
Rumah kembali sepi setelah kepulangan Ratu Ivo. Di dalam ruang tamu hanya ada Wu Jin Ming dan Rubby yang sedang terlelap di sofa. Dia tertidur dengan kaki yang menjuntai ke bawah dan tubuh berbaring sembarangan.
"Kamu pasti akan pegel-pegel pas bangun tidur kalau terus berbaring seperti ini, Sayang. Hmm...." Wu Jin Ming menggeleng.
Wu Jin Ming mendekat ke arah Rubby dan menyusupkan tangan kirinya di bawah tengkuk Rubby dan tangan kanannya di belakang lututnya. Dia mengangkat tubuh Rubby perlahan dan membawanya ke kamar atas. Rubby tidak terganggu sedikitpun. Sepertinya dia benar-benar sangat mengantuk.
Sepanjang perjalanan menuju ke kamarnya, Wu Jin Ming terus memandangi wajah Rubby yang tampak tenang ketika tertidur. Namun sedikitpun itu tidak mengurangi kecantikannya. Bahkan malah terlihat lebih cantik dan polos.
Kamar mereka yang berada di lantai dua membuat Wu Jin Ming harus berjalan melewati tangga untuk mencapainya.
Tanpa menggunakan tenaga dalam membuatnya berkeringat juga ketika harus menaiki tangga sambil menggendong Rubby.
"Aku merindukan kamar ini."
Wu Jin Ming melihat ke sekeliling kamar mereka. Tidak ada yang berubah. Beberapa hari mereka tidak pulang bahkan Wu Jin Ming tidak tidur ketika Rubby belum sadarkan diri.
Perlahan Wu Jin Ming meletakkan tubuh Rubby di atas ranjang.
"Huuftt!" Wu Jin Ming menghembuskan nafas kasar dan sedikit tidak beraturan karena lelah.
Sebelum hari berganti pagi, Wu Jin Ming memanfaatkan beberapa jam yang tersisa untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa bisa merasakan tidur dengan tenang. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada kesedihan dan untuk sementara tidak ada musuh yang mengancam.
Mereka tertidur pulas dengan saling berpelukan.
Mestinya hari itu mereka sudah kembali untuk bekerja namun hingga pukul delapan pagi mereka belum juga bangun dari tidurnya.
Mungkin mereka tidak akan terbangun jika kaki Rubby tidak menendang lampu tidur di samping tempat tidur. Entah karena lelah atau apa, Rubby terus bergerak dan bertukar posisi dalam tidurnya. Suara lampu jatuh itu cukup keras.
Wu Jin Ming dan Rubby langsung terduduk saat mendengar suara yang mengganggu itu meskipun kesadarannya belum sepenuhnya kembali.
"Apa itu, Sayang?" tanya Wu Jin Ming melihat Rubby yang tengah terduduk.
"Aku tidak tahu, orang aku baru saja bangun."
Mereka mencari-cari asal suara setelah kesadarannya terkumpul.
Wu Jin Ming tidak menemukan apa-apa di sisi tempat tidur sebelahnya berbaring.
__ADS_1
"Hihi, lampu tidur, Sayang." Rubby meringis memamerkan gigi putihnya karena merasa bersalah.
"Awas hati-hati kalau turun! Takutnya ada pecahan kaca atau benda runcing lainnya yang akan mengenai kakimu." Wu Jin Ming melihat ke arah yang Rubby lihat.
"Aku lewat sana aja!" Rubby menggeser tubuhnya ke depan ke sisi lain tempat tidur yang jauh dari pecahan lampu.
"Huuft, kita kesiangan. Kita sudah terlambat jika berangkat setelah mandi dan sarapan." Melirik ke arah Rubby yang sedang berjalan ke kamar mandi.
"Tidak masalah. Jika kamu tidak lelah kita bisa mulai bekerja hari ini," ucap Rubby sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Wu Jin Ming tersenyum.
Rubby adalah co manager, sudah pasti tidak akan ada yang berani memarahinya ketika dia datang terlambat. Alfon dan Bryan juga tidak mungkin menegurnya karena persahabatan yang mereka jalin. Memarahi Rubby hanya membuat mereka kehilangan kesempatan untuk bertemu dengannya.
