TIGER WU

TIGER WU
JODOH UNTUK HAM


__ADS_3

Sebagai seorang wanita kekinian, Rubby paham jika ada sesuatu yang berbeda dalam diri Ham. Gelagatnya berubah menjadi aneh dan terlihat salah tingkah ketika melihat seorang dayang. Wu Jin Ming yang pencemburu memang tidak mempekerjakan pelayan pria di rumahnya. Namun demikian semua dayang wanita itu bisa ilmu bela diri karena semua siluman harimau memiliki darah petarung.


"Ehhemm! Ham! Apa kamu mau makan?" tanya Rubby ingin mengetahui lebih jauh tentang perubahan sikap Ham.


Mendengar ucapan Rubby, Wu Jin Ming melirik tajam ke arahnya. Ada hawa panas yang menyulut hatinya ketika Rubby bersikap manis pada Ham. Sifat pencemburu Wu Jin Ming kadang memang kelewat batas.


Tidak ingin masalah bertambah runyam, Rubby segera menarik Wu Jin Ming sedikit menjauh dari mereka untuk menjelaskan semuanya. Setelah diperkirakan Ham tidak bisa mendengar bisik-bisik mereka, Rubby meminta Wu Jin Ming untuk menunduk. Awalnya Wu Jin Ming merasa malas namun akhirnya menurut juga setelah Rubby mengeluarkan jurus ngambek dengan mengerucutkan bibirnya.


Rubby membisikkan apa yang ada di benaknya dan mengungkapkan keinginannya untuk memastikan jika Ham naksir sama salah satu pelayannya.


Mendengar penuturan Rubby, roman muka Wu Jin Ming berubah. Dia tidak lagi garang seperti sebelumnya. Ternyata dia telah salah paham pada Rubby.


"Aku pikir kamu naksir dia, By," bisik Wu Jin Ming.


"Mana ada! Belum ada orang yang bisa menggeser harimau tampanku ini." Rubby merapikan hanfu Wu Jin Ming yang sebenarnya sudah rapi.


"Jadi kamu mengharapkan akan ada yang menggeser aku dari hatimu, Haa!" Wu Jin Ming menoel hidung Rubby gemas.


"Aahh, nanti kalau hidungku copot bagaimana!" Rubby memegangi hidungnya yang tidak sakit itu.


"Lebai!" Tanpa permisi, Wu Jin Ming mengangkat tubuh Rubby dan membawanya kembali menyusul Ham yang tengah asyik mengobrol bersama para dayang.


Melihat kedatangan Rubby dan Wu Jin Ming mereka semua terdiam. Ham yang baru tahu jika Wu Jin Ming adalah seorang Raja sekaligus Dewa yang disegani langsung menjatuhkan diri dihadapkan Wu Jin Ming dan Rubby. Mengingat tingkah lakunya tadi dia sangat merasa lancang pada kedua orang yang sangat ditakuti di alamnya itu.


"Ampuni hamba Yang Mulia Raja dan Ratu. Hamba sudah bersikap lancang pada Yang Mulia berdua!" ucap Ham tidak berani menatap wajah Wu Jin Ming dan Rubby.


"Bangunlah!" perintah Wu Jin Ming.


Ham berdiri di hadapan Wu Jin Ming dengan wajah yang masih menunduk.


"Kamu kenapa, Ham? Jangan-jangan kamu kerasukan setan bukit San!" seru Rubby sambil terkekeh geli.


"Maafkan hamba Yang Mulia Ratu, hamba baru tahu jika kedudukan kalian benar-benar sangat tinggi."


"Pasti kalian yang bilang!" lirik Rubby kepada para pelayannya.


Para pelayan itu tersenyum kikuk membenarkan apa yang dikatakan oleh Rubby.


"Jangan lihat kedudukanku di sini! Dan jangan panggil aku Yang Mulia! Aku tidak suka sesuatu yang terlalu berlebihan. Bersikaplah biasa seperti seorang karyawan pada bosnya! Tidak usah terlalu hormat namun juga jangan terlalu kurang aja! Oke!" jelas Rubby yang berbicara di dalam gendongan Wu Jin Ming.


"Siapkan makan untuk kami! Ham! Kamu boleh ikut makan," ucap Wu Jin Ming sambil berjalan ke ruang makan.


