
"Jangan salah paham pada kak Wu, Ibu. Anak ini adalah putraku yang aku kandung selama ini, Ibu." Rubby menjelaskan semuanya pada Ratu Ivo.
Ratu Ivo masih tertegun dan larut dalam keterkejutannya.
"Tian Yu, beri salam pada nenek!" seru Rubby lembut.
Wu Jin Ming menurunkan Tian Yu dari gendongannya.
"Tian Yu memberi hormat pada nenek!" Kepalan tangan kanan dan telapak tangan kiri mungilnya menyatu lalu membungkukkan badannya di depan Ratu Ivo.
Ratu Ivo tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca melihat cucunya yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Nenek memberkatimu, Sayang. Cucu nenek manis sekali." Ratu Ivo memeluk Tian Yu dengan erat.
"Temanku bilang kalau nenek kakek mereka itu tua. Aku pikir nenekku juga seperti itu. Tapi nenekku cantik, seperti ibuku juga cantik." Tian Yu terus memandangi wajah Ratu Ivo dengan tatapan polosnya.
Semua yang ada di sana tertawa melihat kepolosan Tian Yu.
Mereka berempat bersama-sama masuk ke dalam istana. Ratu Ivo tidak ingin melanjutkan rapatnya dan masuk ke istana pribadinya untuk melepas rindu bersama anak cucunya. Tian Yu terus menempel pada neneknya dan bertanya banyak hal. Ratu Ivo sangat kagum pada kecerdasan cucunya itu.
Rubby meninggalkan Tian Yu bersama Ratu Ivo, sedangkan dirinya dan Wu Jin Ming meminta ijin pada ibunya untuk pergi menemui Lisa di penjara sangkar perenungan.
Saat Rubby memasukkannya ke sana, Lisa bilang dia dalam keadaan hamil, tentu saat ini sudah hampir waktunya dia melahirkan anaknya.
Wu Jin Ming pergi bersamanya untuk menemani Rubby, berjaga-jaga jika ada sesuatu yang membahayakan baginya.
Rubby berjalan menyusuri deretan sangkar perenungan yang berjajar rapi sambil melihat satu persatu isinya. Sosok Lisa sedang duduk bersila dengan tenang ketika Rubby dan Wu Jin Ming datang menghampirinya. Dia tidak menyadari kehadiran mereka meskipun Rubby dan Wu Jin Ming sudak berdiri beberapa saat di depan sangkar yang mengurungnya.
"Ehemm!" Rubby berdehem untuk menunjukkan kehadirannya.
Lisa perlahan terlihat sedang membuka matanya dan menatap Rubby dengan lembut. Tatapannya sangat berbeda dari beberapa waktu lalu sebelum dia masuk ke dalam sangkar perenungan. Tidak ada lagi hawa kekejaman di dalamnya.
"Rubby!" pekik Lisa lalu berdiri dengan susah payah karena perutnya yang membesar.
Saat dia berjalan menghampiri Rubby, keanehan mulai terjadi, pakaian yang dikenakan oleh Lisa berubah menjadi putih bersih. Rubby tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Selama ini dia hanya tahu cara memasukkan orang ke dalam sangkar perenungan tanpa tahu bagaimana mereka bisa keluar dari sana saat hati mereka kembali putih.
"Apa kabar Lisa? Kamu terlihat berbeda saat ini." Rubby mengatakan hal yang sebenarnya.
Lisa tersenyum setelah berdiri lebih dekat di hadapan Rubby.
"Aku baik-baik saja, By. Aku juga hampir tidak mengenalimu jika tidak mendengar suaramu dan melihat sorot matamu. Kamu berubah." Lalu Lisa beralih menatap Wu Jin Ming.
"Kak Tiger juga berubah. Apa kalian melakukan operasi plastik?" tanya Lisa penasaran.
Pertanyaan konyol Lisa membuat Rubby ingin tertawa, namun dia berusaha untuk menahannya. Mungkin saja Lisa yang sekarang bukanlah Lisa yang dulu. Rubby tidak tahu apa yang telah terjadi padanya selama berada di dalam sangkar perenungan.
"Bukan operasi plastik Lisa. Ini terjadi karena kekuatan kami yang meningkat setelah melakukan penyatuan jiwa," jelas Rubby.
Lisa mengernyitkan dahinya tanda tidak mengerti.
"Penyatuan jiwa? Maksud kamu?"
"Sudahlah, lupakan apa yang dikatakan Rubby. Kamu tidak akan mengerti." Wu Jin Ming ikut bicara.
Lisa mengangguk.
"Aku minta maaf padamu, By. Aku merasa menyesal telah menyakiti Bella dan Cindy." Lisa menunduk penuh penyesalan.
