TIGER WU

TIGER WU
RUANGAN RAHASIA


__ADS_3

Rubby mengulurkan tangannya dan memberikan token kuno itu pada Wu Jin Ming. Wu Jin Ming menerimanya dan menelitinya dengan seksama. Dari jenis dan warna giok yang berada di tengah token itu bisa di nilai jika benda ini sudah berusia lebih tua dari dirinya.


"Bagaimana menurutmu? Apakah token ini cocok dengan lubang yang ada di pintu?" tanya Rubby.


"Sepertinya keduanya sangat mirip. Mari kita coba!" Wu Jin Ming mendekati pintu dan menyamakan lubang kunci dengan token yang ada di tangannya.


Setelah diamati dengan jeli ternyata bentuk dan ukuran token itu sama dengan lubang kunci. Tanpa pikir panjang mereka sepakat untuk membuka pintu itu dengan token yang di dapatkan oleh Rubby. Dengan hati-hati Wu Jin Ming memasukkan token sesuai bentuk lubang di pintu.


Tidak ada pergerakan sama sekali pada pintu itu. Rubby dan Wu Jin Ming saling berpandangan melihat jika token itu tidak bersinar. Rubby teringat jika token itu dapat menyala setelah terkena darah Rubby sewaktu kakinya sedang terluka.


Rubby mengambil sebuah jarum akupunktur peninggalan ayahnya dari cincin penyimpanannya. Dia memejamkan mata lalu menusuk ujung jarinya sendiri. Darah segar keluar dari ujung jari Rubby.


Segera Rubby menempelkan jari berdarahnya pada token kuno yang ada di lubang kunci. Begitu darah itu mengenai permukaan token, token kuno itu langsung menyala terang. Perlahan pintu itu terbuka.


"Uhukk! Uhuk! Uhuk!" Rubby terbatuk sambil mengibaskan tangannya di depan wajahnya karena debu beterbangan dari gerakan pintu yang terbuka.


Dengan sigap Wu Jin Ming menarik tubuh Rubby mundur ke belakang dan menunggu hingga kepulan debu itu sedikit menghilang.


Setelah di rasa cukup aman dari debu, mereka berdua melangkah maju dengan mengandalkan cahaya api biru di tangan Rubby.


"Aaaaaaa!" Teriak Rubby ketika melihat banyak sekali kalajengking yang entah datang dari mana menghalangi jalan mereka.


"Tenang Rubby! Ini hanya sihir. Kamu bisa memakai sihirmu untuk melawan sihir ini," jelas Wu Jin Ming.


"Sihir?! Baiklah!" mulut Rubby mulai komat kamit merapalkan mantra sihir untuk mematahkan sihir yang ada di depannya.


Kalajengking yang jumlahnya ribuan itu perlahan menghilang seperti dedaunan yang habis di makan ulat. Wu Jin Ming dan Rubby kembali melanjutkan langkahnya setelah kalajengking itu menghilang.


"Ini tempat apa, sih?!" Rubby mendekatkan tubuhnya ke sisi belakang Wu Jin Ming.


Tidak ingin istrinya ketakutan Wu Jin Ming mengeluarkan pedang energi di tangannya untuk menghalau binatang sihir. Meskipun dia tidak memiliki ilmu sihir, setidaknya sisa kekuatan di dalam tubuhnya lebih dari cukup untuk memusnahkan binatang sihir dan melindungi istrinya.


Setelah melewati ribuan kalajengking, ratusan ular, jutaan lipan kini mereka masih harus menghadapi seekor naga putih yang sangat besar.

__ADS_1


"Ular naga! Aaahhh, Kak Wu! Ayo kita keluar saja!" rengek Rubby sambil menggoyang lengan Wu Jin Ming karena merasa binatang-binatang itu seperti tidak ada habisnya.


"Kita sudah tidak bisa untuk mundur lagi, Rubby! Kamu berdiri saja di belakangku!" seru Wu Jin Ming.


Sebenarnya Rubby tidak takut, akan tetapi dia merasa geli sama binatang-binatang melata seperti itu.


"Baiklah!"


Wu Jin Ming menyerang naga putih yang ada di depannya dengan pedang energinya. Tanpa dia sadari naga itu tidaklah berwujud. Menyerangnya sama saja dengan menyerang angin.


Naga yang aneh itu bisa melukai Wu Jin Ming namun sebaliknya, Wu Jin Ming tidak bisa membalasnya. Sudah bisa dipastikan jika naga putih itu juga sihir. Sihir yang lebih hebat dari sebelum-sebelumnya.


"Rubby! Bisakah kamu memakai sihirmu!" ucap Wu Jin Ming ketika merasa jika usahanya hanya sia-sia.


"Tentu saja!" Rubby kembali merapalkan mantranya dan mengeluarkan naga cahaya yang besar untuk melawan naga sihir itu.


