TIGER WU

TIGER WU
MENJADI HUJAN


__ADS_3

Meskipun memakai wujud manusianya, Wu Jin Ming memiliki energi yang cukup besar. Perlahan dia sudah bisa mengendalikan energinya dengan baik tanpa berubah wujud. Namun demikian, wujud sebagai Dewa tetaplah wujud tertinggi yang mampu membangkitkan kekuatan besar yang tersembunyi miliknya.


Pertarungan dua energi milik Wu Jin Ming dan Sian Lun terus berlangsung. Rupanya kesombongan Sian Lun tidak berarti apa-apa di hadapan Wu Jin Ming, kekuatan tidaklah sehebat bicaranya yang tinggi. Menghadapi kekuatan Wu Jin Ming yang baru seujung kuku saja energi miliknya sudah terdorong mundur dan nyaris mencapai tangannya.


Sian Lun merasa gusar melihat keadaan yang kian terdesak. Dia berusaha untuk menekan kembali energinya dan meningkatkan pengeluaran kekuatan hingga melampaui batas yang sewajarnya. Untuk melakukan hal itu, Sian Lun mengambil resiko yang besar dengan kemungkinan terburuk dia akan kehabisan energi jiwa.


"Jika tida mampu, maka jangan memaksakan diri!" seru Wu Jin Ming sambil melangkah maju mendekat.


Setiap langkahnya adalah satu tekanan untuk Sian Lun.


"Berhenti! Kekuatan macam apa ini? Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu tiba-tiba muncul? Hampir saja aku bisa mendapatkan gadis itu," ucap Sian Lun merasa gusar dan putus asa.


Wu Jin Ming tidak menggubris Sian Lun yang terus berbicara sambil berjalan mundur.


"Apa kamu tuli? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" Masih saja Sian Lun bertanya dengan gaya tengilnya.


Wu Jin Ming hanya tersenyum kejam pada Sian Lun.


"Aku Dewa Perang Harimau Suci! Panglima Perang istana langit yang datang ke bumi untuk melawan tindakan kesewenang-wenangan para siluman dan pemburu energi!" jelas Wu Jin Ming.


Sian Lun tertawa sangat keras sekali. Dia tidak percaya dengan apa yang Wu Jin Ming katakan. Sangat mustahil baginya untuk mempercayainya begitu saja, menilik penampilan yang tidak meyakinkan.


"Siapapun yang berani mengusik ataupun menyentuh istriku, maka dia hharus mati!" pekik Wu Jin Ming sambil melirik Sian Lun tajam.


"Aku tidak takut!" Setelah mengucapkan kata-kata itu, Sian Lun kembali mengeluarkan energinya dengan yang lebih besar untuk mengimbangi kekuatan Wu Jin Ming yang cenderung stabil.


Wu Jin Ming tidak mau kalah, dia pun menambah kekuatan yang dia keluarkan untuk segera mengakhiri pertarungan.


"Rasakan ini! Sungguh kamu lancang sekali sudah berani mengganggu istriku!"


Duaaar!


Tubuh Sian Lun terjengkang ke belakang dan terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri semula.


"Tidak-tidak! Aku tidak boleh kalah!" Sian Lun segera bangkit dan kembali bersiap untuk memyerang.

__ADS_1


"Bagus! Aku tidak akan merasa bersalah atau menyesal jika kamu benar-benar mati di tanganku!"


Meskipun Rubby belum menceritakannya apa yang telah terjadi namun dengan kekuatan yang dikeluarkannya sekarang, Wu Jin Ming tahu jika Sian Lun telah menyentuh tubuh Rubby sebelumnya.


Kini dia tidak lagi meluncurkan energinya dalam bentuk kumparan, melainkan dengan lemparan energi.


Sian Lun tampak kewalahan menangkis serangan Wu Jin Ming yang bertubi-tubi. Dalam keadaan ini, Sian Lun sangat kesulitan untuk membalas. Dia hanya bisa mengindar dan terus menghindar saja.


'Sial! Kekuatan orang ini seperti tidak ada habisnya!' guman Sian Lun dalam hati.


Langkah Wu Jin Ming begitu cepat seperti bayangan yang hampir tak terlihat. Kini dia sudah berada dalam jarak kurang dari 1 meter dari Sian Lun.


