
Rubby meletakkan dua jarinya di depan hidung Cindy. Masih bernapas. Belati yang menancap di dada Cindy begitu dalam. Mencabutnya dengan paksa hanya akan membuat nyawa Cindy segera melayang.
Belati itu harus dia cabut dengan kekuatan spiritual yang dia miliki. Dalam keadaan darurat seperti ini, Rubby tidak peduli lagi jika Cindy tahu bahwa dia adalah seorang kultivator. Nyawa Cindy lebih penting daripada itu semua.
"Panglima Ang!" panggil Rubby.
"Saya Yang Mulia Ratu," jawab Panglima Ang menunduk hormat.
"Obati orang-orang yang masih bisa diselamatkan!" seru Rubby.
"Baik Yang Mulia!"
Setelah mengatakan itu, Rubby kembali fokus bermeditasi. Cahaya biru bercampur kuning keemasan berkeliling menyelimuti tubuhnya. Dengan mata batinnya Rubby mengarahkan kekuatan itu ke arah pisau belati yang menancap di dada Cindy.
Bersamaan dengan itu, Rubby juga mengalirkan kekuatannya untuk melindungi jantung Cindy agar tetap berdetak. Keringat mengalir deras di kening dan pelipis Rubby. Teknik ini termasuk sulit di mana membutuhkan kejelian dan energi yang besar untuk melakukannya.
Perlahan-lahan pisau belati di dada Cindy mulai tercabut dan melayang ke atas. Darah Cindy tidak mengalir. Hal itu bukanlah hal yang aneh karena saat seseorang dijadikan tumbal maka darah dan energinya akan terhisap oleh kekuatan yang di beri tumbal.
Pisau belati yang telah tercabut itu terbang melayang di atas tubuh Cindy. Rubby membacakan mantra pengembalian jiwa dan berharap Cindy bisa kembali seperti sebelumnya. Tangan Rubby melakukan gerakan-gerakan indah seakan sedang melakukan tarian. Cahaya berwarna biru terang terus mengalir dari telapak tangan Rubby dan masuk ke dalam tubuh Cindy.
Luka di dada Cindy sudah menutup sempurna. Wajah Cindy masih saja pucat dengan mata terpejam. Rubby mengakhiri pengobatannya dan melemparkan pisau belati iblis itu jauh-jauh.
"Cindy! Bangun Cin! Cindy!" teriak Rubby.
Dari arah lain terlihat beberapa orang datang mendekati Rubby dan Cindy. Mereka berjalan sambil memegangi dadanya. Meskipun mengalami luka dalam yang cukup serius, mereka berhasil diselamatkan oleh Panglima Ang.
"Cindy!" panggil seorang lelaki paruh baya yang datang bersama seorang wanita yang seumuran dengannya. Mereka adalah orang tua Cindy.
Penampilan mereka sangat berantakan dengan baju yang terkoyak dan robek di mana-mana. Di wajah mereka terdapat luka lebam. Mereka berjalan terseok-seok karena beberapa bagian tubuh mengalaminya luka bekas pukulan.
Rubby terdiam. Sepertinya mereka semua telah melihat apa yang dilakukannya. Itu artinya mereka tahu jika dia adalah seorang kultivator. Setelah keadaan membaik, Rubby harus membuang ingantan mereka demi menjaga keamanannya.
__ADS_1
"Paman... Bibi...!" sapa Rubby pada orang tua Cindy.
"Rubby! Bagaimana keadaan Cindy?" tanya mama Cindy.
"Cindy selamat bibi tetapi dia belum sadarkan diri." Rubby membuka ikatan tali di tangan dan kaki Cindy.
Mama Cindy menyandarkan kepala putrinya di pahanya. Air matanya menetes melihat wajah pucat Cindy. Papa Cindy memijat-mijat bagian kaki dan tangan Cindy untuk memperlancar aliran darahnya.
"Uhukk! Uhukk!" Cindy terbatuk.
Perlahan mata Cindy mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Setelah terbuka sempurna, Cindy melihat ke sekelilingnya. Dia segera duduk dan terlihat ketakutan seperti telah mengalami mimpi buruk.
"Cindy!" pekik Rubby dan kedua orang tua Cindy bersamaan.
Cindy kembali terbatuk dan memuntahkan darah segar. Jantung dan organ dalam tubuhnya sudah rusak parah. Rubby belum bisa mengobati hingga tahap itu. Bukan hanya dengan kekuatan spiritual saja namun juga membutuhkan ramuan dalam bentuk pil obat.
