TIGER WU

TIGER WU
SIDANG MENDADAK


__ADS_3

Bella dan Rubby mengambil tempat duduk di depan Wu Jin Ming dan Panglima Dao. Mereka berempat saling berhadapan. Para pelayan dengan cepat menyiapkan makanan mereka. Tentu saja makanan yang mereka masak lebih cepat matang dan lezat karena para pelayan itu bukan manusia.


"By! Mereka cepet banget masaknya? Baru juga beberapa menit kita duduk. Memasakan mereka sudah ada yang matang."


Wajah Bella terlihat keheranan dan terus melihat mengikuti gerakan cepat para pelayan Rubby yang hampir tidak terdeteksi oleh mata normalnya.


"Mereka adalah siluman," jujur Rubby.


Mata Bella membulat sempurna karena shok dengan jawaban Rubby. Dalam otaknya siluman adalah makhluk yang jahat dan suka membuat keributan. Selama berada di Kerajaan Ratu Ivo dia berkali-kali melawan siluman. Awalnya dia sangat takut dan merasa payah.


"Napa mata kamu sampai melotot gitu, Bell? Masa prajurit takut sama siluman, malu-maluin tauk!" ledek Rubby.


"Si... siapa yang takut, juga. Aku cuma heran aja. Apa mereka tidak membahayakan kamu dan manusia yang ada di sini?"


"Mereka adalah para dayang yang bekerja di istana Kerajaan Harimau Suci, mana mungkin mereka membahayakan raja dan ratunya. Kamu lupa kalau suamiku juga seorang siluman?"


"Iya, juga, sih! Kak Tiger tidak pernah menggigit kamu kan, By?"


"Pertanyaan konyol macam apa itu? Hahaha.... Kalau dia gigit mungkin Rubby sudah jadi nisan sejak lama, Bella!" jawaban Rubby membuat Wu Jin Ming dan panglima Dao ikut terkekeh.


"Hihi.... Aku pikir dia galak dan suka menggigit." Bella menyatukan ujung telunjuknya sambil meringis.


"Aku memang suka menggigit, Bella, tapi tidak sampai berdarah. Bukannya takut, Rubby malah minta lagi dan lagi." Kata-kata Wu Jin Ming membuat wajah Rubby tersipu malu.


"Kak Wu! Bisa diam nggak!" teriak Rubby dengan bibirnya yang mengerucut seperti bebek.


"Aku masih anak di bawah umur. Lebih baik aku makan saja."


Ucapan Bella mendapatkan hadiah toyoran di kepalanya dari Rubby.


"Anak-anak udah pinter pacaran!" jawab Rubby jengah sambil mendelik.


"Ihh, jangan main ketok-ketok kepalaku dong! Bisa gegar otak ringan kalau begini caranya."


"Panglima Dao! Urus pacar lebai kamu ini!" teriak Rubby sambil ancang-ancang berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


Bella ingin mengejarnya namun Rubby sudah jauh dan naik beberapa anak tangga sambil menjulurkan lidahnya.


"Kalian berdua makanlah. Aku susul Rubby ke atas dulu. Setelah bersih-bersih kami akan segera turun," pamit Wu Jin Ming yang sengaja ingin memberi ruang untuk Bella berduaan dengan panglima Dao.


Sepeninggal Rubby dan Wu Jin Ming, suasana di ruang makan menjadi sepi. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring menggema memenuhi ruangan. Sesekali Bella dan Panglima Dao saling mencuri-curi pandang.


Ini yang pertama kalinya mereka berada dalam satu team untuk menjalankan misi. Sebelumnya mereka hanya bertemu saat berada di area latihan saja. Entah siapa yang memulai lebih dulu, sepertinya mereka saling tertarik satu sama lain.


Bella terlihat salah tingkah ketika tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Begitu juga dengan Panglima Dao, dia terlihat malu-malu saat ketahuan sedang memandangi wajah Bella. Jatuh cinta memang bisa membuat seseorang bersikap aneh dan tidak masuk akal.


Rubby dan Wu Jin Ming yang telah selesai bersih-bersih berjalan pelan menuju ke tangga. Mereka kompak saat melangkah turun tanpa suara. Berjalan mengendap-endap seperti maling di rumahnya sendiri. Mereka ingin menangkap basah pasangan hangat yang masih malu-malu untuk mengakui perasaan mereka itu.


