TIGER WU

TIGER WU
TERASA NYATA


__ADS_3

Rubby memutar otak untuk mencari cara agar bisa segera melepaskan diri dari lilitan jaringan energi milik siluman laba-laba itu. Ikatannya sangat kuat dan Rubby tidak bisa mengeluarkan kekuatannya. Masih untung dia tidak hilang ingatan. Jika tidak dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rubby dengan terus melihat ke arah siluman laba-laba itu.


Siluman laba-laba selangkah demi selangkah maju mendekati Rubby. Jarak di antara keduanya semakin dekat namun siluman laba-laba itu terus mendekat hingga benar-benar dekat. Tangannya yang memiliki gerigi-gerigi aneh dengan ujung yang runcing bergerak maju ke depan.


Rubby mengira jika siluman laba-laba akan mencekiknya dengan tangan itu. Pantas saja Alfon ketakutan setengah mati, jika dilihat dari dekat siluman ini benar-benar sangat menyeramkan. Dalam keadaan yang menegangkan itu Rubby belum juga menemukan cara untuk bisa melepaskan diri dari sana.


"Apa yang ingin kamu lakukan? Menjauhlah!" pekik Rubby.


"Aku ingin mengambil energi jiwamu. Tapi melihat wajah cantikmu ini aku merasa sayang untuk membunuhmu," ucap siluman laba-laba itu sambil memandangi wajah Rubby dari dekat.


Tangannya yang aneh itu mengelus kulit wajah Rubby yang sangat halus membuatnya sedikit memerah karena tangan siluman laba-laba yang kasar dan tajam.


Bibir Rubby bergetar ketakutan mengingat tidak ada yang bisa dilakukannya. Siluman laba-laba terus menggerakkan tangannya ke bawah melalui leher, bahu, dan hampir menyentuh aset berharganya. Di sini Rubby mulai terbakar emosi, dia benar-benar tidak rela jika sampai siluman laba-laba itu melecehkannya dulu sebelum membunuhnya.


Tangan Rubby yang berada di atas kepalanya dan memegang ruji-ruji logam, dia ayunkan untuk memukul kepala siluman laba-laba. Sayang sekali pendengaran siluman laba-laba itu sangat tajam hingga menyadari gerakan Rubby. Tangan Rubby di cekal olehnya sebelum mencapai kepalanya.


Teengggg...! Tenggg!


Tongkat logam Rubby membentur mengenai tiang hingga menimbulkan suara yang nyaring.


Siluman laba-laba memundurkan langkahnya sambil menutup telinganya. Rupanya kelemahan siluman laba-laba itu adalah suara yang nyaring dan berdengung. Ketika siluman itu berjalan maju, Rubby kembali memukul tiang logam itu dengan tongkatnya dan siluman laba-laba itu kembali mundur.


'Kelihatannya cara ini cukup efektif. Aku akan terus memukul tiang ini dan membuat siluman itu tak berdaya. Lihat saja!' gumam Rubby dalam hati.


"Jika kamu benar-benar seorang laki-laki, lawan aku secara langsung! Bukan menjebakku seperti ini!" teriak Rubby.


Rubby terus memukul tiang itu untuk melihat apa yang akan terjadi pada siluman laba-laba itu. Saat ini siluman laba-laba itu terlihat tidak berdaya. Dia begitu tersiksa dengan suara nyaring yang terus dibuat oleh Rubby.

__ADS_1


"Aku tidak takut padamu! Aku tidak takut pada kekasihmu!" teriak siluman laba-laba itu berdiri sempoyongan sambil menutup telinganya.


"Baik! Kalau begitu lepaskan aku dan kita bertemu di bukit itu. Bukan di tempat yang pengap dan kotor seperti ini. Kita tidak bisa leluasa untuk bertarung."


"Baik... tapi hentikan suara ini! Berikan tongkatmu!" Siluman laba-laba itu menutup telinga dengan satu tangan sambil berjalan sempoyongan mendekati Rubby. Tangannya yang lain mengulur ke depan untuk meminta tongkat di tangan Rubby.


"Kemarilah!" Rubby tahu jika itu hanya akal licik siluman laba-laba agar Rubby tidak bisa melawannya lagi.


Setelah siluman laba-laba itu mendekat dan hampir meraih tongkat logam itu, Rubby menariknya lagi ke belakang dan memukul tiang itu dengan keras dan lebih sering. Siluman laba-laba itu kembali menutup telinga dan mencoba untuk tetap bisa berdiri.