Ilmu pengobatan dari Pendekar Sakti Chin memang sudah diwariskan padanya namun Rubby belum juga mempelajarinya. Butuh beberapa tanaman obat yang harus dia kumpulkan terlebih dahulu sebelum membuat ramuan obat.
"Jangan pikirkan itu! Maaf aku datang terlambat," sesal Rubby.
"Tidak! Pasukan berjubah itu bergerak sangat cepat. Para biksu pun harua bertaruh nyawa untuk menghadang mereka. Aku terjebak di sini sejak semalam. Uhukk! Uhukk!"
"Sudah! Berbaringlah! Jangan terlalu banyak bicara. Kamu akan segera sembuh dan kita akan sama-sama lagi." Rubby membantu Cindy untuk kembali berbaring dipangkuan mamanya.
"Mama... papa... maafkan Cindy. Cindy belum bisa membahagiakan Mama dan Papa." Bulir bening mengalir dari sudut mata Cindy.
"Jangan bicara itu lagi! Mama dan papa sangat menyayangi kamu. Kita akan baik-baik saja dan kembali pulang dengan selamat." Mama Cindy tidak kuasa menahan air matanya.
"Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jantung ini rasanya sakit sekali." Cindy meringis kesakitan dengan wajah yang kian memucat.
"Bertahanlah Cindy! Jangan membuatku khawatir! Kamu punya hutang padaku untuk mengajakku ke pantai di hari ulang tahunmu!" seru Rubby.
__ADS_1
"Maafkan... aku... Rubby...." Cindy memberi isyarat pada Rubby untuk mendekat. Rubby pun menunduk dan mendekatkan telinganya. Cindy membisikkan sesuatu yang membuat Rubby terhenyak.
Setelah mengatakan apa yang selama ini dia rahasiakan, napas Cindy semakin tidak teratur. Tubuhnya menggeliat lemah karena menahan sakit yang luar biasa. Itu tidak berlangsung lama. Setelah itu dia tidak bergerak lagi dan matanya tertutup rapat.
Tangis pilu terdengar memenuhi ruangan itu. Semua orang yang selamat ikut bersedih melihat kematian Cindy.
Rubby berdiri dan melihat banyak sekali korban meninggal di sana. Rata-rata mereka terkena luka tusuk di bagian organ vitalnya. Biksu dan warga sipil yang selamat tubuhnya masih sangat lemah. Mereka akan sangat kesulitan untuk mengkremasi atau mengubur jenazah yang jumlahnya cukup banyak.
"Panglima Ang!" panggil Rubby.
"Saya Yang Mulia Ratu!" Panglima Ang berjalan menghampiri Rubby.
"Apa kamu ada ide untuk mengatasi masalah ini?" tanya Rubby.
Panglima Ang berpikir sejenak lalu membisikkan sesuatu ke telinga Rubby.
"Baiklah aku mengerti!" Rubby mengangguk.
Rubby membuat semua orang yang berada di sana tertidur. Panglima Ang menutup pintu dan berjaga supaya tidak ada yang masuk ke sana. Setelah di rasa aman, Rubby merubah wujudnya menjadi Putri Virs.
Cahaya putih terang menyelimuti seluruh kuil itu. Perubahan wujud Rubby menimbulkan getaran dan gelombang udara yang menyebabkan semua lonceng di kuil itu berbunyi. Tentu itu akan mengundang rasa penasaran penduduk yang tinggal di sekitar kuil. Putri Virs harus segera menyelesaikan misinya.
Tubuh Putri Virs melayang di udara. Tangannya memutar tongkat kebesarannya dan memancarkan energi pemulihan kepada semua orang yang selamat. Setelah energi terserap ke dalam tubuh mereka, Putri Virs membaca mantra penghilang ingatan tentang dirinya.
Dengan wujudnya sebagai Putri Virs, Rubby bisa merasakan sedang ada beberapa orang yang datang menuju ke sana. Suara lonceng kuil yang terus berbunyi dan cahaya tubuh Rubby yang memancar membuat mereka berbondong-bondong untuk melihatnya. Setelah misinya selesai Rubby kembali ke dalam wujud manusia dan berjalan lambat menuju ke arah Panglima Ang.
Panglima Ang tahu saat ini ratunya kehabisan banyak tenaga dalam. Di luar terdengar langkah orang hendak membuka pintu. Secepat kilat Panglima Ang merubah dirinya menjadi seekor harimau putih dan menyambar tubuh Rubby. Mereka melesat di saat orang yang datang membuka pintu kuil.
****
Bersambung...
__ADS_1