TIGER WU

TIGER WU
BERGEJOLAK


__ADS_3

Melihat hancurnya tubuh ketua preman yang meledak itu tiba-tiba perut Rubby terasa bergejolak. Dia merasakan mual dan jijik melihat potongan-potongan tubuh yang sudah tidak berbentuk itu. Kepalanya rasanya berputar-putar melihat sekeliling.


"Huueekkk! Hueeekkk!" Rubby sudah tidak tahan lagi menahan rasa ingin muntah. Dia melemparkan balok kayu di tangannya dan berjalan terseok-seok menyongsong Arlan yang berlari ke arahnya.


Arlan segera memijit tengkuk Rubby setelah menjauh dari lokasi pertempuran. Rubby memuntahkan seluruh isi perutnya. Tidak biasanya Rubby seperti ini. Pernah dia melihat hal yang lebih menjijikkan dari ini pun reaksinya biasa saja.


Orang yang tadi di tolongnya tadi masuk ke dalam rumahnya dan membawakan Rubby segelas air hangat. Anak buah preman yang mati tadi datang menghampiri Rubby. Sementara warga yang berkerumun membereskan sisa-sisa kekacauan.


"Nona! Sekarang bagaimana nasib kami yang hidup tanpa seorang pemimpin?" salah satu anak buah preman itu bicara.


"Heh! Kalian nggak lihat Rubby sedang muntah-muntah!" seru Arlan kesal.


"Sudah-sudah! Jangan ribut lagi!" Rubby merasa sedikit lebih baik setelah berkumur dan minum air hangat. Perutnya sudah tidak bergejolak lagi.


"Maafkan kami Nona! Kami tidak punya pekerjaan. Kami terbiasa mencari makan dengan merampok dan merampas barang milik orang lain," ucap preman itu.


"Kalian kan bisa cari kerja yang nggak mengusik orang lain. Tubuh kalian gagah dan pastinya juga sehat. Bisa kan jadi kuli atau apa yang bisa menghasilkan uang," jelas Rubby.


"Tidak ada yang mau menerima kami bekerja. Kami adalah sampah masyarakat. Sebelum memberi pekerjaan mereka pasti sudah takut duluan."


"Yakin kalian bisa berubah dan nggak akan melakukan pekerjaan buruk kalian?" tanya Rubby.


"Kami berjanji Nona. Kami bersumpah untuk tidak melakukan tindak kejahatan lagi setelah ini."


Rubby melirik ke arah Arlan. Dalam hal ini Arlan lah yang bisa memberi solusi. Dia punya banyak perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan lain-lain yang tentunya banyak menyerap tenaga kerja.


"Apa lihah-lihat?" ketus Arlan tahu apa yang ada di pikiran Rubby.


"Ar! Kamu kan bos. Kasih dong kerjaan buat mereka!" seru Rubby.


"Kog aku sih! Kan banyak lowongan kerja di tempat lain." Arlan masih enggan untuk menanggapi usulan Rubby.


"Kamu nggak denger mereka sudah nyari kerjaan karena sudah di cap sebagai preman di mana-mana. Lumayan kan mereka bisa bela diri. Kali aja ada proyek kamu yang butuh di amankan dari para penyamun," usul Rubby.

__ADS_1


Arlan berpikir sejenak. Dalam hal ini Arlan sependapat dengan Rubby. Sepertinya apa yang dikatakan Rubby ada benarnya juga. Dia bisa dapet dobel pekerja sekaligus penjaga keamanan.


"Heh! Kalian yakin nggak akan jadi preman lagi?" tanya Arlan maju ke hadapan para preman itu.


"Yakin Bos! Kami akan berubah. Kami akan setia pada Anda jika Anda benar-benar memberi kami pekerjaan dan mata pencaharian. Kami punya anak istri yang harus kami hidupi," jelas salah satu preman.


"Kalian tinggal di sekitar sini?" tanya Arlan lagi.


"Iya Bos! Kami tinggal tidak jauh dari sini."


Arlan mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna silver. Hanya orang-orang tertentu saja yang dia berikan kartu nama itu. Memang tidak ada alamat atau nomer yang bisa dihubungi di sana tapi kartu itu adalah tanda bahwa pemegang kartu itu orang yang dekat dengan Arlan.