Dari telinga siluman laba-laba itu keluar darah segar akibat gendang telinga yang pecah. Siluman laba-laba tidak sanggup lagi berdiri dan berguling-guling di lantai dengan keadaan yang menyedihkan.


Perlahan-lahan suasana di ruangan itu menjadi samar-samar. Dalam keadaan yang kebingungan, Rubby terus saja memukul tiang itu dengan keras. Apapun yang akan terjadi dia harus bertahan.


"Tunggu pembalasanku! Lain kali aku tidak akan melepaskanmu!" teriak siluman laba-laba itu sebelum mengilang dan diikuti suasana yang berangsur-angsur menjadi gelap.


'Kenapa ini? Kenapa semuanya menjadi gelap? Ahh, tubuhku sudah terikat lagi dan... dan... di mana tongkat dan tiang itu?' Rubby merasa sudah tidak ada di ruangan yang tadi.


Rubby mengerjapkan matanya mencoba mengumpulkan kesadarannya. Perasaannya masih terbawa pada suasana tempat siluman laba-laba yang terasa seperti nyata. Tubuhnya terasa pegal-pegal seperti habis terikat sungguhan.


"By! Maaf aku! Tapi ini sudah lewat jam makan siang. Aku takut kamu telat makan kalau tidak ada Tiger di sini." Alfon mengamati Rubby yang masih setengah sadar itu.


"Aku di mana? Aku di mana?" Berangsur-angsur Rubby bisa melihat keadaan sekitarnya.


"Astaga, By! Kamu melek dulu lah!" seru Alfon.


"Oh, aku masih di agensi, ya!" Wajah bodoh Rubby terlihat menggemaskan.


Alfon mengamati wajah Rubby seperti ada yang berbeda. Terlihat goresan tipis berwarna kemerahan di pipi kirinya. Meskipun tidak dalam tapi itu terlihat sekali di kulit putih Rubby.

__ADS_1


"Kenapa, Al? Apa ada kotoran di mataku? Apa aku ileran? Emm... atau rambutku berantakan?" berondong Rubby melihat Alfon menatapnya tidak berkedip.


"Tidak! Wajarlah kalau sedikit berantakan hanya saja aku melihat pipi kirimu seperti ada bekas goresan."


"Masa, sih?" Rubby meraba pipinya. Tidak ada luka hanya saja ada sedikit rasa yang berbeda.


Rubby mengambil cermin di dalam tasnya lalu berkaca. Memang ada seperti guratan berwarna merah namun tidak menggores. Teringat apa yang terjadi sebelumnya ketika tangan kasar siluman laba-laba itu menyentuh pipinya.


"Ahh, aku mungkin tadi menggaruk pipiku saat tidur," ucap Rubby mencoba menyembunyikan apa yang di alaminya.


"Ayo kita makan siang!" Alfon mengalihkan topik, takut Rubby merasa kurang percaya diri dengan luka gores itu.


"Maaf, Al! Sepertinya aku harus pulang. Aku boleh ijin pulang cepet, kan?" Rubby menampilkan mimik wajah memelasnya.


"Ya, sudah! Aku ijinkan! Kasihan Tiger. Semoga besok dia sudah bisa bekerja lagi." Alfon akhirnya mengalah demi mendapatkan perhatian Rubby.


"Terimakasih. Semua pekerjaanku hari ini sudah beres." Rubby mengambil sebuah map dan menyerahkannya pada Alfon.


"Oke! Aku balik ke ruanganku dulu. Salam buat Tiger!" pamit Alfon lalu berjalan meninggalkan ruangan Rubby.


Setelah kepergian Alfon, Rubby kembali larut dalam pikirannya. Siluman laba-laba itu menyerangnya dalam mimpi dan membuatnya tidak bisa memakai energi spiritualnya. Ini berarti dia memiliki ilmu ilusi yang tidak bisa diremehkan.


Walaupun saat ini dia mungkin sedang memulihkan tenaganya namun Rubby harus tetap waspada. Apalagi ketika melewati bukit yang menjadi sarangnya. Merasa tidak punya solusi untuk menghadapi masalah ini, Rubby harus menanyakannya pada Wu Jin Ming.


Rubby segera mengemasi barangnya dan pulang dengan motor bututnya. Satu-satunya benda yang berhasil diselamatkan dalam kebakaran rumahnya.


****


Bersambung...

__ADS_1


Mampir ke novel karya temanku ya kak... sambil nunggu punyaku up...



__ADS_2