
Rubby tidak menjawab karena dia sedang menahan energi yang mencoba mengendalikan tubuhnya. Energi itu begitu kuat hingga membuat Rubby sedikit kewalahan untuk melawannya. Selagi dia masih sadar, Rubby segera menutup beberapa jalur di dalam meridianya.
Wu Jin Ming menepikan mobilnya lalu mematikan mesinnya. Kemudian dia berbalik menghadap ke arah Rubby setelah melepaskan sabuk pengamannya. Tangan Rubby yang menyala, bergerak-gerak seakan ingin menyerangnya.
"Minggir! Arrgggh! Menjauhlah!" pekik Rubby dengan suara yang berat. Giginya saling bertaut dan tidak bergerak sama sekali saat dia bicara seperti ada yang menahan kedua rahanngnya.
Wu Jin Ming tidak ingin menghiraukan perintah Rubby. Bukannya menjauh, dia malah mendekat dan memegangi tangan Rubby yang bergerak tak terkontrol. Tanpa dia duga, tangan Rubby yang memiliki tanda, bergerak sangat cepat dan mencekik lehernya.
Sebuah energi yang cukup besar melilit saluran pernapasan Wu Jin Ming dan membuatnya kesulitan untuk bernapas.
"Sudah kubilang jangan mendekat. Harusnya kamu mendengarkanku!" seru Rubby lirih denga suara tercekat seperti sebelumnya.
Tangan Rubby yang lain mencoba untuk membantu Wu Jin Ming melepaskan cekikan itu. Usaha mereka berhasil. Tangan itu terlepas dari leher Wu Jin Ming, tetapi semuanya belum berakhir, kesadaran Rubby menghilang.
Tubuh Rubby kini sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan An Ning.
"Rubby! Sadarlah!" pekik Wu Jin Ming sambil terus menghalau tangan Rubby yang tidak mau berhenti menyerangnya.
Rubby membuka matanya namun seratus persen itu bukan dirinya. Tatapannya yang dingin dan penuh amarah seakan ingin menelan Wu Jin Ming utuh. Aura di wajah Rubby pun berubah, dia terlihat seperti seorang yang sedang sakit gigi. Mulutnya rapat dan kedua gerahamnya terus beradu.
"Aku tahu siapa kamu! Cepat katakan apa maumu, An Ning?" Wu Jin Ming sengaja menekankan kata An Ning.
"Sshh ... shh ... sshhh ...!" Kekuatan An Ning kelihatannya ingin berbicara namun dia tidak bisa mengakses pita suara Rubby.
Sebagai seorang siluman juga, Wu Jin Ming mampu memahami apa yang ingin diungkapkan oleh An Ning walaupun hanya melihatnya dari gesture-nya saja. Saat ini An Ning merasa marah dan kecewa padanya. Di balik sikap diamnya ternyata air mata Rubby yang menetes membuat An Ning tidak rela jika orang yang dia sayangi tersakiti.
"Aku tidak bermaksud untuk menyakitinya. Tenanglah! Aku sudah melepaskan masa laluku dan melupakannya." Wu Jin Ming memberi tatapan kesungguhan pada naga An Ning.
__ADS_1
Mata harimau memang memiliki daya kewibawaan yang tinggi. Sorotnya mampu melemahkan tatapan lain yang bersitatap dengannya. Kekuatan An Ning terlihat langsung luluh dan melemah. Tubuh Rubby kembali normal setelah energi An Ning kembali tersimpan di dalam simbol yang melekat di tubuhnya.
"Rubby, maafkan aku! Aku tidak tahu jika sikap diamku membuatmu bersedih. Aku hanya terkejut saja melihat Mimi melakukan hal nekat yang membuatnya merasakan mati untuk yang kedua kali." Wu Jin Ming mengelus kepala Rubby lembut lalu mengecup keningnya.
Kemudian dia mengatur posisi duduk Rubby agar lebih nyaman sebelum dia kembali melajukan mobilnya.
Rasa lelah mendera Wu Jin Ming, membuatnya tidak ingin berlama-lama melakukan perjalanan. Untuk mempersingkat waktu, Wu Jin Ming melakukan teleportasi yang membawa mobilnya sampai di rumahnya dalam hitungan detik. Dalam melakukan teleportasi memang membutuhkan energi yang besar namun itu tidak jadi masalah untuknya karena hari ini dia belum mencapai batas maksimum energinya.