"Ayo kita cari tempat yang aman, By!" Wu Jin Ming menarik tubuh Rubby ke tempat yang aman.


Kedua naga sihir itu saling serang dan bertarung dengan sengit. Mereka terlihat seperti naga sungguhan yang memiliki naluri untuk memenangkan pertarungan. Api yang mereka keluarkan pun benar-benar api yang nyata.


Ketika naga sihir Rubby hampir terdorong ke belakang, Wu Jin Ming melepaskan sebagian energinya untuk memperkuat naga sihir milik Rubby.


Naga cahaya milik Rubby kembali bangkit dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya. Naga itu menyerang dengan brutal naga sihir yang menghadangnya. Kekuatan Wu Jin Ming memberinya keberanian dan peningkatan bertarung yang luar biasa.


Pertarungan sengit itupun akhirnya berakhir. Naga sihir penunggu ruangan rahasia itu kalah dan menghilang. Naga cahaya milik Rubby pun juga ikut menghilang ketika pertempuran telah selesai.


"Akhirnya.... Huft!" Rubby menghembuskan nafas lega.


"Ayo kita ke sana!" ajak Wu Jin Ming. Dia menggenggam tangan Rubby dan membawanya berjalan menuju sebuah ruangan gelap yang penuh dengan debu.


Lagi-lagi Rubby harus mengeluarkan sihirnya untuk mengatasi debu kotor yang memenuhi ruangan itu. Rubby juga menerbangkan beberapa bola cahaya untuk menerangi tempat itu. Seketika ruangan itu menjadi bersih dan terang.


"Ini seperti sebuah perpustakaan?" ucap Rubby sambil melirik Wu Jin Ming.

__ADS_1


"Iya, benar! Semua buku-buku yang ada di sini terlihat sangat usang. Mungkin usianya sudah ratusan ribu tahun lamanya. Tulisan di sampulnya saja sudah tidak kelihatan." Wu Jin Ming melihat-lihat buku yang ada di sana.


Rubby juga ikut berjalan mengitari rak-rak yang menyimpan beberapa buku kuno. Mata jeli Rubby terus mencari-cari sesuatu yang menarik di sana. Dia berpikir jika leluhur Wu Jin Ming melindungi perpustakaan ini, tentu ada barang berharga yang mereka simpan di sini.


Langkah kaki Rubby berhenti pada sebuah guci bermotif ular naga yang berada di pojok ruangan. Guci itu berukuran besar dengan tinggi mencapai separuh tubuh Rubby.


"Wah! Guci yang cantik!" Rubby mengelus guci besar itu sambil memperhatikan motif yang terlukis di permukaannya.


Ucapan Rubby memancing rasa penasaran Wu Jin Ming. Dia pun berhenti melihat jajaran buku di hadapannya.


"Benar! Guci ini sangat cantik dan unik seperti kamu!" goda Wu Jin Ming.


"Gombal! Kamu peluk guci aja kalau begitu!" ledek Rubby.


"Mana enak meluk guci. Enakan begini!" Wu Jin Ming menyambar tubuh Rubby dan memeluknya erat.


Rubby tidak membalas pelukan itu namun juga tidak menolaknya. Wu Jin Ming terlihat kesal dengan sikap Rubby yang tidak ingin memeluknya balik. Untuk melupakan kekesalannya, Wu Jin Ming mencium bibir Rubby dengan ganas.


Ciuman yang sangat lama membuat Rubby juga larut di dalamnya. Tubuh mereka berputar ke sana ke mari dan menabrak apa saja yang menghalangi pergerakan mereka. Ruangan yang tidak begitu luas itu tanpa mereka sadari sudah mereka kelilingi sambil berciuman hingga kembali ke tempat di mana guci itu berada.


"Hah... hah... hah... sudahh!" ucap Rubby tersengal-sengal mengatur napasnya.


"By, aku ingin! Apakah kamu sudah baik-baik saja?" ucap Wu Jin Ming memelas karena sudah tidak kuat menahan hasratnya.


"Iya, tapi tidak di sini juga! Sembarangan aja kamu, Kak. Tahanlah sebentar! Setelah ini kita pergi ke kamar kita."


"Beneran, ya!"


"Hmm." Rubby mengangguk.


Rasa penasaran Rubby membawanya kembali mengamati guci di depannya. Tangannya yang mungil memberanikan diri untuk mengangkatnya. Ternyata guci itu menempel di lantai.


Melihat Rubby tidak bisa mengangkat guci itu, Wu Jin Ming menjadi curiga. Jangan-jangan guci itu juga merupakan kunci geser seperti benda-benda yang dia temukan sebelumnya. Wu Jin Ming meminta Rubby untuk mundur karena takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan setelahnya.

__ADS_1


****


Bersambung...


__ADS_2