
Hal yang tak terduga terjadi. Tubuh Shano terlihat menyusut menjadi kecil. Hawa dingin yang ditimbulkan oleh jurusnya pun berangsur menghilang.
Wu Jin Ming mengurangi kewasapadaannya. Dia membawa Rubby turun mendekati Shano. Sepertinya Shano berubah menjadi seekor kera.
"Rubby, apa jurus yang kamu gunakan?" tanya Wu Jin Ming.
"Aku nggak tau. Aku cuma meminta selendang itu untuk menyerap seluruh kekuatan Shano." Rubby benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.
"Sekarang coba kamu tarik kembali seledangmu!" Wu Jin Ming merasa semuanya sudah kembali aman.
Rubby melakukan apa yang dikatakan oleh Wu Jin Ming. Dia melakukan gerakan pengendalian energi untuk menarik selendang miliknya. Selendang itu bergerak sendiri seiring dengan gerakan tangan Rubby. Lilitan di tubuh Shano perlahan terbuka. Selendang itu terbang ke arah Rubby setelah menyelesaikan tugasnya.
"Apakah ini hasil kultivasi terakhirmu, Rubby?" tanya Wu Jin Ming.
"Iya Kak. Tapi aku belum bisa mengendalikannya sepenuhnya. Aku juga belum tahu selendang ini bisa buat apa aja." Rubby menyimpan selendangnya dengan menyerapnya melalui telapak tangan.
Shano berubah menjadi seekor anak kera berekor panjang. Dia terlihat tak berdaya. Anak kera itu berjalan ke arah Rubby.
Rubby sedikit waspada. Dia takut anak kera itu kembali menyerangnya. Saat Shano bergerak maju, Rubby berjalan mundur untuk menghindarinya.
"Jangan takut Dewi Bulan! Aku hanya ingin berterimakasih padamu." anak kera itu rupanya bisa berbicara. Dia berhenti dihadapan Rubby lalu berlutut. Tangannya mengatup memberi hormat.
Rubby terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Shano. Rubby menatap Wu Jin Ming penuh tanda tanya. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan atau lakukan pada anak kera perwujudan dari Shano.
"Aku dan Dewi Bulan memberkatimu Shano. Jadilah siluman yang baik. Aku akan membuka jalur energimu yang rusak karena jurus yang kamu gunakan." Wu Jin Ming menyalurkan energinya melalui kedua jarinya. Dia memperbaiki kerusakan arai energi inti Shano agar bisa berkultivasi lagi.
"Terimakasih Rajaku. Aku akan memperbaiki sikapku. Aku akan bertapa setelah ini. Aku bersedia mengabdi padamu dan menerima perintahmu Yang Mulia Raja." kera kecil itu memberi hormat pada Wu Jin Ming.
"Bangunlah! Bisakah kamu membebaskan gadis-gadis yang kamu culik dan mengembalikan kesadarannya!" Wu Jin Ming melihat beberapa gadis yang di culik oleh Shano.
"Baik Yang Mulia, tapi aku hanya bisa mengembalikan beberapa saja. Sebagian dari mereka sudah kehilangan sifat manusianya." Shano terlihat ketakutan. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Ada rasa penyesalan di hatinya.
"Bebaskan semuanya! Aku akan meminjamkan kekuatanku untuk mengembalikan keadaan mereka seperti semula." Wu Jin Ming mulai bersiap meminjamkan kekuatannya.
"Ampun Yang Mulia. Tapi itu akan membuat Yang Mulia kehilangan limapuluh persen energi yang Anda miliki." kera kecil itu mencoba mengingatkan Wu Jin Ming.
"Aku tahu. Itu bukan masalah besar untukku. Aku bisa memulihkannya dalam beberapa hari." selama tidak ada pertarungan yang berarti, sisa energi yang Wu Jin Ming miliki masih bisa untuk menjaga diri.
__ADS_1
"Baik Yang Mulia." kera kecil Shano mulai berkonsentrasi. Dia menerima aliran energi dari Wu Jin Ming melalui punggungnya. Shano memusatkan kekuatannya untuk membebaskan para gadis yang dia culik sejak beberapa bulan yang lalu.
Banyak di antara mereka yang sudah mati. Ada belasan gadis yang bisa diselamatkan. Gadis-gadis yang sudah sadar satu persatu meninggalkan Danau Arx.
"Sudah selesai Yang Mulia." Shano menghentikan penyerapan pancaran energi dari Wu Jin Ming.
"Hmm." Wu Jin Ming menarik telapak tangannya dari punggung Shano. Dia menetralkan gelombang energi yang masih tersisa di tubuhnya lalu merubah penampilannya menjadi manusia modern.
Rubby mengikuti apa yang dilakukan oleh Wu Jin Ming. Rubby kembali berpenampilan kekinian seperti sebelumnya. Wanita berusia 20 tahun yang sangat cantik memesona siapapun yang memandangnya.