Di ruang makan, Ham masih berdiri seperti patung. Dia tidak berani duduk atau melakukan apapun tanpa perintah dari Wu Jin Ming atau Rubby. Sikap patuhnya itu membuat jiwa jahil Rubby ingin mengerjainya.


"Duduk, Ham!" pekik Rubby.


Ham hendak duduk di lantai karena Rubby sengaja tidak menjelaskannya harus duduk di mana. Baru saja pantatnya akan menyentuh lantai Rubby kembali berteriak padanya.


"Eitt... eit... siapa yang menyuruhmu duduk di situ! Merusak pemandangan saja. Berdiri!" teriak Rubby.


Ham kembali berdiri dan menunggu perintah Rubby namun Rubby malah diam dan memakan makanan yang tersaji di atas meja makan.


Wu Jin Ming yang menyadari keisengan istrinya hanya menggeleng sambil tertawa geli.


"Duduklah di kursi dan ikutlah makan bersama kami." ucap Wu Jin Ming lembut.


"Di sini Tuan?" tanya Ham ragu-ragu sambil menunjukkan kursi di depannya.


"Iya! Ngapain juga kamu duduk di lantai, coba! Makanlah!" Rubby tidak tega juga pada Ham. Batinnya bersorak senang telah berhasil membuat Ham kebingungan.


Rubby makan sambil memperhatikan Ham yang beberapa kali tertangkap basah sedang melirik salah satu dayangnya. Setelah mendengar cerita Rubby, Wu Jin Ming juga ikut-ikutan memperhatikan gerak-gerik Ham.


"Bolehkah aku ingin bertanya sesuatu padamu, Ham?" tanya Wu Jin Ming.


"Silakan Tuanku!"


"Berapa umurmu sekarang?"


"Kurang lebih dua ribu tahun, Tuanku!"

__ADS_1


"Oh, kamu lebih muda dariku. Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Wu Jin Ming santai.


"Uhukk... uhukk...!" Pertanyaan Wu Jin Ming yang mengejutkan membuatnya tersendak saat makan. Si dayang cantik segera menolongnya mengambilkan minum dan menepuk punggungnya.


"Aarrgghh!" pekik Wu Jin Ming ketika Rubby mencubit pahanya sambil meringis dan memelototinya.


"Lupakan pertanyaan Kak Wu dan habiskan makananmu. Kalau kamu sudah siap langsung nikahi saja wanita yang kamu sukai, Ham. Dua ribu tahun menjadi jomblo pasti cukup menyiksa." ucapan Rubby lebih mengagetkan baginya.


Mendengar ucapan Rubby, Ham segera mengambil gelas yang penuh berisi air minum. Satu gelas air itu dia habiskan dalam sekali minum untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Kata-kata mengejutkan dari kedua majikannya tersebut membuatnya kehilangan selera makan. Hatinya terus bergetar apalagi saat memandang Cici si dayang cantik.


"Atau kamu jangan-jangan tertarik pada pria, Ham? Awas saja kalau kamu melirik suamiku!" Rubby kembali berbicara sambil menancapkan garpunya dengan keras pada daging di piringnya.


"Tidak Nyonya! Aku tertarik pada wanita! Hanya saja... tidak ada wanita yang menyukaiku sampai saat ini."


Rubby tersenyum saat mendengar jawaban jujur Ham.


"Kamu kurang agresif pada wanita yang kamu sukai. Apa perlu aku carikan jodoh untukmu?"


Pertanyaan Rubby membuat Ham melotot ke arahnya karena saking terkejutnya.


"Kenapa, Ham? Kamu sampai bengong begitu, kamu tidak naksir padaku, kan?" goda Rubby narsis.


"Mana... mana... saya berani, Nyonya!" Ham buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Wu Jin Ming tidak ingin ikut andil dalam keisengan Rubby. Dia sibuk memakan makanannya karena menu yang di masak hari ini adalah menu favoritnya.


"Pelayan!" panggil Rubby.


"Saya Nyonya!" jawab mereka serempak.


Mereka berbaris di belakang Rubby dan siap untuk menerima perintah.


"Menurutmu Ham itu tampan tidak?" Pertanyaan Rubby membuat wajah mereka bersemu merah.


Sebagian di antara mereka ada yang mengangguk, ada yang tertunduk malu-malu, dan ada pula yang diam saja.


