TIGER WU

TIGER WU
AURA JAHAT


__ADS_3

Rubby menempelkan punggungnya di tembok seperti cicak dan bergeser sedikit demi sedikit untuk mencari tempat yang aman. Merasa posisinya sudah tidak terlihat dari segala arah, Rubby cepat-cepat membaca mantra untuk menyerap kekuatan yang sudah dilepaskannya. Seketika tubuh Rubby mengeluarkan cahaya kebiruan. Dia mempercepat pembatalan kekuatan yang tak sengaja dilepaskannya.


"Apa itu?" teriak salah seorang mahasiswa yang melihat kilatan sinar biru dari tubuh Rubby.


Sinar yang mereka lihat tiba-tiba menghilang. Para mahasiswa yang berkerumun membubarkan diri mencari ke arah sumber cahaya. Rubby menyelinap keluar dari tempat persembunyiannya untuk menghindari kecurigaan mereka.


Sebelum kembali ke tempat Rocky berada, Rubby memindahkan botol minum dari rumahnya dengan sihirnya.


"Ada apa sih?" tanya Rubby pura-pura tidak tahu.


"Tadi ada yang lihat cahaya kebiruan gitu katanya. Kamu lihat nggak?" mahasiswa itu balik bertanya.


"Enggak... aku kan baru dateng," elak Rubby.


Rubby segera pergi dari hadapan mahasiswa itu dan berjalan menghampiri Rocky. Sebelum Rocky bangun dia harus berada di dekatnya untuk menghindari kesalahpahaman. Rocky mulai menggerakkan tangannya.


"Hei!" Rubby menepuk-nepuk pipi Rocky.


Perlahan Rocky mengerjap-ngerjapkan matanya.


"By, aku di mana?" tanya Rocky setelah matanya terbuka dan bisa melihat wajah Rubby dengan jelas.


"Di perpustakaan sama aku. Kenapa kamu tiba-tiba pingsan? Nakutin aja!" seru Rubby sambil menyodorkan botol minum yang sudah dibukanya.


"Pingsan? Masa sih?" Rocky mencoba mengingat apa yang terjadi.


"Ayo kita keluar! Kita baru saja membuat keributan di sini. Nggak enak sama yang lain!" ajak Rubby.


Rocky mengangguk karena mulutnya penuh dengan air yang dia minum. Rubby membantu Rocky berjalan karena dia masih sedikit linglung. Mungkin juga kepalanya merasa pusing akibat terkena kekuatan Rubby.


Dalam perjalanan menuju ke bangku taman, mereka berpapasan dengan Bella dan Cindy. Bella memandang Rubby dengan tatapan tidak suka. Begitu juga dengan Cindy. Mereka mengira kalau Rubby sedang bermesraan.

__ADS_1


Rubby berhenti dan terbengong melihat kedua temannya bersikap acuh padanya. Mereka tidak menyapa Rubby sama sekali seolah mereka tidak saling mengenal. 'Pasti ini gara-gara Rocky.' batin Rubby menyadari saat ini Rocky masih mengalungkan tangannya di bahu Rubby. Rubby melepaskan tangan Rocky begitu saja dan berjalan meninggalkannya untuk mengejar Bella dan Cindy.


"Arrrggghhh!" pekik Rocky dia pura-pura jatuh saat Rubby melepaskan tangnnya.


Merasa dibohongi oleh Rocky, Rubby tidak mengindahkan erangannya. Secara fisik tubuh Rocky sudah kembali normal dan secara spiritual sudah tidak ada energi yang tertinggal di tubuhnya.


"Bella, Cindy! Tungguin dong!" teriak Rubby memanggil kedua sahabatnya itu.


Bukannya menjawab atau berhenti, keduanya malah mempercepat langkahnya. Terlihat sekali jika mereka sedang marah pada Rubby. Merasa tidak mendapat respon, Rubby tidak ingin lagi mengejar mereka. Dia memilih untuk duduk menyendiri di taman.


Jam kuliah hampir di mulai, dengan malas Rubby berjalan meninggalkan taman menuju ke kelasnya. Sesampainya di dalam kelas ketiga temannya sudah duduk di kursi masing-masing. Rubby melirik tempat duduknya tidak ada di antara mereka bertiga. Terpaksa Rubby duduk di kursi paling belakang.


'Huft! Kenapa mereka bertiga tiba-tiba aneh begitu ya? Biasanya walaupun mereka marah tapi nggak sampai seperti ini. Iblis apa yang sudah merasuki hati mereka?' Rubby bertanya-tanya dalam hati.


"Hai!" sapa Gitta seorang mahasiswi yang duduk di sebelah Rubby.


