
Panglima Dao dan Rubby sampai di istana Ratu Ivo. Tubuh Panglima Dao ikut ambruk di dekat tubuh Rubby. Pengawal istana segera melapor kepada Ratu Ivo.
Tubuh Rubby dan panglima Dao segera di bawa ke dalam istana. Panglima Dao diobati oleh tabib istana sedangkan Rubby diobati oleh Ratu Ivo sendiri. Di kamar yang khusus dipersiapkan untuk Rubby, Ratu Ivo memberikan semua fasilitas lengkap di sana.
Ratu Ivo berjalan mendekati Rubby yang terbaring lemas di atas ranjang. Dia meminta para dayang untuk menjauh mundur. Ratu Ivo mengalirkan energi ke tangannya dan membalurkannya ke tubuh Rubby.
'Putri Virs... apakah kamu juga akan menjadi seperti ibu. Rubby Aurora merah milik ayahmu ada di tubuhku. Akankah Rubby Aurora biru juga harus aku tanam di tubuhmu?' gumam Ratu Ivo di dalam hati.
"Uhukk... uhukk... uhuk...!" Rubby terbatuk. Kesadarannya mulai kembali.
"Sayang, kamu sudah sadar," ucap Ratu Ivo lembut.
Rubby mengerjabkan matanya dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruangan yang terasa asing baginya hingga tatapannya berhenti pada Ratu Ivo.
"Ibu Ratu... aku di mana?" tanya Rubby mencoba untuk duduk namun badannya masih terasa remuk. "Aagghh!"
"Pelan-pelan! Jangan banyak bergerak dulu! Ibu baru saja mengobatimu," jelas Ratu Ivo.
Rubby mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Sebelumnya dia sedang bertarung dengan siluman ular yang lumayan hebat. Dia hampir menjadi santapannya kalau panglima Dao tidak datang menyelamatkannya.
"Ibu! Bagaimana keadaan panglima Dao?" tanya Rubby setelah dia ingat apa yang terjadi.
"Panglima Dao sedang diobati di kamarnya oleh tabib istana. Dia yang membawamu ke sini tadi."
"Benarkah? Panglima Dao juga terluka sangat parah. Siluman ular itu benar-benar sangat kuat. Tanpa bantuan tongkatku, mungkin aku sudah di mangsanya ibu," cerita Rubby.
"Selain kuat, siluman ular itu juga memiliki kekuatan pendukung di belakangnya, Sayang. Kekuatan yang sangat besar yang mengancam keselamatan manusia."
"Sepertinya tadi dia... menyebut sebuah nama sebelum aku memasukkannya ke sangkar perenungan. Em... kalau tidak salah Raja Kegelapan, ya, Raja Kegelapan," ulang Rubby.
"Pantas. Kamu harus berhati-hati dan seringlah berlatih. Percuma kamu punya kekuatan yang besar jika kamu tidak bisa mengendalikannya. Kamu harus bisa menggunakan kekuatan sesuai porsinya dan mengontrolnya dengan baik."
"Saya mengerti, Ibu," ucap Rubby yakin.
__ADS_1
"Ibu sudah memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada di tubuhmu. Sekarang bermeditasilah dan sembuhkan luka-lukamu!" peringah Ratu Ivo.
Rubby mengangguk lalu mulai duduk bersila. Tangannya dia letakkan di atas lututnya dengan punggung yang tegap. Setelah mengatur napasnya dan sedikit menahan nyeri di dadanya, Rubby mulai berkonsentrasi.
Dalam waktu singkat, tubuhnya sudah diselimuti oleh gelombang energi yang sangat kuat. Ratu Ivo terus mengamati apa yang dilakukan oleh Rubby. Menurutnya, putrinya saat ini mengalami peningkatan yang signifikan. Aura yang terpancar dari tubuhnya menandakan jika level kekuatannya sudah setara dengan dirinya.
'Energi yang besar dan memadai tetapi dia tidak tahu bagaimana mengelolanya. Aku harus melatihmu lebih keras lagi, Putriku!' Ratu Ivo bermonolog dalam hati.
Gelombang energi yang menyelimuti tubuh Rubby merasuk ke dalam dan menimbulkan nyala terang di bagian-bagian tertentu dari tubuh Rubby. Cahaya itu seperti kilat yang bersahutan masuk seakan tidak ada habisnya. Setelah tubuh Rubby tidak mampu untuk menampungnya lagi, cahaya itu pun berhenti dan menghilang.
Rubby membuka matanya dan muncul cahaya kebiruan di sana.
"Aku sudah baik-baik saja, Ibu."
"Bagus! Ibu senang melihat perkembangan energimu yang sangat pesat. Hanya saja kamu harus terus melatih diri untuk mengendalikannya."
"Aku ingin berlatih sekarang!" Rubby berdiri dan memakai sepatunya.