Wu Jin Ming menggandeng tangan Rubby dan melintasi pagar gaib yang di buat oleh Shano. Shano melompat ke dimensinya untuk bermeditasi. Sebelum pergi dia mengembalikan keadaan seperti semula dan menghapus pagar gaib yang dibuatnya.
"Yang, tau nggak. Sumpah aku tadi tegang banget!" Rubby membuka percakapan.
"Siapa suruh pergi diam-diam. Aku hampir putus asa nyariin kamu tadi." Wu Jin Ming meluapkan kekesalannya.
"Ya maaf. Aku tadi penasaran lihat ekor di balik semak-semak. Trus aku samperin." Rubby meringis berharap Wu Jin Ming tidak mengungkitnya lagi.
"Tapi kamu kan bisa bilang dulu sama aku, Rubby. Kamu nggak bisa pergi begitu saja." nada bicara Wu Jin Ming masih terdengar kesal.
Wu Jin Ming menoleh ke arah Rubby. Dia menatapnya tak percaya. 'Apakah Rubby cemburu?' gumamnya dalam hati.
"Kenapa? Aku nggak boleh jeles." bibir Rubby mengerucut. Dia menoleh ke arah lain. Dia merasa malu mengakui perasaannya yang sedang cemburu.
"Maafkan aku Sayang. Aku nggak tahu kalau itu membuat kamu cemburu. Kamu lucu kalau cemberut gitu," goda Wu Jin Ming.
"Jadi kamu seneng kalau aku cemberut." Rubby melepaskan tangannya dari genggaman Wu Jin Ming. Sekarang dia berkacak pinggang sambil menatap Wu Jin Ming garang.
"Jangan marah Sayang! Bukan itu maksudku. Kamu kalau nggak cemberut lebih cantik." Wu Jin Ming hendak memeluk Rubby tapi Rubby menghindar mundur.
"Jadi sekarang aku jelek, gitu?" Rubby kembali merajuk.
"Salah lagi!" Wu Jin Ming menepuk jidatnya. Susah kalau menghadapi wanita yang sedang marah.
"Ahh, Sayang. Kamu jadi orang nggak peka banget sih!" Rubby menggelitik pinggang Wu Jin Ming karena sebal.
Wu Jin Ming mencoba lari menghindari kelitikan Rubby. Terjadilah aksi kejar-kejaran di antara mereka. Mereka sama-sama lelah. Wu Jin Ming terduduk pasrah.
__ADS_1
"Hahh... hah... aku capek Sayang." Wu Jin Ming mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Dia menyelonjorkan kakinya dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya di belakang punggung.
"Sama... huft... hah... aku juga capek." Rubby mengikuti gerakan Wu Jin Ming. Rasa kesalnya sudah menguap bersama kelelahan mereka.
"Kamu masih ingin di sini atau pulang, Sayang?" tanya Wu Jin Ming lembut.
"Aku masih ada beberapa tugas kuliah, Kak. Tapi sebelum pulang aku ingin beli es kelapa muda itu." Rubby menunjuk seorang penjual es kelapa muda yang berada tak jauh dari mereka.
"Baiklah. Ayo kita beli!" Wu Jin Ming berdiri lebih dulu lalu membantu Rubby untuk berdiri.
"Es kelapa mudanya dua Pak." Rubby memesan pada bapak penjual. Mumpung tidak ada antrian.
"Di bungkus atau di minum sini Non?" tanya penjual itu.
"Di bungkus aja, Pak. Pake cup!" Rubby menunjuk deretan cup yang ada di depannya. Takutnya penjual itu tanya lagi pake cup atau pakai plastik.
"Baik Non." penjual itu segera membuatkan pesanan yang di minta Rubby. Dia membelah kelapa yang baru karena Rubby meminta yang masih segar.
Wu Jin Ming terus mengamati penjual kelapa yang sedang bekerja itu. Dia merasa iba. Di usianya yang sudah tua masih terus bekerja. Tanpa sepengetahuan Rubby dan penjual itu, Wu Jin Ming meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di kotak penyimpanan uang hasil penjualan milik pak tua itu.
"Berapa Pak?" tanya Rubby setelah menerima pesanannya.
"Duapuluhribu Non." penjual itu mengambil uang limapuluhribuan dari tangan Rubby.
"Ambil saja kembaliannya Pak." Rubby memberikan satu cup es kelapa muda untuk Wu Jin Ming lalu berbalik pergi dari sana.
"Terimakasih banyak Non. Semoga rejekinya bertambah banyak." penjual itu terlihat senang.
"Sama-sama Pak." Rubby menoleh sebentar sambil tersenyum lalu lanjut berjalan.
Penjual es kelapa muda itu semakin terkejut saat akan menyimpan uang yang baru saja di terimanya. Di dalam kotak uangnya dia mendapati beberapa uang ratusanribu. Dia tidak tahu darimana uang itu datang. Kotaknya selalu dia kunci setelah selesai menyimpan uang.
"Alhamdulillah." penjual itu sangat senang. Dari manapun asalnya uang itu dia percaya jika itu rejeki dari Tuhan.
****
Bersambung...
__ADS_1