luar biasa untuk ukuran seorang anak-anak yang sama sekali belum melakukan pelatihan apapun. Bahkan para dewa pun masih ada yang memiliki tingkatan setara dengan itu.


Tian Yu segera menghentikan aliran energinya yang memang sudah selesai. Dia menundukkan wajahnya tidak berani menatap Wu Jin Ming dan Rubby yang sudah berada di hadapannya. Tian Yu bersiap-siap untuk menerima kemarahan ayah dan ibunya.


"Tian Yu, kenapa kamu tidak bilang pada ayah terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu? Neraca energi itu bukan sebuah mainan untuk anak-anak, Sayang. Lain kali kalau mau melakukan sesuatu bilang dulu pada ayah atau ibu, ya. Jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang membahayakan tanpa sepengetahuan ayah dan ibu." Wu Jin Ming menasehati Tian Yu dengan lembut.


Tian Yu masih menunduk, dia hanya mengangguk saja untuk menjawab permintaan Wu Jin Ming.


"Maafkan putra kami, Yang Mulia. Dia sangat nakal!" ucap Rubby pada Dewa Langit yang berada di depan mereka.


"Sudah ... sudah .... Jangan di marahi lagi. Kita lah yang harus lebih waspada dalam menjaganya. Kecerdasannya sangat tinggi, bahkan mungkin bisa dikatakan sebagai jenius. Kalian berdua benar-benar harus mengawasi dan mendidiknya dengan baik." Dewa Langit memberikan nasehatnya.


"Terimakasih, Yang Mulia. Kami akan memberinya pengertian dan pengajaran yang baik," ucap Rubby sambil tersenyum.


"Yang Mulia, kami sekalian mohon diri untuk pergi ke istana Kerajaan Harimau Suci." Wu Jin Ming berpamitan.


"Pergilah, kami akan sangat merindukan Tian Yu. Sering-seringlah membawanya berkunjung ke sini." Dewa Langit mengelus rambut Tian Yu dengan lembut.


Para dewa yang berada di sana pun merasa gemas dan menyentuh Tian Yu satu persatu sebagai salam perpisahan.


••••


Di istana Kerajaan Harimau Suci.


Mereka merasa heran dengan kehadiran sang putra mahkota yang tiba-tiba sudah sebesar itu. Kabar kehamilan Permaisuri kerajaan itu memang pernah mereka dengar, namun melihat putra mahkota sudah sebesar itu membuat mereka bertanya-tanya. Pernikahan yang mereka jalani pun belum genap dua tahun lamanya, bagaimana mungkin putra mereka terlihat seperti anak berusia 3 tahun dan mungkin lebih.


Wu Jin Ming membawa putranya duduk di sebuah kursi yang berada di samping singgasananya dan Rubby berada di sisi yang lain.


Para pembesar kerajaan dan para tetua bersiap untuk mendengarkan titah sang raja.


Dengan penuh wibawa, Wu Jin Ming mulai berbicara di hadapan mereka. Dia mengungkapkan siapa anak kecil yang dia bawa itu. Secara detail dia menjelaskan proses kelahiran putranya yang berbeda dengan bayi-bayi pada umumnya.


Para pembesar kerajaan mendengarkan dengan seksama dan mengangguk tanda mengerti. Mereka tidak terlalu heran karena Wu Jin Ming dan Rubby yang memang memiliki keistimewaan. Sudah pasti putra mereka juga tidak jauh berbeda dengan kedua orang tuanya.


Tian Yu melompat turun dari kursinya dan berlarian untuk berkeliling melihat istana sang ayah.


Rubby segera mengikutinya bersama para dayang yang dia panggil. Tian Yu masih aktif-aktifnya, Rubby tidak ingin teledor dalam mengawasinya. Untuk itu, Rubby meminta bantuan para dayang mengawasi dan mengikuti putranya.


Seperti tidak punya lelah, Tian Yu terus saja berjalan dan menanyakan berbagai hal pada para dayang. Hampir seluruh penjuru istana dia kunjungi, dan berhenti di sebuah taman yang luas. Tian Yu masih sangat tertarik ketika melihat kupu-kupu yang berterbangan, dia tidak lagi menangkapnya karena teringat pesan ayahnya.


"Pangeran, apakah pangeran mau aku menangkap satu kupu-kupu untukmu?" tanya seorang dayang.


"Tidak, Bibi. Aku tidak mau. Kalau aku tangkap, ibunya pasti akan bersedih. Aku hanya ingin bermain-main saja bersama mereka, Bibi." Tian Yu sangat senang ketika melihat seekor kupu-kupu hinggap di lengannya.


