
Setelah beberapa kali mengetuk pintu akhirnya seorang pelayan datang membukakan pintu untuk mereka.
"Selamat sore! Bisa saya bertemu dengan Jimmy?" sapa Wu Jin Ming.
Pelayan itu melihat ketiga tamunya itu bergantian. Lagi-lagi tatapannya tidak bersahabat melihat kedatangan mereka. Sepertinya Jimmy jarang sekali menerima tamu.
"Maaf, ini dengan siapa? Saya sampaikan dulu pada Tuan Jimmy," jawab pelayan itu.
"Bilang saja Tiger Wu datang berkunjung. Kami adalah rekan kerja."
Pelayan itu mengangguk lalu berlalu dari hadapan mereka tanpa memberikan pintu untuk mereka. Pintu rumah Jimmy kembali dia tutup rapat. Sepertinya Jimmy sangat ketat membatasi akses masuk bagi orang luar.
Pintu kembali terbuka dan pelayanan itu mempersilakan mereka bertiga masuk.
"Silakan duduk, Tuan, Nona. Tuan Jimmy akan segera datang. Saya permisi." Pelayan itu pergi dari hadapan mereka.
"Han, tetap tenang. Jangan bertindak gegabah!" bisik Wu Jin Ming ketika mereka telah duduk bersebelahan. Wu Jin Ming berada di tengah, diapit oleh Han dan Rubby.
Jimmy datang ke hadapan mereka dengan wajah yang tidak biasa. Matanya terlihat redup dan tubuhnya berjalan tanpa bersemangat. Sepertinya pekerjaan di agensi hari ini tidak begitu melelahkan.
'Jimmy terlihat lelah sekali. Aku harus turun ke lapangan besok. Jangan-jangan kak Lin terlalu memforsir para kru.'
Rubby berpikir jika manager Lin terlalu kejam mempekerjakan para kru.
Pendapatnya berbeda dengan Wu Jin Ming karena Wu Jin Ming ada di dekat Jimmy dan seharian bekerja dengannya. Hari ini pekerjaan mereka terbilang sangat santai dan tidak melelahkan sama sekali. Pasti ada hal lain yang membuat Jimmy seperti itu.
__ADS_1
"Hai, tumben main ke sini. Angin apa yang membawa kalian datang kemari?" canda Jimmy.
"Ya, elah, Jim. Kita kan temen satu kerjaan. Pengen lah sekali-kali datang ke mari biar kita jadi lebih akrab." Rubby menjawab sapaan Jimmy.
"Boleh... boleh.... Pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian." Jimmy tersenyum menganggapi ucapan Rubby.
Wajahnya yang kalem membuat ekspresinya cenderung terlihat datar.
Han mengamati wajah Jimmy tanpa berkedip seakan-akan ingin menelanjanginya. Energi Haya begitu kuat di tubuh Jimmy. Han tidak sabar membuat Haya muncul di hadapannya.
Haya tidak akan mengenalinya. Selain wujudnya yang sempurna, Wu Jin Ming juga melapisi tubuh Han dengan kekuatan yang membuatnya tidak dikenali. Aura silumannya benar-benar tersembunyi.
"Rumah kamu benar-benar keren, Jim! Desain klasik namun tertata apik!" puji Rubby.
"Iya. Aku menyukainya," imbuh Wu Jin Ming.
'Berwarna apanya? Orang pilihan warna dan ornamen-ornamen yang dipakai terlihat kuno dan seram. Mirip kaya gaya-gaya istana penyihir.'
Rubby bergidik di balik kepura-puraannya.
"Wah, boleh dong kita kenalan dengannya. Kebetulan rumah baru kami masih banyak tempat yang kosong dan cenderung membosankan," ucap Wu Jin Ming memancing siluman ular itu keluar.
Jimmy tersenyum senang mendapatkan pujian itu. Dia tidak menyadari jika Wu Jin Ming dan lainnya sedang mengincar istrinya. Tanpa menaruh curiga diapun meminta pelayan untuk memanggil Haya.
"Panggil, Wella dan sekalian buatkan minun untuk tamuku ini!" seru Jimmy pada pelayannya.
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
Mereka berempat mengobrol santai tentang pekerjaan. Han yang paling banyak diam karena dia tidak begitu mengerti tentang kehidupan di dunia manusia. Sesekali dia hanya mengiyakan ketika Wu Jin Ming membawanya masuk dalam obrolan.
Orang yang ditunggu-tunggu pun datang. Tadi Jimmy mengatakan jika namanya adalah Wella. Namun siapapun namanya di dunia manusia, dia tetaplah Haya yang Han cari-cari.
Wanita itu sangat cantik. Bertubuh langsing, tinggi, berkulit sedikit gelap namun terlihat manis. Rambutnya ikal dengan panjang sebahu. Dandanannya sederhana namun membuatnya terlihat elegan.
Hawa siluman masih terasa meskipun mungkin dia telah berusaha menekannya. Tidak terlihat kekhawatiran di wajahnya karena mungkin dia merasa bahwa ketiga tamunya adalah manusia biasa. Haya pun terlihat tidak mengenali Han dengan penyamarannya.
"Hallo, semuanya!" sapa Haya, lalu duduk di sebelah Jimmy.
"Hallo, Kak!" Rubby yang paling cepat menyahut.
"Maaf kami mengganggu waktu kalian." Rubby kembali berucap.
"Tidak masalah. Kalau boleh tahu kalian ini teman kerja suamiku, ya?" tanya Haya ramah.
"Benar, Kak. Kebetulan kami lewat dan mampir kemari."
"Kami sangat tersanjung dengan kunjungan kalian. Terimakasih banyak sudah mau mampir ke rumah sederhana kami," ucap Haya bersopan santun.
Han mulai kehilangan kontrol. Tubuhnya terasa seperti mendidih ketika melihat buruannya ada di hadapannya. Keringatnya mengucur deras karena menahan gelombang energi dengan frekuensi yang sama yang dikeluarkan oleh Haya.
Wu Jin Ming menyadari hal itu. Dia paham apa yang sedang dialami oleh Han saat ini. Saat ini keadaan Han seperti bom waktu yang setiap saat bisa meledak.
__ADS_1
****
Bersambung...