
Wu Jin Ming membuka ponselnya, dia melihat pesan yang di kirim oleh Rubby. Tak ingin berbalas pesan, Wu Jin Ming memilih untuk menelepon Rubby.
"Hallo, Kak!" sapa Rubby dari seberang.
"Hallo, Sayang. Kamu nanti pulangnya tunggu aku datang, ya. Aku segera ke sana."
"Kamu udah selesai kerjanya?"
Binar-binar bahagia menghiasi wajah cantik Rubby. Tubuhnya serasa ringan dan ingin terbang.
"Tinggal satu sesi pemotretan saja."
"Beb, aku minta minumnya, ya?" terdengar suara seorang wanita di dekat Wu Jin Ming.
"Ambil saja!" jawab Wu Jin Ming singkat.
"Thank you, Beb."
Telinga Rubby terasa panas mendengar suara wanita itu begitu mesra memanggil suaminya.
"Sayang, kamu masih di sana?" Wu Jin Ming tahu Rubby pasti sedang marah saat ini.
"Dia Catherine. Teman satu team dalam proyek ini."
"Aku nggak nanya."
"By, jangan marah. Aku cuma cinta sama kamu."
Wu Jin Ming merasa gelisah. Dia takut jika Rubby berpikir yang tidak-tidak tentangnya dan Catherine.
"Aku nggak marah. Ya sudah, ya. Aku mau belanja lagi. Bye!"
Tanpa menunggu jawaban Wu Jin Ming, Rubby menutup teleponnya. Dia kembali memilih baju meski tak bersemangat. Suara Catherine terngiang-ngiang di telinganya.
Tidak seperti teman-temannya yang memborong baju dalam jumlah banyak, Rubby hanya membeli dua potong. Satu untuknya dan satu untuk Wu Jin Ming. Kaos dengan warna senada dengan motif yang sedikit berbeda.
Mata Rubby tertarik ketika melihat sebuah topi pada manekin. Dia membayangkan jika Wu Jin Ming yang memakainya. Pasti keren.
Saat Rubby menghampiri manekin itu, ada seseorang pemuda juga yang menginginkan topi yang sama. Pemuda itu memakai penutup kepala dan kacamata. Rubby menarik tangannya saat tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan.
Untuk sejenak mereka saling pandang. Tak di sangka pemuda itu langsung melompat memeluk Rubby. Rubby yang terkejut tidak bisa menghindar.
"Eh, kamu apa-apaan sih!"
Sekuat tenaga Rubby memberontak dan berusaha melepaskan diri. Pemuda itu memberi isyarat pada Rubby untuk diam. Dia membawa Rubby ke tempat sepi dan menghimpitnya di tembok.
"Heh, jangan kurang ajar ya kamu."
Pemuda itu perlahan membuka tutup kepalanya dan kacamatanya dengan satu tangannya. Tangan yang lain memegangi tangan Rubby agar tidak kabur.
Mata Rubby terbelalak saat mengetahui siapa pemuda di hadapannya itu. Detak jantungnya menjadi tidak stabil. Dia sangat ketakutan. Ini seperti mimpi.
"Apa kabar, By? Aku sangat merindukanmu."
Moza mendekatkan wajahnya untuk mencium Rubby. Namun Rubby berpaling untuk menghindar. Nama Moza sudah sejak lama terhapus dari hatinya.
"Kita sudah putus. Bisakah kamu memperlakukanku seperti seorang teman?" Rubby masih enggan melihat wajah Moza. Dia tidak ingin terjatuh kembali ke dalam kenangan masa lalu.
__ADS_1
"Tapi aku masih sangat mencintaimu, By. Aku nggak bisa lupain kamu begitu saja." suara Moza terdengar pelan namun penuh penekanan. Matanya berkaca-kaca seperti menahan perasaan yang mendalam.
"Ingat Moza, kehidupan kita sangat jauh berbeda. Keluargamu nggak pernah merestui hubungan kita. Lupakan aku Moza. Aku sudah bahagia."
"Nggak. Sampai kapanpun aku nggak akan pernah melupakanmu. Dengar Rubby, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Selamanya."
Mata mereka saling beradu. Sejujurnya Rubby tidak tega melihat mata itu menghiba. Begitu banyak waktu yang telah mereka lalui bersama. Hati Rubby menghangat mengingat masa-masa indah mereka. Tapi segera semuanya ia tepis. Hanya ada Wu Jin Ming di hatinya saat ini.
"Maaf aku nggak bisa. Aku nggak pantas kamu cintai."
Rubby mendorong tubuh Moza dan berniat untuk pergi. Sia-sia. Tenaga Moza lebih kuat darinya. Moza kembali menghimpitnya di dinding. Kali ini cengkeraman tangannya lebih kuat. Dia menekan kedua tangan Rubby di atas kepalanya.
"Lepasin, Moza! Jangan gila! Ini di tempat umum."
"Aku nggak peduli. Aku nggak akan melepaskanmu Rubby."
Ingin rasanya Rubby berteriak dan meminta pertolongan. Tapi dia masih merasa kasian pada Moza jika menjadi korban amukan massa. Tidak mungkin juga baginya mengeluarkan kekuatan spiritualnya untuk melepaskan diri.
Keadaan benar-benar mendebarkan ketika Moza mulai menempelkan bibirnya di pipi Rubby. Tidak berhenti sampai di situ. Moza menyusuri seluruh wajah Rubby dengan bibirnya.
Plakkk!
Sebuah pukulan mendarat di pipi Moza. Tanpa mereka sadari seorang pria penuh emosi datang menghampiri mereka.
"Kak Tiger!" seru Rubby panik.
