TIGER WU

TIGER WU
MERAJUK


__ADS_3

"Lihat pakai mataku sendiri kenapa kamu protes? Dah kayak induk ayam habis bertelur aja. Galak!" seru Bryan Lee.


"Iya kalau aku induk ayam kamu yang jadi kadalnya terus aku patokin sampai sekarat! Mau?" Rubby berkacak pinggang di depan Bryan Lee.


"Heiii! Kejam! Tiger! Hati-hati kamu sama wanita ini bisa-bisa dia merubah daratan jadi lautan kalau dia marah," ledek Bryan Lee.


Wu Jin Ming dan asisten Jim tertawa mendengar lelucon Bryan Lee. Berbeda dengan mereka berdua Rubby terlihat sangat geram seperti ingin menerkam mereka bertiga. Dia tidak suka menjadi bahan tertawaan.


"Aaahhh! Kalian semua menyebalkan!" Rubby menghentakkan kakinya lalu pergi dari hadapan mereka. Merajuk.


"Tiger! Kejar tuh!" seru Bryan Lee sambil memijat pangkal hidungnya karena merasa sedikit pusing.


"Hemm... aku permisi mau sekalian pulang," pamit Wu Jin Ming.


"Berhati-hatilah! Hari sudah hampir gelap," imbuh asisten Jim.


"Hmm... kalian juga. Bye!" Wu Jin Ming melambai sebelum melenggang meninggalkan Bryan dan asisten Jim.


"Bye!" balas mereka berdua bersamaan.


Sesaat setelah kepergian Rubby dan Wu Jin Ming, Presdir Lee pergi ke dalam resort miliknya yang tidak jauh dari lokasi pengambilan gambar. Kepalanya terasa pusing dan badannya terasa sangat lelah. Sedikit banyak Bryan tahu jika dia baru saja mengalami hipnotis.


Rasa penasarannya membuat Bryan meminta asisten Jim menjelaskan tentang hipnotis. Bryan juga meminta asisten Jim untuk menyelidiki di mana tempat tinggal gadis yang menghipnotisnya tadi. Sebagai pengusaha nomer satu di negara itu, Bryan Lee patut untuk berhati-hati mengingat banyaknya orang yang ingin memanfaatkan kemewahan dan status sosialnya.


Pencarian dan pengejaran gadis yang menghipnotis Bryan juga melibatkan warga sekitar namun ketika di tanya mengenai hal itu mereka diam seribu bahasa lalu pergi menghindar dengan berbagai alasan. Hanya satu orang warga yang berani bercerita dan menjawab setiap pertanyaan Bryan Lee. Menurut dari cerita dan ciri-ciri yang disebutkan oleh Bryan Lee, gadis yang dia maksud adalah penunggu danau yang terkadang muncul untuk mencari tumbal.


Bryan Lee dan asisten Jim merinding mendengar cerita mereka. Mereka berdua memutuskan untuk tidak lagi mengusut kasus penghipnotisan Bryan Lee dan berhenti berurusan dengan makhluk astral. Rencana menginap di resort miliknya pun dibatalkan, Bryan Lee memilih untuk pulang ke rumahnya. Dia tidak tahu jika makhluk itu sudah mati di tangan Wu Jin Ming dan Rubby.


••••


Di dalam mobil Wu Jin Ming, Rubby masih bersikap masam pada suaminya itu. Dia masih kesal dengan keusilan Wu Jin Ming dan Bryan Lee barusan. Sampai mobil berjalan beberapa menit pun Rubby masih terdiam.


Jika Wu Jin Ming tidak memulai percakapan, mungkin masalah ini akan terus berlarut-larut. Sifat kekanak-kanakan Rubby membuatnya sangat sulit untuk berpikir jernih. Sifat selalu benar dan ingin menang sendiri juga mendominasi Rubby. Entah sampai kapan dia akan bisa berpikir dewasa.


"My Baby!" panggil Wu Jin Ming.


"Hmm." Rubby menjawab sambil terus fokus menatap ke depan.

__ADS_1


"My Love!" panggil Wu Jin Ming lagi.


"Hmm." masih dengan posisi yang sama.


"My Wife!" tidak ingin menyerah, Wu Jin Ming kembali memanggil Rubby di sela-sela menyetir dan berkonsentrasi untuk melihat jalanan.


"Hmmm... iya... iya... bawel!" Rubby melirik Wu Jin Ming dengan tatapan kesal.


"Kita jadi nggak pergi ke rumah kak Lin?" tanya Wu Jin Ming akhirnya menemukan ide untuk membuat suasana hati Rubby kembali membaik.


Rubby menoleh ke arah Wu Jin Ming sambil menepuk jidatnya. "Astaga! Aku hampir lupa!"


"Tadi sih, pakai acara ngambek segala!" sindir Wu Jin Ming.


"Habisnya kalian semua menyebalkan. Hampir saja aku mau pindahin pulau Jawa ke pulau Sumatera karena saking kesalnya."