Mobil Wu Jin Ming sudah berada di halaman rumahnya. Dia segera membuka pintu dan menggendong Rubby ke dalam rumahnya. Pelayan yang sudah melihatnya dari kamera pengawas, segera membukakan pintu untuk mereka.
Rubby masih saja tertidur pulas ketika Wu Jin Ming membaringkannya di atas tempat tidur. Seulas senyuman menghiasi wajah Wu Jin Ming sebelum dia beranjak untuk membersihkan dirinya. Dia sengaja membiarkan Rubby tetap tertidur dan tidak ingin membangunkannya.
Setelah selesai mandi, Wu Jin Ming tidak menyusul Rubby untuk tidur. Dia membuka kertas mantra penyatuan jiwa yang dia dapatkan dari Sekte Air Api Suci. Tulisan dan isinya cukup bisa dia mengerti.
Beruntung Wu Jin Ming dan Rubby belum melakukan penyatuan jiwa sebelum mendapatkan kertas itu. Jika tidak bisa fatal akibatnya. Di dalam kertas itu dijelaskan bahwa Wu Jin Ming sebagai pihak pendamping harus menguasai Jurus Keselarasan Jiwa yang tertulis dalam lembaran itu.
Dengan mantranya, Wu Jin Ming membuat kertas itu menampilkan semua simbol-simbol yang menuntunnya untuk mempelajari Jurus Keselarasan Jiwa.
Wu Jin Ming mulai mengambil posisi duduk yang benar. Kedua tangannya melakukan gerakan sesuai lambang yang ada di udara. Aliran energi mulai terpancar di tangan Wu Jin Ming dan membentuk sebuah simbol yang sama dengan yang ada di dalam kertas mantra.
Gerakan demi gerakan pun dilakukan dengan fokus dan penuh penghayatan. Semuanya terlihat mudah namun karena banyaknya simbol yang harus di terapkan, membuatnya sulit untuk diingat tanpa melihat kertas mantra itu. Wu Jin Ming merasa perlu untuk mengulanginya beberapa hari ke depan agar semuanya tersalin dalam ingatannya.
Latihan malam itu harus dia akhiri karena tenaganya tidak mampu untuk melanjutkannya lagi. Setelah kertas mantra dia simpan, Wu Jin Ming mengubah posisi duduknya untuk bermeditasi. Hari ini dia sudah cukup banyak kehilangan energi. Untuk menambal itu, Wu Jin Ming harus berkultivasi malam ini.
••••
Rubby mengerjap-ngerjapkan matanya ketika hari sudah pagi lalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sosok suaminya. Dalam ingatan terakhirnya dia berada di dalam mobil dan mengalami gangguan intern dari tubuhnya. Kepalanya terasa sakit ketika tidak berhasil untuk mengingat apa yang terjadi setelahnya.
__ADS_1
"Uhh, sebel!" Rubby mengacak-acak rambutnya yang memang sudah berantakan karena bangun tidur.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka namun belum terlihat siapa yang datang. Setelah memutar gagang pintu dengan sikunya, Wu Jin Ming berputar lalu mendorong pintu dengan punggungnya. Dia tidak bisa membukanya dengan kedua tangannya karena saat ini dia membawa nampan berisi sarapan untuk mereka berdua.
Rubby terbengong dengan mulut yang menganga melihat kedatangan Wu Jin Ming.
"Selamat pagi, Sayang!" sapa Wu Jin Ming sambil berjalan membawa nampan ke sebuah meja yang dikelilingi sofa, tempat di mana mereka biasa duduk bersantai.
"Pagi." Rubby masih belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya.
Ini terasa aneh baginya. Tidak biasanya Wu Jin Ming melakukan hal seperti ini, bahkan dia bangun tidur belakangan. Rubby terus saja melihat ke arah Wu Jin Ming dan pandangannya mengikuti setiap gerakan yang dilakukannya.
"Sudah jangan bengong seperti itu. Segera cuci muka dan sikat gigi. Kamu pasti lapar karena semalam tidak sempat makan."
Wu Jin Ming bicara di sela-sela mengupas buah apel untuk mereka berdua.
"Ah, iya." Rubby turun dari tempat tidur tetapi matanya masih terus melihat ke arah Wu Jin Ming.
"Aku tahu aku tampan, tapi sebaiknya kamu melihat jalan dulu, Sayang. Awas di depanmu ada meja!" seru Wu Jin Ming sambil menahan tawa.
Wajah Rubby memerah mendengar kata-kata Wu Jin Ming. Ternyata benar. Dia hampir saja menabrak meja rias yang ada di hadapannya.
****
Bersambung...
__ADS_1