
Rubby kembali ke tempat Tian Yu berada setelah kepergian Wu Jin Ming. Dia merasa kehilangan Wu Jin Ming walaupun cuma pergi untuk sementara. Rubby berharap Wu Jin Ming segera mengatasi masalahnya dan lekas kembali ke istana.
Langkahnya yang pelan dengan wajah yang tidak bersemangat, mengundang Tian Yu untuk bertanya.
"Ibu, kenapa ibu bersedih?" tanya Tian Yu sambil terus menatap wajah Rubby.
Rubby duduk berjongkok agar sejajar dengan putranya.
"Ibu tidak bersedih, Sayang." Rubby mengusap wajah Tian Yu lembut.
"Kalau begitu tersenyumlah, Ibu. Biar ayah jadi semangat dan cepet kembali." Tian Yu menirukan kata-kata Wu Jin Ming sebelumnya.
Mata Rubby berkaca-kaca, dia tidak tahan lagi dengan keharuannya lalu mendekap erat tubuh Tian Yu. Jiwa keibuan Rubby tumbuh dengan sendirinya seiring kehadiran Tian Yu di sisinya. Tampaknya dia sudah tidak bisa bermanja-manja lagi pada Wu Jin Ming, bisa-bisa Tian Yu akan terus bertanya banyak hal dan mungkin juga mengolok-oloknya.
Hari sudah siang, Rubby membawa Tian Yu masuk ke dalam istana untuk beristirahatlah sambil menunggu makan siang.
Rupanya Wu Jin Ming sudah menyiapkan kamar khusus untuk Tian Yu. Seorang dayang membawa mereka ke kamar itu.
"Sayang, ini kamar kamu." Rubby melihat ke sekeliling ruangan itu.
"Bagus sekali, Ibu." Tian Yu segera melompat ke atas kasur lalu tidur terlentang.
Rubby menyusulnya dan berbaring di samping putranya itu.
"Bagus kalau kamu menyukainya, ayahmu yang menyiapkan semuanya."
Kamar Tian Yu berada di istana khusus untuk para pangeran. Jika tidak salah ingat, ini adalah istana milik Wu Jin Ming sewaktu masih muda. Mungkin dia hanya merubahnya sedikit saja karena tidak banyak perubahan dari apa yang dilihat Rubby sebelumnya.
Di sana ada beberapa dayang yang selalu siap sedia melayani pangeran mereka. Rubby dan Tian Yu terlihat sedang bercengkrama sambil menunggu dayang untuk membawakan makan siang mereka ke kamar itu. Dayang berada di samping mereka ikut tertawa setiap kali Rubby membuat lelucon untuk Tian Yu.
Sebenarnya Rubby sangat ingin menceritakan tentang kehidupan modern di dunia manusia tetapi rasanya tidak mungkin dia lakukan sekarang. Tian Yu pasti akan sangat penasaran dan memintanya untuk pergi ke dunia manusia. Kalau dia betah, bisa-bisa Rubby akan gagal menemani Wu Jin Ming menjalankan tugasnya sebagai seorang raja.
Rubby juga membutuhkan identitas baru jika ingin tinggal di dunia manusia. Tidak mungkin dia memakai identitasnya yang dulu di mana dia tiba-tiba memiliki seorang putra. Kepala Rubby terasa berdenyut memikirkannya, mungkin di sinilah tempatnya yang seharusnya.
'Ngapain juga aku mikir buat balik ke dunia manusia, ya? Di sini kan enak. Apa-apa di layani, tidak perlu mikir kerja tiap hari. Hmm, sepertinya aku harus belajar menikmati hidup dan menggunakan semua fasilitas yang ada agar aku tidak tergoda untuk balik lagi ke alam manusia,' gumam Rubby.
Makanan yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Pelayan menyajikan makanan-makanan itu di atas meja yang ada di kamar itu. Setelah semuanya tertata rapi, para dayang membantu Tian Yu untuk makan.
"Makanlah juga, Ibu!" ucap Tian Yu ketika dia terus saja mengambilkan makanan untuknya dan belum mengambil untuk dirinya sendiri.
"Iya, Sayang. Ibu pasti akan makan juga. Nanti kita makan sama-sama." Setelah selesai mengambilkan makan untuk Tian Yu, Rubby segera mengambil makanan untuknya.
