TIGER WU

TIGER WU
PERGI KE TAMAN


__ADS_3

Rubby merasa hawa hangat yang menyelimuti tubuhnya telah pudar. Dalam bayangannya tergambar sebuah simbol seperti yang Wu Jin Ming katakan. Rubby memusatkan pikirannya untuk mengingat gambar simbol itu.


"Pusatkan energimu di ujung jari telunjukmu, Rubby. Dan gambarlah simbol itu sebelum kau membuka matamu!" ucap Wu Jin Ming melihat Rubby sudah selesai menyerap energi tingkat satu basis awal.


Rubby melakukan apa yang dikatakan Wu Jin Ming. Dengan hati - hati dia melukiskan sebuah simbol. Saat memusatkan energi di ujung jarinya tiba - tiba jari itu bergerak sendiri seperti ada yang menggerakkannya.


Perlahan Rubby membuka matanya setelah simbol terlukis sempurna di udara. Dia melihat sebuah simbol berwarna emas seperti yang ada dalam pikirannya tadi. Dia bingung apa gunanya simbol itu. Dulu dia pernah melihat simbol yang berbeda waktu Wu Jin Ming membawanya dari dimensi tempat dia tersesat yang mengerikan.


"Kak Tiger, ini untuk apa?" tanya Rubby dengan polosnya.


"Sentuh saja dengan telapak tanganmu!" Wu Jin Ming tersenyum.


"Apa aku tidak akan tersedot ke mana gitu? Takutnya aku nanti masuk ke negeri kuno atau apalah." Rubby masih ragu - ragu.


"Itu pengunci kultivasimu. Kau memiliki energi tingkat satu basis awal dengan nilai sempurna. Ambilah!" Wu Jin Ming meyakinkan Rubby kembali.


"Aku tidak akan berubah jadi apa - apa kan setelah ini?" tanya Rubby lagi.


"Mungkin tidak," jawab Wu Jin Ming yang menurut Rubby tidak pasti.


"Nah, kan! Kamu sendiri juga tidak tahu. Aku takut sekali Kakak."


"Maksud aku kau bisa saja berubah, tapi itu bukan hal yang buruk. Kau bisa berubah jadi dewi jika kau mampu menembus basis tertinggi," jelas Wu Jin Ming.


"Benarkah. Baiklah aku ambil sekarang!" dalam pikiran Rubby, dia sangat senang menjadi dewi yang akan terbang ke mana pun dia mau. Membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Juga melakukan sesuatu yang baik untuk orang lain.


Simbol bersinar itu terserap ke dalam tubuh Rubby melalui telapak tangan kanan yang menyentuhnya. Dan tanda dewi di kening Rubby kembali berkilat sesaat setelahnya.


"Kak Tiger, berapa lama waktu yang kita lewatkan? Sepertinya hari ini sudah sore." Rubby melihat ruangan yang mereka tempati sudah mulai gelap.


"Lumayan lama. Sekarang kita mandi dan menyiapkan makan malam." Wu Jin Ming bangkit dan melihat suasana senja dari jendela di depan rumah.


"Aku mandi duluan ya! Jangan lupa, tirai jendelannya nanti di tutup, ya!" ucap Rubby sambil berlalu membawa matras yang sudah dia bereskan.


"Hmm." Wu Jin Ming melihat ke halaman rumah Rubby yang masih kosong. Dia teringat betapa Rubby sangat menyukai bunga. Wu Jin Ming berniat untuk memberinya kejutan.

__ADS_1


"Kak Tiger, mandilah sekarang! Aku sudah selesai!" teriak Rubby dari dalam kamarnya.


"Baik, Rubby. Tunggu sebentar!" Wu Jin Ming menyelesaikan rencananya terlebih dahulu. Setelah merasa puas dengan hasil karyanya dia bergegas menuju kamarnya untuk bersih - bersih.


"Kak, makan malam kita beli saja ya? Aku malas masak. Setelah mandi, kau pakailah baju yang ku pilihkan itu!" Rubby menunjuk satu stel pakaian yang dia siapkan di atas tempat tidur.


"Baiklah!" Wu Jin Ming meraih bathrobe dan pergi ke kamar mandi.


Sudah lama Rubby tidak berjalan - jalan ke taman. Padahal letaknya tidak jauh dari rumahnya. Di taman itu banyak yang berjualan aneka jajanan dan berbagai jenis makanan. Terutama di waktu malam.


Wu Jin Ming keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terlihat segar. Rambut panjangnya yang masih basah meneteskan air dari ujungnya menambah kesan sexy dari dirinya. Rubby hampir saja menjatuhkan sisir yang dia pegang saking terpesonanya.


