TIGER WU

TIGER WU
MOZA DAN LISA


__ADS_3

Setelah mengobati luka Rubby, Wu Jin Ming segera menyalakan mobilnya dan bergegas untuk pulang. Mereka takut jika bertemu dengan siluman lagi. Tenaga mereka sudah banyak terkuras hari ini.


Ponsel Rubby berdering ada sebuah pesan masuk dari Lisa. Rubby menunda untuk membukanya karena mereka sedang berada di dalam mobil. Dia ingin membukanya setelah sampai di rumah.


Lisa mengirim pesan kepada Rubby dan mengatakan jika saat ini dia sedang bertemu dengan Moza tanpa sengaja. Moza terlihat dingin dan aneh namun Lisa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Di tempat lain Lisa mengajak Moza duduk di sebuah bangku taman. Mereka mengobrol di sana. Lisa merasa penasaran dengan kecelakaan yang terjadi pada Moza beberapa waktu lalu.


"Hai Moza! Apa kabar?" tanya Lisa.


"Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri?" Moza balik bertanya.


"Sama. Aku juga baik-baik saja. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu boleh tidak?" Lisa kembali bertanya.


"Katakan saja," jawab Moza singkat.


"Emm, mengenai kecelakaan di depan mall waktu itu, kenapa kamu tiba-tiba hilang dari sana? Apa yang terjadi padamu waktu itu?" tanya Lisa penasaran.


"Aku... aku terluka parah saat itu. Aku tidak terlalu mengingatnya. Saat aku bangun, tiba-tiba saja aku sudah berada ditempat orang yang menolongku. Lukaku sangat parah hingga aku harus tinggal di sana untuk beberapa hari," jelas Moza.


"Oh jadi begitu. Menurut cerita yang beredar bahwa kamu sudah meninggal dan tubuh kamu hilang tiba-tiba."


"Hahaha! Setelah melihatku apakah kamu masih percaya dengan berita itu?" Moza menatap Lisa dengan tatapan yang aneh dan dingin.


Bulu kuduk Lisa meremang mendengar tawa Moza yang terdengar mengerikan. Tatapan dinginnya juga sangat berbeda dengan Moza yang dia kenal dulu. Lisa menepis pikiran buruknya dan menganggap perubahan Moza sebagai akibat dari kecelakaan dialaminya.


"Aku tidak percaya lagi. Kamu akan pergi kemana setelah ini?" tanya Lisa.


"Entahlah, aku belum ada rencana untuk kemanapun. Apa kamu mau menemaniku?" Moza ingin Lisa menemaninya terlihat senyum samar di ujung bibirnya.


"Aku juga sedang bosan, orang tuaku pergi keluar kota. Bagaimana kalau kita nonton saja?" usul Lisa.


"Boleh kamu yang ngatur ya! Tapi aku tidak membawa mobil. Kita pergi naik apa?"


"Apakah kamu masih kabur dari rumah?"

__ADS_1


"Benar aku sudah lama tidak pulang. Aku enggan bertemu dengan keluargaku. Apakah kamu tidak jadi pergi denganku setelah tahu aku bukan orang kaya lagi?"


"Ah, bukan begitu maksudku. Kita akan pergi setelah ini. Kamu tidak perlu khawatir aku masih punya uang untuk bayar ongkos dan mentraktirmu nonton." Tidak ada rasa curiga sama sekali di pikiran Lisa.


Dia senang akhirnya bisa pergi berdua dengan Moza. Senyum bahagia mengembang di wajah Lisa. Dia tidak peduli dengan wajah dingin Moza yang sedikit menyeramkan.


"Kita akan pergi sekarang atau nanti?" tanya Moza.


"Sekarang saja! Kita bisa berjalan-jalan sambil menunggu film kesukaan kita diputar," ucap Lisa.


"Baiklah! Ayo kita berangkat!"


Moza menggenggam tangan Lisa dan dan membawanya berjalan ke tempat pemberhentian taksi. Hati Lisa berbunga-bunga mendapat perlakuan manis dari Moza. Sudah sejak lama dia memiliki perasaan kepada Moza namun harus dia pupus karena Moza lebih memilih Rubby.


"Lisa kamu cantik sekali," puji Moza.


