TIGER WU

TIGER WU
KULTIVASI SATU JIWA


__ADS_3

Para narapidana yang merupakan siluman kriminal itu terus terdesak ke belakang. Sebagian di antara mereka mengeluarkan energi spiritualnya agar tidak terpental. Mereka bertanya-tanya siapakah gerangan orang yang sekarang sedang berada di hadapannya.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Wu Jin Ming.


Tidak ada jawaban.


"Kalian harusnya berpikir untuk merubah pola pikir kalian menjadi lebih baik agar tidak terus-menerus berada di sini," tutur Wu Jin Ming lagi.


"Siapa kamu berani memerintah kami?" tanya seorang siluman musang dengan wajah garangnya.


Wu Jin Ming tersenyum. "Aku raja kalian," jawab Wu Jin Ming singkat.


"Ha... raja!" semua narapidana saling berbisik. Mereka tidak ada sopan-sopannya sama sekali. Bukannya memberi hormat, mereka malah bersikap biasa saja.


"Yang Mulia Raja, aku ada ide," ucap Rubby. Dia memanggil Wu Jin Ming dengan panggilan yang tak biasa. Di depan rakyatnya, Rubby harus menjaga wibawa suaminya.


"Jangan main-main, Rubby! Ini menyangkut keamanan dan ketertiban di kerajaan ini." Wu Jin Ming mengira Rubby akan memberinya ide konyol seperti biasanya.


Rubby mendekat ke arah Wu Jin Ming. Dia membisikkan sesuatu di telinganya. Penjelasan singkat tentang sangkar perenungan yang dia miliki. Jika Wu Jin Ming mau. Dia akan memberikan beberapa untuk kerajaan ini.


"Tetapi tahanan di sini sangat banyak, Rubby. Mungkin jumlahnya ada ratusan. Apakah kamu punya sebanyak itu?" tanya Wu Jin Ming.


"Lebih dari yang kamu pikirkan. Dan mungkin jumlahnya tak terhitung dan tak ada habisnya. Aku akan memasukkan mereka satu persatu dan jika mereka bisa keluar aku akan memberi mantra agar sangkar yang ditinggalkan tidak menghilang. Sangkar itu bisa di pakai lagi untuk tahanan selanjutnya."


Wu Jin Ming mengangguk. Kali ini dia setuju dengan ide yang diberikan oleh Rubby. Dengan bantuan sangkar perenungan, para siluman itu akan keluar menjadi siluman yang baik.


"Baiklah! Aku setuju dengan idemu. Kamu bisa memulainya sekarang!" titah Wu Jin Ming.


Rubby mengangguk dan berjalan maju. Wu Jin Ming membiarkan Rubby masuk ke dalam penjara. Tentu saja masih dengan pengawasannya.


Sesampainya di dalam penjara, Rubby segera memutar tongkatnya dan memintanya untuk mengeluarkan sangkar perenungan sejumlah tahanan yang ada di sana. Satu demi satu para tahanan itu masuk ke dalam sangkar yang seakan menyedot tubuh mereka kuat-kuat. Tidak ada yang bisa melepaskan diri atau lari darinya.


Wu Jin Ming dan panglimanya merasa takjub dengannya apa yang mereka lihat. Baru kali ini mereka melihat adanya sangkar perenungan. Mereka bahkan belum pernah mendengarnya.

__ADS_1


"Yang Mulia, aku menagih janjimu," ucap Rubby setelah keluar dari dalam penjara.


"Janji? Oh, maksudmu pergi ke Ruang Seribu Cahaya?" tanya Wu Jin Ming.


"Hmm." Rubby mengangguk senang.


"Hamba mohon diri untuk kembali bertugas Yang Mulia." panglima kerajaan Wu Jin Ming berpamitan.


"Pergilah!" seru Wu Jin Ming.


Rubby dan Wu Jin Ming kembali melanjutkan langkah menuju Ruang Seribu Cahaya. Para dayang dan pengawal memberi penghormatan saat bertemu mereka. Rupanya ruangan itu berada di tengah sebuah kolam yang sangat luas.


Untuk mencapai Ruang Seribu Cahaya harus melewati mata air telaga suci. Jika menuju ke sana dengan cara terbang, sudah dipastikan ruang itu tidak akan berfungsi sama sekali. Mau tidak mau Rubby harus menyeberang untuk pergi ke sana.


"Yah, kalau bajuku basah bagaimana? Terus kalau tiba-tiba ada buaya yang muncul dari dalam air gimana? Kakak... apa aku pergi ke sana sendiri?" tanya Rubby sambil merengek manja.


