
Wu Jin Ming mengawasi Rubby dari kejauhan. Hatinya terasa hampa ketika mereka berjauhan sesaat saja. Ingin rasanya dia menyusul ke tempat Rubby berada namun merasa tidak enak pada para Dewa yang berada di dekatnya.
"Dewa Perang Harimau Suci! Bagaimana perkembangan pergerakan Zhu Zheng?" tanya Dewa Kekuatan.
"Jejak energinya telah menyebar di mana-mana. Dia menggunakan manusia untuk mencapai tujuannya. Terakhir saya merasakan kekuatan yang dahsyat pada seorang wanita yang mengaku sebagai permaisurinya," jelas Wu Jin Ming.
"Kamu jangan terlalu lemah dan berbelas kasihan pada mereka, Dewa! Bunuh saja sekiranya orang itu kedepannya akan membahayakan. Kalau perlu perluas kekuasaan Kerajaan Harimau Suci milikmu!" ujar Dewa Kekuatan.
"Saya tidak bisa gegabah, Dewa! Beberapa waktu yang lalu, Dewi Bulan masih sering berada jauh dari jangkauan saya. Dia bersosialisasi dengan manusia lainnya begitu juga dengan saya," jelas Wu Jin Ming.
"Heemmm. Jadi begitu, ya. Aku mengerti alasan kamu." Dewa Kekuatan akhirnya mengangguk.
"Yang Mulia Dewa Langit! Hamba ingin bertanya tentang sesuatu hal!" seru Wu Jin Ming.
Semua Dewa yang berada di sana menatap ke arah Wu Jin Ming yang terlihat serius. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Wajah tidak biasa dari Wu Jin Ming mengundang rasa penasaran Dewa Langit dan yang lainnya.
"Katakanlah! Aku akan berusaha untuk menjawab rasa keingintahuan kamu," jawab Dewa Langit.
Wu Jin Ming menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia bingung apakah ini saat yang tepat untuk mengutarakan maksudnya atau tidak. Wu Jin Ming membulatkan tekadnya untuk menanyakan hal tentang mantra penyatuan jiwa.
"Tanpa sengaja Dewi Bulan menemukan lembaran kertas yang berisi tentang mantra penyatuan jiwa. Selama ini Dewi Bulan memiliki tiga jiwa yang berbeda dalam satu tubuhnya. Kekuatannya ketiga wujud itu memiliki tiga jenis kekuatan spiritual yang berbeda-beda. Apakah Dewi bulan bisa menyatukan ketiga elemen jiwa dalam tubuhnya itu menjadi satu?" tanya Wu Jin Ming berharap para Dewa memberikan jawaban yang tidak mengecewakan.
Para Dewa saling berpandangan. Mereka pikir mantra itu telah musnah karena sudah beribu-ribu tahun yang lalu tidak pernah digunakan baik di alam manusia maupun di alam gaib. Mantra itu termasuk ke dalam mantra yang sangat langka saat ini.
"Boleh aku melihatnya?" wajah Dewa Langit terlihat serius.
Wu Jin Ming mengeluarkan kertas mantra yang dia simpan di dalam cincin penyimpanannya. Sebelum berangkat ke istana langit dia meminta pada Rubby untuk dia bawa. Mantra itu terlindungi dan sudah diperkuat kertasnya oleh Ratu Ivo.
Dewa Langit menerima kertas usang itu dan membukanya secara perlahan. Setelah kertas itu terbuka dia membacanya dengan seksama. Di dalam kertas itu ternyata benar-benar berisi mantra penyatuan jiwa.
Dewa-Dewa yang lain bergantian membaca mantra yang ada di dalam kertas usang itu. Mereka saling mengangguk dan percaya jika mantra itu asli. Dewa Langit mengambil kertas itu dan melemparkannya ke udara.
"Dewa Perang Harimau Suci! Perhatian apa yang harus dilakukan dalam proses penyatuan jiwa dan apa saja yang harus dihindari! Resikonya juga sangat besar dan fatal jika terjadi kesalahan saat proses ini berlangsung," jelas Dewa Langit.
Melihat ada sesuatu yang menarik Rubby membuka mata iblisnya untuk melihat dengan jelas apa yang Wu Jin Ming dan Dewa Langit lakukan saat ini.
