TIGER WU

TIGER WU
GADIS DARAH BERACUN


__ADS_3

"Em... kamu suka film apa?" tanya Lisa sambil mengolak alik DVD yang ada di dalam kotak.


"Terserah kamu saja. Pilih film yang paling romantis dan penuh dengan adegan panas di dalamnya," ucap Moza.


Lisa tidak percaya mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Moza. Setahu Lisa Moza bukanlah pria seperti itu sebelumnya. Sepertinya kecelakaan yang di alaminya membuat dirinya banyak berubah.


"Ah, sebentar aku cari!" seru Lisa sambil melihat satu persatu DVD di tangannya.


Moza berpindah duduk di belakang Lisa. Dia membantu Lisa memilih DVD dengan posisi menempel setengah memeluk. Jantung Lisa berdetak sangat kencang mengingat posisinya yang sangat dekat dengan Moza.


"Bagaimana kalau yang ini?" Moza memperlihatkan sebuah DVD.


"Itu ceritanya kurang bagus dan banyak sekali yang nggak nyambung," jelas Lisa.


Mereka kembali memilih lagi. Moza hanya melihat dari gambar luarnya karena dia tidak tahu film apa yang ada di dalamnya. Tentu saja dia tidak tahu karena dia sebenarnya adalah Raja Kegelapan.


"Ini sepertinya bagus." Moza kembali menunjukkan sebuah DVD ke hadapan Lisa.


"Itu sebenarnya bagus tapi di tengah-tengah rusak kalau di putar," jelas Lisa.


"Terserah kamu saja lah. Aku nggak bisa memilih. Kamu pilih saja seperti yang aku minta tadi." Moza menyerah. Kini dia mulai berani melingkarkan tangannya memeluk pinggang Lisa.


Lisa yang sudah lama memendam perasaan pada Moza membiarkannya saja. Dia tidak peduli meskipun saat ini Moza terlihat aneh. Itu tidak merubah perasaannya dan baginya yang terpenting adalah dia orang yang sama.


"Nah, ini yang aku cari!" Lisa akhirnya menemukan film yang dia cari.


"Mana lihat?" Moza menempelkan dagunya di bahu Lisa. "Kelihatannya bagus." Moza menyetujuinya.


"Aku putar dulu." Lisa melepaskan diri dari Moza dan pergi memutar film itu pada DVD player yang ada di dekat TV.


Setelah DVD diputar dan mulai tampil di layar TV yang dia setel untuk melihat video, Lisa kembali duduk di sofa bersama Moza setelah mematikan lampu. Dia ingin acara nonton terkesan seperti sedang berada di bioskop. Moza tersenyum senang karena dia bisa leluasa melancarkan aksinya dalam kegelapan.


Mereka menonton film itu sambil menikmati camilan yang ada di atas meja. Awalnya Moza bersikap biasa saja namun lama kelamaan dia beringsut mendekati Lisa. Dia mengalungkan tangannya di bahu Lisa.


Lisa tidak menolak menerima perlakuan Moza. Bahkan dia malah menyandarkan kepalanya di bahu Moza. Merasa mendapatkan angin segar, Moza semakin berani. Dia memegang tangan Lisa dan beberapa kali menciumnya.

__ADS_1


"Lisa... rambut kamu wangi sekali." Moza terlihat mengelus rambut Lisa dan menciumnya. Ingin sekali Raja Kegelapan menikmati tubuh Lisa dan segera mengambil jiwanya.


"Aku memakai shampoo yang sama dengan Rubby," jelas Lisa.


"Sudah aku bilang jangan menyebutkan nama itu. Kepalaku sakit jika harus mengingatnya." Moza melepas pelukannya.


"Maaf. Aku janji nggak akan mengulanginya."


Kini Lisa lah yang memeluk Moza dan menyandarkan kepalanya di dadanya. Moza masih bersikap acuh dan berpura-pura marah padanya. Demi mendapatkan apa yang dia mau dia harus tarik ulur.


Bisa saja Moza mendapatkan apa yang dia inginkan dengan kuasanya namun kali ini dia ingin merasakan naluri alami antara pria dan wanita yang sedang jatuh cinta.


"Hmm," jawab Moza singkat.


"Ahh!" pekik Lisa mendapati tangannya tertusuk sebuah logam hiasan di jaket Moza.


Jari Lisa sedikit berdarah. Sebagai seorang siluman, Moza tidak tahan mencium bau darah manusia. Dia berusaha keras untuk menahan diri agar tidak tergoda untuk menghisapnya.


