TIGER WU

TIGER WU
PEDEKATE


__ADS_3

Seluruh penduduk Desa Yao telah berhasil di obati. Juga dengan penduduk desa lain yang tertarik ke sana oleh kekuatan penyihir Wang Yu. Mereka semua berkumpul memenuhi bukit Virs yang sebelumnya di anggap sebagai bukit sakral dan angker. Bahkan jarang sekali ada orang yang berani menyebutkan namanya secara terang-terangan.


Agar Desa Yao benar-benar bersih dari jejak energi yang ditinggalkan oleh penyihir Wang Yu, Ratu Ivo harus menghapusnya dengan kekuatan yang dia miliki.


Sejak kedatangannya ke bukit Virs, Ratu Ivo belum mengeluarkan tongkatnya yang agung. Tongkat yang sangat bercahaya melebihi cahaya pada mahkotanya. Untuk kali ini, tongkat itulah yang akan dia pakai untuk membersihkan Desa Yao dan mengembalikannya menjadi desa yang sewajarnya.


Ratu Ivo mengangkat tangannya ke atas lalu tongkat yang sangat bercahaya itu muncul di dalam genggamannya.


Penduduk Desa Yao merasa terpukau melihat tongkat itu.


Ratu Ivo terbang pelan menuju puncak bukit diikuti oleh pasukannya dan seluruh penduduk desa. Mereka penasaran dengan apa yang ingin dia lakukan. Sepertinya malam ini mereka telah kehilangan rasa kantuknya karena melihat peristiwa demi peristiwa yang menjadi sejarah baru bagi Desa Yao.


Di atas puncak bukit Virs, Ratu Ivo mendarat dengan anggun di atas rerumputan yang dikelilingi oleh bunga-bunga kecil yang cantik. Tempat kesukaannya ketika dahulu tinggal di desa ini. Di puncak bukit Virs juga tumbuh beberapa jenis tanaman obat. Sayang, penduduk desa sepertinya tidak ada yang mengetahui itu karena sangat takut mendekati bukit ini.


Mengingat hari sudah hampir dini hari maka Ratu Ivo harus segera menuntaskan tugasnya. Dia memukulkan tongkatnya sekali ke tanah tempatnya berpijak. Sebuah lingkaran cahaya berwarna pelangi muncul dan terus melebar hingga menaungi bermil-mil jauhnya.


"Wah, indah sekali!" seru penduduk desa yang melihat langit tertutup oleh cahaya pelangi itu.


Perlahan cahaya itu turun dan semakin turun. Pada jarak kurang dari sejengkal di atas kepala mereka cahaya itu berpendar. Sebagian masuk ke dalam tubuh para penduduk dan sisanya terserap ke tanah.


"Tugasku sudah selesai. Tidak ada yang perlu kalian takutkan sekarang. Jadilah Desa Yao yang dulu. Desa indah yang makmur, indah, dan penuh kedamaian."


Ratu Ivo berpamitan dengan caranya.


"Terimakasih, Dewi! Engkau telah kembali dan memberkati desa ini. Kami sangat bersyukur bisa terlepas dari petaka mengerikan yang terus membayang-bayangi kami selama ini," ucap salah seorang penduduk yang terlihat sangat renta.


Ratu Ivo datang menghampirinya.


"Berapa usiamu? Sepertinya kekuatan sihir jahat membuatmu bisa berumur panjang."


"Saya tidak ingat, Dewi. Saya hanya tahu setelah kepergianmu aku masih anak-anak waktu itu lalu penyihir Wang Yu menjadikanku seekor kura-kura. Aku terus bersembunyi dari perburuan penduduk yang tidak tahu jika aku sesungguhnya juga manusia seperti mereka."


"Malang sekali nasibmu. Sekarang nikmatilah sisa umurmu dengan penuh kedamaian. Mintalah tempat tinggal pada penduduk lain yang lebih mampu."


Mendengar penuturan Ratu Ivo, seorang penduduk datang menghampirinya.

__ADS_1


"Tinggalah bersamaku, Kek. Kamu tidak perlu bekerja dan bersusah payah. Nikmatilah hari tuamu bersama kelurgaku. Aku juga sudah kehilangan seluruh anggota keluargaku sebelumnya."


Ratu Ivo tersenyum senang. Dia kembali berjalan ke puncak bukit.


"Aku harus pergi sekarang. Hiduplah yang rukun dan saling mengasihi! Jangan biarkan ambisi dan keserakahan menguasai hati kalian karena itu adalah awal sebuah kehancuran! Kelestarian desa ini aku titipkan pada kalian. Terimalah berkat dariku!"