"Nanti akan kering setelah masuk di Ruang Seribu Cahaya. Aku akan menemanimu ke sana. Ayo!" Wu Jin Ming melompat terlebih dahulu ke dalam telaga. Dia mengulurkan tangannya agar Rubby berpegangan padanya.


Rubby menggenggam tangan Wu Jin Ming. Dia berjalan di dalam air. Mula-mula hanya setinggi betis namun semakin jauh semakin dalam.


Tinggi air yang mereka arungi kini sudah setinggi leher Rubby dan sebahu Wu Jin Ming. Rubby tetap berpegangan erat pada Wu Jin Ming. Di dalam air langkahnya begitu berat sehingga membuat kakinya sedikit kaku.


Setelah berjalan hampir setengah jam lamanya, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Wu Jin Ming naik terlebih dahulu ke tepi Ruang Seribu Cahaya. Dia lalu meraih tangan Rubby untuk menolongnya.


"Aku duduk dulu ya, Kak?" tanya Rubby sambil menyelonjorkan kakinya. Seluruh bajunya basah kuyup.


"Jangan lama-lama di sini! Kita harus segera masuk ke dalam ketika pintu itu sudah terbuka," tutur Wu Jin Ming sambil menunjuk sebuah pintu.


"Iya... iya... baiklah!" sungut Rubby.


"Tau kayak gini tadi nggak usah ke sini aja. Pegel nih!" Rubby menunjuk kakinya.


Wu Jin Ming menggeleng. Baru saja mau menyentuh kaki Rubby untuk memijitnya, pintu Ruang Seribu Cahaya mulai bersinar. Tanpa banyak bicara, Wu Jin Ming segera menggendong Rubby mendekati pintu dan menunggunya terbuka.

__ADS_1


Rubby menatap Wu Jin Ming dengan perasaan yang melambung tinggi. Meskipun dia seorang raja, seorang dewa, dan seorang panglima langit yang sangat di segani. Namun dia tidak keberatan untuk melakukan hal yang sederhana untuk kekasihnya.


Perlahan pintu Ruang Seribu Cahaya terbuka. Wu Jin Ming membawa Rubby masuk ke dalam. Di dalam ruangan itu sangat terang. Ruangan yang sangat luas seperti tanpa dinding pembatas.


Wu Jin Ming menurunkan tubuh Rubby. Di tengah ruangan terdapat sebuah lempengan batu pipih panjang. Mereka berjalan ke sana dan duduk di atasnya.


Wu Jin Ming meminta Rubby untuk duduk bersila seperti yang mereka lakukan di dunia manusia. Metode ini disebut dengan kultivasi satu jiwa. Penyerapan energi dari Ruang Seribu Cahaya akan lebih sempurna dengan metode ini.


Mereka berdua mulai berkonsentrasi. Sinar berkilauan mengelilingi tubuh mereka. Perlahan cahaya itu memasuk ke dalam tubuh mereka.


Semakin lama semakin banyak pula energi yang terserap oleh mereka. Tubuh mereka semakin bercahaya. Setelah kutivasi satu jiwa berakhir. Roh mereka akan langsung kembali ke raga mereka.


Karena menggunakan metode kultivasi satu jiwa, maka mereka menyelesaikan kultivasi itu secara bersamaan.


"Lho kok... kita sudah kembali ke rumah?" tanya Rubby keheranan setelah membuka matanya.


"Iya, Sayang. Karena kita sudah selesai menyerap energi maksimal dari Ruang Seribu Cahaya," jelas Wu Jin Ming sambil merenggangkan tubuhnya.


"Padahal Yang Mulia Raja belum menjamuku tadi," gerutu Rubby.


"Oh, jadi permaisuriku sedang kelaparan. Baiklah aku akan memberikan jamuan kalau kita pergi ke sana lagi."


"Telat! Aku maunya sekarang!" sungut Rubby.


"Kamu mau kita kembali ke sana?" Wu Jin Ming tersenyum melihat wajah cemberut Rubby.


"Nggak ah! Aku bercanda aja. Kapan-kapan aku ingin kamu mengajakku ke istanamu dan berkeliling. Tadi aku belum puas berada di sana."


"Istanaku juga milikmu, Sayang. Butuh waktu seharian untuk mengelilinginya. Kamu pasti akan mengeluh capek."


"Kan bisa minta gendong kamu." Rubby tersenyum nakal.


Wu Jin Ming mengacak-acak rambut Rubby karena merasa gemas.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2