TIGER WU

TIGER WU
KETAKUTAN ALFON


__ADS_3

Alfon menghentikan langkahnya ketika merasa Rubby jauh tertinggal di belakangnya.


"Kamu jalannya lambat sekali, sih! Kayak siput!" ledek Alfon pada Rubby.


"Kaki kamu itu terlalu panjang kayak ayam kalkun!" balas Rubby.


"Hahaha! Kamu ada-ada saja! Siapa suruh punya tubuh kecil mungil seperti kelinci!" ejek Alfon.


"Terserah suka-suka kamu mengejekku. Berdebat denganmu hanya semakin membuatku lapar saja!"


"Uuu, kacian! Kamu masih kuat jalan, kan? Jangan pingsan di sini! Aku juga belum sarapan jadi tidak kuat menggendongmu."


"Dasar payah!" Rubby menggeleng.


Mereka terdiam karena suah sampai di depan kantin yang terlihat sepi. Jam sarapan sudah lewat, sedangkan jam makan siang masih lama. Mereka memesan makanannya lalu membawanya ke meja setelah selesai membayar. Alfon mentraktir Rubby pagi itu.


"Terimakasih, Bos! Semoga panjang umur, enteng jodoh dan murah rejeki!" seru Rubby ketika mereka sudah mengambil tempat duduknya masing-masing.


"Kamu terlalu berlebihan, By! Ini hanya hal kecil saja."


"Ayo kita makan! Jangan banyak bicara!" seru Rubby.


Mereka segera menikmati hidangan di nampan mereka masing-masing. Rasa lapar di perutnya membuat Rubby mengabaikan rasa dari makanan yang dia makan. Baginya yang penting tidak beracun dan bisa membuat perutnya kenyang.


Alfon yang terbiasa dengan makanan di restoran mahal dan masakan koki pribadi yang sangat lezat, terlihat kurang berselera. Dia makan sedikit demi sedikit dan sekedarnya saja untuk menemani Rubby makan. Selera lidahnya condong ke masakan western.


Rubby sudah hampir selesai dengan makanannya namun Alfon belum habis setengahnya. Saat mengangkat wajahnya, Alfon seperti melihat seseorang duduk di sebuah meja yang posisinya ada di belakang Rubby. Tangannya gemetar melihat wajah makhluk yang menyeramkan itu.


Melihat mata Alfon terbelalak dan tidak bergeming dari posisinya, Rubby menoleh ke arah di mana Alfon melihat.


"Kamu lihat apa, sih?" tanya Rubby penasaran.


Mata Rubby menangkap sekelebat bayangan namun tidak begitu jelas. Bayangan itu menghilang sesaat setelah dia menoleh ke arahnya. Tanpa sepengetahuan Alfon Rubby mengaktifkan mata iblisnya.


Sesosok makhluk berdiri di pojok ruangan. Wajahnya sangat jelek mirip seperti wajah laba-laba namun dia memiliki tubuh seperti manusia. Dia membalas tatapan Rubby dengan tatapan yang tidak bersahabat. Tidak ingin memulai permusuhan, Rubby mencoba bersikap biasa saja dan kembali melihat Alfon.

__ADS_1


Wajah Alfon terlihat pucat sepertinya dia sedang ketakutan saat ini. Sebagai manusia awam, melihat siluman adalah hal yang sangat jarang terjadi. Segelas jus milik Rubby juga tandas di minumnya.


"Kamu kenapa, Al? Mana minumanku dihabisin lagi!" Rubby memegang gelasnya yang telah kosong.


"Maaf. Aku akan memesannya lagi untukmu. Aku sangat haus." Alfon mencoba menyembunyikan rasa takutnya.


"Aku beli minuman kemasan saja. Biar aku temani kamu menghabiskan makananmu. Buruan habiskan!"


"Aku sudah kenyang. Tadi sebenarnya aku hanya merasa haus saja," bohong Alfon.


"Baiklah! Apa rencanamu setelah ini?" tanya Rubby mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Pulang! Maksudku aku akan pulang dulu setelah ini karena besok kakakku akan kembali ke luar negeri," ucap Alfon beralasan.


Bayangan makhluk menyeramkan itu masih tergambar jelas di dalam ingatannya. Memaksa untuk tetap tinggal di kantor hanya akan membuatnya seperti orang gila. Pasti tidak akan ada yang percaya jika dia menceritakan apa yang baru saja di lihatnya.


"Aku pikir kamu akan bekerja hari ini. Ya, sudah! Yukk!" Rubby beranjak dari duduknya.


