TIGER WU

TIGER WU
Bab 274. Duel Maut


__ADS_3

"Kenapa dengan wajahmu? Kamu terkejut? Aku bukan satu-satunya ras bidadari yang selamat dari pembantaian itu. Masih ada satu orang lagi, yaitu ibuku."


Ucapan Rubby semakin membuat Panglima Chen ternganga. Berarti wanita di hadapannya itu bukanlah ras bidadari murni namun bagaimana bisa aura ras itu begitu kuat di tubuhnya. Dia juga memiliki tongkat legendaris yang hanya dimiliki oleh ras itu.


"Kebetulan sekali, aku ingin membalaskan dendamku pada kalian! Saat ini adalah saat-saat yang aku tunggu-tunggu. Aku senang saat tahu orang di balik kerusuhan ini adalah orang yang sama yang menghancurkan kerajaan nenek moyangku." Mata Rubby berkilat penuh dendam.


Tangan kanannya memukulkan ujung tongkatnya di udara. Saat itu juga goncangan besar terjadi di sana hingga terasa sejauh beberapa kilometer dari tempat Rubby berdiri. Burung-burung yang bertengger di atas pohon beterbangan mencari tempat berlindung, bahkan rela meninggalkan telurnya yang belum menetas demi menyelamatkan dirinya.


"Aku tidak takut padamu!" Panglima Chen mencoba menyingkirkan rasa gentarnya.


Jika harus jujur, dalam hatinya dia merasa ngeri dengan aura energi wanita di hadapannya itu. Tatapan membunuhnya seakan tidak memberinya ampun. Panglima Chen juga merasakan perubahan alam yang seolah berada di bawah kendalinya.


"Bagus! Berarti kamu adalah seorang ksatria. Walaupun begitu, aku tetap akan menghabisi nyawamu dengan cara yang tidak kamu sangka-sangka!" Rubby tidak ingin langsung membunuh Panglima Chen dengan cepat. Dia harus mengalami siksaan terlebih dahulu untuk membalaskan rasa sakit hatinya karena telah membantai rasnya dengan keji.


"Lakukanlah! Haaa!" Panglima Chen melepaskan energinya untuk menyerang Rubby.


Rubby tidak bergeming.


"Awas, Ibu!" pekik Tian Yu.


"Tenanglah, Sayang. Ibu tahu apa yang harus ibu lakukan." Rubby bicara tanpa menoleh pada Tian Yu dan bersiap untuk menggerakkan tongkatnya.


Tian Yu kembali fokus untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh ibunya. Dia melihat ibunya mengangkat tongkatnya condong ke depan menyongsong energi yang dilemparkan oleh Panglima Chen. Saat menyentuh cahaya yang menyelimuti tongkat itu, energi itu tertarik masuk ke dalam kepala tongkat.


Mata Tian Yu dan Panglima Chen terbelalak melihatnya. Kejadian ini hampir sama dengan yang dialami oleh Panglima Chen ribuan tahun silam. Namun, saat itu kekuatan Zhu Zheng yang besar mampu membuat tongkat ras bidadari hancur.


Panglima Chen merasa apa yang akan dilakukannya sia-sia. Semua serangannya pasti dengan mudah akan diserap oleh tongkat Rubby. Wajahnya terlihat pucat pasi ketika melihat Rubby maju selangkah demi selangkah menghampirinya.


Jarak keduanya mulai terkikis. Rubby berhenti ketika dia berada dalam jarak kurang dari 3 meter. Tidak ingin berbasa-basi lagi, Rubby kembali mengangkat tongkatnya condong ke depan dengan kepala tongkat sejajar kepala Panglima Chen. Mulut Rubby bergerak-gerak merapalkan mantra yang bertujuan untuk mengunci tubuh dan menarik seluruh kekuatan yang ada di tubuh Panglima Chen.


"Aarghh! Si-sial! Kamu menyerap energi tubuhku!" Panglima Chen mencoba bergerak untuk melepaskan diri. Namun, sepertinya itu sia-sia saja karena mantra yang ditanam Rubby sangatlah kuat.


Dalam waktu singkat, kekuatan Panglima Chen sudah berpindah ke dalam tongkat milik Rubby.

__ADS_1


Rubby menarik tongkatnya ke belakang dan mengembalikannya ke tempat semula. Tongkat itu menghilang dari pandangan mata.


"Kamu takut pada tongkat itu, bukan? Tenanglah, aku sudah menyimpannya di tempat yang aman. Tapi ini bukan berarti jika aku mengampunimu."


Slash!


Rubby mencabik tubuh Panglima Chen di bagian atas dengan energi yang menyerupai cakar naga. Teriakan Panglima Chen terdengar memilukan ketika cakaran demi cakaran Rubby terus mencabik-cabik tubuhnya hingga tak berbentuk. Merasa sudah puas dengan apa yang dilakukannya, Rubby melemparkan api suci dingin miliknya dan membuat tubuh Panglima Chen membeku.


Pyar!


Tubuh itu hancur menjadi butiran-butiran salju yang turun di tengah matahari yang terik.


Belum juga Rubby berpindah dari tempatnya, musuh kembali datang. Sebuah kepulan asap tebal berwarna hitam muncul di hadapannya dan perlahan-lahan membentuk sesosok tubuh. Wajah yang sangat di kenalnya, Moza. Tapi saat ini dia yakin jika raga Moza sudah benar-benar dikuasai sepenuhnya oleh Zhu Zheng.