"Bawa itu menemui Sony di kontruksi daerah XPermai blok 7. Aku akan memberitahunya nanti. Kalian akan di beri pekerjaan olehnya," jelas Arlan.


"Siap Bos!" para preman itu tersenyum senang. Mereka memiliki harapan yang lebih baik dalam hidup mereka. Dengan begini mereka bisa lepas dari jeratan dunia hitam.


Arlan memapah Rubby yang masih terlihat pucat masuk ke dalam mobilnya. Rubby terlihat berkeringat seperti menahan sesuatu yang menyiksa. Arlan memegang keningnya setelah berada di dalam mobil.


"Iya... kenapa kamu tadi tiba-tiba muntah? Padahal sebelumnya kamu sangat hebat. Wuiish sekarang kamu keren! Dari mana kamu belajar ilmu tenaga dalam?" cerocos Arlan sambil menjalankan mobilnya.


"Aku nggak tahan sama bau amis mayat orang tadi. Walaupun nggak terlihat darahnya tapi baunya begitu menyengat. Mengenai dari mana tenaga dalam yang aku miliki itu rahasia."


"Sejak kapan kamu main rahasia-rahasiaan sama aku?"


"Sejak kamu ninggalin aku nggak ada kabar!" ketus Rubby.


"Mulai deh dibahas lagi. Udah ahh! Kita udah sampai nih!"


Mobil Arlan sudah memasuki area parkiran resort tempat Wu Jin Ming berada. Arlan dan Rubby bersiap untuk turun. Tapi sebelum itu, Arlan mengambil tisu dan mengelap keringat Rubby yang menetes di pelipisnya.


Melihat Rubby dari dekat membuat Arlan kembali terbuai dengan kecantikan teman masa kecilnya itu. Meskipun Arlan berusaha keras untuk menekan perasaannya agar tidak terpesona olehnya, tetap saja hatinya berontak. Perasaan itu masih tetap ada dan tidak mau hilang dari hatinya.


"Terimakasih!" ucapan Rubby membuyarkan lamunan Arlan.

__ADS_1


"Bisa turun sendiri?" tanya Arlan.


"Hmm." Rubby mengangguk.


Mereka berdua berjalan memasuki resort dan berhenti di depan meja resepsionis. Mereka bertanya di mana lokasi pemotretan Tiger Wu. Seorang pekerja resort menawarkan diri pada mereka untuk mengantarkan mereka ke lokasi.


Sepanjang perjalanan menuju lokasi, Rubby merasa kagum melihat pemandangan resort yang indah dan asri. Suasana sore menambah kesan sejuk dan nyaman. Rubby membayangkan betapa senangnya bila bisa menginap beberapa hari di sana.


"Indah banget ya By...," ucap Arlan sambil melihat pemandangan sekitar. Dia berjalan santai dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Iya... aku ingin menginap di sini beberapa hari kalau ada uang," jujur Rubby.


Arlan menatap Rubby penuh arti. 'Andai kamu mau bersamaku, By. Jangankan untuk menginap jika kamu suka aku akan membelikannya untukmu. Sayang sekali, kamu nggak memilihku,' gumam Arlan dalam hati.


"Tiger pasti ada lah kalau cuma buat nginep di sini," ucap Arlan.


"Mungkin. Tapi aku nggak mau dia menghamburkan uang untuk sesuatu yang nggak penting seperti ini."


"Bahagia dan membahagiakan pasangan itu penting. Apa perlu aku yang bayarin buat kalian?" tanya Arlan tulus.


"Nggak! Nggak perlu. Udah lupain aja! Aku cuma asal ngomong aja kok tadi."


Arlan dan Rubby sampai di mana Wu Jin Ming berada. Wu Jin Ming masih berpose di depan kamera saat Rubby dan Arlan tiba di dekatnya. Manager Lin menghampiri Rubby karena mereka sudah saling mengenal sebelumnya.


"Hai, By!" sapa manager Lin.


"Hai, manager Lin! Masih lama kah pemotretan selesai?" tanya Rubby basa basi.


"Mungkin sampai senja saja. Ini?" manager Lin menunjuk ke arah Arlan. Dia penasaran siapa laki-laki yang bersama dengan Rubby itu.


****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2