
Wu Jin Ming datang menghampiri Rubby dan Arlan sebelum dia mengikuti kru pergi ke lokasi lain.
"Ar, tolong temani Rubby, ya. Aku masih ada satu pemotretan lagi." Wu Jin Ming berbisik pelan pada Arlan takut ada orang lain yang mendengar.
"Kamu tenang saja. Fokuslah bekerja, aku tidak akan ke mana-mana."
"Terimakasih." Wu Jin Ming beralih mendekat Rubby.
Rubby berdiri setelah mengemas laptop dan alat kerjanya ke dalam tasnya.
"Sayang, hati-hati! Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di sini. Tetaplah bersama Arlan, dia lebih mengenal tempat ini. Jangan bandel!" Lagi-lagi Wu Jin Ming mengecup kening Rubby di hadapan Arlan.
"Kalian kalau mau bermesraan nanti saja lah. Tau nggak, sih, kalau jiwa jombloku meronta-ronta?" Arlan tidak tahan lagi untuk mengeluarkan uneg-unegnya.
Bukannya menjauh, Rubby malah ingin menggoda Arlan. Dia merapatkan tubuhnya pada Wu Jin Ming lalu berjinjit agar wajah mereka sejajar. Sebuah ciuman panas dia lakukan untuk beberapa saat.
Wu Jin Ming sebenarnya masih memiliki rasa cemburu pada Arlan yang notabene teman Rubby sejak kecil, tidak menolak ketika Rubby menciumnya.
"Ahhh! Kalian sama saja!" Arlan mengacak-acak rambutnya, kakinya menendang tempat kosong.
"Hahaha!" Rubby dan Wu Jin Ming tertawa.
"Ya, sudah, aku pergi dulu." Wu Jin Ming melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Rubby dan Arlan.
"Kamu kok gitu amat sih, By, sama aku. Mata polosku kamu suguhi pemandangan yang merusak citra keluguanku," ucap Arlan sambil berjalan mengikuti Rubby yang berjalan entah ke mana.
"Udah, jangan lebai, deh! Kamu kan dulu kalau aku cium suka jual mahal. Kamu tutup mata aja, beres, kan?"
"Nyesel aku dulu nyuekin kamu, By."
Arlan menghembuskan napas kasar sambil menatap Rubby sayu.
"Coba kalau sekarang kamu nyium aku. Aku nggak bakalan nolak!" seru Arlan lagi.
Buggh!
Tas selempang Rubby melayang di kepala Arlan.
"Sepertinya otak kamu sedikit geser deh, Ar. Kayaknya perlu aku tambahin lagi." Rubby bersiap-siap melayangkan pukulan kedua namun Arlan bergerak mundur sambil memasang kedua tangannya di depan.
"Udah, By, udah! Iya-iya, aku sadar. Bisa-bisa aku jadi gegar otak dan amnesia kalau terus kamu pukuli begitu!"
"Salah siapa ngomongnya ngelantur. Kamu yang memilih untuk menganggapku sebagai adik, jadi kamu harus ingat baik-baik itu!"
__ADS_1
"Iya, aku memang bodoh." Arlan tidak ingin berdebat lagi dan memilih untuk diam dengan perasaannya yang masih sama untuk Rubby.
Mereka terdiam, larut dalam perasaannya masing-masing. Kakinya berjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah sungai di kaki bukit tanpa mereka sadari. Mereka tidak sadar jika mereka telah berada cukup jauh dari rombongan Rubby.
"Ar, ini di mana?" tanya Rubby ketika mereka sudah berada di tempat yang asing dan sepi.
"Ini Sungai Airmata Dewi, hulunya ada di puncak Gunung Sam," jelas Arlan.
"Kamu pernah datang ke sini?" Rubby menatap Arlan penuh tanya.
"Belum, tapi sungai ini juga melewati kuil tempatku menimba ilmu." Arlan duduk di atas batu besar yang ada di bawah pohon yang rindang.
"Oh, iya, Ar! Aku penasaran dengan dirimu yang tiba-tiba bisa menguasai ilmu tenaga dalam. Aku terkejut ketika melihatmu berada di bukit San. Kamu juga mendapatkan energi seribu bulan, kan?" tanya Rubby.
"Benar, aku memang mendapatkannya. Tapi sebelumnya aku terluka parah dan hampir mati. Beruntung sekali ada kekuatan aneh yang menyelamatkanku. Setelah aku melihatmu bertarung begitu hebat diperjalanan waktu itu, aku bertekad untuk berlatih beladiri, By. Aku merasa malu padamu. Sebagai laki-laki, bukannya melindungimu namun malah kamu lindungiku."
"Baguslah, kalau kamu punya semangat untuk itu. Suatu saat akan ada wanita yang harus kamu lindungi." Rubby tersenyum memberikan semangat untuk Arlan.