Rubby terlihat memikirkan sesuatu. 'Bukankah Bella ada di kerajaan ini? Apakah mereka tidak pernah saling bertemu?' Rubby bertanya-tanya di dalam hati.
"Syukurlah jika sekarang kamu sudah menyadari kesalahanmu. Mungkin tidak lama lagi kamu bisa keluar dari sangkar ini," ucap Rubby sambil tersenyum tulus pada Lisa.
__ADS_1
"Aku berharap bisa melahirkan anakku di luar sangkar perenungan ini, By." Airmata Lisa mulai menetes membasahi pipinya.
Rubby melangkah maju untuk mendekat.
"Kamu pasti bisa. Buanglah energi negatif di tubuhmu dan lupakan Raja Kegelapan. Yakinilah jika anak yang kamu kandung adalah anak Moza." Rubby mencoba menguatkan hati Lisa.
"Terimakasih, By. Maafkan aku."
Lisa berjalan maju dan memegang jeruji sangkar perenungan.
Hal yang aneh pun kembali terjadi, jeruji sangkar yang dipegang oleh Lisa tiba-tiba menjadi tembus pandang.
Lisa merasa heran. Dia mencoba melambaikan tangannya kesamping. Tangannya itu bisa bergerak bebas dan tidak membentur jeruji.
"Rubby! Apa ini artinya aku terbebas dari sangkar perenungan?" tanya Lisa penasaran.
Rubby sendiri belum pernah melihat seseorang terbebas dari dalam sangkar perenungan. Ini pertama kali baginya.
"Coba kamu melangkah keluar, Lisa!" seru Rubby sambil mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Lisa turun dari sangkar perenungan itu.
Lisa berpegangan pada tangan Rubby dan melangkah turun. Benar. Tubuhnya bisa menembus sangkar perenungan seolah jeruji itu tidak ada.
Rubby merasa senang akhirnya Lisa sahabatnya yang dulu telah kembali mereka berpelukan dan menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan kebahagiaan mereka.
Wu Jin Ming tersenyum melihat dua sahabat itu kembali bersama.
Kedua sahabat itu melompat dengan gembira dan tertawa bersama setelah selesai menangis haru. Lisa seakan lupa jika saat ini perutnya sangat besar. Tanpa mereka sadari dampak dari lompatan yang dia lakukan mulai muncul.
"Auw!" pekik Lisa meringis sambil memegangi perutnya di bagian bawah yang terasa nyeri. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat yang mulai mengalir di pelipisnya.
"Lisa, apa yang terjadi? Apa kamu ingin melahirkan?" tanya Rubby panik.
"Kamu masih kuat jalan, kan?" tanya Rubby.
Lisa mengangguk.
Rubby segera membantunya berjalan menuju ke tempat yang lebih layak untuk Lisa beristirahat. Beruntung di luar tempat itu ada beberapa orang prajurit yang sedang berjaga. Rubby segera meminta mereka untuk mengangkat tubuh Lisa ke kamarnya yang disediakan oleh sang ibu.
Lisa ketakutan ketika dia mengeluarkan darah dari area sensitifnya. Rubby semakin terlihat panik dan meminta Wu Jin Ming untuk memanggil ibunya untuk datang ke sana.
Andaikan Rubby bisa sedikit tenang dan tidak panik mungkin dia bisa menolong Lisa dengan kekuatannya.
"By, sakit!" rintih Lisa menahan nyeri yang amat sangat dia rasakan.
"Tahan Lisa. Aku akan menemanimu di sini." Rubby memegang tangan Lisa dan berusaha untuk menguatkannya.
Dari luar kamar terlihat Bella datang ke sana dengan pakaian prajurit. Dia mendapat kabar dari prajurit yang mengangkat tubuh Lisa tadi. Semua prajurit di istana itu tahu jika Bella adalah sahabat Rubby.
"Bella!" pekik Lisa lirih, ada perasaan bersalah di hatinya.
Rubby yang berdiri membelakangi Bella tidak menyadari kehadirannya di sana. Semula dia mengira jika Lisa sedang berhalusinasi, namun ketika dia menoleh ke belakang rupanya Bella beneran ada di sana. Rubby juga sudah lama tidak bertemu Bella.
"Kemarilah, Bella! Tolong bantu aku! Sepertinya Lisa akan melahirkan. Apa kamu tahu bagaimana menolong orang yang akan melahirkan?" Rubby senang akhirnya dia ada teman untuk berdiskusi dalam keadaan yang membuatnya panik itu.
"Aku juga tidak tahu, By. Em, gimana, ya?" Bella meletakkan senjata dan atribut yang menghalanginya bergerak bebas.
