
"Duduklah, Ar!" perintah Wu Jin Ming. Setelah mereka sampai di ruang tamu.
"Terimakasih. Kamu mau ke mana?" tanya Arlan melihat Wu Jin Ming berjalan meninggalkan Arlan dan Rubby di sana.
"Aku ambil minum dulu buat kita!" teriak Wu Jin Ming dari kejauhan tanpa menoleh.
Arlan mengeluarkan sebuah kado dari paper bag yang dia bawa. Sebuah kotak berhiaskan pita yang entah apa isinya. Arlan menyerahkannya pada Rubby.
"Terimakasih, Ar. Em, boleh aku buka?" tanya Rubby.
"Nanti aja lah. Sorry ya aku telat ngasihnya. Kemarin aku ngurus anak cabang perusahaan papa yang ada di luar kota."
"Nggak papa, Ar. Aku jadi penasaran apa isinya." Rubby menggoyangkan kotak kado itu dan mendekatkan di telinganya.
"Sabar... Bentar lagi aku pulang kok!" seru Arlan.
"Ngapain buru-buru pulang. Baru juga di sini sebentar," oceh Rubby.
"Sebentar apanya? Aku dah hampir sejam jongkok di depan rumah. Aku juga masih capek. Pulang dari luar kota aku langsung nyamperin kamu ke sini."
"Thanks banget ya, Ar! Kamu memang sahabat aku yang paling baik." Rubby meninju bahu Arlan.
"Tiger, cewek kamu nggak bikin kamu nyeri badan, kan?" tanya Arlan sambil mengusap bahunya yang terkena tinju Rubby.
"Emangnya kenapa, Ar?" tanya Wu Jin Ming.
"Habisnya di kasih kado bukannya meluk kek, atau nyium kek. Eh, malah ngasih tonjok."
"Hahaha... Dia emang gitu, Ar. Bukan cuma nonjok, kalau marah lebih serem lagi," goda Wu Jin Ming.
Arlan dan Wu Jin Ming tertawa dan menjadikan Rubby sebagai lelucon. Arlan juga menceritakan bagaimana lucunya Rubby waktu kecil. Dia juga bercerita kalau Rubby sangat cengeng dan suka merajuk. Tapi mamanya Arlan sangat menyayanginya bahkan lebih dari rasa sayangnya pada Arlan.
"Kalian berdua, ya! Nggak ada puas-puasnya membully gadis cantik nan imut seperti aku. Ini penindasan namanya," sungut Rubby dengan wajah garangnya.
"Biasanya kalau udah gini langsung manggil mama buat ngadu!" Arlan kembali tertawa.
"Udah... udah... Nanti dia tambah sakit, Ar. Tadi aja dia hampir pingsan di rumah makan pas makan siang."
"Sakit? Beneran kamu sakit, By? Pantes muka kamu agak pucet," ucap Arlan sambil menyentuh kening Rubby.
__ADS_1
"Tapi nggak panas," ucap Arlan lagi.
"Aku cuma sedikit pusing aja, Ar. Tadi rasanya juga agak lemes."
Arlan mencerna ucapan demi ucapan yang mereka lontarkan. Apa mungkin Rubby hamil? Sudah sejauh itukah mereka berhubungan? Beragam pertanyaan muncul di benak Arlan.
"Kog malah melamun. Ada yang kamu pikirkan, Ar?" tanya Wu Jin Ming.
"Eh, enggak. Aku hanya memikirkan tentang kondisi Rubby."
"Kamu lebay, Ar. Aku cuma kecapekan aja. Tadi juga telat makan siang," jelas Rubby.
"Syukurlah kalau begitu. Aku khawatir jika kamu... maaf nggak jadi." Arlan nggak berani melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa, Ar? Jangan suka membuat orang penasaran, deh! Bisa-bisa satu tinju melayang lagi nih!" Rubby mengadu dua kepalan tangannya.
"Astaga, Rubby! Tega banget sih sama temen. Oke, aku ngomong serius. Tapi kalian jangan marah, ya?"
"Ya, udah, ngomong aja. Kita dengerin!"
Wu Jin Ming ikut mengangguk mengiyakan ucapan Rubby.
"Iya, Ar. Ngomong aja!" giliran Wu Jin Ming yang menjawab.
Arlan berpikir untuk menyusun kata-kata yang bisa di terima oleh Rubby dan Wu Jin Ming. Bagaimanapun ini adalah privasi mereka. Tapi dia juga sudah menganggap Rubby sebagai keluarganya. Apalagi sekarang Rubby sudah tidak punya siapa-siapa lagi.