Mereka saling berpandangan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Awan semakin gelap, Ar! Dan energi berada di atas Bukit Sali juga semakin menjadi. Kenapa kita tadi bisa sampai di sini coba?" Rubby memutar tubuhnya mengingat-ingat kembali jalan yang di laluinya.
"Entahlah, sepertinya kita melamun tadi." Arlan menggaruk tengkuknya.
Pemandangan yang cukup aneh. Awan dan petir itu hanya berputar-putar di atas Bukit Sali saja. Di tempat Rubby dan Arlan berada sekarang tidak begitu mendung.
"Itu pasti ulah, Sian Lun." Arlan mencoba menduga-duga.
"Siapa dia?"
"Siluman kerbau setengah manusia yang selalu mencari korban di saat-saat tertentu."
"Apa?! Tidak-tidak, kita harus segera ke sana, Ar!" Rubby berjalan cepat meninggalkan Arlan.
"Dia bergerak sangat cepat, Rubby. Semoga kita sempat. Dia menyukai gadis usia 17 sampai 25 tahun untuk di mangsa."
Penjelasan Arlan membuat Rubby menghentikan langkahnya. Dia berpikir bagaimana caranya untuk menyelamatkan siapapun korban yang diincar oleh siluman itu. Sebenarnya dia bisa menggunakan kekuatannya untuk pergi dengan cepat ke sana tapi tentu akan mengundang perhatian umum.
"Ahha! Aku ada ide!" Rubby menentikkan jarinya sambil berbinar senang.
"Ide apa, By!" Mengernyit heran sambil menatap Rubby.
"Udah kamu diem aja, nanti juga akan tahu!"
__ADS_1
Rubby meletakkan barang bawaannya di tempat yang menurutnya aman. Setelah itu dia mulai berkonsentrasi untuk mengeluarkan aura energi yang memancing siluman itu untuk datang. Ini cukup beresiko karena bisa mengganggu kestabilan alam.
Sebenarnya Rubby belum terlalu mahir dalam menggunakan sihir ini tapi dia tidak ingin ada korban lagi.
Aura berwarna jingga keluar dari tubuh Rubby dan memancar lurus menjulang ke langit hingga ketinggian tidak terhingga.
Arlan merasa takjub dengan apa yang dilakukan oleh Rubby. Mulutnya ternganga dengan mata yang hampir tidak berkedip saat melihatnya. Bukan cuma siluman saja, energi di dalam tubuh Arlan pun terasa tertarik dalam kumparan medan energi yang diciptakan oleh Rubby.
Setelah sekitar satu menit berlalu, usaha Rubby mulai menunjukkan hasil. Awan hitam dan badai lokal ciptaan Sian Lun bergerak mendekati mereka. Dalam waktu singkat, tempat itu berubah menjadi gelap dan mencekam.
Arlan terlihat ketakutan karena merasakan tekanan energi yang sangat kuat membuat tubuhnya seakan terhimpit.
"Tenanglah, Ar. Duduklah dengan sikap sempurna seperti saat sedang berkultivasi!"
Tanpa banyak bertanya, Arlan segera melakukan apa yang diajarkan oleh Rubby.
Siluman itu tiba di tempat Rubby berada sesaat setelah Arlan duduk bermeditasi dan menutup mata.
"Rupanya, aku telah diundang oleh seorang wanita cantik!" Siluman itu muncul di hadapan Rubby sebagai seorang pria tampan.
Rubby bangkit dari duduknya lalu berdiri untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
"Bagus kamu cepat datang jadi aku juga tidak perlu repot-repot lagi menggunakan jurus ini lebih lama."
Cahaya di tubuh Rubby mulai meredup seiring energi yang tadinya terpancar dia hentikan.
"Aku menyukai perempuan yang berkarakter sepertimu, Nona! Ikutlah denganku maka aku tidak akan menyakitimu!" Sian Lun maju mendekati Rubby yang sedang berdiri mematung.
"Mimpi saja sana!" Rubby mengibaskan tangannya.
"Kenapa kamu mengusik orang-orang tidak berdosa di Buktit Sali?!" tanya Rubby lantang.
"Tidak aku jawab pun kamu pasti sudah tahu jawabannya."
"Kamu menjawab pertanyaan dengan teka teki. Kamu pikir aku tukang ramal yang bisa tahu isi kepalamu, apa?" belum apa-apa, Rubby sudah mengomel saja.
"Aku membutuhkan energi jiwa yang besar untuk meningkatkan basis kultivasiku. Kamu telah mengacaukanku saat ingin menangkap mangsa." Sian Lun berkata terus terang.
"Ada cara lain yang lebih manusiawi kok ketimbang membunuh banyak manusia!" pekik Rubby yang membuat siluman-siluman kecil di sekitarnya kabur tunggang langgang.
****
Bersambung...
__ADS_1