TIGER WU

TIGER WU
KESEDIHAN RUBBY


__ADS_3

Tangan Wu Jin Ming menyentuh kelopak teratai putih raksasa di hadapannya. Wajahnya terlihat sangat berbeda dengan sebelumnya. Wajah yang memperlihatkan kasih sayang dan kerinduan seorang ayah kepada calon buah hatinya.


Rubby terus memperhatikan perubahan air muka di wajah Wu Jin Ming. Rasa bersalah menyelimuti hatinya karena sebelumnya dia sudah berprasangka buruk pada Wu Jin Ming. Dia pikir kesedihan dan rasa kehilangan hanya miliknya saja.


"Kak Wu! Apakah calon anak kita akan tahu siapa orang tuanya kalau dia ada di sini sendiri tanpa kita?" Rubby menatap wajah Wu Jin Ming penuh harap.


"Tentu saja! Dia bukanlah bayi biasa, Sayang! Dia adalah darah daging kita yang mewarisi sifat dan kekuatan kita berdua. Setelah terpisah dari ragamu dia langsung melompat memelukku tadi!" Wu Jin Ming terlihat bersemangat ketika menceritakan momen pertemuan singkatnya dengan telur emas milik mereka.


Hati Rubby sedikit menghangat. Dia berjalan mendekat untuk memeluk kuncup teratai putih raksasa di depannya. Mungkin dengan berada di sana, calon buah hatinya bisa lebih aman. Dia bisa sering-sering datang untuk mengunjunginya di istana langit.


Dia bisa fokus untuk melakukan penyatuan jiwa Dewi Bulan dan Putri Virs setelah ini. Di luar juga banyak sekali bahaya yang mengancam keselamatan putranya. Belum lagi jika Zhu Zheng tiba-tiba muncul dan pertarungan di antara mereka tak terelakkan.


"Apa yang harus kita lakukan setelah ini, Kak Wu?" tanya Rubby.


"Kita akan melanjutkan rencana awal kita. Melakukan penyatuan jiwa putri Virs dan Dewi Bulan. Tapi itu tidak mudah, Sayang. Apa kamu siap untuk melakukan proses yang cukup rumit untuk itu?"


"Aku siap!" Rubby tidak lama-lama berpikir.


"Sabar, ya, Sayang! Aku mencintaimu!" Wu Jin Ming merengkuh Rubby ke dalam pelukannya.


Mereka larut dalam pikiran masing-masing. Beban kesedihan di hati mereka sedikit berkurang setelah mereka bisa menerima kenyataan. Ini adalah takdir yang harus mereka lalui bersama. Bukan mereka yang memilih takdir tapi takdir lah yang memilih mereka untuk melakoninya.


"Ehhemm!" Dewa Langit berdehem membuat Rubby dan Wu Jin Ming melepaskan pelukan mereka.


"Dewa Langit! Maaf, kami tidak melihat Yang Mulia datang ke sini," ucap Wu Jin Ming membungkuk hormat.


"Aku baru saja tiba. Mari kita kembali ke ruang perjamuan. Sepertinya kalian belum memakan apapun tadi," ajak Dewa Langit.


"Kami akan menyertai Yang Mulia!" seru Wu Jin Ming.


6 Dewa sudah kembali ke ruang perjamuan terlebih dahulu. Ketika Dewa Langit diikuti oleh Rubby dan Wu Jin Ming keluar taman seribu jiwa 9 Dewi penjaga taman itu berbaris untuk memberi hormat.


Dewa Langit berhenti di depan Dewi terakhir yang berada di paling ujung.


"Dewi! Jagalah telur emas di dalam teratai suci! Jangan biarkan siapapun mendekatinya!" pesan Dewa Langit sebelum melangkah keluar dari gapura taman seribu jiwa.

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia!" Dewi itu menjawab tanpa mengangkat wajahnya.


Mereka bertiga melanjutkan langkah ke ruang perjamuan. Sepanjang perjalanan Rubby terus melihat ke sekeliling. Cahaya yang dia buat saat menjadi Putri Virs masih berpendar menerangi di semua pejuru istana.


Pemandangan malam di istana langit tidaklah segelap di dunia manusia. Tidak jauh beda dengan suasana siang hari, hanya sedikit meredup saja. Aroma wangi menyeruak membuat Rubby yang di landa penasaran menghentikan langkahnya secara mendadak.


Wu Jin Ming yang menyadari istrinya berhenti, ikut menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Sayang?" bisik Wu Jin Ming.


"Ahh! Nggak ada apa-apa, ayok!" Rubby menyambar lengan Wu Jin Ming dan mengajaknya kembali berjalan menyusul Dewa Langit.