"Hahaha... bidadari cantik ibu. Bersemangat sekali kamu, Sayang!"
"Kamu akan menjadi wanita yang jauh lebih hebat dari ibu. Saat ini saja kekuatanmu sudah sedikit melampaui ibu."
"Aku tidak merasa begitu. Aku masih saja kewalahan bertarung menghadapi para siluman. Tadi aja aku hampir jadi makan siang siluman ular, Ibu." wajah Rubby terlihat cemberut.
"Kamu hebat, Sayang. Dia memang siluman yang cukup kuat dan didukung oleh kekuatan tersembunyi. Makanya energinya seperti tidak ada habisnya."
"Apa aku bisa menghadapi bahaya di depanku, Ibu? Kadang aku berpikir ingin menjadi manusia normal saja," ucap Rubby merasa rendah diri.
"Virs... dengarkan ibu, Nak. Bukan kita yang memilih untuk menjadi apa dan seperti apa. Kita semua terikat oleh takdir. Kita mempunyai jalan hidup yang berbeda-beda. Dan takdirmu adalah menjadi putri Virs. Putri dalam ramalan yang sangat dinantikan oleh para Dewa dan penduduk alam semesta. Kehadiranmu bagaikan cahaya yang menerangi dua alam. Teruslah berlatih hingga saatnya engkau muncul dan membawa perubahan bagi dua kehidupan."
"Apa aku bisa sehebat itu, Ibu?" tanya Rubby ragu-ragu.
Ratu Ivo berjalan mendekati Rubby dan meraih tangannya. Dia membawa Rubby ke dalam dimensi yang berbeda. Ratu Ivo ingin berlatih bersama Rubby dan tidak ada seorang pun yang dapat mengganggunya.
__ADS_1
"Ibu, ini di mana?" tanya Rubby.
Mereka berdiri di sebuah tempat yang mirip dengan taman yang luas. Ada bunga-bunga yang bermekaran di sepanjang jalan. Di bagian ujung terdapat sebuah air terjun dengan sungai yang mengalir di bawahnya.
"Ini dimensi milik ibu. Kamu akan lebih fokus saat belajar di sini."
Rubby berlarian berkeliling sambil mencium aroma bunga yang harum menyegarkan. Dengan cerianya Rubby melompat dari satu bunga ke bunga yang lainnya sambil menundukkan tubuhnya untuk menghirup wangi bunga dari dekat.
Ratu Ivo membiarkan Rubby bermain-main hingga puas dulu. Setelah dia lelah pasti dia akan berhenti dan siap berkonsentrasi. Rubby berlari menghampiri Ratu Ivo dengan wajah yang berseri-seri.
"Kamu menyukai tempat ini, Sayang?" tanya Ratu Ivo.
"Sangat! Aku sangat menyukai bunga, kupu-kupu, dan taman yang indah!" seru Rubby.
"Dulu waktu ibu masih muda juga menyukainya bahkan sampai saat ini pun ibu masih menyukai hal yang sama denganmu. Hanya saja kita berbeda dalam mengekspresikan rasa suka kita."
"Benar, Ibu. Mungkin karena usia kita juga berbeda. Ibu sudah dewasa sedangkan aku sama halnya dengan anak-anak. Ah, bukan... tapi aku kekanak-kanakan," jujur Rubby.
"Bagi seorang bidadari di alamnya, usia kamu memang masih anak-anak. Berhubung kamu tinggal di dunia manusia kamu memiliki perpaduan sifat. Sifat kekanak-kanakan dari bidadari dan sifat dewasa dari manusia."
Mendengar penjelasan ibunya, Rubby jadi teringat sesuatu. Kejadian di saat dia pergi ke istana Raja Harimau Suci. Senyum Rubby memudar, dia merasa takut untuk bercerita pada ibunya. Ibunya pasti tahu jika identitasnya kini telah diketahui di sana.
"Kenapa kamu terlihat murung, Sayang? Apa kamu tidak menyukai mempunyai dua orang tua yang berbeda kehidupan? Maafkan ibu, Sayang." Ratu Ivo membawa Rubby ke dalam pelukannya.
"Bukan... bukan itu, Ibu. Aku... ingin bertanya pada ibu. Tapi Ibu harus janji dulu tidak akan marah!" pinta Rubby.
"Hemm. Ibu janji. Ayo cepat katakan!" Ratu Ivo menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Rubby.
"Benar Ibu tidak akan marah?" Rubby merasa belum yakin untuk bertanya. Hatinya diliputi kegugupan. Sedikit demi sedikit dia mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
"Ibu tidak akan marah. Apapun pertanyaanmu. Ibu janji." Ratu Ivo mengangkat telapak tangan kanannya sebagai isyarat kesungguhannya.
****
__ADS_1
Bersambung...