Lagi-lagi Rubby teringat pada Wu Jin Ming dan memikirkan apakah dia sudah makan atau belum.
••••
Tiga hari sudah Wu Jin Ming pergi meninggalkan istana mereka untuk menyisir pemberontakan yang terjadi di wilayah perbatasan.
Sebenarnya sudah ada jenderal yang ditugaskan untuk berkeliling dan mengatasi masalah ini, namun pemberontakan yang tidak hanya terjadi di satu tempat saja membuat mereka kewalahan.
Wu Jin Ming terus bergerak ke beberapa negara bagian yang sedang di landa kerusuhan. Satu persatu masalah bisa di atasi dengan baik, namun dia belum bisa menyelesaikan semuanya. Dalam perjalanan tugasnya itu, selain mempertahankan negara bagian yang dia pimpin, ada juga beberapa negara yang ingin bergabung di bawah kepemimpinannya. Wu Jin Ming menyambutnya dengan senang.
Ada sebuah negara yang dipimpin oleh seorang ratu. Kerajaan itu merupakan kerajaan siluman kera. Setelah membantu kerusuhan di sana, Wu Jin Ming pergi untuk kembali ke istananya, namun sekalian jalan, dia masih berhenti di beberapa titik wilayah untuk melihat kemajuan yang ada di sana.
Tanpa Wu Jin Ming sadari, rupanya ratu siluman kera itu menaruh hati padanya. Namanya adalah Erlong. Ratu Erlong memutuskan untuk menyusul Wu Jin Ming ke istana Kerajaan Harimau Suci.
Sebenarnya Ratu Erlong sudah tahu jika Wu Jin Ming sudah memiliki seorang permaisuri, namun dia tidak mempermasalahkan itu. Dia rela dijadikan selirnya. Hampir semua raja-raja yang di kenalnya memiliki lebih dari satu istri, Wu Jin Ming pasti tidak akan menolaknya. Ratu Erlong merasa sangat percaya diri karena dia adalah seorang ratu yang tentunya memiliki kualifikasi untuk bersanding dengan Wu Jin Ming.
__ADS_1
Rubby sedang bermain di taman ketika seorang pengawal datang menghampirinya untuk melapor. Wajahnya terlihat tidak biasa ketika sedang berhadapan dengan Rubby karena sesungguhnya yang di cari adalah Wu Jin Ming. Pengawal itu merasa takut jika Rubby merasa terganggu dan tidak bersedia mengurusi masalah kerajaan.
"Ampun Yang Mulia Permaisuri. Maaf jika kedatangan hamba mengganggu ketenangan dan kenyamanan Yang Mulia." Setelah memberi hormat, pengawal itu meminta maaf sebelum mengutarakan maksudnya.
"Tidak masalah. Katakan saja maksud dan tujuanmu menemuiku," ucap Rubby berusaha terlihat serius.
Pengawal itu mengatakan jika ada rombongan dari kerajaan bagian yang meminta untuk bertemu dengan Wu Jin Ming. Saat dia mengatakan jika raja mereka belum kembali, pemimpin dari rombongan itu tetap ingin untuk masuk dan menunggu di dalam. Pengawal itu merasa kebingungan sehingga terpaksa melapor pada Rubby.
Rubby berpikir sejenak.
Membiarkan orang masuk ke istananya memang sesuatu yang berbahaya, apalagi dia belum mengenal seluk beluk negerinya saat ini. Namun jika orang itu adalah orang yang penting, bisa saja dia dianggap bersikap tidak sopan pada tamu. Bukan itu saja, pasti semua itu juga bisa mengganggu hubungan diplomasi di kerajaan itu.
"Bawa mereka masuk dan menemuiku di ruang pertemuan." Setelah mengatakan itu, Rubby segera pergi ke ruang pertemuan dan meminta pengawal yang lain untuk memanggil seluruh pembesar istana.
"Baik, Yang Mulia." Pengawal yang melapor segera pergi ke depan untuk membawa masuk tamu yang datang.
