
Pagi hari menjelang kuliah. Wu Jin Ming masih berdiam diri di dalam mobil meskipun sudah sampai di kampus Rubby. Pintu mobil juga masih terkunci.
"Sayang, jaga dirimu baik-baik. Jika kamu merasa dalam bahaya segeralah memanggilku dengan pengendali pikiran." gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajah Wu Jin Ming.
"Tentu saja, Sayang. Aku pasti akan melakukannya. Kamu ada jadwal pemotretan hari ini?" tanya Rubby.
"Nggak ada."
Wu Jin Ming menjadi sedikit bicara hari ini. Pikirannya terus mengarah pada kemunculan Zhu Zheng. Bukan pertarungan yang dia takutkan, tapi keselamatan Rubby yang kini menjadi istrinya.
"Beristirahatlah di rumah. Jangan lupa jemput aku sore nanti!"
Rubby mencondongkan tubuhnya untuk mencium Wu Jin Ming. Wu Jin Ming gelagapan karena sedikit melamun. Alhasil, Rubby tampak kecewa dan tidak jadi menciumnya.
"Buka pintunya!" ucap Rubby kesal.
"Maaf Sayang. Tadi aku sedang melamun," ucap Wu Jin Ming mencoba untuk jujur. Dia tahu sekarang Rubby sedang merajuk.
"Pasti mikirin Catherine!" Rubby membuang muka ke arah lain.
"Mana ada. Bahkan wajahnya saja aku tak ingat. Aku sedang memikirkan rivalku yang mulai bangkit Sayang. Aku merasakan kekuatannya yang tertinggal dalam kecelakaan itu. Dia musuh yang sangat berbahaya," jelas Wu Jin Ming. Tidak ada gunanya merahasiakan hal ini dari Rubby. Wu Jin Ming tidak ingin Rubby berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Rubby menoleh. Dia teringat akan kata-kata Ivo. Kemarin Ivo juga merasakan kekuatan jahat mendekati Rubby. Mungkinkah rival Wu Jin Ming adalah orang yang sama dengan pembunuh ayahnya.
"Ah, maaf. Aku telah salah paham." seulas senyum terlukis di wajah cantik Rubby.
"Nggak apa Sayang. Aku akan menemui Dewa Dewi hari ini. Semoga aku bisa datang tepat waktu untuk menjemputmu," ucap Wu Jin Ming lembut.
"Fokuslah untuk urusanmu Sayang. Aku bisa pulang naik taksi. Aku akan mengabarimu nanti."
"Selamat belajar Sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
Tatapan mereka beradu. Wu Jin Ming melanjutkan ciuman Rubby yang sempat tertunda. Meski hanya sekilas saja, itu sudah cukup untuk membuat mereka bersemangat.
Rubby berjalan meninggalkan mobil Wu Jin Ming dengan wajah yang ceria. Wu Jin Ming masih menunggunya masuk ke dalam kampus. Di pintu gerbang Rubby membalikkan badannya dan melambai ke arah Wu Jin Ming.
__ADS_1
Melihat Rubby telah masuk ke dalam kampus dengan aman, Wu Jin Ming segera melajukan mobilnya pulang ke rumah Rubby.
Di teras rumah Rubby, Sofi, mamanya Arlan sedang duduk membawa sebuah kado. Dia terpukau melihat ketampanan Wu Jin Ming. Pantas saja putranya kalah telak darinya.
"Selamat pagi, Nak!" sapa Sofi.
"Pagi, Tante. Nyari Rubby, ya? Baru saja saya anter kuliah," jawab Wu Jin Ming ramah.
"Iya nih. Emm, aku nitip ini saja ya. Hari ini kan hari ulang tahunnya. Ini ada kado kecil dari saya dan juga kue tart. Tolong kuenya taruh di kulkas dulu ya. Takut basi soalnya," jelas Sofi panjang lebar.
"Terimakasih, Tante. Nanti saya sampaikan pada Rubby. Mari masuk dulu Tante!" Wu Jin Ming mempersilakan Sofi untuk masuk ke dalam rumah.
"Nggak usah lah. Tante masih ada urusan. Salam aja buat Rubby, ya. Kalau kalian ada waktu mainlah ke rumah." Sofi bersiap untuk pulang.
"Pasti Tante. Kami juga sudah lama nggak bertemu dengan Arlan. Mungkin jika nggak ada jadwal besok kami main ke sana."
"Beneran. Tante tunggu lho!"
Wu Jin Ming mengangguk sambil tersenyum.
"Ya, sudah. Tante pergi dulu." Sofi menepuk bahu Wu Jin Ming pelan sebelum berbalik.