Saat berjalan bersama Rubby, Alfon terlihat beberapa kali menoleh ke belakang. Dia takut tiba-tiba makhluk menyeramkan itu muncul dan menerkamnya dari belakang. Gigi-giginya yang tajam dan menonjol keluar pasti dengan mudah akan membuat urat nadinya putus.


"Kamu terlihat pucat! Apa kamu sakit?" tanya Rubby menyodorkan sekaleng soft drink untuk Alfon.


Alfon terdiam. Dia bingung harus mengatakan ini pada Rubby atau tidak. Tapi jika dia tidak mengatakannya dia akan terus di rundung ketakutan.


"By! Apa kamu akan menganggapku gila jika aku mengatakan hal yang tidak masuk akal?" tanya Alfon sedikit ragu.


"Tidak! Aku sedikit banyak tahu tentang ilmu metafisika. Memangnya kenapa, sih?"


"Aku tadi melihat makhluk aneh yang tiba-tiba ada lalu tiba-tiba juga menghilang. Wajahnya sangat menyeramkan. Aku takut dia tiba-tiba muncul lagi dan menerkamku." Alfon bercerita dengan gaya bahasa yang acak-acakan.


Saat bercerita, Alfon terus melihat sekeliling dengan waspada seolah-olah ada bahaya yang sedang mengintainya.


"Dia adalah seorang siluman. Sebenarnya dia bisa memperlihatkan diri di hadapan manusia dan memiliki wujud fisik juga. Mungkin dia mempunyai tujuan tertentu sehingga dia hanya akan memperlihatkan dirinya di depan orang yang dia incar."


"Beb... beb... beb...berati dia benar-benar sedang mengintaiku? Ya, Tuhan! Dosa apa yang telah aku perbuat. Aku memang sering gonta-ganti pacar tapi aku tidak pernah menghamili mereka!"

__ADS_1


"Heii!" teriakan Rubby membuat Alfon terdiam. "Jangan-jangan wanita yang kamu pacari itu adalah jelmaan dari siluman! Anaknya siluma. Atau...."


"By! Please! Jangan nakut-nakutin dong!"


Wajah Alfon yang ketakutan terlihat sangat lucu. Rubby tidak kuat lagi menahan tawa. Coba jika Alfon tersesat di hutan larangan seperti dia dulu, bisa-bisa dia terkencing-kencing di celana.


"Aku hanya bercanda, Al! Mana telapak tanganmu!" Rubby menengadahkan telapak tangan kanannya di hadapan Alfon.


"Mau kamu apakan?" Walaupun tidak tahu apa yang akan Rubby lakukan, Alfon tetap menuruti perintahnya.


Rubby menarik tangan kanannya lalu memegang tangan Alfon dengan tangan kirinya. Tanpa permisi, Rubby mengambil bolpoin yang terselip di saku kemeja Alfon. Rubby menggambar sebuah simbol di telapak tangan Alfon dengan bolpoin itu.


"Ini apa, By?" tanya Alfon tidak mengerti apa yang Rubby gambar di sana.


"Itu adalah sebuah simbol perlindungan. Kamu tunjukkan saja pada siluman yang kamu temui. Dia pasti akan pergi." Rubby mengembalikan bolpoin itu pada tempatnya.


"Benarkah! Tapi jika simbol ini pudar atau menghilang bagaimana?"


"Ya, itu derita kamu!" goda Rubby padahal simbol yang sudah Rubby gambar telah tertanam di sana dan tidak akan hilang jika bukan Rubby yang membatalkannya.


"Nanti kamu gambar lagi, ya, kalau ini hilang!" mohon Alfon.


"Hahaha! Aku hanya bercanda, Al. Simbol itu akan tetap bekerja walaupun gambarnya sudah hilang. Pulanglah! Aku harus bekerja lagi." Rubby berjalan meninggalkan Alfon.


Bukannya pergi ke arah pintu keluar, Alfon malah berjalan mengikuti Rubby.


"Aku akan kembali ke kantor saja. Sebenarnya tadi aku hanya beralasan saja." Alfon menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meringis menahan malu.


"Baiklah! Sampai nanti!" ucap Rubby sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan teamnya.


"Sampai nanti!" Perasaan Alfon sedikit lega namun dia tetap bersikap waspada.


Matanya terus melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Telapak tangan kanannya selalu dia buka untuk bersiap-siap jika sewaktu-waktu makhluk menyeramkan itu muncul di hadapannya.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2