Kertas mantra masih melayang-layang di udara dengan posisi terbuka. Dewa Langit merapalkan mantra untuk memperlihatkan rahasia di dalam kertas mantra penyatuan jiwa itu. Sebuah cahaya hologram berwarna kuning terang muncul dan berpendar melingkupi sekitar tempat mereka berdiri.
Muncul tulisan kuno yang berputar mengitari kertas mantra itu. Wu Jin Ming membaca langkah-langkah penyatuan jiwa itu dengan seksama dan merekamnya dalam ingatannya. Sebagian syarat yang harus dipenuhi sudah ada pada Rubby, tinggal beberapa saja.
Satu syarat yang belum tentu Rubby mau melakukannya atau tidak yaitu memisahkan janin calon putra mereka dari dalam tubuhnya. Janin itu akan tumbuh di luar tubuhnya dan di jaga di istana langit. Meskipun janin itu tidak berada di tubuh Rubby, dia akan tetap menyerap apa yang dimiliki oleh Rubby dan Wu Jin Ming.
Bayi Wu Jin Ming dan Rubby tetap akan dibesarkan di sana selama 2 tahun setelah waktu kelahirannya.
"Bicarakan semuanya pada permaisurimu dahulu, Dewa! Wanita hamil sangat sensitif. Setidaknya berilah dia waktu berpikir." Dewa Langit memberikan nasehatnya.
"Baik, Dewa Langit! Aku akan mengatakannya setelah pesta perayaan besok berakhir." jawaban Wu Jin Ming mendapatkan anggukan dari para Dewa yang berada di sana.
Wu Jin Ming kembali menyimpan kertas mantra yang kini sudah berada di tangannya. Jamuan makan malam akan segera di mulai. Dia meminta ijin kepada para Dewa untuk menemui Rubby dan membawanya menyusul para Dewa ke ruang perjamuan.
"By!" panggil Wu Jin Ming.
__ADS_1
Rubby yang sedang bersendau gurau dengan para dayang tidak mendengarkan panggilannya.
Dengan perasaan sedikit kesal karena diabaikan, Wu Jin Ming berjalan mendekati Rubby.
"By! Ayo kita pergi ke ruang perjamuan!" ucap Wu Jin Ming sambil memeluk Rubby yang sedang duduk dari belakang.
"Ihh... seneng banget ngagetin orang!" gerutu Rubby.
"Habisnya kamu di panggil dari tadi nggak nyahut! Makan yuk!" ajak Wu Jin Ming sambil mencuri cium pipi Rubby.
Wajah Rubby terlihat memerah karena malu, Wu Jin Ming bersikap mesra padanya di hadapan para dayang. Tidak ingin suaminya itu bertindak lebih, Rubby segera melepaskan pelukan Wu Jin Ming dan beranjak dari duduknya.
"Ayo kita berangkat!" Rubby menggenggam tangan Wu Jin Ming.
Tatapan penuh kerinduan tampak jelas di mata keduanya. Di manapun mereka berada, hati mereka saling terpaut satu sama lain. Mereka tidak ingin berpisah satu sama lain walaupun untuk sesaat.
Tanpa mereka ketahui, sebuah pesta besar menyambut mereka di dalam ruang perjamuan. Para Dewi sudah tidak sabar menunggu esok untuk melakukan perayaan kehamilan Rubby. Di tengah ruangan terdapat sebuah singgasana yang diperuntukkan baginya. Rubby merasa tersanjung dengan perlakuan istimewa dari para Dewi.
Pesta itu berlangsung sangat meriah. Banyak sekali keturunan para Dewa yang masih anak-anak juga hadir di sana. Melihat kecantikan dan ketampanan mereka yang sangat menggemaskan, Rubby beberapa kali memberi mereka ciuman.
Tiba-tiba seorang dayang berlari ke tengah pesta perjamuan. Dia berbicara dengan Dewa Langit yang kebetulan sedang berada di depan Rubby. Wajahnya terlihat sangat ketakutan.
"Ada apa dayangku? Sepertinya kamu datang membawa kabar yang kurang baik!" seru Dewa Langit.
"Ampun Yang Mulia Dewa Langit, Raja dari segala Raja yang ada di alam semesta. Memang hamba datang membawa kabar yang buruk. Api di dalam tungku keabadian hampir padam Yang Mulia," jelas dayang itu.