"Rasakan ini!" Dari telapak tangan kanan Wu Jin Ming mengeluarkan api suci dingin miliknya.


Tidak peduli akan lawannya yang tidak berdaya, Wu Jin Ming segera melemparkan api itu pada Sian Lun karena tujuannya memang ingin membunuhnya.


Sian Lun tidak mampu mengelak lagi, dengan mata yang terbelalak dia melihat api berhawa dingin itu perlahan-lahan bergerak dan menyentuh tubuhnya. Seketika tubuh Sian Lun yang terkena api suci itu membeku menjadi batu es. Pelan tapi pasti bekuan es yang ada di tubuh Sian Lun bergerak menjalar hingga ke seluruh bagian tubuhnya.


Dia terlihat bicara namun tidak terdengar apa yang dikatakannya. Mulutnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu namun hawa dingin bekuan es itu rupanya telah mematikan pita suaranya.


Terkadang Wu Jin Ming dan Rubby masih berbelas kasih dan memerikan kehidupan kedu di dalam sangkar perenungan, namun tidak jarang pula mereka membunuh lawannya karena dianggap tidak akan ada kebaikan lagi darinya.


Tubuh Sian Lun sudah menjadi batu es sepenuhnya. Di saat yang sama awan hitam di atas mereka juga mengkristal. Wu Jin Ming melemparkan tubuh Sian Lun ke awan itu dan menjadikannya menyatu.


Api suci yang telah memakan seluruh tubuh Sian Lun kini juga membuat kristal awan itu mengalami pemuaian.


Wu Jin Ming berjalan cepat mendekati Rubby yang telah selesai mengobati Arlan.


"Rubby, Arlan! Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum hujan es mengguyur kita di sini!" seru Wu Jin Ming dengan napas yang tersengal-sengal karena habis berlari tanpa menggunakan kekuatannya.


"Baik!" Rubby mengambil barang bawaannya dan memasukkannya ke dalam cincin penyimpanan milikny.


Mereka bertiga mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu menuju Bukit Sali.


Tubuh Sian Lun dan awan itu meledak hingga membuatnya menjadi hujan es yang turun dengan begitu deras. Hujan lokal itu hanya turun di wilayah pertarungan tadi. Meskipun begitu, udara dingin yang ditimbulkannya cukup membuat wilayah sekitarnya dengan radius 3 kilometer dari sana ikut merasa hawa dingin itu.

__ADS_1


"Huft! Huhh ... hah ... hahh! Capeknya!" ucap Rubby setelah mereka sampai di area parkir mobil Wu Jin Ming.


Para kru sudah kembali ke kota terlebih dahulu sesaat sebelum Wu Jin Ming pergi menyusul Rubby dan Arlan di area pertarungan.


"Terimakasih, Rubby, Tiger!" ucap Arlan tulus.


"Antara seorang teman tidak perlu kata terimakasih." Wu Jin Ming menepuk bahu Arlan sambil tersenyum.


Arlan membalas senyuman itu lalu kembali untuk bersiap bicara.


"Tiger! Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Arlan dengan wajah yang terlihat serius.


"Katakan saja! Mungkin aku bisa jawab."


Arlan terlihat ragu-ragu. Kelihatannya dia sedang menyusun kata-kata yang ingin diucapkannya.


"Apakah kamu pergi ke bukit San beberapa waktu lalu?"


"Iya." Wu Jin Ming mengangguk.


"Kenapa kamu tanyakan itu, Ar? Kamu kan sudah tahu," sewot Rubby.


Wu Jin Ming memberi tatapan pada Rubby yang mengisyaratkannya untuk diam.


Meskipun hatinya sangat kesal, Rubby pun menurut.


"Aku ... aku ... merasa ada seseorang yang membantuku ketika aku hampir mati karena dikeroyok oleh pemburu kekuatan. Dia menggunakan mantra yang sama dengan yang kamu pakai barusan. Apakah kamu yang menyelamatkanku malam itu?" tanya Arlan.


Wu Jin Ming terdiam sejenak untuk berpikir. Sepertinya tidak masalah jika dia mengatakannya sekarang pada Arlan.


****


Bersambung...


Kak numpang promo novel karya temanku ya...

__ADS_1



__ADS_2