"Kamu bisa aja." Lisa tersipu. "Dulu aja waktu kamu masih bersama Rubby aja sedikitpun kamu nggak melirikku,"


"Rubby? Siapa Rubby?" tanya Moza.


"Putus? Ahh, aku pusing jangan bicara lagi!" Moza memegangi kepalanya seolah kesakitan.


Moza pura-pura lupa padahal sebenarnya dia tidak tahu dengan masa lalu pemilik tubuh ini sebelumnya. Awalnya dia mengingat semuanya namun semua ingatan itu membuat roh Moza yang asli kembali berkuasa dan terus menekannya.


"Maaf... maaf Moza! Aku lupa jika orang yang habis kecelakaan bisa saja mengalami amnesia." Lisa terlihat panik melihat perubahan emosi Moza.


"Lisa melambailah pada taksi yang lewat. Aku akan duduk sebentar." Moza duduk berjongkok di samping Lisa. Sudut bibirnya sedikit terangkat seperti sedang menahan tawa.


Beberapa kali taksi lewat namun tidak satupun menanggapi lambaian tangan Lisa. Mereka menunggu taksi datang hingga hari hampir larut malam. Sepertinya taksi-taksi yang lewat sore itu sudah di pesan oleh penumpang lain.


"Moza, sepertinya kita akan gagal nonton hari ini. Terlalu malam jika kita berangkat ke bioskop sekarang." suara Lisa terdengar kecewa.


"Apakah rumahmu jauh dari sini?" tanya Moza.


"Tidak. Hanya beberapa blok saja dari sini. Memangnya kenapa?" tanya Lisa.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita nonton di rumahmu saja? Pasti nggak kalah seru!" ajak Moza.


"Boleh! Asal kamu nggak bosan aja kalau nonton di rumah. Cuma ada kita berdua saja di rumah."


"Bagus dong! Kita bisa menonton film yang romantis."


Lisa tersipu mendengar kata manis dari Moza. Dia membayangkan suasana romantis saat mereka nonton berdua bersama Moza. Mereka duduk berdua di sofa saling berdempetan. Lisa juga membayangkan mereka makan camilan sambil suap-suapan. Bahkan imajinasi liar Lisa membayangkan hal yang lebih ekstrim daripada itu.


"Apakah kita akan pergi ke rumahku sekarang?" tanya Lisa malu-malu.


"Tentu saja. Ayok!" Moza menggandeng tangan Lisa penuh kemenangan.


Moza sengaja menghalangi pandangan manusia terhadap mereka berdua. Sopir taksi atau siapapun yang mereka temui di jalan tidak bisa melihat mereka. Itu tidak aneh karena Moza sekarang adalah Raja Kegelapan.


"Moza, kamu lapar tidak? Aku tidak bisa memasak. Kalau kamu lapar aku akan mampir ke kedai terlebih dahulu untuk membeli makanan untuk kita," ucap Lisa.


"Aku tidak lapar. Kalau aku lapar aku tinggal makan kamu," goda Moza yang sebenarnya itu ungkapan hatinya yang sebenarnya.


"Ah, kamu bikin aku malu saja. Aku belum siap untuk melakukan itu." Lisa berpikir jika kata-kata Moza adalah sebuah ajakan untuk melakukan hubungan suami istri.


Tadinya bukan itu yang dimaksud oleh Moza, setelah mendengar jawaban Lisa dia jadi ingin melakukannya sebelum dia membunuh Lisa. Sudah beribu-ribu tahun lamanya dia tidak bisa merasakan indahnya sebuah hubungan.


"Bagaimana kalau aku benar-benar menginginkannya Lisa?" goda Moza.


"Kamu ini! Aku belum siap patah hati jika mempunyai cowok seganteng kamu Moza."


"Apa aku harus menyatakan perasaanku lebih dulu agar kamu percaya?" tanya Moza sambil menatap mata Lisa di sela langkah mereka.


"Berhentilah menggodaku Moza. Aku orangnya baperan Moza!" seru Lisa.


Setelah berjalan hampir 10 menit dari tempatnya semula, rumah Lisa sudah terlihat. Mereka mempercepat langkahnya karena hari sudah mulai gelap. Rumah Lisa dalam keadaan kosong dan lampu-lampu belum di nyalakan.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2