"Maaf, kalau kekhawatiranku ini sedikit menyinggung privasi kalian. Aku nggak tahu sejauh mana kalian berhubungan. Aku hanya khawatir kalau saat ini Rubby sedang hamil dan kalian nggak menyadarinya."
"Hamil?" jawab Rubby dan Wu Jin Ming bersamaan. Mereka saling pandang. Mungkin ada benarnya juga apa yang Arlan katakan.
"Maaf. Aku harap kalian nggak tersinggung dengan apa yang aku katakan." Arlan merasa tidak enak.
"Aku mengakui memang sudah melakukannya bersama Rubby. Jika benar Rubby sedang hamil, itu adalah hal yang sangat membahagiakan bagi kami. Saat ini kami hanya berdua saja. Sama-sama nggak punya keluarga. Punya anak mungkin akan membuat hidup kami lebih berwarna."
"Hei, kalian nggak menganggapku sebagai keluarga, Hahh!" seru Arlan.
"Maaf, aku lupa. Kita adalah keluarga." Wu Jin Ming tersenyum senang.
"Cepat resmikan hubungan kalian. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan untuk meminta bantuanku."
__ADS_1
Arlan dan seluruh manusia tidak tahu jika Rubby dan Wu Jin Ming sudah resmi menikah. Pernikahan yang sakral dan hanya disaksikan oleh para Dewa. Sebagai pasangan beda alam pernikahan mereka tidak perlu diketahui oleh orang banyak.
"Tentu saja! Sebentar lagi aku pasti akan sangat merepotkanmu!"
"Baik, aku tunggu! Simpan nomerku! Tadi kamu janji untuk mencarikanku gebetan." Arlan memberikan kartu namanya pada Wu Jin Ming.
"Siap, Bro! Nanti aku telepon."
"Ya sudah, aku pulang dulu. Takut mama nyariin. Tadi aku nggak ngomong kalau ke sini," pamit Arlan.
Setelah kepulangan Arlan hanya tinggal Rubby dan Wu Jin Ming yang berada di sana. Rubby sejak tadi hanya diam. Diam memikirkan kata-kata Arlan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika benar-benar hamil. Itu karena dia tidak hamil seperti wanita pada umumnya. Dia mengandung anak gaib yang entah seperti apa.
Wu Jin Ming tahu jika saat ini Rubby sedang memikirkan kehamilan yang belum pasti. Sebagai seorang Dewa, Wu Jin Ming bisa merasakan kehadiran janin di tubuh Rubby. Namun sampai saat ini dia belum merasakannya.
"Sayang, kenapa kamu terus diam?" tanya Wu Jin Ming.
"Em, apa benar yang dikatakan Arlan, ya!" Rubby memijit pangkal hidungnya. Kepalanya kembali terasa pusing. Mungkin dia terlalu banyak berpikir.
"Apakah kamu belum siap untuk mengandung anak kita?" Wu Jin Ming merapatkan tubuhnya dan membelai rambut Rubby dengan lembut.
"Aku siap. Tapi aku masih bingung dengan hamil gaib yang pernah kamu bilang padaku waktu itu." kepala Rubby bersandar di bahu Wu Jin Ming dan tangannya memeluk tubuhnya.
"Aku belum merasakan kehadiran anak kita. Aku bisa merasakannya jika kamu benar-benar hamil. Tenanglah! Jangan terlalu dipikirkan! Jika kamu hamil, aku akan selalu mendampingimu dan meninggalkan pekerjaanku. Aku tidak ingin anak kita menjadi incaran para siluman pemburu kekuatan."
"Apakah mereka akan tahu tentang kehamilanku?" dahi Rubby mengernyit saat mendongak menatap Wu Jin Ming.
"Setelah tujuh purnama kehamilanmu, mereka bisa melihatnya karena akan muncul tanda di tubuhmu setelah tujuh purnama. Tapi jika ada juga siluman yang memata-matai kita, mereka bisa tahu sebelum tujuh purnama."
"Dewa Dewi bilang aku bisa tinggal di langit saat hamil dan melahirkan, kan?"
"Tentu saja. Tapi aku yakin kamu akan bosan jika tinggal di sana sampai 9 purnama."
"Hmm, iya juga sih. Di sana kan nggak ada handphone, TV, radio, apalagi tempat wisata seperti di dunia manusia."
Wu Jin Ming tersenyum melihat wajah cemberut Rubby dengan bibirnya yang dimonyong-monyongkan. Baru saja membayangkan kehamilannya dia sebosan itu. Semoga saja jika hamil beneran dia tidak akan seperti itu.
****
Bersambung...
__ADS_1