"Hayooo! Ketahuan, kan!" teriak Rubby saat melihat tangan Panglima Dao dan Bella saling berpegangan.


Bella dan Panglima Dao sebenarnya tidak sengaja berpegangan tangan karena Bella yang sedang membantu membereskan piring-piring kotor tanpa sengaja menyentuh tangan Panglima Dao.


"Apaan, sih! Orang aku nggak sengaja juga!" Muka Bella terlihat memerah.


"Kalian sudah selesai, kan, makannya? Sini ikut aku kalau sudah selesai!" seru Rubby lalu berjalan menuju ke ruang keluarga.


Rubby dan Wu Jin Ming sudah duduk di sofa ruang keluarga sambil melihat TV. Banyak sekali camilan yang ada di atas meja. Rubby memangku satu mangkok besar buah-buahan dan memakannya sambil menyandarkan kepalanya di dada Wu Jin Ming.


Bella duduk di sofa yang lain sedangkan Panglima Dao duduk di lantai.


"Heh! Ngapain kamu duduk di situ?!" teriak Rubby pada Panglima Dao.


"Maaf Yang Mulia! Saya harus duduk di mana?" Panglima Dao tidak tahu dia harus duduk di mana. Dia merasa tidak pantas untuk duduk di kursi bersama junjungannya.


"Di luar!" jawab Rubby asal.


Panglima Dao yang tidak menyadari keisengan Rubby berjalan hendak menuju ke luar.


"Panglima Dao! Jangan dengarkan dia! Duduklah di sofa itu!" tunjuk Wu Jin Ming pada tempat kosong di samping Bella.


"Baik Yang Mulia!"

__ADS_1


Panglima Dao duduk di samping Bella dengan perasaan canggung.


"Rubby! Jangan bercanda untuk masalah yang serius!" Lagi-lagi Wu Jin Ming memperingatkan Rubby.


Mereka berempat duduk bersama dan sesaat ruangan menjadi hening. Rubby masih terlihat cuek. Dia terus saja memakan anggur dan buah-buahan yang ada di pangkuannya.


"Boleh aku bertanya pada kalian?" tanya Wu Jin Ming memulai percakapan.


"Silakan Yang Mulia!" jawab Bella dan Panglima Dao bersamaan.


"Emm... maaf jika ini sedikit pribadi. Mungkin bagi bangsa siluman memang tidak melarang sebuah hubungan tanpa ikatan tapi aku juga seorang dewa di mana memegang hukum yang harus aku tegakkan."


Ucapan Wu Jin Ming membuat Bella ternganga. Ini pertama kalinya dia tahu jika Wu Jin Ming adalah seorang dewa. Setahun Bella dan Panglima Dao, Wu Jin Ming adalah siluman harimau putih yang juga seorang panglima di Kerajaan Langit.


"Silakan Yang Mulia! Kami siap menjawab apa saja yang membuat Yang Mulia tidak berkenan." Panglima Dao menjawab sambil menyatukan tangannya di dada sebagai penghormatan. Bella melirik ke arah Panglima Dao dan melakukan hal yang sama. Dia merasa sangat minim pengetahuan mengenai sopan santun yang biasa dilakukan di istana.


"Baiklah! Langsung saja kalau begitu. Aku ingin tahu apa kalian sedang terlibat hubungan yang tidak biasa?" tanya Wu Jin Ming.


Mendengar pertanyaan Wu Jin Ming, leher Bella terasa seperti tercekat. Tenggorokannya sangat kering namun dia sangat susah untuk menelan ludahnya. Saat ini dirinya seperti seorang narapidana yang bersiap mendengar putusan hakim.


"Ampun Yang Mulia! Saya... saya...," ucap Panglima Dao terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaannya. Dia melirik ke arah Bella dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Katakan saja! Anggap saja kamu sedang bicara dari hati ke hati dengan sahabatmu. Untuk sementara lupakan statusku sebagai orang yang kamu tinggikan."


"Iya... ngomong aja! Jangan malu-malu!" celetuk Rubby yang tidak sabar menunggu kata-kata dari Panglima Dao.


****


Bersambung...



Panglima Dao


__ADS_1


Bella


__ADS_2