Sebelumnya mereka tidak pernah dekat walaupun ada dalam satu kelas yang sama. Rubby hanya akrab dengan trio ciwi yang sekarang mengacuhkannya. Bukannya tidak ingin punya banyak teman, Rubby hanya merasa minder karena dia hanyalah orang biasa.


Gitta dan para mahasiswa yang ada di kelas Rubby rata-rata punya kehidupan yang glamour. Kampus Rubby termasuk universitas terfavorit. Tidak semua orang bisa bersekolah di sini. Rubby merasa beruntung karena dia mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di sana.


"Kamu pindah terus aja di sini!" ucap Gitta sambil memainkan matanya.


'Astaga! Itu mata kenapa ya?' Rubby merasa aneh dengan sikap Gitta.


"Hmm!" jawab Rubby sambil mengangguk.


Mereka berhenti mengobrol saat dosen masuk ke dalam kelas. Semua siswa mendengarkan pelajaran dengan baik kecuali Rubby. Rasa penasaran Rubby pada Gitta membuatnya sulit berkonsentrasi.


Diam-diam Rubby mengaktifkan mata iblisnya. Dia melihat Gitta sedang dikendalikan oleh kekuatan aneh. Tidak hanya Gitta, Cindy, Bella dan Lisa pun juga di selimuti oleh kekuatan aneh.


Kali ini yang mengajar adalah dosen killer Chu Alexander. Dosennya itu masih saja bersikap aneh pada Rubby. Saat mengajar dia sering kali memperhatikan wajah Rubby. Walaupun Rubby sudah pindah ke belakang dia pun masih memandanginya.

__ADS_1


Waktu 90 menit terasa sangat lama dan membosankan. Rubby ingin mata kuliah ini segera berakhir. Terlebih lagi tatapan dosen Chu membuatnya ingin bersembunyi di palung laut yang paling dalam.


"Rubby! Nilai ulangan kamu kemarin sempurna. Bisakah kamu maju ke depan untuk membantu saya menjelaskan materi hari ini?" Tiba-tiba saja dosen Chu memanggil Rubby.


'Mampus deh aku! Mana aku dari tadi nggak dengerin dia ngomong lagi?' gunam Rubby dalam hati. Terpaksa dia berjalan menuju ke depan kelas untuk memenuhi panggilan si dosen killer.


"Maaf Pak, tapi saya tidak mempunyai kemampuan untuk membantu Bapak. Nilai sempurna milik saya kemarin hanya kebetulan saja," jelas Rubby.


"Mana mungkin ada nilai sempurna yang kebetulan! Anggap saja saat ini aku sedang mengujimu," seru dosen Chu.


Para mahasiswa di kelas melihat ke arah Rubby. Rubby merasa seperti seorang tersangka kriminal yang sedang menunggu ketok palu hakim. Dalam hati Rubby berdoa semoga dia bisa menjawab pertanyaan dari teman-temannya.


'Ahha!' Muncul ide nakal dipikiran Rubby. Rubby menggerakkan ujung jarinya dan melakukan sihir. Mulutnya memang terkatup namun lidahnya bergerak saat Rubby membaca mantra.


Sihir Rubby meliputi seluruh ruangan kelas. Rubby ingin membuat teman-temannya menutup mulutnya tanpa banyak bertanya. Apa yang Rubby lakukan tidak luput dari pengamatan dosen Chu.


Merasa tidak ada yang bertanya maka dosen Chu lah yang bertanya pada Rubby.


Rubby menjawab semua pertanyaan yang di ajukan oleh dosen Chu dengan mudah meskipun tadi dia tidak mendengarkan penjelasan dosen Chu.


'Anak ini sungguh luar biasa.' batin dosen Chu. Rasa kagumnya pada Rubby semakin bertambah besar. Dia merasa bahwa Rubby pantas untuk di kejar meskipun dia tahu jika Rubby sudah memiliki seorang kekasih.


Bel tanda pelajaran jam terakhir berakhir. Rubby bernafas lega. Akhirnya dia bisa terbebas dari si dosen killer.


"Rubby bisa tolong bantu saya membawa buku-buku ini ke ruangan saya?" dosen Chu langsung meletakkan buku-buku itu di depan Rubby tanpa menunggu jawaban dari Rubby.


Baru saja bergerak satu langkah, Rubby harus berhenti dan kembali ke hadapan dosen Chu.


"Tapi Pak!" Rubby mencoba protes tapi dosen Chu sudah melangkah lebih dulu meninggalkannya.


Terpaksa Rubby mengikuti dosen Chu ke ruangannya. Rubby menghentakkan kakinya karena kesal. Roman mukanya jangan di tanya lagi, dia terlihat kusut karena sedang marah dan kesal.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2