"Kau cantik sekali Rubby. Kau memakai riasan yang sesui di wajahmu," puji Wu Jin Ming.


"Benarkah? Kau orang ke seribu yang mengatakan itu," jawab Rubby asal.


"Sungguh. Aku orang yang sangat beruntung memilikimu." Wu Jin Ming tidak tahu kalau Rubby hanya membual.


"Hihi..." Rubby meringis merasa lucu melihat suaminya begitu mudah di bohongi.


"Sini aku kancingin!" Rubby memasukkan kancing baju Wu Jin Ming dengan cepat.


"Sekarang duduklah!" Rubby menarik kursi untuk Wu Jin Ming lalu mengambil hairdryer dan menyalakannya.


"Ini... ini... apa Rubby?" Wu Jin Ming menyondongkan wajahnya menjauh menghindari suara bising hairdryer.


"Kau diam saja! Ini pengering rambut." Rubby menggoyang - goyangkan tangannya untuk mengeringkan rambut Wu Jin Ming.


Wu Jin Ming menurut saja. Percuma dia banyak tanya. Toh dia tidak akan mengerti. Akalnya belum bisa mencerna cara kerja alat - alat yang ada di jaman ini.


"Ahhhh, tampannya!" Rubby memeluk Wu Jin Ming dari belakang.


"Kita mau kemana, Rubby?" Wu Jin Ming tersenyum senang menatap pantulan wajahnya dan Rubby di cermin.


"Kita pergi cari makan sekalian jalan - jalan. Ayok!" Rubby melepaskan pelukkannya lalu menyatukan jemarinya dengan Wu Jin Ming. Mereka melenggang bergandengan tangan meninggalkan kamar. Rubby memundurkan badannya lagi tanpa melepas genggamannya lalu menyabet tas selempangnya yang ada di balik pintu.

__ADS_1


Wu Jin Ming menantikan reaksi reaksi Rubby menerima kejutan darinya. Rubby belum menyadari ketika membuka pintu dan menguncinya. Saat berbalik dan akan menggapai tangan Wu Jin Ming, Rubby ternganga melihat ada taman bunga di depan rumahnya. Dia berlari meninggalkan Wu Jin Ming lalu menciumi satu demi satu bunga cantik yang tiba - tiba tumbuh di sana. Rubby yakin ini pasti Wu Jin Ming yang melakukannya.


"Kau menyukainya, Rubby?" tanya Wu Jin Ming sambil berjalan mendekati Rubby.


"Sangat. Aku sangat menyukainya, Sayang. Terima kasih." Rubby berhambur memeluk Wu Jin Ming.


"Besok aku akan menyempurnakannya. Ini belum seberapa. Masih ada banyak bunga yang aku simpan di cincin dimensiku." Wu Jin Ming membelai rambut Rubby dan menyibakkannya.


"Wah, aku sangat menyukainya. Aku akan menyiraminya setiap pagi." Rubby benar - benar bahagia menerima kejutan kecil dari Wu Jin Ming.


"Ayo kita pergi." Wu Jin Ming menggenggam tangan Rubby.


"Kau suka tidak tinggal di dunia manusia, Sayang?" tanya Rubby sambil berjalan menikmati udara malam.


"Asal bersamamu aku suka," jawab Wu Jin Ming.


"Ish, kau ini. Apa kau tidak takut menua jika terus menerus tinggal di sini?"


"Itu tidak akan terjadi Rubby. Berkat dewa sudah menyelimuti jiwa kita."


"Benarkah? Apa aku juga tidak akan menjadi tua?" tanya Rubby penasaran.


"Hmm. Tentu saja." Wu Jin Ming mengangguk.


"Bagaimana kalau tetangga kita curiga?" Rubby masih terus berpikir.


"Entahlah. Kita pikirkan nanti saja. Sekarang kita nikmati kebersamaan ini." Wu Jin Ming sendiri bingung menyikapi masalah ini.


"Kau benar. Waktu tua kita masih sangat lama. Sekarang saja aku masih berumur 20 tahun dan kau terlihat dua tahun lebih tua dariku. Siapa sangka kau sudah berumur ribuan tahun." Rubby memandang wajah tampan suaminya dengan rasa kagum.


"Ssttt! Pelankan suaramu!" bisik Wu Jin Ming saat mereka sudah mulai dekat dengan keramaian.


"Ups! Aku lupa." Rubby menutup mulutnya. Dia bergelayut manja di lengan Wu Jin Ming sambil berjalan mencari bangku kosong untuk bersantai di taman itu.


****

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2