
Rubby masih terisak sambil menelungkupkan wajahnya di bantal. Bayangan wajah ayahnya masih segar di dalam ingatannya. Pertemuan sesaat itu sangat membekas dan membuatnya sulit untuk merelakannya pergi.
Wu Jin Ming menyentuh bahu Rubby untuk membuatnya berbalik, namun sepertinya Rubby masih enggan untuk menatapnya. Rubby masih larut dalam kesedihannya. Wu Jin Ming ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Rubby.
"By... Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Aku pernah berkali-kali mengalaminya. Orang tuaku, adikku, dan kerabatku satu persatu pergi meninggalkanku." Wu Jin Ming bercerita sambil menatap langit-langit kamar menerawang jauh. Suaranya terdengar sangat sedih.
Tangisan Rubby berhenti setelah mendengar cerita Wu Jin Ming. Perlahan-lahan dia merubah posisi tidurnya. Kini mereka sama-sama menengadah menatap ke atas.
"Aku kehilangan orang tuaku sesaat setelah aku menjadi panglima muda. Setelah itu adik perempuanku satu-satunya juga pergi untuk selamanya. Aku hanya sebatang kara Rubby. Saat ini hanya kamu satu-satunya keluarga yang aku miliki."
"Kak Wu... maafkan aku. Aku sejak kecil dibesarkan oleh mami yang ternyata bukan ibu kandungku. Memang aku nggak pernah kekurangan kasih sayang darinya, tapi aku juga ingin merasakan kasih sayang seorang ayah. Dan tadi... dia... hanya menemuiku sebentar saja." Rubby kembali terisak.
"Bersabarlah Rubby, Setidaknya kamu tahu jika ayahmu sangat menyayangimu dan mempersiapkan semuanya untukmu. Sudah, jangan bersedih lagi. Ayah akan selalu menyertaimu. Percayalah!"
Wu Jin Ming menarik Rubby ke dalam pelukannya.
"Iya, aku nggak akan sedih lagi." Rubby menggosokkan wajahnya di dada Wu Jin Ming untuk mengeringkan air matanya.
"Astaga, Rubby! Di sampingmu kan ada tisu." Wu Jin Ming merasa kesal dengan ulah Rubby.
"Males bangun." Rubby tersenyum nakal. "Kak Wu!" panggil Rubby.
"Hmm."
"Ternyata ayahku seorang penyihir dan pendekar yang hebat. Dia juga seorang ahli pedang," cerita Rubby merasa bangga pada sang ayah.
"Benarkah?" Wu Jin Ming memiringkan tubuhnya menghadap Rubby.
__ADS_1
"Iya. Wajahnya juga nggak kalah tampan darimu. Pantas saja ibu tergila-gila padanya." Rubby terkekeh.
"Hmm. Kalau boleh tahu siapa nama ayahmu atau mungkin kamu juga tahu siapa julukannya?" tanya Wu Jin Ming penasaran.
"Tentu saja. Nama ayahku adalah Chin Mao Zhan dan dia dijuluki sebagai Pendekar Sakti Chin. Ayah mempunyai sebuah pedang legendaris yang di kenal dengan nama Pedang Naga Api Suci."
"Apa?!" Wu Jin Ming membelalakkan matanya. Semua yang terjadi terasa begitu kebetulan. " By, sepertinya kita memang telah ditakdirkan untuk bersama."
"Ya, iyalah. Kan kita memang saling melengkapi. Aku mencintaimu Kakak." Rubby menatap Wu Jin Ming penuh cinta.
"Aku juga. Aku mendapatkan pedang milik ayah mertua kemarin malam. Kamu ingat berita menghebohkan di internet tentang cahaya dan petir di langit malam itu?"
"Denger tadi. Di kampus juga pada heboh bahas itu. Aku kira itu adalah kultivator yang lagi menguji kekuatan, nggak tahunya itu kamu, hmm. Mana nggak ngajak-ngajak aku lagi," gerutu Rubby kesal.
"Kamu tidur sangat lelap, Sayang. Kekuatan dari pedang itu terus saja memanggilku. Mau nggak mau aku harus segera mengambilnya sebelum jatuh ke tangan yang salah," jelas Wu Jin Ming berkata dengan lembut.
"Sangat luar biasa. Aku belum menyelaraskannya dengan energi jiwaku. Aku ingin berlatih pedang di dimensiku karena di dunia manusia kekuatan pedang ini bisa mengundang keributan."