"Apa? Ini pasti ada hubungannya dengan Dewa Keseimbangan yang wafat beberapa waktu yang lalu." Dewa Langit tampak berpikir keras. Untuk menyalakan api di tungku keabadian dibutuhkan dua jenis api suci. Dan ini harus segera dinyalakan, jika tidak para Dewa dan Dewi akan bersusah payah untuk mengolah makanan mereka.
"Api tungku keabadian hampir padam karena Dewa keseimbangan telah wafat. Untuk membuatnya kembali menyala stabil dibutuhkan setidaknya 2 jenis api suci," jelas Dewa Langit.
Rubby berdiri setelah mendengar Dewa Langit menyebutkan tentang api suci. Wu Jin Ming menatap dalam wajah istrinya. Untuk menyalakan tungku keabadian dibutuhkan energi yang sangat besar. Rubby memang memiliki api suci biru, namun energinya akan terkuras bersamaan dengan penggunaan api sucinya.
"Aku punya api suci biru!" seru Rubby sambil mengeluarkan kobaran api berwarna biru dari telapak tangannya.
Semua yang berada di sana terpana dengan kejutan yang diberikan oleh Rubby. Bagi mereka Rubby memang benar-benar putri dalam ramalan yang dikisahkan dalam kitab kuno. Mereka percaya jika Rubby akan membawa banyak perubahan untuk dua alam.
"Tapi ini sangat berbahaya untukmu Dewi Bulan. Kamu sedang mengandung dan menyalakan tungku keabadian butuh energi yang besar. Sebesar apa aku sendiri juga tidak tahu." Dewa Langit terlihat kebingungan.
"Benar apa yang dikatakan oleh Dewa Langit, Sayang. Bukan cuma api saja yang akan kita keluarkan untuk menyetabilkan tungku itu tetapi juga energi spiritual milik kita," ucap Wu Jin Ming merasa sangat khawatir.
"Lalu adakah solusi lain selain aku dan kamu yang melakukan ini semua? Memangnya apa yang akan terjadi jika tungku itu dibiarkan mati?" tanya Rubby penasaran.
"Tungku keabadian adalah alat yang sangat penting di istana langit ini. Beberapa dayang selalu menjaganya dengan baik. Bahan makanan segar akan menjadi makanan yang kita inginkan tanpa kita harus bersusah payah mengolahnya setelah kita masukkan ke dalam tungku keabadian. Jika tungku itu padam maka para dayang dan Dewi akan bersusah payah untuk menyiapkan makanan. Mereka akan memasak seperti seorang manusia," jelas Wu Jin Ming.
"Aku akan membantu para Dewa untuk memperbaiki nyala di tungku itu. Aku percaya aku mampu melakukannya!" seru Rubby.
Melihat kesungguhan dan keyakinan di mata Rubby, Wu Jin Ming dan Dewa langit saling berpandangan dan mengangguk. Mereka harus segera melakukan perbaikan sebelum api di tungku itu benar-benar padam. Dewa Langit melayang di udara dengan sayap 5 bidadari miliknya di susul oleh Wu Jin Ming dan Rubby.
Semua yang ada di ruang perjamuan berdecak kagum melihat pemandangan menakjubkan dihadapan mereka itu. Sebagian besar dari mereka berbondong-bondong menyusul mereka pergi ke tempat tungku keabadian berada. Mereka ingin menyaksikan secara langsung momen langka ini.
Setelah beribu-ribu tahun di gunakan, tungku keabadian hanya mengalami kerusakan sebanyak dua kali. Hal itu terjadi jika Dewa tertua wafat dan tidak sempat meninggalkan kekuatannya di dalam tungku itu. Dahulu tungku itu padam beberapa hari membuat istana langit di landa krisis logistik. Hari ini adalah keberuntungan para Dewa karena mereka tidak perlu keluar dari istana langit untuk mencari pemilik api suci yang akan menolong mereka.
__ADS_1
"Kak Wu! Haruskah aku merubah diriku menjadi putri Virs? Sepertinya kekuatanku sebagai Dewi Bulan tidak sebesar ketika aku menjadi Putri Virs." Rubby meminta pendapat Wu Jin Ming.
"Aku sependapat denganmu," ucap Wu Jin Ming sambil mengangguk.