Para dayang merasa gemas dengan sikap manis Tian Yu. Mereka senang karena hari itu mereka diberi tugas untuk menjaga Tian Yu. Walaupun sedikit lelah karena mengikutinya berlarian, namun mereka merasa terhibur dengan tingkah lucunya.


Sebagai seorang raja, Wu Jin Ming masih sibuk dengan urusan kerajaan bersama dengan para pembesar istana. Mungkin setelah ini dia akan fokus untuk menjalankan pemerintahannya. Ada banyak sekali hal yang perlu untuk dibenahi.

__ADS_1


Rubby yang merasa bosan, akhirnya ikut bersama Tian Yu bermain di taman. Ada sebuah kolam ikan yang sangat menarik perhatiannya, dia mengajak Tian Yu untuk memberi makan ikan-ikan yang dipelihara di sana. Tian Yu terlihat sangat senang dengan hal baru yang dia lakukan itu.


"Sayang!" panggil Wu Jin Ming ketika datang menghampiri Rubby dan Tian Yu.


Rubby merasa heran dengan penampilan Wu Jin Ming. Saat ini dia terlihat sangat gagah dengan baju perangnya. Sepertinya dia ingin pergi ke luar untuk berperang, pikirnya.


"Kenapa ayah memakai baju perang?" tanya Rubby sambil berjalan memutari Wu Jin Ming.


"Ada sedikit masalah di perbatasan, aku ingin memeriksanya ke sana bersama panglima Ang. Kamu tidak keberatan, kan, jika aku tinggal di sini bersama anak kita?" tanya Wu Jin Ming.


"Ayahku tampan," celetuk Tian Yu.


Wu Jin Ming melirik ke arah Rubby.


"Bukan aku yang mengajarinya." Tidak ingin Wu Jin Ming salah paham dengan ucapan putranya.


"Aku tahu. Putra kita memang sudah mengerti banyak hal. Sekali saja mendengar dia langsung mengerti." Wu Jin Ming duduk berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan Tian Yu.


"Hai, Jagoan Ayah!" ucap Wu Jin Ming sambil memegang kedua bahu Tian Yu.


"Hai, Ayah. Apa ayah akan pergi meninggalkan aku dan ibu?" tanya Tian Yu dengan wajah polosnya.


"Iya, Sayang. Tapi ayah pergi tidak akan lama, kok. Kalau urusan ayah sudah selesai, ayah pasti akan segera pulang." Wu Jin Ming menatap mata Tian Yu yang berkaca-kaca, kelihatannya dia tidak ingin berpisah darinya.


"Ayah tidak akan melupakanku, kan?" Tian Yu mulai mengucek matanya dan memperlihatkan wajah sedihnya.


"Mana mungkin ayah lupa. Jagoan ayah selalu, ada dipikiran dan di hati ayah setiap waktu. Laki-laki itu tidak boleh cengeng, Sayang. Tersenyumlah buat ayah, biar ayah bersemangat dan cepat kembali." Wu Jin Ming mengacak-acak rambut Tian Yu gemas.


Setelah berpamitan dengan Tian Yu, Wu Jin Ming beralih ke arah Rubby. Sekarang dia tidak bisa sembarangan menciumnya di depan putranya.


"Tian Yu, kembalilah bermain dulu. Ibu akan mengantar ayah ke depan!" seru Rubby.


"Baik, Ibu." Tian Yu segera berlari dan menarik tangan salah seorang dayang yang menjaganya untuk bermain.


Rubby berjalan bersama Wu Jin Ming menuju ke gerbang depan. Di sana sudah ada panglima Ang yang menunggunya. Wu Jin Ming mengedipkan matanya memberi kode pada Rubby.


Rubby melotot karena di sekeliling mereka banyak sekali prajurit dan penjaga pintu gerbang.


"Kalian semua! Berbaliklah menghadap tembok!" perintah Wu Jin Ming.


'Seorang raja mah bebas. Suka seenaknya saja memerintah bawahannya.' Rubby menggerutu kesal.


Wu Jin Ming tahu apa yang ada di pikiran Rubby namun dia tidak peduli. Di manapun dia berada dia tidak akan pernah mengubah kebiasaannya untuk mencium Rubby sebelum pergi. Menurutnya itu akan membuat keharmonisan mereka tetap terjaga.


"Aku pergi dulu, Sayang. Jaga dirimu dan anak kita dengan baik." Wu Jin Ming berjalan meninggalkan Rubby lalu bergabung bersama pasukannya.


Dengan berat hati Rubby melepasnya, ini kali pertamanya Wu Jin Ming pergi menghadapi musuh tanpa dirinya setelah menikah.


****


Bersambung ...


Kak numpang promo novel karya temanku ya..

__ADS_1



__ADS_2