TIGER WU

TIGER WU
APAKAH DIA MOZA?


__ADS_3

Makanan yang di pesan Wu Jin Ming segera datang. Beberapa orang pelayanan membawa dan menatanya di meja. Rubby menegakkan tubuhnya yang masih terasa lemas.


Melihat Rubby tak kunjung mengambil sendok, Wu Jin Ming merasa iba. Dengan telaten Wu Jin Ming menyuapi Rubby di sela-sela makannya. Rubby sangat tersentuh dengan perlakuan Wu Jin Ming.


"Waow, romantis sekali! Kamu Tiger Wu, kan?" tanya seorang pengunjung rumah makan Shandra.


"Benar! Biarkan kami menikmati makan siang kami. Nanti kita bisa bicara setelah ini!" tegas Wu Jin Ming.


"Baiklah. Aku akan menunggu kalian selesai." wanita itu sedikit kecewa. Dia memilih meja yang tidak jauh dari tempat Rubby dan Wu Jin Ming berada.


"Sayang, aku nggak mau ini!" rengek Rubby sambil menunjuk tomat di piringnya.


"Biar aku makan." Wu Jin Ming memakan tomat itu. Matanya menyipit karena menahan sensasi rasa asam di mulutnya.


Rubby tersenyum melihat ekspresi lucu Wu Jin Ming.


"Udah, biar aku maem sendiri aja!" Rubby meraih sumpit di tangan Wu Jin Ming namun Wu Jin Ming menariknya ke belakang.


"Kenapa?" tanya Rubby lagi.


"Hari ini aku ingin memanjakanmu," jawab Wu Jin Ming sambil meneruskan makannya.


"Kamu nggak lihat, banyak orang yang sedari tadi memperhatikan kita," bisik Rubby sambil melihat ke sekeliling mereka. Ada beberapa orang yang mengambil gambar mereka dengan ponselnya.


"Sudahlah! Biarkan saja! Aaa! Buka mulutmu!" Wu Jin Ming kembali menyodorkan sesuap makanan untuk Rubby.


Tidak ada gunanya melawan Wu Jin Ming. Dia akan tetap memaksa meskipun Rubby bersikeras menolak. Rubby berusaha untuk tetap percaya diri meskipun dia mendapat tatapan mengejek dari para pengunjung yang lain.


"Sudah! Nggak usah lihat ke mana-mana! Lihat sebentar lagi selesai." Wu Jin Ming menunjuk beberapa piring yang sudah kosong.


"Terimakasih, Sayang. Kamu sudah menjadikanku bayi gede hari ini," ucap Rubby sedikit kesal.


"Kan, kamu sedang sakit. Aku akan melayanimu seperti seorang putri hari ini," ucap Wu Jin Ming sambil terus menyuapi Rubby.


Rubby menatap Wu Jin Ming dengan tatapan yang sulit diartikan. Hatinya berbunga-bunga menerima perlakuan manis suaminya. Kini dia sudah tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang dan gunjingan mereka.

__ADS_1


Wu Jin Ming menaruh uang di atas bill makanan yang dia pesan. Lagi-lagi dia memberi lebih. Setelah mereka selesai. Dia memanggil pelayan untuk membereskan meja.


"Tiger! Kamu sudah selesai?" tanya wanita yang tadi. Rupanya dia masih menunggunya.


"Sudah," jawab Wu Jin Ming singkat.


"Bisakah kita berfoto sebentar? Nona, tolong ambil gambar kami!" wanita itu menyodorkan ponselnya ke arah Rubby.


"Siapa yang mengijinkanmu menyuruhnya?" hardik Wu Jin Ming.


Wanita itu menarik kembali ponsel di tangannya.


"Maaf. Kalau begitu kita berselfi saja. Apakah dia adikmu? Kalian terlihat sangat mirip." wanita itu terus saja berbicara.


"Dia kekasihku. Cepat ambil gambar. Kekasihku sedang sakit. Kami harus segera pulang." Wu Jin Ming mulai kehilangan kesabaran.


Tak mau kehilangan kesempatan, wanita itu mengambil beberapa gambar bersama Wu Jin Ming. Rubby terlihat malas melihat pemandangan di depannya. Mungkin tadi seharusnya memang mereka mendingan makan di rumah saja.


Pengunjung lain juga ingin meminta foto. Wu Jin Ming terpaksa menurutinya. Setelah foto terakhir, Wu Jin Ming segera menggendong tubuh Rubby sebelum ada lagi yang datang untuk meminta berfoto.