Untuk sementara, Rubby tidak boleh menggunakan kekuatan dan sihirnya terlebih dahulu hingga tubuhnya benar-benar pulih.
"Kamu cantik sekali, Sayang," puji Wu Jin Ming ketika keluar kamar mandi dan mendapati Rubby telah rapi dengan baju kerjanya.
"Jangan bilang kamu memujiku karena menginginkan sesuatu!" seru Rubby sambil melirik Wu Jin Ming dengan tatapan curiga.
"Yah, ketahuan, deh!" Wu Jin Ming menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Rubby menarik tangan Wu Jin Ming dan membawanya berlari keluar dari dalam kamar menuju ke ruang makan.
Sesampainya di sana Rubby tidak duduk untuk makan melainkan mengambil makanan yang ingin dia santap dan menyimpannya di kotak bekal.
Untuk menyingkat waktu, Rubby ingin menikmati sarapannya di dalam mobil.
"Jadi kita tidak sarapan dulu, By?" tanya Wu Jin Ming pasrah meskipun perutnya terus berbunyi ketika melihat makanan yang tersaji di sana.
"Kita sarapan di mobil saja, Sayang. Aku akan menyuapimu nanti," jawab Rubby sambil terus bergerak mondar-mandir menyiapkan bekal.
Wu Jin Ming diam menurut saja meskipun dia harus berkali-kali menelan ludahnya karena menahan keinginan untuk menyantap makanan lezat di hadapannya.
Rasa laparnya sudah melewati batas normal. Perutnya terasa nyeri dan selalu berbunyi. Sungguh siksaan yang berat melebihi siksaan rindu ketika mereka berjauhan.
"Ayo, Sayang!" Rubby kembali menarik tangan Wu Jin Ming seperti seorang anak kecil yang mengajak temannya bermain.
__ADS_1
Wu Jin Ming membukakan pintu untuk Rubby terlebih dahulu sebelum dia membuka untuknya sendiri dan duduk di belakang kemudi.
"Sayang, aku sangat lapar!" seru Wu Jin Ming ketika mobil mereka baru meninggalkan halaman rumah beberapa detik yang lalu.
"Aku juga. Baiklah, kita makan sekarang."
Rubby membuka kotak makan yang penuh dengan makanan dan menyendoknya. Suapan pertama dia berikan untuk Wu Jin Ming. Dia memilih beberapa jenis menu kesukaan suaminya itu.
"Enak banget." Suara Wu Jin Ming terdengar tidak begitu jelas.
"Aku juga mau, Sayang. Ini pertama kalinya aku makan menu kesukaanmu." Rubby sedikit ragu-ragu menyiapkan sesendok makanan.
Mulutnya bergerak perlahan untuk mengunyah makanan itu dan menguji rasanya.
"Bagaimana?" tanya Wu Jin Ming.
Rubby hanya mengangguk saja karena mulutnya masih penuh dengan makanan dan sibuk mengunyah. Tangannya juga sibuk untuk menyiapkan suapan berikutnya untuk Wu Jin Ming.
Tidak lama kemudian, seluruh isi kotak makan itu sudah berpindah ke dalam perut mereka berdua.
"Heemm. Kenyang!" Rubby membereskan alat makan kotornya dan menyimpannya dalam sebuah kantong plastik.
"Apa kamu sudah memeriksa jadwal hari ini, Sayang?" tanya Wu Jin Ming mengingatkan.
"Belum sih, nanti saja di kantor agensi. Sepertinya banyak jadwal yang berubah karena ketidakhadiran kita beberapa hari ini."
"Baiklah, kita ikuti saja jadwal baru yang sudah di susun manager Lin." Wu Jin Ming terlihat fokus melihat jalanan di depannya saat menyetir.
"Iya, kasihan kak Lin sudah bekerja keras untuk itu. Lebih baik aku mengikuti jadwal kak Lin hingga jadwal yang dia susun selesai."
Wu Jin Ming mengangguk.
Perjalanan mereka sedikit lancar karena hari sudah tidak pagi lagi. Para pekerja dan anak sekolah sudah berangkat sekitar satu jam yang lalu. Wu Jin Ming dan Rubby akan sampai di agensi lebih cepat.
****
Bersambung...
__ADS_1