Seketika Rubby berubah menjadi putri Virs. Tubuhnya menyala terang di udara. Cahaya dari mahkotanya mampu menerangi seluruh ruang di mana tungku keabadian itu berada. Lagi-lagi Dewa Dewi yang menyaksikan itu di buat kagum olehnya.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Dewa Langit.
"Kami siap!" sahut Rubby dan Wu Jin Ming bersamaan.
Dewa Langit melepaskan sebuah energi ke atas tungku keabadian untuk membuka portal penyerapan. Terlihat lubang energi yang memperlihatkan nyala api kecil yang hampir padam di dalamnya. Dewa Langit harus tetap mengeluarkan energinya agar portal tungku itu terus terbuka selama proses penyetabilan api berlangsung.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Wu Jin Ming dan Rubby segera mengeluarkan api suci dari dalam tubuh mereka. Api berwarna biru keluar dari telapak tangan Rubby dan api putih keluar dari telapak tangan Wu Jin Ming. Kedua api itu memancar dan masuk ke dalam tungku keabadian melalui portal yang di buka oleh Dewa Langit.
"Dewi itu benar-benar hebat! Tubuhnya berkilau dan begitu bersinar di dalam gelap," ucap salah satu Dewi yang sedang melihat proses perbaikan tungku keabadian.
"Apa hebatnya dia? Belum tentu dia berhasil!" ucap Dewi Lamora, Dewi yang menaruh hati pada Wu Jin Ming namun di tolak mentah-mentah olehnya.
"Sirik! Hatimu kotor sekali! Kamu akan kelaparan jika Dewi Bulan tidak berhasil membuat tungku keabadian menyala lagi."
"Iya, kamu kenapa, sih, Lamora? Ini pertama kalinya kita bertemu dengan Dewi Bulan, tidak mungkin, kan, dia berbuat kesalahan padamu!" seru Dewi lainnya tidak terima.
Merasa terpojok Dewi Lamora terdiam kesal. Tidak seorangpun memihaknya saat ini.
Api di dalam tungku keabadian sudah menyala seperti sedia kala. Di saat yang bersamaan, tenaga Rubby terkuras habis. Cahaya yang memancar dari dalam tubuhnya meredup. Tubuhnya tumbang seperti daun kering yang terlepas dari pohonnya.
"Rubby!" teriak Wu Jin Ming panik setelah menyadari Rubby tidak terlihat lagi di sisinya.
Mata Rubby hampir tertutup saat Wu Jin Ming terbang meluncur ke bawah untuk menyusulnya.
"Kak... Wu...." suara Rubby terdengar lemah. Samar-samar dia masih melihat wajah Wu Jin Ming yang hampir sampai padanya.
"Rubby! Rubby sadarlah!" ucap Wu Jin Ming panik saat berhasil menangkap tubuh Rubby.
Dalam gendongan Wu Jin Ming, Rubby terlihat tidak berdaya. Tangan dan kakinya menggantung lemas tak bertenaga. Matanya sudah benar-benar tertutup rapat dan cahaya di tubuhnya semakin meredup.
Dewa Langit pun segera menyusul Rubby dan Wu Jin Ming untuk turun setelah menutup portal tungku keabadian yang sudah berfungsi dengan baik.
Kaki Wu Jin Ming mendarat dengan sempurna di lantai. Tubuhnya terasa lemas tak bertulang saat mendapati Rubby sedang tidak sadarkan diri. Jika dibiarkan terlalu lama, bukan hanya Rubby yang ada dalam bahaya melainkan juga calon anak mereka.
"Rubby! Sadarlah! Rubby!" Wu Jin Ming menepuk-nepuk wajah Rubby dan mengecupnya berulang-ulang.
Andai kekuatannya masih tersisa, Wu Jin Ming pasti bisa menolongnya dengan menyalurkan energi miliknya.
"Rubby! Jangan tinggalkan aku! Ingatlah mimpi-mimpi kita! Mari kita bersama-sama mewujudkannya. Aku mencintaimu Rubby! Aku mencintaimu!" Airmata Wu Jin Ming menetes jatuh di wajah Rubby.
Perlahan mahkota Rubby kembali bercahaya. Meskipun Rubby belum sadar, ini menjadi pertanda jika dia masih baik-baik saja saat ini.
****
Bersambung...
__ADS_1