Dengan kemampuan dan pengalaman mereka yang terbatas dalam menghadapi orang yang mau melahirkan, Rubby dan Bella saling bekerja sama untuk membantu Lisa yang sudah tidak tahan lagi.
Rubby dan Bella melakukan aksi heroik seperti di dalam film-film yang sering mereka tonton. Mereka mengikuti apa yang dilakukan di dalam film tersebut, termasuk meminta pada Lisa untuk mengejan. Sepertinya kenyataan yang terjadi tidak semudah adegan sebuah film, bayi Lisa belum juga keluar.
"By! Bukankah kamu punya kekuatan super? Masa iya kamu tidak bisa mengeluarkan bayi ini dengan kekuatanmu?" Bella yang putus asa tiba-tiba teringat jika Rubby sekarang adalah seorang kultivator yang luar biasa.
__ADS_1
Rubby menepuk keningnya sambil tersenyum bodoh.
"Astaga, Bel! Aku sampai lupa. Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" Rubby segera bersiap untuk berkonsentrasi.
"Maaf. Otakku juga tidak bekerja kalau sedang panik." Bella meringis lalu menggaruk-garuk hidungnya.
"Sudahlah. Aku harus berkonsentrasi. Diamlah!" seru Rubby.
Lisa tersenyum melihat wajah galak Rubby ketika Bella terus saja bergerak dan berpindah-pindah yang membuat konsentrasinya buyar.
Bella baru berhenti ketika Rubby melotot padanya.
Tidak ingin menunda waktu lagi, Rubby segera mengeluarkan energi di telapak tangannya dan mengucapkan mantra sihir yang bisa membuat Lisa menahan rasa sakitnya.
Perlahan bayi yang ada di perut Lisa mulai bergerak turun dan keluar dengan pelan.
"Bel, kamu bersiaplah memegang bayinya!" seru Rubby.
"Ah, iya. Baiklah!" Bella segera membuka tangannya dan bersiap menerima bayi Lisa yang sudah terlihat sebagian itu.
Tangis bayi begitu nyaring terdengar memenuhi ruangan itu.
"Ini ... ini ... harus bagaimana lagi, By?" Bella terlihat bingung.
"Letakkan saja di sini!" Rubby menunjuk tempat di samping Lisa.
"Apa tidak dibersihkan dulu, By?" tanya Bella.
"Biar aku yang bersihkan." Rubby masih membersihkan tubuh Lisa dengan sihirnya.
Dalam sekejap saja Lisa sudah pulih seperti orang yang tidak melahirkan. Tempat tidur, baju, dan semua yang semula kotor kini terlihat seperti belum pernah terpakai. Begitu juga dengan bayi perempuan Lisa, dia sudah memakai baju bayi yang lucu dan terbungkus kain penghangat.
"Ah, lucunya!" pekik Bella, mengambil bayi Lisa lalu menggendongnya.
Dia menimang-nimang bayi Lisa dengan sayangnya.
"Bell, maafkan aku, ya!" ucap Lisa dengan penuh penyesalan.
"Aku sudah melupakannya. Sekarang jadilah dirimu sendiri yang bebas. Semoga kamu tidak terpengaruh lagi oleh Raja Kegelapan," ucap Bella sambil tersenyum.
"Sini, kita berpelukan bareng. Selamanya kita akan menjadi sahabat!" seru Rubby.
Mereka bertiga saling berpelukan dengan bayi Lisa berada di tengah-tengahnya. Semuanya terasa hangat, sehangat persahabatan mereka dulu. Sayang sekali Cindy sudah tiada. Kini mereka hanya tinggal bertiga.
"Bell, By! Aku kangen sama Cindy!" Lisa tiba-tiba terlihat sangat sedih.
"Cindy sudah tenang di alamnya, Lisa. Waktu itu aku sudah berusaha menyelamatkannya, namun semuanya sudah terlambat. Aku yang menemaninya di saat-saat terakhirnya."
Ucapan Rubby membuat Lisa dan Bella saling berpandangan.
"Kok, kalian kaget begitu, sih? Kan aku sebenarnya sudah lama berkecimpung di dunia kultivasi."
"Iya, juga, sih. Terimakasih, By. Karena hukuman darimu aku bisa kembali ke jalan yang benar." Lisa tersenyum pada Rubby.
"Sudah. Sesama teman memang harus saling mengingatkan dan saling melengkapi. Mulai hari ini kita lupakan kejadian yang telah berlalu."
Saat mereka sedang asyik mengobrol, Wu Jin Ming datang ke ruangan itu bersama Ratu Ivo dan Tian Yu.
****
Bersambung ...
__ADS_1