Rubby yang telah menyelesaikan makannya memutar kursinya untuk menghadap para dayang. Mereka tertunduk dan tidak berani menunjukkan wajah mereka pada Rubby. Perasaan mereka tidak enak, pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh majikannya itu.


Ham terhenyak mendengar penuturan Rubby. Dia tidak menyangka jika majikannya itu tahu dengan keinginannya.


'Jangan-jangan Nyonya Rubby bisa membaca pikiranku! Ahh, bisa gawat kalau begitu! Aku harus berhati-hati setelah ini,' gumam Ham dalam hati.


Di antara sepuluh dayang, lima di antaranya mengacungkan jari termasuk Cici. Wajah Ham berseri-seri ketika melihat senyum manis Cici yang malu-malu ketika mereka tanpa sengaja bertemu pandang.


Malam itu menjadi saksi perjodohan Ham dengan Cici. Rubby memperbolehkan Ham membawa Cici pulang untuk di pinang secara resmi di hadapan keluarga dan klannya. Kehilangan seorang dayang tidak akan membuat rumahnya berantakan karena masih ada sembilan dayang di sana.


••••


Pagi hari di rumah Rubby terasa sibuk seperti biasanya. Wu Jin Ming masih tertidur pulas ketika Rubby telah selesai mandi dan bersiap untuk bekerja. Merasa jengah dengan itu, Rubby menggelitik Wu Jin Ming dengan bulu kemoceng.


Merasa terganggu dengan rasa geli di hidung dan telinganya, akhirnya Wu Jin Ming mengeliat dan terbangun.


"Apaan, sih, By? Masih pagi juga!" Wu Jin Ming kembali memeluk gulingnya.


"Sudah siang! Aku ada jadwal pagi hari ini." Rubby beberapa kali melirik arlojinya.


"Hmm."


"Ihhh, buruan bangun! Telat, nih!" teriak Rubby nyaring.


"Iya... iya...! Hoaammm!" Wu Jin Ming berjalan ke kamar mandi dengan setengah sadar.


Sambil menunggu Wu Jin Ming selesai mandi, Rubby kembali ke depan cermin untuk merapikan penampilannya.


Tokk... tokkk... tokk...


"Siapa, sih, pagi-pagi mengganggu?!" Rubby merasa kesal ketika pintu kamarnya di ketuk pagi-pagi.


Di saat dia harus buru-buru ke agensi, Wu Jin Ming telat bangun dan sekarang di tambah dengan kedatangan pelayan yang mengganggu pagi-pagi.

__ADS_1


"Salam hormat Yang Mulia Ratu!" panglima Ang berlutut memberi hormat pada Rubby.


"Bangunlah! Ada apa pagi-pagi menggangguku?" tanya Rubby kesal.


"Ampun Yang Mulia! Tapi ini sangat mendesak!" seru panglima Ang.


"Katakanlah, ada apa?" Rubby mengernyitkan dahinya.


"Ampun Yang Mulia Ratu. Ini masalah yang sangat penting yang harus saya sampaikan langsung pada Yang Mulia Raja," jelas panglima Ang.


"Hmm, baiklah! Tunggu di ruang tamu! Pelayan! Bawa Panglima Ang ke ruang tamu!" seru Rubby.


Setelah kepergian panglima Ang, Rubby kembali masuk ke kamarnya dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Kak Wu! Panglima Ang datang mencarimu!" seru Rubby dari luar kamar mandi.


"Tunggu sebentar! Aku hampir selesai!"


Rubby berjalan meninggalkan kamar menuju ruang makan untuk sarapan. Dia tidak ingin menunggu Wu Jin Ming karena ada rapat pagi-pagi sekali. Rasanya tidak mungkin bagi Rubby untuk menunggu Wu Jin Ming mengobrol bersama panglima Ang. Sepertinya dia harus berangkat naik taksi hari ini.


Saat Rubby selesai sarapan, di ruang tamu Wu Jin Ming dan panglima Ang sedang terlibat obrolan serius. Mereka sedang membicarakan mengenai pasukan berjubah hitam yang menyerang beberapa wilayah bagian Kerajaan Harimau Suci. Panglima Ang datang untuk melapor dan meminta perintah dari Wu Jin Ming.


"Kak Wu! Aku berangkat duluan, ya!" pamit Rubby melihat Wu Jin Ming masih serius mengobrol bersama panglima Ang.