Rubby duduk di singgasana permaisuri dan dikelilingi oleh para pembesar kerajaan. Saat ini dia berperan sebagai seorang pemaisuri yang merangkap sebagai ratu yang berkuasa. Para petinggi kerajaan tunduk dan kagum padanya karena mereka juga tahu jika ratu mereka bukanlah orang yang bisa dipandang sebelah mata.
Tamu yang ditunggu-tunggu akhirnya masuk ke ruangan itu dengan di antar oleh seorang pengawal.
"Salam hormat, Yang Mulia Ratu!" Tamu itu memberi hormat pada Rubby.
"Salam hormat untukmu juga." Rubby sengaja tidak mempersilakan wanita itu duduk.
Para pembesar kerajaan tidak berani memberikan masukan apapun karena Rubby-lah yang paling berhak untuk memutuskan sesuatu.
Rubby melihat penampilan wanita itu dari atas hingga ke bawah. Sangat elegan dan mewah, bisa dipastikan jika dia adalah seorang ratu atau bangsawan. Wajahnya lumayan cantik menurut standar kecantikan di dunia manusia walaupun Rubby tahu jika dia bukan manusia.
"Perkenalkan, nama saya Erlong. Saya adalah ratu yang memimpin kerajaan kera." Ratu Erlong memperkenalkan dirinya.
"Baiklah! Saya adalah Dewi Bintang Jingga, permaisuri Kerajaan Harimau Suci. Silakan katakan maksud dan tujuan Anda datang kemari. Selama Yang Mulia Raja tidak ada di tempat, saya pemegang kekuasaan tertinggi di sini." Rubby terlihat sangat tegas dan berwibawa.
"Boleh saya duduk di sini?" Dengan berani Ratu Erlong meminta tempat duduk di sisi Rubby.
Sebenarnya Rubby tidak suka dengan sikap Ratu Erlong yang baginya kurang sopan itu, namun dia tidak ingin mempermalukannya di hadapan para pengawalnya.
"Silakan!" Rubby menggerakkan tangannya yang terbuka pada kursi yang paling dekat dengannya.
Ratu Erlong duduk sambil membetulkan pakaian dan riasannya. Dalam hati dia merasa senang, menurutnya permaisuri kerajaan itu mudah untuk di bujuk. Dia belum tahu saja seperti apa jika Rubby mengamuk.
"Sebelumnya aku minta maaf jika Yang Mulia Ratu tidak suka dengan keterusterangan saya. Tapi saya harus mengatakan ini demi sebuah rasa yang saya miliki," ucap Ratu Erlong terlihat begitu percaya diri.
"Tidak perlu terlalu resmi dan berputar-putar. Langsung katakan saja pada intinya. Saya masih banyak urusan lain yang harus saya kerjakan." Rubby memikirkan putranya yang dia tinggalkan bersama para dayang.
"Baik, Yang Mulia Ratu. Rupanya Anda sama seperti saya yang tidak suka berbasa-basi." Ratu Erlong mengeluarkan sebuah kotak dari cincin penyimpanannya.
"Ini ada hadiah untuk, Yang Mulia Ratu dan sekaligus penanda bahwa saya melamar Yang Mulia Raja sebagai selirnya." Ratu Erlong mengulurkan tangannya yang membawa kotak hadiah itu ke hadapan Rubby.
Rubby menatap Ratu Erlong tanpa ekspresi. Dia mencoba menahan amarahnya yang hampir meledak. Rubby berusaha untuk membicarakan ini baik-baik.
"Kamu cantik, kamu terlihat menarik, dan kamu juga seorang pengusaha. Apa tidak ada seorang pangeran atau pemuda lajang yang melirikmu sehingga kamu merendahkan harga dirimu dan menginginkan posisi seorang selir?" Pertanyaan Rubby begitu menohok, membuat Ratu Erlong merasa tertampar.
"Aku akan merasa bangga dipersunting oleh Yang Mulia Raja meskipun hanya sebagai seorang selir."
Rubby mengangguk-angguk, namun anggukan itu bukan tanda dia menyetujui ucapan Ratu Erlong.
"Aku menolak lamaranmu. Jika Yang Mulia Raja ada di sini pun, dia pasti akan menolakmu karena aku tidak suka berbagi suami dengan siapapun!" jawab Rubby tegas.