Sekeras apapun Moza berusaha tetap saja tidak berhasil. Moza menarik tangan Lisa dan menghisap bagian yang terluka. Mata Moza terbelalak saat merasakan darah Lisa. Darah langka yang mampu membangkitkan energi kultivasinya. Gadis Darah Beracun.


"Terimakasih," ucap Lisa yang mengira Moza menghisap darahnya agar dia tidak mengalami infeksi.


"Terimakasih saja tidak cukup Lisa," ucap Moza dengan suara berat dan sedikit serak karena dia semakin menginginkan Lisa. Dia ingin menguasai tubuh Lisa sekaligus memilikinya seutuhnya.


"Apa yang bisa membuatnya menjadi cukup?" tanya Lisa.


"Aku menginginkanmu. Sudah lama aku menahan perasaanku Lisa."


"Apa kamu pernah melakukannya bersama...." ucapan Lisa tertahan ketika akan menyebut nama Rubby. Sebelumnya dia sudah berjanji untuk tidak mengungkitnya pada Moza.


"Aku belum pernah melakukannya bersama siapapun. Kamu yang pertama."


Lisa tersenyum senang mendengar pengakuan Moza. Mereka saling berpandangan dan menuntut untuk menyatakan perasaan mereka masing-masing. Lisa tidak tahu apa yang akan di alaminya setelah ini. Dia akan kehilangan setengah jiwanya dan selamanya hidupnya akan dikendalikan oleh Raja Kegelapan.


"Lisa... aku menginginkanmu." Moza kembali mengulang kata-katanya. Dia menjatuhkan tubuh Lisa dan mengungkungnya.

__ADS_1


"Apa kamu mencintaiku?" tanya Lisa.


"Aku akan berusaha mencintaimu. Apa kamu keberatan jika aku meminta ini darimu?" Moza tidak tinggal diam. Tangannya berkeliaran menyusuri bagian-bagian sensitif Lisa.


"Aku... aku... ingin mendengar kamu mengucapkan kamu mencintaiku sekali saja sebelum kita melakukannya." ucap Lisa.


Moza tersenyum menyeringai. 'Gadis bodoh! Sungguh begitu mudah menakhlukanmu. Cinta. Sebegitu berartikah kata-kata itu bagi manusia. Kalian begitu senang dengan bualan yang tidak ada gunanya.' Moza bermonolog dalam hati.


"Baiklah! Aku akan mengatakannya padamu." Moza menghimpit tubuh Lisa dan semakin mempersempit ruang geraknya.


"Moza kamu tampan sekali." Lisa terpesona melihat wajah Moza dari jarak yang sangat dekat.


"Lisa... aku mencintaimu...," ucap Moza.


Awalnya Moza hanya ingin main-main dengan kata-kata itu tetapi kejadian selanjutnya jauh di luar dugaannya. Setelah menyatakan cintanya kepada Lisa, Moza merasakan ada perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Darah Lisa yang tadi dia hisap bergejolak di dalam tubuhnya.


Terjadi tarik menarik antara dua elemen yang berasal dari tubuh mereka. Moza baru merasakan ini untuk pertama kalinya. Dia berpikir bahwa dia akan melajang seumur hidupnya.


"Aku juga mencintaimu Moza," ucap Lisa bergetar. Jantungnya berdetak sangat kencang dan tidak terkontrol lagi. Cinta yang di pendamnya bertahun-tahun kini terbalas. Lisa sangat bahagia.


"Lisa... jika suatu saat aku berubah menjadi buruk rupa dan menyeramkan apakah kamu bisa menerimaku?" tanya Moza yang semakin terobsesi dengan wanita di depannya itu.


"Aku tidak peduli dengan wajahmu," ucap Lisa.


Moza tersenyum. "Jika aku bukan manusia? Apa kamu akan pergi meninggalkanku?"


Lisa merasa aneh dengan pertanyaan Moza namun dia tidak menganggap itu serius. Dia berpikir mungkin saat ini Moza sedang mengujinya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mencintaimu Moza."


Lisa mengangkat kepalanya dan menyentuh bibir Moza dengan bibirnya. Saat mereka berciuman tubuh mereka diselimuti oleh hawa dingin yang menusuk. Gelas-gelas kaca yang mereka pakai untuk minum sebelumnya menjadi retak terkena hawa dingin itu.


Langit di atas rumah Lisa bergemuruh. Angin kencang berputar-putar di atasnya yang mengarak awan hitam menaungi wilayah sekitar tempat tinggalnya. Langit malam yang gelap semakin pekat dan seluruh wilayah kota dipenuhi kabut dengan hawa dingin yang menusuk tulang.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2