"Aku peringatkan kamu. Ini terakhir kali kamu menyentuh wanitaku. Jika tidak, aku nggak akan segan-segan menghajarmu!"
Mata Wu Jin Ming berkilau seram. Dingin dan kejam. Tatapan membunuh yang sangat mengerikan.
"Aku nggak takut. Saat ini aku mengalah bukan karena takut padamu. Aku hanya tidak ingin membuat keributan di sini."
"Aku tunggu jika kamu tidak menyerah menggoda wanitaku."
Wu Jin Ming tersenyum menyeringai.
Rubby tidak tahu harus berbuat apa. Dia melihat kerumunan orang dan segera menarik tangan Wu Jin Ming menyingkir dari sana.
Moza memegangi pipinya yang terasa nyeri akibat pukulan Wu Jin Ming. Dia kembali menutup kepalanya untuk menyamar. Moza kabur dari rumah. Saat ini dia menjadi buronan orang tuanya sendiri.
"Cepat sekali kamu datang," ucap Rubby.
"Kamu nggak suka aku datang? Bilang saja kamu masih ingin bermesraan dengan mantan kamu itu."
Tangan Wu Jin Ming mengusap wajahnya. Dia berusaha menguasai dirinya agar tidak emosi. Hatinya terasa sakit melihat Moza menciumi wajah istrinya.
"Aku nggak bilang begitu. Kamu bilang masih ada satu pekerjaan tadi."
"Aku sudah selesai."
"Sudah makan?" tanya Rubby.
"Sudah."
"Siapa Catherine?"
Pertanyaan Rubby membuat Wu Jin Ming menatapnya lekat. Dia teringat alasannya pulang cepat dan bergegas menemui Rubby.
__ADS_1
"Dia partnerku. Kami terlibat dalam satu pemotretan," jelas Wu Jin Ming.
"Itu saja."
"Itu saja. Kamu cemburu?" tanya Wu Jin Ming.
"Aku heran aja. Bisa-bisanya dia memanggilmu mesra."
"Panggilan itu dia berikan kepada semua kru Sayang. Bukan cuma padaku saja."
"Beneran?" mata bulat Rubby menatap Wu Jin Ming penuh selidik.
"Beneran, Sayang. Percayalah!"
"Aku percaya padamu asal kamu juga mempercayaiku."
"Aku sangat mempercayaimu," ucap Wu Jin Ming mantap.
Mereka saling berpelukan. Baru beberapa detik berlalu, mereka di kejutkan oleh kedatangan Cindy.
"Kalau mau mesra-mesraan tahu tempat dong. Kalian menyiksa diriku yang jomblo ini. Hiks!" Cindy pura-pura mewek.
"Apaan sih! Sssttt... jangan kenceng-kenceng!" Rubby memberi isyarat pada Cindy untuk memelankan suaranya.
Benar saja. Suara keras Cindy membuat pengunjung lain mendekat. Mereka menghampiri Wu Jin Ming yang sedang menggandeng tangan Rubby.
"Kamu Tiger Wu, kan?" tanya seorang perempuan cantik. Kelihatannya dia seorang ibu muda yang kebetulan sedang berbelanja.
"Benar." Wu Jin Ming mengeratkan genggaman tangannya pada Rubby.
"Bisakah kita berfoto?" wanita itu mendekat ke samping Wu Jin Ming.
"Tapi aku harus membawanya berfoto juga." Wu Jin Ming melirik ke arah Rubby.
"Em, nggak masalah." sebenarnya wanita itu keberatan, tapi dia tidak mau membuang kesempatan untuk berfoto bersama model tampan yang didolakannya.
Mereka berfoto beberapa kali. Saat foto terakhir wanita itu mencium Wu Jin Ming saat kamera sedang mengambil gambar. Rubby tak terima dia segera membawa Wu Jin Ming menjauh dan masuk ke dalam ruang pas. Dia mengelap wajahnya dengan tisu basah.
"Bukan begitu caranya menghapus jejak ciuman. Tapi begini." Wu Jin Ming mencium seluruh wajah Rubby lalu melahap bibirnya. Mereka saling berbalas ciuman di sana hingga beberapa saat.
"Ayo kita pulang!" ajak Rubby.
Rubby tidak ingin berlama-lama di sana. Sekarang Wu Jin Ming adalah seorang model yang mulai di kenal oleh kalangan masyarakat. Dia tidak nyaman jika harus berurusan dengan penggemar.
"Ayo!" seru Wu Jin Ming.
Mereka membayar belanjaan Rubby dan berpamitan dengan ketiga temannya. Wu Jin Ming berjalan sambil merangkul bahu Rubby mesra. Sepanjang perjalanan banyak mata tertegun melihat Wu Jin Ming dan Rubby yang tampak serasi.
Kebanyakan orang memuji Rubby. Namun juga tidak sedikit yang mengatakan dia tidak sebanding dengan Wu Jin Ming. Gunjingan yang berhembus tak mengurangi kemesraan mereka. Mereka sama-sama saling percaya.
Di ujung jalan kecelakaan hebat sedang terjadi. Perjalanan mereka sedikit terhambat. Kerumunan orang membuat kemacetan.
"Kak, aku ingin lihat!" Rubby hendak melepas sabuk pengamannya.
"Nggak usah. Kita pulang saja."
Wu Jin Ming membuat mobilnya tidak terlihat dan melintasi jalanan tanpa kendala. Mobilnya seperti udara yang mampu menembus apa saja yang di laluinya. Rubby merasa kecewa karena dia sangat ingin melihat apa yang terjadi.
__ADS_1
***
Bersambung...