"Moza!" Rubby berpura-pura lembut pada musuhnya itu.


Zhu Zheng tersenyum menyeringai. Dia merasa jika Rubby belum bisa melupakan laki-laki yang tubuhnya dia tempati itu. Kesempatan ini bisa dia ambil untuk mengalahkannya dan membalaskan kematian orang kepercayaannya, Panglima Chen. Rasa sakit hatinya akan kehilangan Lisa dan calon buah hatinya juga masih bergejolak.


Tian Yu merasa geram ketika melihat seorang laki-laki dewasa merayu ibunya. Giginya gemeretak saling beradu ketika dia menahan kemarahannya. Kedua tangannya yang semula mengepal mulai mengeluarkan asap dari energinya yang bocor.


Belum sempat meluapkan kemarahannya, sesosok wujud kembali muncul. Terpaksa Tian Yu mengurungkan niatnya untuk menyerang pria berjubah itu. Belum jelas siapa yang datang karena cahaya yang menyilaukan masih menyelimuti tubuhnya.


"Lawanmu adalah aku! Bukan istri atau anakku!" seru Wu Jin Ming dengan sikapnya yang penuh wibawa.


Pancaran energi yang keluar dari tubuhnya memaksa Rubby membawa Tian Yu menjauh. Tubuhnya belum kuat untuk menahan tekanan energi dari Wu Jin Ming jika dia mengeluarkan seluruh energinya. Saat ini, ayahnya telah mencapai tingkat energi tidak terbatas yang nyaris tidak memiliki kelemahan.


Zhu Zheng yang semula terlihat tenang, kini mulai menunjukkan kekuatannya. Dia telah bermeditasi di Bukit Naga Api dan mendapatkan inti permata Naga Merah yang sangat melegenda. Energi itu setara dengan tingkat tertinggi dalam dunia kultivasi. Meskipun demikian, itu masih beberapa tingkat di bawah tingkatan yang dicapai oleh Wu Jin Ming.


Kelebihan Zhu Zheng adalah kelicikannya. Tipuan mental dan permainan perasaan yang membuat lawannya tidak merasa jika dia sedang menipunya. Itu yang selalu membuat Wu Jin Ming kalah beberapa kali. Namun, sepertinya itu tidak akan terjadi lagi. Roh naga An Ning yang kejam ikut melebur dalam kekuatan yang dia miliki sekarang. Secara tidak langsung itu juga mempengaruhi pola pikirnya. Rasa belas kasih terhadap musuh tidak akan berlaku lagi baginya.


Untuk menghindari kerusakan yang berarti, Wu Jin Ming memancing Zhu Zheng untuk bertarung di angkasa. Jika dilihat dari bawah, pertarungan mereka hanya tampak seperti kilatan cahaya yang bergerak sangat cepat dan berputar-putar. Sesekali juga terlihat ledakan seperti kembang api besar yang berpendar di langit yang mulai gelap.


Setengah hari belum cukup bagi mereka untuk melakukan pertarungannya.

__ADS_1


Rubby dan Tian Yu menunggu Wu Jin Ming di bawah tanpa berani mendekat untuk melihat apa yang terjadi. Mereka yakin jika Wu Jin Ming akan menjadi pemenangnya.


Malam semakin larut dan hampir berganti pagi. Duel maut antara Zhu Zheng dan Wu Jin Ming belum juga berakhir. Rubby masih menunggunya dengan Tian Yu yang tertidur pulas di pangkuannya.


Ketika matahari mulai menyingsing dan alam berangsur terang, Rubby mulai merasakan kantuk yang luar biasa. Matanya berkedip pelan dan hampir terpejam. Namun, dia selalu berusaha keras untuk tetap terjaga.


Dengan kepala yang terasa berat karena tidak tidur semalaman, Rubby mendongak ke atas. Lagi-lagi pertarungan itu masih berlangsung.


Bugh! Bugh! Bugh!


Potongan-potongan tubuh berjatuhan dari langit.


Mata Rubby yang semula mengantuk menjadi terang-benderang. Dia mulai menerka-nerka siapa pemilik tubuh ini. Di lihat dari jejak energinya, sebagian besar adalah milik Zhu Zheng. Namun, mata Rubby terbelalak ketika melihat ada tiga buah potongan tangan di sana.


Rubby menutup mulutnya ketika menyadari ada dua tangan kiri dan satu tangan kanan yang jatuh di bawah kakinya.


Air mata Rubby mengalir tak tertahan lagi.


"Kak Wu! Kak Wu! Kak Wu!" jeritan Rubby menggema di pagi buta.


Tian Yu yang tertidur, terjingkat bangun ketika mendengar teriakkan ibunya. Walaupun dia tidak mengerti apa yang terjadi, dia segera memeluk ibunya erat dan mencoba menenangkannya. Rubby menangis sejadi-jadinya dalam pelukan putranya


"Aku di sini." Suara orang yang sangat di kenalnya membuat isaknya terhenti.


Sesosok pria yang sangat berarti baginya kini berdiri di hadapannya dengan keadaan yang memprihatinkan. Tangan kirinya buntung, mata kanannya lebam parah dan baju yang dia kenakan compang-camping tak berbentuk lagi. Rubby dan Tian Yu segera berlari menyongsongnya untuk meluapkan rasa bahagianya. Apapun keadaannya, Wu Jin Ming tetaplah orang spesial bagi mereka berdua.


****


TAMAT



__ADS_1


__ADS_2