Di dalam ruang perjamuan sebagian Dewa Dewi sudah kembali ke istananya sendiri. Hanya tersisa beberapa gelintir orang saja.


Wu Jin Ming membawa Rubby untuk memilih makanannya. Dia tahu jika saat ini Rubby sedang tidak baik-baik saja. Hatinya tentu masih sensitif dan susah untuk di tebak.


Banyaknya makanan di seluruh sudut ruang perjamuan tidak ada satupun yang menarik perhatian Rubby. Dia hanya mengangguk saja jika Wu Jin Ming menawarkan padanya.


"Ayo kita duduk di sana!" Wu Jin Ming menunjuk ke sebuah tempat.


Langkah kakinya kurang bersemangat. Wajahnya yang biasanya terlihat ceria kini terlihat kaku. Senyum mengembang di bibirnya namun juga terlihat sangat dipaksakan.


Mereka duduk saling berhadapan di sebuah bangku yang berlapis beludru.


"Makan, ya?" ucap Wu Jin Ming mengulurkan tangannya yang berisi makanan.


Awalnya Rubby ingin menolak tapi dia tidak tega melihat suaminya yang begitu lembut dan penuh perhatian menyuapinya. Rubby membuka mulutnya perlahan, tanpa dia sadari air matanya menetes saat tangannya menyentuh perutnya. Lagi-lagi dia teringat pada janinnya yang kini tidak ada lagi di sana.


Wu Jin Ming tahu apa yang dirasakan oleh Rubby namun dia tidak ingin mengungkit masalah anaknya lagi.


"Enak nggak?" tanya Wu Jin Ming setelah berhasil memberikan Rubby satu suapan.


"Enak...." jawab Rubby singkat sambil mengunyah pelan.


Air matanya masih saja menetes meskipun dia berusaha menahannya.

__ADS_1


"Come on, Baby! Please don't be cry!" tangan Wu Jin Ming mengusap air mata Rubby yang terus meluncur tanpa permisi.


Bukannya menjawab, Rubby malah berhambur memeluk Wu Jin Ming dan menumpahkan semua yang mengganjal di hatinya.


"Ayo kita beristirahat saja!" Wu Jin Ming meletakkan piring perak berisi makanan mereka dan mengangkat tubuh Rubby ke dalam gendongannya.


Di istana langit Wu Jin Ming memiliki tempat tinggal khusus di mana ayahnya dulu pernah tinggal. Meskipun dia jarang singgah di sana namun para dayang istana langit membersihkan dan merawat tempat itu dengan baik. Sampai saat ini istana Dewa Perang masih terjaga kebersihannya.


"Kami ingin beristirahat terlebih dahulu, Yang Mulia!" pamit Wu Jin Ming pada Dewa Langit sambil membopong tubuh Rubby.


"Pergilah! Dewi Bulan butuh banyak istirahat! Bawa dia ke istana peninggalan ayahmu!" Dewa Langit memanggil beberapa dayang untuk menyertai mereka dan mempersiapkan kebutuhan mereka.


Rubby dan Wu Jin Ming menjadi pusat perhatian di ruang perjamuan. Tatapan iri para Dewi yang mengagumi Wu Jin Ming sangat jelas terlihat terutama Dewi Lamora. Bukan hanya tatapan iri yang terpancar di matanya namun juga tatapan penuh kebencian.


Rasa sakit hati karena tidak mendapat perhatian Wu Jin Ming meskipun dia berusaha mendekatinya membuat Dewi Lamora membenci Rubby orang yang sama sekali tidak di kenalnya.


Tidak semuanya yang ada di sana membenci kebersamaan Wu Jin Ming dan Rubby, sebagian besar mereka mendukung dan mengagumi keduanya.


Wu Jin Ming dan Rubby memasuki pelataran istana peninggalan orang tuanya Wu Jin Ming. Istana itu masih sama seperti dulu. Tata ruang dan perabot yang ada di sana tidak ada yang berubah.


"Indah sekali, Sayang!" ucap Rubby meminta untuk turun dari gendongan Wu Jin Ming.


"Ini istana peninggalan leluhurku," jelas Wu Jin Ming sambil mengikuti Rubby berjalan.


"Tapi istana ini masih sangat bersih dan terawat."


"Tentu saja. Para Dewa tetap meminta para dayang untuk menjaga dan merawatnya dengan baik."


"Eemm... pantas. Ini apa, Kak?" tanya Rubby melihat sebuah ukiran batu di atas meja marmer.


****


Bersambung...


mampir ke karya temen aku ya kak.. sambil nunggu aku up lagi..

__ADS_1



__ADS_2