Lagi-lagi ucapan Rubby membuat Wu Jin Ming tertawa namun buru-buru dia menutup mulutnya agar Rubby tidak marah lagi.


"Kamu jangan marah, Sayang! Kamu terlihat sangat cantik kalau sedang marah itulah alasan kenapa aku suka menggodamu."


"Haishh! Anggap saja omonganmu itu benar. Aku malas berdebat," ucap Rubby sambil menatap jengah ke arah Wu Jin Ming.


Rumah manager Lin tidak terlalu jauh dari lokasi pemotretan. Hanya butuh sekitar satu jam untuk sampai ke rumahnya. Wu Jin Ming terkekeh ketika melihat Rubby tertidur dalam posisi duduk yang tidak elegan.


Rubby masih terlelap ketika mereka sampai di halaman rumah manager Lin. Rasanya tidak etis jika mereka masuk untuk makan malam dengan baju lusuhnya. Sebelum turun, Wu Jin Ming mengganti baju di tubuh Rubby dengan baju yang senada dengannya.


"Sayang! Hei...! Kita sudah sampai." Wu Jin Ming membangunkan Rubby pelan sambil menepuk-nepuk pipinya.


Bukannya bangun Rubby yang setengah sadar malah menarik tubuh Wu Jin Ming dan memeluknya. Dia berpikir jika saat ini mereka sedang berada di kamar mereka di rumah. Dengan susah payah Wu Jin Ming melepaskan diri dari pelukan Rubby.


'Hufh! Bagaimana caranya aku membawanya masuk? Masa, iya aku gendong. Apa kata manager Lin nanti?' gumam Wu Jin Ming dalam hati.


"Ahh! Biar sajalah! Aku akan menggendongnya masuk."


Tidak ada pilihan lain. Wu Jin Ming akhirnya menggendong Rubby dan membawanya masuk ke rumah manager Lin. Baru saja akan mengetuk pintu, manager Lin sudah membukakannya untuk mereka. Mungkin dia melihat kedatangan mereka dari CCTV yang terpasang di rumahnya.


"Selamat malam, manager Lin!" sapa Wu Jin Ming saat berhadapan dengan manager Lin.

__ADS_1


"Selamat malam! Ayo masuk! Kenapa dia?" tanya manager Lin saat melihat Rubby yang tertidur pulas di dalam gendongan Wu Jin Ming.


"Terimakasih, manager Lin. Biasalah.... Rubby kalau tertidur sangat susah untuk di bangunkan."


"Tidak masalah! Bawa adik kecilku masuk!"


Sesampainya di dalam rumah, manager Lin meminta Wu Jin Ming untuk menidurkan Rubby di sofa ruang tamu karena Wu Jin Ming menolak untuk membawanya ke kamar tamu.


"Kog sepi! Ke mana anak-anak?" tanya Wu Jin Ming penasaran.


"Oh, kebetulan orang tua Yuna datang dari luar negeri dan membawa mereka pergi jalan-jalan. Mungkin sebentar lagi mereka juga akan kembali."


"Owh! Sepertinya kami datang di saat yang kurang tepat. Mungkin seharusnya kami menunda kedatangan kami dan membiarkan manager Lin melepas rindu bersama keluarga kak Yuna."


"Sudah! Jangan merasa tidak enak begitu! Mertuaku akan menginap di sini untuk beberapa hari ke depan. Kalian tenang saja. Mereka sering pulang juga kok," jelas manager Lin sambil menepuk bahu Wu Jin Ming.


"Eeemmmhhh!" Rubby menggeliat dan hampir terjatuh dari sofa jika saja Wu Jin Ming tidak segera menangkap tubuhnya.


"Hati-hati, By! Kita sudah berada di rumah manager Lin. Bangunlah!" bisik Wu Jin Ming lembut.


Mendengar kata manager Lin, Rubby langsung berjingkat bangun.


"Maaf, Kak Lin! Aku datang ke sini dengan sangat memalukan sekali." Rubby merapikan penampilannya. Dia sedikit lega setelah melihat bajunya yang sudah di ganti dengan pakaian yang cocok untuk makan malam. Aman.


"Ayo kita ke ruang makan! Kalian pasti sudah sangat lapar." Manager Lin berdiri dan mengajak mereka pergi ke ruang makan.


Di ruang makan Yuna, istri manager Lin, terlihat masih sibuk menyiapkan makan malam bersama kedua asisten rumah tangganya.


"Yuna! Tamu kita sudah datang!" panggil manager Lin pada istrinya.


Yuna menoleh ke arah Rubby dan Wu Jin Ming. Dia terlihat seperti sedang berpikir ketika pertama melihat Rubby dan terus menatapnya tanpa berkedip. Setelah ingatannya kembali tiba-tiba dia kehilangan konsentrasinya hingga membuat piring yang dia pegang jatuh ke lantai.


Prankk!


Piring itu pecah berantakan di lantai. Yuna segera membereskannya dan mencoba untuk bersikap sebiasa mungkin.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2