__ADS_1
"Tapi bukanlah hal yang biasa jika seorang raja memiliki banyak istri. Anda tidak boleh egois dengan melarang Yang Mulia Raja untuk menikah lagi." Ratu Erlong dengan berani menentang kata-kata Rubby.
Rubby berdiri dari duduknya.
"Jika sudah tidak ada urusan lain, silakan Anda pergi dari sini. Pintu keluar ada di sebelah sana!" Rubby menunjuk ke arah pintu keluar.
Ratu Erlong menyusul untuk beranjak dari duduknya, dia terlihat sangat marah.
"Aku tidak menyangka seorang manusia berani mengusirku. Walaupun Yang Mulia Raja menjadikanmu sebagai seorang permaisuri, kamu tetaplah seorang manusia." Ratu Erlong tidak dapat mengendalikan dirinya.
Rubby memperlihatkan sikap tenangnya meskipun di dalam hatinya berapi-api.
Para pembesar istana dan pengawal yang berada di ruangan itu terlihat ketakutan.
Suasana di ruangan itu berubah menjadi sangat tegang.
"Kalau aku manusia memangnya kenapa? Kamu ingin memangsaku? Silakan kalau berani melakukannya." Rubby tersenyum mengejek pada Ratu Erlong.
"Bukan aku yang memulai, tapi kamu yang memintanya. Manusia sepertimu memang pantas untuk dimusnahkan." Ratu Erlong mengeluarkan energinya pada telapak tangannya bersiap untuk menyerang Rubby.
"Yang Mulia Ratu!" Sala seorang pembesar istana berniat untuk melindungi Rubby, namun Rubby memintanya untuk membawa yang lainnya mundur.
"Sudah kuduga, Anda orang yang sangat sombong!" Ratu Erlong merasa yakin jika dia bisa mengalahkan Rubby dalam sekali serangan.
"Memang. Aku sombong karena aku lebih segala-galanya dari kamu!" Rubby sengaja memancing emosi Ratu Erlong agar segera menyerangnya.
Benar saja, Ratu Erlong terlihat sangat marah dengan energi yang berkobar-kobar di tangannya.
"Dasar manusia! Rasakan ini!" Ratu Erlong melemparkan energinya ke arah Rubby.
Tanpa mereka sadari, seorang anak kecil sejak tadi melihat pertengkaran mereka berdua.
Boomm!
Serangan dari Ratu Erlong meledak sebelum mencapai tubuh Rubby.
Rubby merasa heran karena dia merasa tidak melakukan apa-apa.
"Hei, wanita jahat! Jangan kamu mengganggu ibuku! Aku akan membuatmu mati jika kamu tidak pergi sekarang juga!" seru Tian Yu dengan berkacak pinggang sambil berjalan menghampiri ibunya.
"Jangan main-main, Sayang. Menjauhlah dari sini. Di sini berbahaya." Rubby meminta Tian Yu pergi dari sana namun sepertinya Tian Yu tidak menuruti perintah ibunya.
"Tidak, Ibu! Aku akan melindungi ibu!" Tian Yu mulai mengalirkan energinya pada telapak tangannya dan menyerang Ratu Erlong.
Rubby terlihat kebingungan melihat apa yang dilakukan oleh Tian Yu. Putranya itu terlihat sangat marah pada Ratu Erlong melebihi kemarahannya. Rupanya Tian Yu telah bertanya pada para dayang dan memaksa mereka untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Tian Yu melayang di udara dan bergerak lincah untuk menyerang ratu Erlong. Awalnya Ratu Erlong hanya menghindarinya saja dan menganggap remeh anak kecil seperti dirinya. Setelah melihat kemampuan Tian Yu, Ratu Erlong pun memberinya serangan balasan.
Demi mendapatkan posisi di sisi Wu Jin Ming, maka dia harus menyingkirkan semua yang menghalanginya termasuk anaknya. Cinta membuatnya buta dan tidak punya hati. Ketampanan Wu Jin Ming terus membayanginya dan membuatnya tergila-gila.
"Stoopppp!" teriak Rubby.
Bukannya berhenti mereka malah semakin bersemangat untuk bertarung.
"Kalau kamu mau, kamu boleh menyerangku juga!" ucap Ratu Erlong pada Rubby dengan sombongnya.
****
__ADS_1
Bersambung ...