Rubby ingin protes tapi tidak dia lakukan. Ocehannya akan mengundang stigma para pengunjung. Bisa-bisa mereka di kira pacaran setingan kalau ribut di tempat umum.


"Katanya suka di gendong," jawab Wu Jin Ming enteng seperti tanpa beban.


"Iya, suka. Tapi jangan di tempat umum!"


"Biarin! Kamu jangan terlalu banyak berpikir. Santai aja menanggapi omongan orang." Wu Jin Ming memasangkan sabuk pengaman Rubby yang masih saja terus cemberut.


Saat Wu Jin Ming akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba Rubby memintanya berhenti. Wu Jin Ming mengerem mobilnya secara mendadak. Wu Jin Ming menatap Rubby penuh tanya.


"Ada apa?" tanya Wu Jin Ming.


Rubby tidak menjawab namum matanya terus melihat dua orang muda mudi yang sedang berjalan mesra didekatnya.


Wu Jin Ming mengikuti arah pandang Rubby. 'Moza?' Dada Wu Jin Ming berdesir. Ada aura energi yang samar-samar dirasakan olehnya. Mungkinkah itu energi dari orang yang mirip dengan Moza itu. Atau mungkin wanita di sebelahnya.

__ADS_1


"Dia... dia..." Rubby menunjuk orang yang sangat mirip dengan Moza.


"Mungkin hanya mirip saja. Ayo kita pulang!" untuk saat ini Wu Jin Ming belum siap untuk kembali bertarung. Apalagi Rubby juga belum pulih saat ini. Mereka tidak tahu ada bahaya apa yang akan mengancam mereka saat bertarung.


"Aku hanya terkejut saja. Aku juga nggak ingin ketemu dia." Rubby salah paham. Dia mengira Saat ini Wu Jin Ming sedang cemburu padanya.


Di sisi lain Raja Kegelapan sedang beraksi. Dengan wajah tampan Moza dia berhasil memikat banyak sekali siluman cantik dan menyerap energinya. Dengan tubuh itu pula dia juga bisa menyembunyikan kekuatannya.


Para siluman tidak akan tahu bahwa dia juga seorang siluman. Raja dari para siluman dan penguasa kegelapan.


Tidak dapat dibayangkan jika Raja Kegelapan berhasil menguasai dunia manusia. Pasti semua orang akan diperbudak olehnya. Begitu juga dengan siluman yang lemah, mereka pasti akan selalu ditindasnya.


"Aku ngantuk!" rengek Rubby manja. Dia masih mengira jika Wu Jin Ming diam karena marah padanya.


"Tidurlah, Sayang. Tapi sebentar lagi kita sampai. Rumah kita kan deket."


"Owh, iya. Aku meluk kamu aja deh biar nggak ngantuk!" seru Rubby senang. Dia memeluk salah satu lengan Wu Jin Ming. Hatinya merasa lega mendapati Wu Jin Ming tidak marah padanya.


Wu Jin Ming merasa gemas dengan tingkah Rubby. Ingin sekali dia menghujaninya dengan ciuman saat ini. Apa daya saat ini dia sedang fokus menyetir. Jalanan komplek Rubby tidak terlalu lebar. Dia harus berhati-hati agar tidak menyenggol mobil orang yang terparkir di depan rumah mereka.


"Kalian dari mana saja? Sampai kram kakiku nunggu kalian pulang." suara Arlan mengagetkan Rubby dan Wu Jin Ming.


"Ya, ampun, Ar! Ngapain kamu jongkok di situ? Jelas aja kram orang kamu duduknya begitu!" cuit Rubby.


"Habisnya aku bosan. Aku ngobrol aja sama bunga-bunga cantik ini. Kali aja ada yang bisa berubah jadi cewek cantik."


Ocehan Arlan membuat Rubby dan Wu Jin Ming terkekeh.


"Kapan-kapan ikut aku kerja, Ar. Aku kenalin sama model-model cantik. Kasihan kamu kelamaan jomblo. Kasihan bunganya, mereka bisa layu karena kamu ajak galau," ucap Wu Jin Ming menggodanya Arlan.


"Beneran? Wah, bakalan seru nih. Nanti bagi nomor ponselmu dong!" seru Arlan lagi.


"Boleh. Ayo masuk dulu!" ajak Wu Jin Ming.


Rubby tersenyum senang melihat keakraban dua pria yang sempat bersitegang itu. Kini mereka terlihat lebih akrab satu sama lain. Semoga mereka akan selalu menjadi sahabat baik ke depannya.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2