Sofi mengangguk dan tersenyum sambil berlalu.
Wu Jin Ming segera menyimpan barang pemberian dari Sofi untuk Rubby. Wu Jin Ming mengingat kata kulkas. Tapi dia lupa yang mana yang harus di simpan di kulkas. Tidak mau pusing akhirnya Wu Jin Ming menyimpan keduanya di dalam kulkas.
Mengingat liontin perpindahan dimensinya ada di leher Rubby. Wu Jin Ming menemui Dewa Dewi dengan bermeditasi. Hanya roh atau jiwanya saja yang pergi. Raganya tetap tinggal di rumah Rubby.
Di tempat para Dewa sedang ada pesta. Wu Jin Ming melewati dayang istana yang sedang menari di depan altar tempat para Dewa berkumpul. Para Dewa berdiri untuk menyambutnya.
"Selamat datang Panglima Harimau!" sapa Dewa Penguasa Langit.
"Salam Dewa Dewi!" Wu Jin Ming memberi hormat.
"Berkat kami untukmu. Cahaya kemilau di tubuhmu menandakan jika sekarang kamu sudah setara dengan kami. Berendamlah di telaga suci untuk mengukuhkan dirimu sebagai dewa."
Wu Jin Ming ternganga mendengar ucapan Dewa langit. Dia tidak menyangka dirinya sudah memiliki kekuatan Dewa. Telaga suci akan menentukan tingkat dan kemampuannya sebagai Dewa.
__ADS_1
"Terimakasih Dewa. Sebelum berendam bolehkah aku bertanya. Sepertinya aku melewatkan sebuah pesta." Wu Jin Ming melihat sekeliling aula. Pesta para Dewa masih berlangsung dengan meriah.
"Benar. Kami mengadakan pesta peringatan kelahiran Putri Virs. Menurut ramalan kitab kuno dia akan datang membawa cahaya di istana ini."
"Putri Virs? Sepertinya aku belum pernah mendengar namanya."
Wu Jin Ming menatap para Dewa penuh rasa ingin tahu.
"Dia keturunan Dewi Ivo dan seorang manusia yang memiliki kekuatan spiritual murni. Dewi Ivo merupakan seorang bidadari yang di usir dari istana langit. Dewi Ivo tidak tahu sepeninggalnya istana bidadari telah dihancurkan oleh Zhu Zheng dengan bantuan Han Xi dan Xi Xiang."
"Lalu? Apakah tinggal Putri Virs saja yang tersisa saat ini?" Wu Jin Ming semakin penasaran dengan cerita Dewa Langit. Dia seakan merasakan perasaan yang tidak asing dengan orang-orang yang di sebutkan oleh Dewa Langit.
"Entahlah. Sepertinya Dewi Ivo masih hidup tetapi sangat minim sekali informasi tentangnya. Tidak ada yang tahu tentang keberadaannya."
"Sayang sekali." Wu Jin Ming menghembuskan nafas kasar. Jawaban dari Dewa Langit malah membuatnya semakin penasaran.
"Wu Jin Ming! Aku sampai lupa bertanya. Apa tujuanmu datang kemari?" tanya Dewa Langit.
"Ah, aku juga hampir melupakannya. Aku ingin mengabarkan pada Dewa tentang kebangkitan Zhu Zheng."
Ucapan Wu Jin Ming mendapat tatapan serius dari para Dewa. Suasana berubah menjadi dingin dan mencekam. Bayangan mengerikan terlintas di benak mereka. Mereka ingat betapa bengis dan kejamnya Zhu Zheng.
"Apakah kamu pernah melihatnya?" tanya Dewa Langit.
Wu Jin Ming menggeleng.
"Lalu dari mana kamu tahu?" Dewa Langit menatap Wu Jin Ming menyelidik.
"Aku menemukan jejak energinya yang tertinggal dalam sebuah kecelakaan. Aku tidak mungkin salah karena sudah beberapa kali bertempur melawan Zhu Zhen," jelas Wu Jin Ming.
"Aku tahu. Segeralah berendam di telaga suci. Kamu harus bersiap untuk menghadapi Zhu Zheng."
"Baik Yang Mulia Dewa Langit!"
Wu Jin Ming memberi hormat sebelum berlalu dari hadapan para Dewa. Dia di antar oleh dayang istana menuju kolam besar berwarna pelangi yang di kenal dengan nama telaga suci. Hawa energi spiritual yang kental sudah terasa dari jarak yang yang cukup jauh. Langkah Wu Jin Ming semakin ringan membayangkan apa yang akan dia capai sebentar lagi.
****
__ADS_1
Bersambung...