"Hati-hati, Sayang! Maaf aku tidak bisa mengantarkanmu. Aku tidak ada jadwal hari ini. Kabari aku jika sudah waktunya pulang."


"Baik, Sayang!" Rubby hendak berjalan namun Wu Jin Ming memegang tangannya.


Rubby menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Wu Jin Ming mengingat apa yang dia lupakan.


"Kamu melupakan sesuatu, Sayang!" telunjuk jarinya menunjuk ke pipinya.


Merasa gemas dengan Wu Jin Ming yang rewel di saat dia harus buru-buru, Rubby mencium bibirnya dan sedikit menggigitnya. Panglima Ang menoleh ke arah lain pura-pura tidak melihat.


"Kamu membuatku tidak ingin melepaskanmu, sayang." Wu Jin Ming menarik pinggang Rubby dan merapatkan tubuh mereka.


"Hei, jangan macam-macam! Aku sudah telat!" Rubby mendorong tubuh Wu Jin Ming dan segera berlari meninggalkannya.


Dada Wu Jin Ming masih bergejolak meskipun Rubby sudah tidak terlihat lagi. Dia melupakan keberadaan panglima Ang yang sejak tadi menunggunya berbicara.


"Eheemm! Yang Mulia! Bagaimana rencana kita selanjutnya?" tanya Panglima Ang mencoba menyadarkan Wu Jin Ming yang masih melamun.


"Oh, iya! Aku akan pergi bersamamu. Hari ini aku sedang tidak bekerja."


"Lalu Yang Mulia Ratu?" panglima Ang sedikit mengkhawatirkan keadaan Rubby jika dia di tinggal sendiri di sini. Bahaya bisa saja datang tanpa di duga.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Dia sekarang bisa diandalkan meskipun sifatnya kadang masih seperti anak-anak."


"Baik Yang Mulia!"


Wu Jin Ming dan Panglima Ang pergi ke alam siluman dengan portal yang menembus batas ruang dan waktu. Dalam sekejap mereka telah sampai di luar istana Kerajaan Harimau Suci. Untuk mempersingkat waktu, Wu Jin Ming tidak ingin masuk ke istana dan langsung pergi ke lokasi kerusuhan bersama panglima Ang.


Demi kelancaran penyelidikannya, Wu Jin Ming dan panglima Ang tidak memakai atribut Kerajaan yang membuat mereka mudah di kenali. Mereka menyamar seperti siluman biasa yang berkelana mencari penghidupan. Wu Jin Ming mendapatkan ide menyamar ini setelah melakukannya bersama Rubby di restoran beberapa waktu lalu.


Tempat pertama kali yang mereka tuju adalah wilayah siluman rubah. Wilayah ini sedikit jauh dari pusat Kerajaan Harimau Suci. Menurut keterangan Panglima Ang dari mata-mata yang dia kirim, pasukan jubah hitam menyerang wilayah ini tadi malam. Banyak sekali prajurit kerajaan yang sedang bertugas di sana menjadi korban.


Dari 100 orang pasukan ada 5 orang tewas, 9 luka ringan dan 15 luka parah. Pagi tadi pihak kerajaan telah menambah pasukan yang berjaga di sana.


Sesampainya di wilayah siluman rubah, keadaan terlihat sepi. Rumah-rumah penduduk tertutup rapat seperti tak berpenghuni dan jalanan terlihat lengang. Tidak tampak aktifitas apapun di sana yang membuat wilayah itu seperti kota mati.


"Ang! Apa yang terjadi di sini? Kenapa aku tidak bertemu seorang pun di tempat ini?" tanya Wu Jin Ming dengan suara berbisik.


"Kejadiannya sangat mengerikan Yang Mulia. Keluarga yang memiliki batu permata di keningnya banyak yang di bantai dan di serap energinya. Pasti para penduduk memilih untuk bersembunyi demi menjaga keselamatan mereka," jelas panglima Ang.


Wu Jin Ming mengangguk mendengar penjelasan Panglima Ang. Kini mereka mencari tempat yang aman untuk membicarakan langkah apa yang harus mereka ambil. Sebelumnya Wu Jin Ming ingin melacak jejak energi yang tertinggal di sana dan meminta panglima Ang untuk menjaganya saat bersemedi.


****


Bersambung...

__ADS_1



Wu Jin Ming


__ADS_2