"Kamu benar. Bisa-bisa rumah ini di serbu banyak wartawan jika kamu berlatih di sini," imbuh Rubby.
"By, bisakah kamu mengajariku jurus pedang ayah mertua?" tanya Wu Jin Ming setengah memohon.
"Tentu saja sayangku." Rubby mengecup bibir Wu Jin Ming sekilas.
Saat Rubby ingin menarik wajahnya, Wu Jin Ming menahan tengkuknya. Wajah mereka berada dalam jarak yang dekat, semakin dekat, dan mereka kembali berciuman. Tidak hanya itu, Wu Jin Ming menginginkan hal yang lebih dari itu. Mereka larut dalam gelombang rasa yang menuntut untuk dipersatukan.
...
__ADS_1
Di sela-sela waktu kuliah Rubby menemani Wu Jin Ming berlatih pedang di dalam kalung dimensi. Wu Jin Ming membatasi waktu kerjanya di dunia modeling. Beberapa kali latihan sudah membuat Wu Jin Ming menguasai sebuah jurus pedang.
Malam bulan purnama akan tiba hari ini. Wu Jin Ming dan Rubby juga mengundang Ratu Ivo untuk hadir dalam pesta itu. Beberapa kerajaan sahabat juga mendapat undangan pesta.
Sejak pagi Kerajaan Harimau Suci sudah sangat sibuk. Persiapan pesta harus selesai sebelum hari gelap. Mengingat istana Kerajaan Harimau Suci merupakan tempat yang sakral, pesta akan dilaksanakan di halaman istana.
Halaman istana Kerajaan Harimau Suci di tata sedemikian rupa. Rangkaian bunga beraneka warna menghadirkan aroma wangi yang menyebar di seluruh area. Segala macam hidangan lezat juga telah dipersiapkan di atas meja yang berjajar di bagian samping.
Alunan musik dan para penari menyambut para tamu yang mulai berdatangan. Rubby dan Wu Jin Ming duduk di atas sebuah singgasana yang bertahtakan emas dan intan berlian. Ratu Ivo berada di sebuah kursi yang ada di samping mereka.
Wu Jin Ming dan Rubby memakai hanfu mewah berwarna merah terang kombinasi kuning emas. Penampilan mereka terlihat sangat istimewa. Para tamu terpukau dengan kecantikan dan ketampanan Rubby dan Wu Jin Ming. Hampir semuanya berdecak kagum dan memuji mereka berdua.
Sebenarnya Wu Jin Ming juga ingin sekali mengundang Para Dewa, tapi urung dia lakukan karena pasti akan menimbulkan keributan. Bisa-bisa acara pesta akan berubah menjadi acara pemujaan dan pemberkatan. Padahal Wu Jin Ming mengadakan pesta ini untuk memberitahukan kabar tentang pernikahannya.
Semakin malam tamu undangan semakin banyak yang datang. Mereka larut dalam kegembiraan di sana. Sebagian di antara mereka menggunakan pesta ini sebagai ajang reuni. Mereka saling bertemu dengan sahabat lama, teman seperjuangan, bahkan saudara jauh yang lama tidak bertemu.
Satu hal yang tidak disukai oleh Wu Jin Ming, yaitu minunan keras. Setelah mabuk biasanya para siluman akan berubah kembali ke dalam wujud binatangnya. Mereka sering lupa diri dan membuat keributan karena mereka sudah kehilangan kesadarannya.
Panglima Ang akan kesulitan menertibkan para tamu jika banyak yang mabuk. Meskipun para punggawa dan prajurit banyak yang dikerahkan, itu tidak cukup untuk bisa mengatasi keadaan. Rata-rata para tamu adalah kultivator golongan atas. Mereka sangat sulit di atasi oleh prajurit biasa.
Rubby yang baru sekali ini menikmati pesta di alam lain merasa heran dengan pemandangan yang baru dia lihat pertama kali itu. Bulu kuduknya berdiri melihat berbagai jenis binatang memenuhi halaman istana. Bentuk mereka tidak beraturan karena mereka adalah siluman.
Para penari di minta untuk pergi dari area pesta oleh Wu Jin Ming. Kehadiran mereka akan membuat suasana semakin gaduh. Siluman yang sedang mabuk akan berebut untuk menari bersama mereka.
****
Bersambung...
__ADS_1