Dari tangan Ratu Ivo keluar sebuah cahaya yang sangat mirip seperti bunga Aolin. Dia melemparkannya ke atas hingga bunga itu berubah menjadi butiran-butiran cahaya yang sangat kecil yang menyebar ke segala arah.


Bersamaan dengan itu, Ratu Ivo dan pasukannya berubah menjadi bola cahaya lalu pergi menghilang di atas langit.


Penduduk Desa Yao bersorak senang. Mereka saling berpelukan satu sama lain penuh keharuan. Akhirnya mereka semua terbebas dari belenggu kedzaliman penyihir Wang Yu.


"Aku harus mendapatkan pendekar Wu!" seru Feng Lu.


"Jangan gila, Lu! Apa kamu tidak melihat bagaimana cintanya pada Rubby? Pikiranmu masih waras, kan?" tanya pak Feng.


"Siapa pendekar Wu?" tanya Ailie yang tidak tahu karena baru tersadar setelah peristiwa ini.


"Pemuda tampan, gagah, pemberani, dan sangat hebat." Feng Lu menjelaskannya dengan penuh perasaan dan sedikit berlebihan.


"Dia sudah memiliki istri." Pak Wang tidak ingin Ailie dan Lilea terpengaruh oleh omongan sepupunya yang sudah tidak waras itu.


Ailie dan Lilea saling berpandangan.


Mereka tidak tahu seperti apa pemuda yang telah membuat kakak sepupunya itu begitu terobsesi padanya.


"Sebaiknya kita pulang sekarang. Hari sudah hampir pagi dan tubuhku juga terasa sangat lelah."


Pak Feng beranjak dari duduknya diikuti oleh yang lainnya.


Lampu penerangannya hilang dan jatuh entah di mana. Hanya pak Wang yang memilikinya. Mereka berdua meminta ketiga putrinya itu untuk pulang dan mengiringnya di belakang.


Dalam perjalanan pulang mereka berpapasan dengan Wi Lau, Ah Mau, dan Ming Yuan di perbatasan desa.


Mereka menghadang rombongan pak Feng.

__ADS_1


Ketiga gadis itu berpidah posisi dan bersembunyi di belakang pak Feng dan pak Wang. Mereka takut jika ketiga itu datang untuk mengganggu mereka.


Pak Wang maju selangkah ke hadapan tiga pemuda itu.


"Apa yang kalian inginkan? Jika ingin merampok, kami tidak mempunyai harta benda."


"Anda salah paham. Kami ingin meminta maaf."


Wi Lau berbicara sambil melirik ke arah Ailie.


"Minta maaf?" Pak Wang terlihat kebingungan.


Pak Feng menyusul maju ke depan tepat di samping pak Wang. Mereka mencoba mengingat-ingat kembali sosok para pemuda di hadapannya itu namun tidak ada bayangan sedikitpun juga tentang siapa mereka. Feng Lu dan yang lainnya juga tidak mengenal mereka.


"Maaf mungkin sebelumnya Anda tidak mengenali kami. Aku siluman mutan yang semalam menyerang kalian. Tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi karena kami sekarang sudah menjadi manusia seutuhnya. Kami ingin meminta maaf pada siapa saja yang sudah kami ganggu untuk mengurangi rasa bersalah kami."


Pernyataan Wi Lau sangat tulus.


"Dia tampan sekali," bisik Lilea pada kedua saudarinya.


"Masih tak seberapa dibandingkan dengan kak Wu," ucap Feng Lu melihat Wi Lau sekilas lalu nembuang mukanya ke arah lain.


"Jangan bicara begitu! Kebencian bisa saja berubah menjadi cinta dalam sekejap." Ailie menyenggol bahu Feng Lu.


"Mana ada! Tidak ada yang istimewa dari para pemuda-pemuda itu yang menarik perhatianku." Feng Lu masih kekeh pada pendiriannya.


Pak Feng dan pak Wang sudah selesai mengobrol bersama Wi Lau dan yang lainnya. Mereka meminta ketiga putrinya untuk kembali berjalan di depan mereka.


Wi Lau dan kedua temannya mengikuti mereka dengan dalih ingin memastikan mereka keluar dari desa dengan aman.


Ailie dan Lilea merasa senang namun tidak dengan Feng Lu yang tidak menyukai keberadaan ketiga pemuda itu yang berjalan di samping mereka.


****


Bersambung...

__ADS_1


Kak numpang promo karya temanku ya...



__ADS_2